
Lelaki itu menoleh saat mendengar suara pria dari arah belakang. Namun kepalanya terhenti oleh moncong besi dingin yang telah menempel di kepalanya.
“Kerja bagus, Maya!” Ujar Ef. Maya tersenyum sinis dan langsung berdiri.
“Mulutnya bau sekali, aku hampir saja muntah!” gerutu Maya sambil berjalan ke arah pria muda yang sedang mengangkat tangan. Moncong shot gun Hamish menempel di pinggang pria itu.
“Kenapa kalian lama sekali, hampir saja aku di gagahi mereka?”
“Kami mengikuti pesanmu, masuk ketika mendengar teriakan” jawab Hamish.
Maya masih terus menggerutu. Sekarang dia sudah memegang senapan milik pria muda dan kembali berjalan ke arah pria tua tadi.
“Mana kesombonganmu tadi pak tua?” Maya berdiri di depan pria paruh baya yang sudah berlutut. “Hmm, sepertinya aku mengenalmu? Kau Steven Hawk, kan?”
Pria itu hanya tersenyum kecut mendengar ucapan maya.
“Dalam film-film yang kau bintangi, kau tak pernah kalah dan begitu bijak. Ternyata aslinya hanya pria tua mesum. Cuih” Maya meludahi wajah Steven. “Mau kita apakan mereka?” Maya mendogak, meminta pendapat Ef yang masih berdiri di belakang Steven.
“Ikat tangan mereka!”
***
Ef memaksa Steven dan rekannya untuk mengantar tim lima belas menyusuri lorong labirin. Mereka sudah pasti masih hafal lorong mana yang harus di ambil untuk menuju tengah labirin. Memanfaatkan kedua pria ini demi kepentingan tim adalah pilihan yang lebih baik daripada membuat mereka menjadi mayat. Dalam waktu 15 menit mereka telah tiba di tengah.
Di tengah labirin terdapat sebuah patung kuda dengan kaki depan terangkat. Patung itu berdiri ditengah kolam kecil. Air mancur buatan keluar lubang-lubang kecil pada tepian kolam. Di leher patung kuda tergantung sensor sidik jari seperti yang mereka temukan di cek poin satu.
“Atas keberanian dan kecerdikanmu, maka kau yang akan mendapatkan kode pertama kali” ujar Ef mempersilakan Maya mengambil kode.
Tanpa basa basi Maya mendekati sensor sidik jari dan menempelkan jempol tangan kanan. Layar kecil langsung terbuka dan menayangkan enam digit angka. Hamish membantu mengetikkan kode itu ke kalung Maya. Lampu indikator berubah menjadi hijau.
Lin mendapat giliran setelah Maya, kemudian di ikuti Hamish, Ef menjadi orang terakhir yang mendapatkan kode.
“Tidak ada peti logistik seperti sebelumnya.” Lin mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari peti kayu seperti yang ada di cek poin satu.
__ADS_1
“Apakah memang tidak selalu ada hadiah di setiap cek poin?” Ef selalu bertanya kepada Hamish jika ada sesuatu yang ingin dia pahami dalam permainan.
“Seharusnya ada. Mungkin di area ini hadiahnya bukan logistik. Tetapi sesuatu yang lain.” Hamish berjalan ke dinding labirin dan mencoba menemukan sesuatu yang janggal. “Atau bisa jadi telah mereka ambil!”
Ef beralih ke arah Steven, namun sebelum tangannya mengapai pria itu, Maya lebih dulu memukul perut pria itu dengan popor senapan.
“Mana hadiah yang kalian ambil?” pertanyaan Maya dibarengi hantaman popor sekali lagi ke perut steven. Pria itu terbatuk-batuk.
“Hadiah apa? Aku tidak mengerti maksudmu!”
“Selalu ada hadiah di setiap cek poin. Kalau tidak ada di sini, berarti sudah kalian ambil!” Maya sudah bersiap-siap mengayukan lagi popor senapannya.
“Tunggu!” Pria muda berteriak dan membuat semua mata tertuju kepadanya.
“Jika kami beritahu, apakah kalian akan melepaskan kami?”
Ef merasa deja vu. Kejadian ini mirip dengan dua pria yang dia lepaskan di kebun bunga matahari saat baru melewati cek poin satu. Namun ternyata setelah mereka di lepaskan, sehari berikutnya mereka hampir saja memperkosa Lin. Tidak menutup kemungkinan mereka berdua juga akan berbuat hal serupa. Apalagi tentu saat ini Stevan memiliki dendam kepada Maya.
