
Suara derap langkah membuat ef tersentak dari tidurnya. Dia melirik ke arloji, masih pukul 4 dini hari.
Ef menggoyang tubuh Lin yang masih terlelap dalam pangkuannya. Mata gadis itu terbuka.
“Ada yang datang, kau bangunkan Hamish dan Maya. Kalian sembunyi di kamar dan jangan bersuara.” Ef memberikan instruksi dengan suara pelan. Lin langsung bangkit dan berjalan sambil jongkok menuju Hamish, sedangkan Ef menyambar senjatanya dan keluar dari pintu belakang.
Suara langkah itu berasal dari jalan utama desa. Ef mulai mengendap mendekat ke arah sumber suara dan menjauhi rumah yang mereka jadikan tempat beristirahat.
Dari sudut belakang rumah, Ef bisa melihat empat orang berjalan memasuki gerbang desa. Kegelapan malam membatasi pandangan untuk mengamati lebih detail. Dia tidak bisa membedakan ke empat orang itu peserta Hell Game atau pasukan yang ada di hutan tadi siang.
Makin lama ke empat orang itu makin mendekat dan hampir tiba di depan rumah pertama. Tiba-tiba mereka berhenti melangkah, kemudian berjalan pelan ke seberang jalan. Mereka berempat masuk ke rumah yang berada di seberang rumah pertama.
Beberapa menit Ef menunggu gerakan ke empat orang tadi. Rumah itu tetap gelap, hanya lampu teras yang menyala redup. Artinya mereka berempat sengaja tidak menyalakan sakelar lampu.
Setelah hampir setengah jam belum nampak ada pergerakan. Ef kembali ke rumah yang mereka jadikan tempat beristirahat.
“Ada musuh?” Hamish langsung bertanya saat Ef baru saja masuk.
“Ada empat orang yang masuk ke dalam rumah di pangkal desa. Aku belum tahu pasti siapa mereka, kita tetap harus waspada.”
Ef kemudian masuk ke dalam kamar. Di sana Lin dan Maya duduk bersandar di dinding sambil memeluk senjata mereka.
“Untuk sementara masih aman, hanya saja jangan bikin kegaduhan. Kalau kalian mau tidur kembali tak apa. Aku akan berjaga.”
“Mereka pasukan yang tadi siang apa peserta Hell Game?” tanya Lin.
“Belum tahu. Tapi siapapun mereka. Tetap saja mengancam.” Ef berjongkok di depan Lin. “Aku pinjam senjatamu untuk memantau mereka. Kau pegang ini untuk berjaga-jaga.” Ef menyerahkan senjatanya dan mengambil senapan runduk Lin.
“Aku akan menemanimu,” Lin hendak bangkit, namun Ef mencegahnya lebih dulu.
“Tidak perlu. Kau tetap di sini. Kalau mau membantu, kalian cukup kemas bekal dan cari benda-benda di rumah ini yang berguna untuk kita.”
Ef meninggalkan kamar dan berjalan ke arah depan rumah. Dia menggeser sebuah meja ke dekat jendela. Kemudian meletakkan bipot senapat bertumpu di atas meja. Moncong senapan itu mengarah ke rumah yang di masuki empat orang tadi.
__ADS_1
Matahari sudah mulai muncul pada jam 7 pagi. Sudah tiga jam Ef memantau rumah tersebut, belum melihat tanda-tanda pergerakan. Arah matahari yang terbit dari belakang rumah tadi juga membuat pemantauan makin sulit. Pandangan melalui teleskop menjadi silau.
Baru saja Ef merentangkan tangan untuk melemaskan otot lengan dan pundak. Tiba-tiba jendela rumah itu di buka dari dalam. Ef langsung fokus ke teleskope.
Seorang pria berkepala botak berdiri di balik jendela sambil menguap berkali-kali. Di leher pria itu melingkar kain berwarna biru, sehingga Ef tidak bisa melihat apakah lehernya mengenakan kalung peserta atau tidak.
Pria itu tampak menoleh ke arah Ef sebentar, kemudian dia menghilang masuk.
Apakah dia melihat Ef yang sedang memantau? Seharusnya dengan jarak yang begitu jauh -hampir seratus meter- Dia tidak akan bisa melihat Ef yang berada di balik jendela kaca. Apalagi dengan mata telanjang tanpa alat bantu semacam binocular atau telescope, hampir mustahil dia bisa melihat dengan jelas.
Ef baru hendak berpindah saat pria plontos itu kembali ke sisi jendela. Kali ini dia membuka daun jendela bagian bawah. Tampak dia sedang memegang cangkir di tangan kanan. Ternyata dia menghilang sebentar tadi untuk mengambil minuman hangat.
