Hell Game

Hell Game
Labirin


__ADS_3

Suara letusan senapan di puncak bukit bersamaan dengan suara benturan di langit. Tebakan Lin tepat sasaran dan membuat drone hilang kendali. Helikopter mini pengangkut kamera itu jatuh tak jauh dari posisi Ef yang sudah menunggu sejak tadi. Cepat dia masukkan bangkai drone itu ke dalam tas ransel.


“Maya, Hamish, serang sekarang!”


Letupan susulan terdengar dari atas bukit. Seperti instruksi sebelumnya, Hamish menyasar ke area kanan dan Maya menyerang area labirin. Tak lama tembakan mereka berhenti.


“Kami sudah kembali ke posisi Lin!” Suara Maya terdengar dari earphone.


“Kalian turuni bukit ke lereng kiri. Ambil jalan memutar menuju labirin!”


“Bagaimana denganmu, Ef?” Dari suaranya Lin terdengar mencemaskan sesuatu.


“Aku akan bergerak ke arah labirin dari bawah. Mulai bergerak sekarang! Waktu kita tak banyak!”


Sedikit demi sedikit Ef terus bergerak sambil tiarap di antar padang ilalang. Pria itu mencoba mendekati labirin sesenyap mungkin. Dia harus bisa memastikan jumlah anggota tim yang berada di sana. Jika memang mereka hanya berdua, bukan perkara sulit bagi Ef untuk melumpuhkan mereka.


Namun perkara akan menjadi berbeda jika sebenarnya mereka berempat, dua orang lain bisa saja memberi perlawanan tanpa Ef sadari. Sebuah kesalahan kecil di area Hell Game bisa membuat dia akan kehilangan nyawa. Jika Ef tewas, maka anggota lain pasti akan menyusul dalam waktu dekat.


Ef telah tiba di ujung padang ilalang. Matahari makin lama makin tenggelam di barat, sinarnya sudah mulai meremang dan membuat keadaan mulai gelap. Dia sengaja menunggu kondisi makin remang barulah Ef bangkit dari tiarap dan berlari menuju bayangan dinding labirin.


Dinding labirin dengan tinggi lebih dari tiga meter membuat bayangannya cukup luas. Ef bisa bersembunyi dengan sempurna dalam bayangan sambil memperhatikan sekitar. Tim tengah tak lagi terlihat, sedangkan dua orang tim labirin berada di sisi yang lain.


“Kalian dimana?” Ef berbicara lewat radio. Telah lewat lima belas menit mereka tidak berkomunikasi.


“Noleh ke kiri!” Ef langsung memutar kepalanya ke arah yang Lin sebutkan. Lin melambaikan tangannya dari balik pepohonan.


“Kalian mendekat ke sini, tetap menunduk!”


Sembari menunggu ketiga anggotanya mendekat, Ef memperhatikan setiap detail labirin. Dindingnya terbuat dari tananam perdu yang biasa di gunakan orang untuk pagar alami. Tentu perdu yang menjadi labirin ini sudah tua sehingga bisa tumbuh hingga tiga meter. Daun-duanya pernah di pangkas rapi sehingga bentuk persegi masih telihat. Walau sekarang daun-daun baru sudah mulai tumbuh dan membuat labirin itu tak lagi memiliki sisi yang tegas. Selain perdu itu, tanaman menjalar juga tumbuh subur dan melingkari ranting-ranting. Sulur panjang melilit seperti ular mamba hijau. Jarak ranting dan dedaunan begitu rapat, hingga cahayapun sulit menembus.


Ef menoleh saat merasa pinggangnya disentuh dari belakang. Lin telah sampai, di ikuti oleh Maya dan Hamish.


“Kita coba buat jalan masuk dari sini. Tak perlu besar, yang penting cukup untuk tubuh kita lewat!”


Ef mencari posisi dinding dengan ranting kecil yang tampak tak akan begitu sulit mereka tebas.


“Di sini!”

__ADS_1


Tanpa di perintah semua anggota mencabut belati mereka dan mencoba memotong ranting dan sulur tumbuhan merambat pada posisi yang Ef tunjuk. Lin dan Maya fokus memotong sulur sedangkan Ef dan hamish mencoba memotong ranting.


Dinding yang tebal ternyata cukup menguras tenaga dan waktu tim lima belas. Mereka sudah bekerja sama selama hampir lima belas menit, namun baru bisa membuat lubang sebesar telapak tangan.


“Kalau tanganku sudah bisa lolos nih!” Ujar Lin sambil memasukkan lengannya ke celah dinding. “Aw!” tiba-tiba dia menjerit dan reflek menarik tangannya kembali.


“Ada apa?” Ef menghampiri Lin yang terduduk di tanah sambil memegang tangan kirinya.


“Tanganku seperti tersengat listrik!” Lin mengibas-ngibas lengan kirinya.


“Listrik? Tak mungkin ada listrik di sini!” Hamish tampak tak percaya dengan ucapan Lin. Karena memang di sekitar mereka tidak terlihat ada tiang atau kabel jaringan listrik. Bagaimana bisa ada aliran listrik di tengah hutan begini.