“Tergantung seberapa menarik informasi yang kau berikan?” Ef beralih menghadap ke pria muda, kemudian mencabut belati dan menempelkan ke leher Steven.
Pria muda itu tampak bimbang, dia menatap Steven yang sudah berada dalam kuasa Ef. Matanya berusaha memberi kode. Cukup lama dia terdiam, akhirnya dia menyerah.
“Di bawah patung kuda, ada lorong. Tapi kami tidak tahu kemana arahnya”
Tanpa perlu di perintah, Hamish langsung bergerak ke arah patung dan mengamati lantai dasar kolam. Kemudian dia meraba setiap sisi patung.
“Bagaimana cara membukanya?” tanya Hamish.
“jika kau tutup lubang air mancur di tepian kolam. Maka akan ada pancuran baru dari dasar kolam dan menyemprot tubuh patung. Salah satu dari pancuran itu akan menjadi pembuka lorong!”
“Pancuran yang mana?” kejar Hamish kembali sambil menatap lubang-lubang kecil di bibir kolam.
“Aku lupa. Aku menemukannya tadi secara tidak sengaja. Sekitar arah kaki kanan patung”
__ADS_1
Hamish menekan lubang di sisi kolam hingga air tak dapat memancar. Dan benar ucapan pria muda tadi. Sebuah pancuran baru muncul dari dasar kolam. Hamish menekan lubang kedua dengan tangan kirinya. Kemudian muncul juga semburan kedua dari tengah kolam. Hamish berpindah menekan lubang yang lain. Dari tengah kolam muncul semburan di posisi yabg berbeda pula.
“Berapa lubang yang harus di tekan?” Tanya Hamish.
“Tak tahu pasti. Aku tadi sama sepertimu, hanya menekan-nekan sembarangan dan akhirnya menemukan pintu di bawah patung.”
“Lin, Maya, Bantu aku!” pinta Hamish. Kedua gadis itu langsung mendekat ke bibir kolam dan meniru apa yang Hamish lakukan. Lin dan Maya saling pandang saat melihat semburan-semburan baru muncul di tengah kolam saat mereka menekan salah satu lubang. Kemudian kedua gadis ini tertawa bersamaan.
“Aku paham apa yang ada di pikiran kalian. Jangan main-main. Kita di buru waktu. Liat Capten sudah tampak gelisah!” Hamish menegur Lin dan Maya yang seperti anak kecil mendapat mainan baru.
“Hei, dua lubang ini memunculkan semburan di satu tempat!” Lin berseru dan berganti-ganti menutup lubang yang berada di tangan kanan dan tangan kirinya. Sesuai ucapan Lin, posisi semburan dari kolam muncul di posisi yang sama.
“Coba tekan bersamaan!” ujar Hamish.
Lin menekan dua lubang dengan tangan kanan dan tangan kirinya. Semburan tadi menjadi lebih kuat dan tinggi. Menyemprot ke arah perut patung kuda. Kemudia terdengar bunyi berderak dari bawah.
“Itu dia!” pria muda itu berseru. Lin, Maya dan Hamish mundur dari tepi kol saat suara tadi makin menguat. Di iringi lantai kolam yang makin lama makin terangkat ke atas.
Sebuah fenomena yang menakjubkan, kolam air mancur dan patung kuda terangkat dengan dorongan dari bawah. sebuah piston besi berfungsi sebagai dongkrak pengungkit. Makin lama patung itu makin tinggi, lorong di bawahnya pun terbuka.
Hamish menyinari dasar lorong, kemudian menatap ke arah sang kapten yang masih berdiri sambil menyandera Steven.
“Berapa dalam?”
“Sekitar tiga meter capt!”
“Awasi kedua orang ini” perintah Ef langsung di sambut oleh moncong senjata Maya dan Lin yang mengarah kepada tawanan mereka. Sedangkan Ef dan Hamish masih memperhatikan lorong di bawah patung. Sebuah celah berbentuk bulat memanjang ke bawah, besi piston berdiri di tengah celah sebagai satu-satunya penyangga lantai kolam.
“Patung itu akan turun kembali dalam beberapa menit.” Teriak si pria muda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Ef kepada Hamish.
“Aku rasa, tidak ada salahnya jika kita mencoba, Capt”
__ADS_1
"Kalau begitu aku turun lebih dulu! tunggu aba-aba dari ku baru kalian ikut turun!"