Hell Game

Hell Game
Rasa dalam Gulita


__ADS_3

Sebuah perasaan aneh menyelimuti pikiran Ef saat Lin merebahkan kepala di pangkuannya. Perasaan aneh itu terasa hangat dan nyaman. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa. Saat tangannya menyentuh kepala gadis itu, rasa hangat itu menjalar makin cepat hingga ke seluruh tubuh. Ef mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dia merasakan sensasi hangat ini. Sepertinya rasa seperti ini pernah muncul saat dia menjalin hubungan dengan seorang gadis Indonesia lima tahun yang lalu.


Ef mencoba menampik rasa tadi dengan mencari pemikiran logis di kepalanya. Berada di hutan yang jauh dari peradaban bersama lawan jenis, di tambah tekanan psikologis yang besar pasti membuat manusia mencari segala hal yang membuatnya nyaman. Apa pun itu. Tidak mungkin rasanya cinta bisa tumbuh hanya dalam waktu beberapa hari.


Tapi entah kenapa, otak dan tubuhnya tidak bisa sinkron. Otak sejak tadi memerintahkan untuk segera tidur, tapi matanya tidak mau menurut. Tangannya juga tak mau berhenti mengusap puncak kepala gadis yang sedang berada di pangkuannya.


Sebenarnya, Ef pun tak tahu dengan apa yang sedang dilakukannya. Tanpa berpikir, tangannya secara spontan meraih kepala Lin dan merebahkan di pangkuannya. Naluri yang menuntunnya untuk melakukan hal itu. Setiap melihat Lin, perasaan ingin melindungi itu tumbuh berkali-kali lipat. Perasaan yang berbeda ketika ia melihat Hamish dan Maya. Benarkah perasaan ini hanya karena tugas semata atau ada perasaan lebih lainnya?


Ef tersentak saat telapak tangannya menyentuh pipi Lin, terasa hangat. Bukan, tepatnya agak panas. Kemudian dia menempelkan jari ke leher Lin, benar. Suhu tubuh wanita itu agak panas.


Dia teringat obat penurun panas di dalam ransel. Tapi dia tidak tega untuk bangkit dan memaksa Lin bangun dari pangkuannya. Ef mencoba menjangkau ranselnya tanpa mengubah posisi duduk.


“Kau mencari apa?” bisik Lin nyaris tak terdengar. Ternyata gadis itu belum tidur.


“Obat penurun panas. Suhu tubuhmu agak tinggi,” jawab Ef sambil terus mencoba menjangkau ranselnya.


“Aku tidak apa-apa. Aku tidak demam.”


“Tapi suhumu...."


“Yang lebih paham medis di sini siapa?” Ucapan Lin ada benarnya juga. Dia jelas lebih paham karena dia pernah kuliah kedokteran dan dia juga yang memiliki tubuh yang Ef ‘tuduh’ sedang mengalami demam. Namun Ef masih menyangsikan ucapan Lin. Ia menempelkan telapak tangan ke dahinya sendiri untuk membandingkan suhu tubuhnya dengan tubuh Lin.


"Tubuhmu benar-benar panas. Kamu demam," desak Ef. Nada suaranya terdengar khawatir. Tangannya mulai meraba dahi, pipi dan leher Lin kembali, namun sebuah tangan halus meraih tangan kekarnya. Bukan untuk ditepis, tapi untuk digenggam. Lin menggenggam tangannya seraya menempelkan ke pipinya. Wanita itu beringsut dari posisi tidur tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak apa-apa Ef," ucapnya, menatap mata Ef dalam-dalam. Mereka duduk berhadap-hadapan. Di ruang yang sempit seperti ini, tidak ada celah yang cukup untuk membuat jarak. Mau tidak mau, tubuh mereka saling berhimpitan.


Posisi tubuh yang sangat dekat, tangan saling menggenggam disertai pandangan mata Lin yang sendu, membuat detak jantung Ef berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Sudah lama jantungnya tidak berdebar secepat ini karena seorang wanita. Biasanya jantungnya akan terpacu lebih cepat bila sedang berada dalam kondisi genting yang membahayakan nyawa. Ada apa dengan dirinya? Mengapa Lin membuatnya seperti ini?


Pantulan cahaya bulan yang menelusup ke celah persembunyian membuat Ef bisa menatap wajah Lin secara jelas. Wanita itu terlihat sangat cantik di matanya. Siapa yang menyangka, wanita yang ia nilai sebagai pribadi yang moody, keras kepala dan introvert bisa menjadi semenarik ini?


