
Lin sedang duduk menunggu dengan piring kosong di hadapannya. Dia bersikukuh tidak mau makan meskipun Hamish telah menawarkan berkali-kali. Lin berkilah belum lapar.
Saat Ef masuk ke ruang makan, senyuman di bibir Lin langsung mengembang. Dia juga segera meletakkan potongan roti gandum di piring. Tak lupa Lin menambahkan lauk dan saus tomat sebagai topping.
“Ini piringmu,” Lin menyodorkan piring tadi kepada Ef yang baru bergabung bersama mereka. Setelah piring di tangannya berpindah kepada sang kapten, barulah dia meletakkan potongan roti untuk dirinya sendiri.
Tingkah Lin barusan ternyata di amati oleh Hamish yang duduk tepat di depan Lin. Dia menyikut Maya yang sedang asyik menikmati santapannya.
“Mari kita menyinggkir. ‘Mommy’ and ‘Dad’ mau makan malam romantis,”
Maya yang tidak memahami kondisi menatap ke Ef dan Lin bergantian. Ef hanya tersenyum tenang sedangkan Lin hanya menunduk dengan wajah memerah.
“Oh jadi ini penyebab dia menolak untuk makan. Menunggu ‘daddy’ ternyata.” Maya menimpali candaan Hamish. “Mari, kita beri ruang untuk ‘Mom’ and ‘Dad’,”
“Ayolah, jangan seperti itu. Kami tidak meminta kalian untuk pergi.” Lin yang sejak tadi di goda akhirnya bersuara. Dia menoleh kepada Ef, tatapannya meminta bantuan. Tapi pria itu hanya melahap roti gandumnya sambil mengulum senyum.
“Kau memang tidak meminta kami untuk pergi. Tapi kamu tahu diri. Ayo Maya, kita makan di depan saja.”
“Sudah, jangan di goda terus. Nanti dia tidak mulai makan.” Akhirnya Ef bersuara. Roti gandumnya sudah hampir setengah. Sedangkan punya Lin belum berkurang sekeratpun. “Tanganmu sakit? Apakah mau aku suapi, ‘Mom’?” Ef ikut menggoda dengan menekankan kata Mom. Hamish terbahak, Maya melanjutkan makannya dan Lin makin tersipu.
Tak lama Hamish dan Maya telah menghabiskan makan malam mereka dan meninggalkan meja makan. Roti milik Ef seharusnya sudah lama habis, tapi dia sengaja memperlambat makannya demi menunggu Lin.
“Seandainya setiap malam selalu bisa makan malam seperti ini, aku rasa dunia akan sangat indah.” Ucap Ef di sela kunyahannya.
“Semoga selanjutnya kita bisa menemukan desa seperti ini lagi. Atau setelah dari cek poin dua kita bisa kembali lagi ke desa ini untuk menginap.” Lin menyikapi ucapan teman makannya dengan serius.
“Yang aku maksud bukan tentang desanya.”
Lin mengernyit dan berusaha mencerna ucapan Ef barusan.
“Oh aku tahu. Kau mau memuji dirimu sendiri karena pandai memasak?” Lin menaikkan sebelah alisnya sambil menoleh kepada Ef.
“Bukan juga. Yang aku maksud dunia yang indah adalah jika bisa selalu makan dengan di temani bidadari seperti malam ini.”
Lin terbatuk-batuk dan langsung mengambil gelas air minum di depannya.
“Apakah kau selalu minum dengan pose seimut ini?”
Lagi-lagi Lin terbatuk dan hampir menyemburkan air yang baru saja dia minum.
***
Suara jangkrik makin jelas menggaung di udara saat malam semakin larut. Di selingi oleh suara burung hantu yang saling sahut menyahut.
__ADS_1
Hamish sudah mendengkur di ruang tengah setelah frustasi tidak bisa membuka kalung metal yang di berikan oleh Ef tadi siang. Maya juga sudah tidur di kamar dengan posisi meringkuk di balik selimut. Posisi desa yang berada di tengah lembah tanpa pepohonan besar sebagai penghalang membuat angin begitu leluasa menembus celah-celah dinding. Malam itu terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
Lin beberapa kali menggosok-gosok lengannya yang terbuka untuk mengurangi rasa dingin. Dia sengaja belum tidur karena Ef belum kembali dari mengecek keadaan dan mematikan lampu di rumah-rumah yang lain.
Pukul sebelas malam Ef kembali, tubuhnya terbungkus selimut yang entah dia dapatkan dari mana. Dan mendapati Lin masih duduk menunggu di meja makan sambil memeluk lengan.
“Kenapa kau belum tidur?” tegur Ef seraya membungkus tubuh Lin dengan selimut yang tadi membungkus dirinya.
“Aku menunggumu pulang. Kemana saja? Kenapa begitu lama?”
“Aku mencari-cari benda yang mungkin berguna untuk kita di setiap rumah. Dan aku menemukan ini.” Ef menunjukkan sebuah dokumen tua milik penduduk lokal. “Kita berada di Kamerun. Tapi dokumen ini telah begitu usang. Aku tidak bisa membaca nama distrik dan alamat jelasnya.”
“Apakah kau tidak menemukan handphone atau telepon?” Lin mengencangkan balutan selimutnya. Udara dingin terasa menusuk hingga ketulang.
“Belum. Aku baru memeriksa tiga rumah. Besok siang kita lanjutkan memeriksa rumah lain.” Ef masih berdiri menggosok-gosok telapak tangan, kemudian menempelkan ke pipinya sendiri.