Lama pria itu berdiri di sana, bersiul-siul santai sambil sesekali menyesap isi cangkir yang dia bawa. Ef terus mengamati gerak gerik pria plontos melalui teleskop.
Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah, Ef menoleh ke sumber suara. Kaca si sisi kirinya pecah oleh lemparan bola besi yang sekarang menggelinding di lantai. Ef langsung melompat menjauh dan berlari ke arah dalam.
“AWAS LEDAKAN!”
Sebuah Ledakan keras terdengar hanya berselang sekian detik dari teriakan Ef yang sedang tiarap di lantai untuk melindungi diri. Baru saja dia hendak bangkit, rentetan tembakan menghantam dinding rumah.
“Kemarikan senjataku!”
Lin segera menyerahkan senapan serbu Ef.
“Pindah ke belakang!”
Ef kemudian melepaskan tembakan balasan secara asal ke arah luar. Dia memang tidak bermaksud mengenai lawan yang entah berada di mana, tetapi tembakan tadi untuk memberi kesempatan rekan-rekannya untuk mundur.
“Kalian tetap siaga di sini. Aku keluar, tembak siapapun yang masuk.” Ef kemudian memasang kembali radio komunikasi ke telinganya dan bergerak keluar.
Beberapa kali Ef mengumpat kesal karena tertipu trik murahan. Pria plontos tadi ternyata memang menyadari keberadaan Ef. Dia berdiri di sana untuk membuat Ef terus fokus kepadanya sedangkan rekannya yang lain mulai mendekat, dan melakukan penyerangan.
Tiba di luar, Ef menunggu mereka melepaskan tembakan lagi untuk mengetahui posisi mereka. Tapi ternyata, mereka tak kunjung menembak ulang.
__ADS_1
“Mereka terlatih. Kalian cari tempat persembunyian yang keras. jangan mengintip lewat jendela” Ef memberi petunjuk lewat radio.
“Di mana senapanku?” terdengar Lin dari earphone.
“Aku tinggal di ruangan depan. Jangan di ambil. Berbahaya!”
Ef kemudian bergerak ke kiri sambil terus mengamati area seberang. Mencari kemungkinan posisi lawan yang bersembunyi di salah satu rumah di seberang sana.
Akhirnya Ef harus berspekulasi, dia memutuskan bergerak menuju rumah pertama tempat si plontos menunggu. Dan melepaskan tembakan ke arah rumah itu.
Benar saja, tembakan Ef di balas. Dari arah depan dan juga dari arah pukul sepuluh. Ef bisa menyimpulkan kalau si plontos masih berada di rumah itu dan rekannya ada di rumah lain.
Dengan tetap mengendap Ef bergerak maju. Dia bersembunyi di balik tembok rumah kemudian melemparkan granat tangan ke arah seberang. Sebuah ledakan keras terdengar di iringi jeritan kesakitan.
Lagi-lagi renteran tembakan di arahkan menuju Ef. Dia harus terus merapatkan diri ke dinding agar tidak menjadi sasaran empuk timah panas. Tidak ada balasan lagi dari depan. Sepertinya si plontos memang terkena efek ledakan.
EF kemudian fokus ke arah kiri. Dia bisa melihat tiga orang bergerak pindah dari satu rumah ke rumah lain. Ef membidik ke arah jendela. Tak lama muncul kepala yang mencoba mengintip. Sebutir peluru dari senapan Ef langsung menembus kepala pengintip.
Tinggal 2 lawan satu, Ef mulai berani bergerak mendekat. Dia tetap menjaga tubuhnya dengan berpindah melalui sisi-sisi rumah. Bayangan kembali terlihat dan Ef langsung melepaskan tembakan.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening. Tak ada lagi suara tembakan. Ef telah memenangkan pertempuran, semua lawan sudah tumbang.
Dengan tetap berhati-hati Ef menyeberangi jalan. Di rumah ke tiga dari kanan, tampak jasad seorang pria dengan kepala berlumuran darah. Ef kemudian bergerak ke arah rumah ke empat. Dua orang sudah terbaring di lantai dengan tubuh berlubang.
Ef mendekati dua mayat di depannya, dan memeriksa leher mereka. Benar dugaannya, leher mereka tidak mengenakan kalung. Kedua mayat itu juga bertato. Mereka bukan peserta, tapi pasukan dari Hell Game.
“Aman, mereka telah tewas.” Ef berbicara lewat radio.
“Kau di mana?” Suara Lin terdengar gugup.
“Aku di rumah seberang kalian.”
Ef menyempatkan diri mengambil magazin yang ada di rompi kedua mayat dan memerikaa saku kedua manusia yanh barusan menjadi mayat sebelum bergerak keluar dari rumah. Baru saja Ef melangkah melewati pintu saat sebuah besi dingin menempel di pelipisnya.
__ADS_1
Ternyata di plontos belum mati.
DOR...