Ef beringsut mendekat. Ia menarik tangannya dari genggaman Lin. Ia bisa melihat kilatan rasa kecewa di mata bening itu, tapi hal itu tidak bertahan lama. Begitu tangannya mendarat di pipi mulus, penjar itu kembali datang.


"Lin ...." Ef sadar suaranya mulai serak. Ia hanya bertindak sesuai dengan naluri. Analisis logis sudah jauh dari pikirannya. Ef tidak bisa memikirkan hal lain. Hanya Lin yang ada di benaknya saat ini.


Ef membelai pipi Lin dengan lembut. Menyibak helaian rambut dan menyampirkan ke telinga gadis itu. Sembari melakukan hal itu, tatapan keduanya tak pernah saling terlepas. Walau dalam cahaya remang, Ef tetap bisa melihat semu merah di pipi gadis itu. Mata beningnya pun terlihat sayu.


Tatapan Ef beralih ke bibir Lin yang terlihat penuh, merah muda dan menggoda. Jakun pria itu naik turun menelan kekosongan tanpa mengalihkan pandangan dari bibir Lin sedetikpun.


Tanpa sadar tangan kekarnya telah bergerak sendiri. Dengan ujung jempol, mengusap bibir menggoda itu secara perlahan, untuk melihat reaksi sang pemilik. Mata wanita itu semakin sayu, secara perlahan mulai menutup, seolah-olah memberi ijin bagi Ef untuk melanjutkan aksinya.


Sudah lama Ef tidak bereaksi seperti ini. Entah mengapa hal ini menimbulkan kegugupan yang luar biasa. Dia membiarkan naluri kelelakian menuntunnya dengan sangat baik.


Tangan kirinya bergerak dengan senyap, merengkuh tubuh Lin semakin tenggelam dekapan, sementara tangan kanannya membelai pipi gadis itu, mengusap-ngusapnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dengan ritme yang sangat lambat. Seolah memberi kesempatan bagi Lin untuk menolak, namun setiap senti wajah Ef mendekat, tidak tampak penolakan. Bahkah sikap Lin yang pasrah membuatnya semakin bersemangat.


Tubuh keduanya semakin mendekat. Ef bisa merasakan hembusan napas hangat di pipinya. Ia juga bisa merasakan ketegangan di tubuh Lin. Wanita itu segugup dirinya.


Ef merangkum wajah Lin dengan satu tangan, bersiap untuk mengecup bibir merah muda itu. Tinggal setengah senti lagi bibir keduanya akan bertemu ...

__ADS_1


"Ibu! Tolong Aku! Aku mau pulang!! Aku tidak mau di sini!! " Suara teriakan Hamish disusul oleh suara isakan membuat keduanya terkejut. Tanpa sadar Lin menjauhkan tubuh dan memalingkan wajah. Semburat merah membakar wajahnya, menunjukkan bahwa ia benar-benar malu.


Suara isakan Hamish sedikit demi sedikit mulai berhenti, tak lama isakan tadi berganti dengan dengkuran.


Tangan Ef masih merengkuh tubuh Lin. Keduanya menatap Hamish, yang ternyata sedang mengigau. Kemudian keduanya saling bertatapan kembali. Percik-percik tawa menghampiri mereka.


"Hummmps..." Lin menutup mulutnya, sementara Ef hanya tersenyum kecil. Lama keduanya saling duduk berhadapan sembari menahan tawa. Ef menarik Lin agar berbaring di sebelahnya. Merengkuh Lin untuk tidur dalam pelukan.


"Tidurlah. Besok kita masih harus melalui hari berat lainnya," ucap Ef sembari mengecup kening Lin dengan lembut. Lin menganggukkan kepala dan menutup mata.


Mungkin malam ini adalah salah satu malam paling membahagiakan bagi keduanya. Lin memiliki feeling, setelah malam ini hubungannya dan Ef akan berubah. Lin semakin meringkuk di pelukan Ef. Ia berharap, mereka semua bisa keluar dari Hell Game dengan selamat.


****


Halo semua, terima kasih sudah mengikuti Hell Game hingga saat ini.


Mohon dukungan dengan menekan tombol Like, Favorit dan Vote. selalu tinggalkan komentar dan saran yang membangun agar karya ini makin berkembang lebih baik


mari berteman di sosmed.


Fb. Densa


ig. densa015

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2