Hell Game

Hell Game
Cuaca Extream


__ADS_3

Andrew White duduk di ujung meja panjang, menghadap kepada monitor besar yang menempel di dinding. Di sisi kanan Andrew ada Yuki, di sisi kiri ada Arsy dan Pablo berdiri di dekat layar. Siang ini mereka mengadakan rapat darurat berdasarkan permintaan Pablo. Dua Helikopter yang mendarat di arena bukan perkara sepele. Jika tidak di tangani dengan tepat, bisa berakibat Hell Game berhenti. Sebagai pemimpin pasukan lapangan, sudah menjadi tugas Pablo untuk memastikan Hell Game berjalan lancar.


Pablo memulai presentasinya dengan menayangkan video pendaratan dua helikopter militer. Kemudian video pertemuan pasukan militer tersebut dengan tim lima belas. Kemudian beralih kepada video pendek yang berdurasi beberapa detik yang menayangkan bom kalung meledak d bawah helikopter.


“Helicopter pertama berisikan militer Kamerun, dan helicopter kedua berisikan agen CIA. Saya yakin mereka akan kembali dalam waktu singkat”


Andrew tetap duduk di di ujung meja tanpa bersuara. Kedua tangannya mengepal menahan emosi. Semua skenario Hell Game sudah rapi, dia merancang Hell Game tanpa celah. Pejabat korup juga sudah di suap agar tidak mengganggu. Gara-gara agent CIA menjadi salah satu peserta, semua skenario bisa berubah drastis.


Arsy mengangkat tangannya meminta waktu untuk berbicara.


“Bagaimana jika Mr Andrew dan Nona Yuki pergi dari pulau ini dahulu?”


“Kami tidak bisa meninggalkan pulau saat ini, sudah pasti semua dermaga telah di awasi militer. Kami akan tertangkap di sana.” Andrew langsung menjawab sesaat sebelum Pablo berbicara.


“Benar apa yang di katakan Mr Andrew. Kapal kita akan menarik perhatian aparat.”


“Apa saranmu Pablo?”


“Saya menyarankan jalankan Plan C!”


***


Matahari telah condong ke barat saat tim lima belas menemukan sebuah sungai kecil. Ef memutuskan agar mereka beristirahat di sana sebentar sebelum bergerak kembali.


Seperti tujuan semula, mereka bergantian untuk membersihkan diri. Mandi di sungai yang sejuk, untuk menyehatkan mental kembali. Harapan akan selamat saat pasukan militer tiba, ternyata harus kandas akibat kenyataan bahwa kalung yang melekat di leher memaksa mereka untuk tetap berada di arena Hell Game.


Sembari Lin dan Maya mandi, Ef membuat api unggun untuk memasak air minum. Hamish tetap dengan fokusnya, memanaskan kornet kaleng. Setelah kedua gadis itu kembali, barulah Hamish yang mandi, Ef menjadi orang terakhir.


“Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Tempat ini terlalu terbuka. Ancaman bisa datang dari semua penjuru.” Ef yang baru saja selesai mandi segera membereskan ranselnya.


“Botol minum kalian sudah terisi semua?”


Lin, Maya dan Hamish mengangguk.


“Kita akan mengambil jalur menuju check poin ke 3. Jika di perjalanan kita menemukan lokasi yang bisa menjad tempat istirahat. Kita bermalam di sana.”


Setelah mematikan api unggun dan menghilangkan jejak, Ef kembali memimpin pasukan untuk bergerak.


Pergerakan kali ini cukup berat, bulan tidak bersinar, dan menyalakan senter sangat membahayakan. Mereka hanya bisa mengandalkan sisa-sisa keremangan cahaya matahari yang tak lama lagi akan benar-benar hilang.


“Ef, apakah kau yakin mereka akan menemukan cara membebaskan kita dari kalung ini?” Lin berbicara pelan dalam perjalanan.


“Aku yakin 100 %. CIA memiliki lab forensik tercanggih di dunia. Mereka tak butuh waktu lama untuk menemukan cara.”


“Kau tidak mengatakan itu hanya untuk membuat kami tenang, bukan?”

__ADS_1


“Tidak Lin, aku sangat yakin mereka sedang berusaha maksimal saat ini.”


“Oh iya, bagaimana kau bisa mendapatkan kalung tadi?”


Ef cukup terkejut dengan pertanyaan Lin. Dia belum menyiapkan alasan untuk pertanyaan ini.


“Aku mengambilnya dari mayat peserta.”


“Mayat? Bukankah kita belum pernah menemukan mayat sejauh ini?”


Benar juga yang Lin katakan. Mereka belum pernah bertemu mayat. Dan tidak mungkin memberi tahu Lin kalau mayat itu di buat oleh Ef.


“Sebenarnya, aku menemukan satu.”


“Kapan? Dimana?”


