Hell Game

Hell Game
Siapa mereka?


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi tim 15 kembali bergerak. Mereka mulai menyusuri hutan dengan formasi yang sama seperti sebelumnya. Pergerakan mereka makin hari makin cepat padahal Hell Game baru 2 hari di mulai. Ini hari kelima mereka berada di hutan, Lin, Maya dan Hamish mulai beradaptasi dengan medan yang mereka tempuh. Keluhan letih sudah jarang terdengar. Hamis juga sudah tidak sering merengek kelaparan. Selain itu mereka sudah harus berhemat, ransel sudah mulai ringan. Stok makanan hanya tinggal untuk sekali makan lagi.


“Kita akan bergerak menuju titik-titik di peta ini.” Begitu perintah Ef sesaat sebelum mereka berangkat sambil menunjuk peta kepada anggotanya. Titik itu berjarak 20 km dari lokasinya saat ini dan cek poin dua berada dalam satu garis lurus 20 km dari titik tersebut. Mereka pasti bisa tiba di area ‘titik’ sebelum hari gelap.


Mereka sudah tidak kenal dengan hari, apakah hari itu senin, selasa atau minggu semua tampak sama saja. Tidak ada beda, yang mereka tahu saat ini hanya waktu. Itupun berkat arloji army yang mereka dapatkan di basecamp.


Maya bergerak lincah dan mulai mendaki undakan, saat Lin dan Ef baru setengah menuruni lereng. Sejak tadi Lin sangat mandiri, dia bisa menuruni lereng atau melangkahi akar besar tanpa bantuan. Meskipun baru mengalami kejadian yang pasti memberi tekanan mental kepadanya, Lin tampak benar-benar biasa saja. Bahkan ‘agak riang’ lebih cocok untuk menyebut kondisi Lin saat ini.


Radio Ef berbunyi. Suara Maya terdengar.


“Aku melihat empat orang di bawah.”


“Diam di tempat dan menunduk. Tunggu kami tiba.” Setelah menjawab lewat radio, Ef mempercepat langkahnya. Tanpa di suruh Hamish dan Lin melakukan tindakan serupa.


Ef berjongkok di sebelah Maya yang sudah tiarap di atas bukit sejak tadi. Gadis itu menunjuk ke arah bawah dan mengacungkan empat jari. Kemudian menunjuk titik-titik yang sepertinya menjadi lokasi empat orang jtu bersembunyi.


“Biar aku lihat!” Lin maju ke sebelah Maya, langsung tiarap dan membuka penutup teleskop senapannya. Ef cukup terkesima dengan inisiatif Lin yang bergerak tanpa menunggu komando darinya.


Sebagai satu-satunya anggota yang memiliki senjata dengan teleskop pembesar. Lin merasa saat ini dia harus menunjukkan peran dalam membantu tim.


“Seorang pria berambut pirang di sebelah kiri. Arah jam sebelas,” ucap Lin tanpa melepaskan pengamatan dari atas senapan. Kemudian Maya menunjuk arah lain. Dan Lin mengalihakan moncong senapannya ke arah yang Maya tunjuk. Kedua gadis itu sudah tampak seperti Sniper dan Spotter profesional. Ef cukup duduk dan menerima laporan.


“Tiga orang berada di satu titik pada arah jam 2. Dua pria dan satu wanita. Mereka semua menunduk, seperti sedang bersembunyi dari sesuatu.”


“Coba sisir area depan mereka!”


Hamish yang sejak tadi bersandar di sebuah pohon menoleh kepada Ef


“Makan apa mereka tadi. Kenapa begitu bersemangat?”

__ADS_1


“Bukan mereka yang bersemangat, kau yang terlalu santai.” Ef berjalan kepada Hamish, tapi pandangannya masih mengawasi kedua wanita yang sedang memantau. “Aku memiliki contoh kalung peserta. Apakah kau bisa mempelajari cara membongkar kalung ini?” Ef menurunkan ranselnya dan membuka sedikit untuk memperlihatkan kepada Hamish.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan benda ini, Capt? Ini bukan punyamu!” Hamish ikutan berbisik. Mereka seperti tidak ingin obrolan barusan terdengar oleh Lin dan Maya.


“Aku mengambil kalung ini dari jasad peserta,” ungkap Ef tanpa menceritakan kejadian sebenarnya. “Kau pernah membongkar benda-benda elektronik?”