“Kemarilah,” Lin merentangkan selimut yang dia gunakan. Ef langsung duduk di sebelah gadis itu, dia tidak mau menolak tawaran yang begitu menggoda.
Panas tubuh mereka bercampur dan terkurung dalam balutan kain tebal, ditambah kulit yang bersentuhan memang menjadi obat yang mujarab untuk menghilangkan rasa dingin. Panasnya bukan hanya terasa di permukaan kulit, tapi juga mengalir di pembuluh darah, jantung keduanya mulai berdetak cepat.
EF merengkuh pinggang Lin untuk membawa tubuh gadis itu makin merapat. Sisa aroma sampo di kepala Lin mulai menyerang indra penghidu saat gadis itu menyandarkan kepala ke bahu Ef.
“Seandainya kita selamat dari Hell Game? Apa yang akan kau lakukan?” bisik Lin hampir tidak terdengar.
“Kalau kau bekerja, bagaimana janjimu untuk menemani ke Indonesia?”
“Bukankah pekerjaanku saat ini menjadi pengawalmu?” Ef meraih tangan Lin dan menggenggamnya.
“Tapi aku tidak mau kau menemani sebagai pengawal.”
“So, Aku harus menemanimu sebagai apa? sepupu?” Ef mengulang permintaan Lin yang meminta dia untuk mengaku sebagai sepupu saat mereka pertama kali bertemu.
Gadis itu tidak menjawab, dia hanya mempererat genggaman tangan sembari memeluk lengan pria yang saat ini sedang bersembunyi di balik selimut bersamanya. Lengan Ef terasa hangat dan benar-benar mujarab untuk mengusir hawa dingin.
Ef memperhatikan tingkah Lin dalam diam. Karakter gadis itu berubah-ubah sepanjang waktu. Di awal pertemuan dia tampak, mandiri, cerewet dan pengatur. Saat awal-awal penculikan dia menjadi pendiam, dan sekarang tingkahnya menjadi manja.
“Apakah menjadi novelis membuat karakter orang berubah?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Tidak apa-apa. Hanya terlintas saja di benakku.”
“Kau pasti sedang menyindirku, kan?” Tawa Ef cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Lin barusan. “Aku terbiasa menulis dengan penuh emosi. Aku merasa harus bisa menyatu dengan tokoh yang aku ciptakan. Kau tahu, kalau sedang menulis adegan sedih, aku ikut menangis, loh.”
__ADS_1
“Kalau adegan ‘panas’, kau ikut panas?”
Ef harus menerima cubitan di pinggangnya sebagai akibat dari godaannya barusan.
“Bagaimana kalau kau buat cerita juga. Tentang tugas-tugasmu. Aku rasa akan sangat menarik.” Lin beringsut membenahi posisi dan kembali memeluk lengan Ef.
“Aku hanya bisa menulis laporan, dan tidak pandai menulis cerita. Kalau di paksakan bisa-bisa hasilnya menjadi seperti jurnal ilmiah, hahaha”
“Nanti kubantu. Aku juga akan bantu promosi di akun sosial mediaku. Followersku banyak, Loh!” ujar Lin antusias. “Sampai kapan kau mau bekerja bertaruh nyawa seperti ini. Apakah kau tidak mau hidup normal seperti orang kebanyakan?”
Ucapan Lin membuat Ef menghela nafas. Hidup normal. Ya dia memang mulai merasa kalau pekerjaan yang dia jalani saat ini seperti tidak memiliki akhir.
“Mungkin aku akan berhenti jika telah menemukan pelabuhan akhir. Tempat kupulang.”
Suasana menjadi hening setelah Ef menyudahi kalimatnya. Lin tidak menganggapi dan Ef tidak melanjutkan. Mereka berdua tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kau punya pacar?” Lin akhirnya buka suara terlebih dahulu. Lama dia menunggu, tetapi Ef tak kunjung menjawab. Hingga dia merasa tangan Ef mengangkat dagunya.
Ef menatap mata Lin yang membalas dengan tatapan sayu.
“Belum ada. Tapi aku baru menemukan calonnya.” Suara Ef terdengar begitu berat.
“Siapa?” Mata Lin bergerak menatap mata kiri ke mata Kanan Ef bergantian. Pria itu tidak menjawab, hanya wajahnya yang makin lama makin mendekat.
Hawa dingin malam itu sudah tidak mampu lagi menyerang saat bibir mereka bertemu untuk kedua kalinya. Kali ini tanpa ada rasa marah dan emosi seperti tadi pagi. Hanya ada rasa nyaman yang mengalir dari wajah hingga ke seluruh tubuh.
Ciuman yang lembut mulai berubah menjadi lebih dalam seiring waktu. Perlahan, tangan Ef sudah mulai berani menyelusup masuk ke dalam gaun Lin dan menyentuh bukit kenyal yang selama ini Lin sembunyikan. Ef merasa kulit yang dia sentuh jauh lebih halus dari permukaan kulit lain yang ada di tubuh gadis itu. Lama dia bermain di sana, tanpa ada penolakan dari sang pemilik yang masih terpejam. Ef mulai berani untuk menyelusup makin jauh. Tangannya bergerak ke bawah. Namun, tiba-tiba tangan Lin menahan tangannya.
“Jangan kesana, I’m on my period”.
***
Halo semua, terima kasih telah mengikuti Hell Game hingga saat ini.
Bantu Vote, like dan Share ya. 😁
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar di setiap bab.
Mari berteman di sosial media.
FB. Densa
Ig. Densa015
__ADS_1