Ef memperhatikan lubang kecil tadi, benar saja ada sebuah kawat yang melintang di bagian bawah. Setelah di perhatikan dengan seksama ternyata kawat itu tak hanya satu, tapi tersusun rapi berbaris ke atas dalam jarak 20 centi, melintang secara horizontal.


“Benar kata Lin, ada listrik yang mengalir di dinding labirin.” Ef kemudian duduk di sebelah Lin dan memperhatikan lengan gadis itu. Tak ada luka apapun. Dia hanya syok saja.


“Berarti tak ada jalan lain selain pintu masuk?” sekarang Maya ikut memperhatikan kawat yang Ef sebut barusan. Dia menekan kawat rengan ranting kayu.


“Kurasa begitu!”


Tak lama terdengar lagi suara tembakan dari arah hutan.


***


Maya berlari serampangan menembus hutan dan menuju pintu masuk labirin. Beberapa kali dia harus terjatuh karena tersandung akar-akar pohon yang melintang jalan. Dia berlari sekencang yang dia mampu seperti di kejar setan.


Kakinya tiba-tiba berhenti saat melangkah masuk ke dalam labirin. Di hadapannya berdiri seorang pria yang mengarahkan ujung larasnya ke arah Maya. Di balik dinding dalam ada seorang pria lain yang sedang duduk santai sambil menyantap sesuatu.


“Tim berapa?” Pria yang menodongkan senjata berjalan mendekati Maya yang diam terpaku.


“Ti-tim lima belas,” suara Maya bergetar karena rasa takut mulai menyerang. Baru kali ini dia harus menghadapi bahaya seorang diri. Keringat bercucuran dari dahinya.


“Mana anggotamu yang lain?”


“Me-mereka tewas. Kami di serang di hutan itu. Hanya aku yang selamat dan melarikan diri.” Maya menunjuk hutan yang ada di belakangnya tanpa memutar tubuh.


“Jadi kau sendirian saat ini, gadis manis?” Pria yang tadi duduk sudah berada di dekat Maya. Lampu kalungnya sudah berubah menjadi merah.

__ADS_1


“Lampu kalian sudah berubah. Apakah ini cek poin kedua?”


“Benar nona manis. Tempat ini adalah cek poin kedua. Kenapa? Kau membutuhkan kode?”


Maya mengangguk. Pria yang tadi duduk santai berusia lebih dewasa daripada yang menodongkan senjata kepada Maya. Sekarang dia berjalan memutari Maya, matanya menatap setiap lekuk tubuh wanita muda yang datang kepada mereka seorang diri. Tangannya mulai berani meraba pinggang Maya.


“Bolehkah aku juga mendapatkan kode?” Suara Maya benar-benar bergetar. Namun dia berusaha untuk tampak tenang di hadapan kedua pria ini.


“tentu saja boleh, kami hanya berdua. Masih ada enam kode lain yang bisa kau gunakan. Namun tak ada yang gratis di dunia ini. Kau tahu itu?” Maya tersentak saat merasa pant*tnya di remas oleh pria paruh baya. Maya langsung menepis tangan pria itu dan berjalan mundur. Dia juga mencabut belatinya dan mengarahkan kepada lawan.


“Hahaha, kau kira bisa melawan kami dengan pisau kecil itu?”


“JANGAN MENDEKAT! APA MAU KALIAN?” Maya berteriak sambil mengacungkan pisaunya ke arah depan.


“Tenang, nona manis. Kami tidak akan menyakitimu. Kami akan mengantarkanmu mendapatkan kode. Namun tentu kau harus membayar jasa kami!”


Maya berjalan mundur saat pria paruh baya terus mendekatinya. Dia berputar ke arah pria yang memegang senjata dan terus bergerak ke arah dalam labirin. Kedua pria itu ikut memutar tubuhnya menghadap ke arah Maya.


Maya menoleh ke belakang, dia sudah berada di lorong dalam labirin. Jika dia bisa berlari, kedua pria ini pasti akan kesulitan menangkapnya di anyata dinding-dinding tinggi itu. Namun baru saja Maya hendak melangkah, tangannya langsung di tangkap oleh pria paruh baya. Sedikit pelintiran membuat pisau Maya terlepas dari genggaman.


“Kau mau kemana nona manis?”


Merasa sudah di atas angin, pria itu makin berani. Dia menarik retsleting baju Maya kebawah. Sekarang gadis itu mulai menangis.


“To-tolong jangan sakiti aku,” Maya mulai menghiba saat tangan pria itu mulai menelusuri tubuhnya.


“Tenang, kami akan bermain dengan lembut.” Pria itu mulai menciumi wajah Maya, terus berpindah ke lehernya. Kecupannya berhenti saat melihat sebuah benda yang terpasang di telinga Maya.


“Apa ini?” Pria itu menarik earphone yang terpasang di telinga maya dengan kasar.


“Itu namanya earphone, Dude!”


Ef berdiri di belakang pria paruh baya dengan pistolnya menempel di kepala pria itu.


***


Halo semua, seperti sebelumnya. Hell Game update di malam senin. jangan lupa vote ya. 😁

__ADS_1


terima kasih telah mengikuti Hell Game hingga saat ini.


__ADS_2