“Ya, itu adalah salah satu bakat terpendamku sejak kecil. Aku suka membongkar sesuatu, walau lebih sering tidak bisa menyusunnya kembali. Hehehe” Hamish nyengir kuda.


“Tak masalah. Yang penting kita harus bisa melihat isi dalam kalung ini.” Tentu saja dengan membongkar kalung tersebut, Ef berharap menemukan celah untuk melepaskan kalung yang sedang melingkar di leher mereka.


“Waktunya sudah aktif?”


“Sudah, lampu indikatornya biru. Pemilik kalung ini sudah melewati cek poin satu.”


“Mau di bongkar sekarang? Tapi kita tidak memiliki alat.”


Lin menoleh ke belakang, senyum sebentar, kemudian kembali fokus ke tugasnya.


“Aku tidak bisa melihat apapun. Tapi ada kilauan dari ranting pohon di sudut sana. Seperti pantulan cahaya.”


Ef tersadar sesuatu, dia melihat ke arah matahari. Beruntung matahari berada di belakang mereka. Sehingga pantulan serupa tidak terjadi di teleskop Lin.


“Biar aku lihat.”


Lin bangkit dari posisinya memberi ruang untuk Ef mengambil alih. Lin mengarahkan Ef untuk mengamati titik pantulan yang dia maksud.


“Benar itu seperti pantulan cermin.” Ef memutar pembesaran teleskop hingga maksimal untuk mendapat pencitraan yang lebih dekat. “Tidak ada orang. Berarti pantulan cahaya itu bukan dari teleskop. Dan tidak mungkin ada orang yang memasang cermin di atas pohon.”


“Bisa jadi itu kamera yang di pamerkan saat acara pembukaan,” celetuk Maya.

__ADS_1


Benar, itu bisa jadi saja kamera pengawas.


Ef makin memfokuskan pandangannya untuk melihat benda yang memantulkan cahaya tadi. Tapi dia tetap tidak melihat apapun.


Sebuah pergerakan di bawah membuat perhatian Ef teralihkan. Dia melihat ada seorang yang bergerak di antara pepohonan. Seperti empat orang yang berada di bawah bersembunyi dari orang yang ada di seberang mereka.


Merasa posisi mereka aman, Ef menyerahkan kembali tugas pemantauan kepada Lin dan Maya. Sedangkan dia memperhatikan pohon yang berada di dekat mereka. Mencari benda yang mungkin terpasang.


“Amati ranting-ranting yang memungkinkan mereka menaruh kamera pemantau!” Ef memberi intruksi kepada Hamish.


Cukup lama Ef mendongak untuk mengamati tiap ranting , namun matanya belum melihat benda yang mereka cari.


“Seandainya aku akan membuat konten di alam terbuka. Aku tidak akan meletakkan kamera jauh dari objek.” Hamish berbicara sendiri sambil memijat lehernya yang mulai pegal.


“Jadi di mana posisi ideal memasang kamera menurutmu?”


“Di sini!” Hamish menunjuk dahinya. Kemudian terkekeh geli dengan leluconnya sendiri. Tak peduli jika Ef hanya memandangnya dengan tatapan datar.


Rentetan tembakan yang tiba-tiba membuat Ef dan Hamish reflek menundukkan tubuh. Renteran tembakan makin ramai terdengar di bawah. Kelompok yang membelakangi mereka melepaskan tembakan dan mendapat balasan dari arah pepohonan di seberang mereka.


“Ef, sini!” Maya setengah berteriak memanggil Ef. Lin masih membidik dengan serius.


“Kata Lin, orang yang di balik pohon tampak seperti tentara. Gerakannya seperti kau.”


Ef menyipitkan mata mencoba melihat ke arah yang di tunjuk Lin meskipun dia tidak bisa melihat apa-apa. Tapi laporan Maya tadi terkonfirmasi dari suara tembakan yang mereka lepaskan. Pihak di seberang pohon melepaskan tembakan sesekali. Dan saat tembakan terjadi, terlihat ada pergerakan dari arah lain. Mereka melakukan tembakan pengalihan. Hanya orang-orang yang akrab dengan senjata yang paham dengan paham dengan teknik ini.


“Hei, aku bisa melihatnya. Dia bersembunyi di balik batu besar itu.” Lin menujuk sebentar kemudian kembali ke mengamati lewat teleskop.


“Dia tidak mengenakan kalung seperti kita!”

__ADS_1


__ADS_2