Ef baru saja hendak menjawab saat ponsel di sakunya bergetar. Dia terselamatkan.


“Ef, Koba di sini!”


“Ya, Bro!”


“Kami membutuhkan sampel kalung yang utuh. Bisa kau dapatkan?”


“Kau tau kalau benda itu melekat pada tubuh peserta kan?” Ef memelankan suaranya agar tidak di dengar Lin.


“Ya aku paham bro. Kau tinggal pilih kalung siapa yang mau kau ambil?”


“Tentu bukan dari timku! Kau di mana sekarang!”


“Kami sedang di perjalanan menuju pulau kalian. Aku akan menyusup ke pulau kecil, dan forensik akan kukirim menuju arena Hell Game untuk mendapatkan sampel. Aku harap saat kami tiba, kau telah mendapatkan sampel itu!”


“Baiklah, akan kuusahakan!”


Ef memasukkan Handphonenya ke dalam saku. Lin yang berjalan tak jauh di depannya langsung berbalik.


“Dari daddy?”


“Bukan, tapi dari agent”


“Apa yang kalian bicarakan!”


“Mereka meminta kita bertahan sebentar, mereka sudah hampir menemukan cara menjinakkan bom kalung.”


“Oh Syukurlah.”

__ADS_1


Rintik hujan kembali menetes dari langit. Makin lama makin deras. Jalan tanah menjadi licin.


“Hujan semakin deras Ef” Maya berbicara lewat radio.


“Kita cari tempat berteduh. Apakah di depan sana ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk bermalam?”


“Aku tidak bisa memastikan, semuanya gelap”


Ef berhenti berjalan dan mengeluarkan binocular pencitraan malam dari dalam ransel. Dengan alat itu dia bisa memantau kondisi sekitar tanpa bantuan cahaya sekalipun.


Mereka sedang berada di hutan belantara yang lebat dan landai. Tidak ada tebing atau ceruk yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Hanya ada pepohonan besar yang tumbuh memenuhi semua penjuru.


“Kalian berhenti dulu, kita bergerak bersama.” Ef berbicara lewat radio agar Maya dan Hamish menghentikan langkah mereka.


“Kita harus lanjut berjalan. Di sini tidak memungkinkan untuk berhenti. Aku akan berjalan paling depan, kalian ikuti langkahku.”


Beberapa menit sekali, Ef memantau situasi dengan Binnocullar Night vision. Belum ada tanda-tanda tempat yang bisa di gunakan untuk berteduh. Hujan turun makin deras, pakaian mereka telah basah kuyup. Situasi ini tak bisa di biarkan, mereka bisa kedinginan jika berjalan lebih lama lagi.


Baru saja Ef memikirkan tentang cara bertahan di cuaca hujan. Suara gemeletuk gigi yang beradu terdengar dari dekatnya. Lin sudah kedinginan.


“Kau masih bisa bertahan sebentar?” Ef meraih tangan Lin. Telapak tangan gadis itu sudah berkerut.


Lin mengangguk, namun wajahnya telah pucat.


“Semuanya kumpulkan ranting-ranting kecil yang bisa di temukan. Jangan ambil ranting yang telah jatuh. Ambil yang masih berada di pohon. Cari yang kering.”


Sembari ketiga anggota mengumpulkan ranting, Ef menebang dahan pohon yang cukup besar. Beberapa dahan dia tancapkan ke tanah, dan satu dahan melintang di atas. Dalam waktu beberapa menit saja, Shelter darurat terbangun dengan atap dari kain matras. Tidak begitu sempurna, tapi cukup untuk menahan hujan dari atas.


Ranting kecil tadi segera di nyalakan menjadi api unggun. Lin, Maya dan Hamish segera duduk mengelilingi api.


“Kalian tunggu di sini!”


“Kau mau kemana?” Lin bertanya sebelum Ef melangkah.


“Aku harus membuat sesuatu”


Tanpa menunda waktu, Ef segera bergerak sejauh dua ratus meter dari posisi timnya berteduh. Dia membuat shelter sederhana lagi, mengumpulkan rating kecil dan membuat api unggun. Setelah api itu menyala, Ef berpindah posisi dan melakukan hal yang sama. Membuat Shelter dan api unggun. Butuh waktu hingga dua jam untuk membuat 5 shelter pengalih. Barulah dia kembali ke kelompoknya.


“Untuk apa kau membuat semua itu, Capt?”


“Untuk pengalihan. Api unggun yang kita nyalakan akan memberi tahu posisi. Dengan adanya lima shelter lain, fokus musuh akan terpecah. Jika mereka menyerang salah satu, kita bisa tahu dan memiliki waktu untuk merespon.”


“Kau masih kedinginan?” Ef melihat Lin yang masih duduk sambil memeluk lutut. Maya pun begitu. Wajah kedua gadis ini memucat.


“Buka baju kalian berdua!”

__ADS_1


__ADS_2