Hell Game

Hell Game
Penyelamat tiba


__ADS_3

Di bawah derasnya hujan, tim lima belas bergerak meninggalkan ceruk tebing yang kering. Suara helicopter itu adalah harapan, dan harapan tidak boleh di sia-siakan. Ef memimpin timnya untuk bergerak mencari area yang tepat untuk memantau, memastikan helicopter yang datang adalah tim penyelamat. Bukan bagian dari Hell Game.


“Tetap focus mengawasi area, suara heli pasti juga memancing tim lain untuk datang!” Ef memberi peringatan lewat radio yang menempel di telinganya.


Makin lama suara helikopter makin mendekat dari arah timur. Ef dan tim harus cepat. Memantau dan memastikan kepada siapa helicopter itu berpihak. Jika memang mereka dari pihak penyelamat, maka Ef harus segera memberitahu posisi mereka.


Rimbunnya pepohonan pasti membuat pilot helikopter tidak bisa melihat jelas jika ada manusia yang berada di bawah. Mereka menunggu signal keberadaan manusia, barulah memutuskan untuk turun atau tidak.


“Kita naik!” Ef memberi komando saat berada di sisi tebing yang melandai. “tetap hati-hati!”


Tak ada suara apapun yang keluar dari mulut anggota tim lima belas saat ini. Gelak tawa, dan candaan tadi telah hilang. Rasa gugup dan cemas memenuhi benak mereka. Mereka gugup, takut jika helicopter itu bukan dari pihak penyelamat. Atau suara heli akan memanggil tim lain sehingga mereka kembali harus saling berhadapan. Mereka juga cemas, jangan sampai harapan keselamatan menguap karena heli yang datang bukan seperti yang diharapkan.


Mereka terus mendaki bukit dalam diam, hanya bunyi rintik hujan dan ranting terinjak yang mengiringi langkah. Sebelum tiba di puncak, Ef menghentikan langkah timnya.


“Tunggu di sini!” Ef menunjuk sebuah semak yang cukup tinggi. Lin, Hamish dan Maya harus bersembunyi terlebih dahulu, saat dia memastikan siapa yang terbang di atas sana. Ef bergerak menjauh dari lokasi persembunyian timnya dan mencari area yang memiliki sudut pandang ke atas yang lebih baik.


Dengan bantuan binokular, Ef bisa memantau jelas Helikopter terbang lambat di atas mereka. Sebuah helikopter Apache standar militer dengan senapan mesin tergantung di sebelah pintu yang terbuka. Prajurit yang bersiaga sebagai operator senapan, berpakaian militer lengkap dengan helm tempur.


Ef kembali berlari ke arah timnya yang menunggu dengan harap-harap cemas.


“itu mereka!”


“Mereka siapa?”


“Militer, aku yakin mereka tim penyelamat. Hamish, keluarkan Drone!” perintah Ef sambil dia sendiri celingukan kiri kanan.


“Kau mencari apa?” tanya Maya.


“Dedaunan besar yang bisa kita gunakan untuk menulis pesan.”


“Bisa pakai ini?” Lin menyodorkan gaun putih gading yang dia kenakan beberapa hari lalu. Gaun yang dia dapatkan saat mereka menginap di desa.


“Bisa. Terima kasih!” Ef mengambil gaun yang Lin sodorkan dan menyobeknya menjadi lembaran. Dan menuliskan ‘Jhon, we are here. SOS’ dengan arang. Sengaja dia menuliskan nama sang direktur CIA agar pihak penyelamat tahu kalau pengirim pesan itu adalah dirinya.


“Ikat ini ke bawah drone!” Ef melemparkan kain tadi kepada Hamish.


“Setting selesai, Capt. Kita terbangkan?”


“Tunggu!” Ef kembali memantau area, pepohonan besar di sekitar mereka akan mengganggu Drone lepas landas. Mereka harus mencari posisi yang terbuka namun juga aman bagi tim.


“Aku akan bawa ke area kosong, Lin dan Maya jaga posisi. Lindungi Hamish!” Ef segera berlari sambil membawa drone. Dia bergerak menuju area puncak bukit. Area yang tak begitu banyak di tumbuhi pohon tinggi. Ef mengangkat drone melewati puncak kepalanya.

__ADS_1


“Terbangkan sekarang!”


Keempat baling-baling drone berputar kencang, dan melepaskan diri dari peganan. Ef menekan tombol call pada radionya.


“Hamish, kau bisa melihat helikopter dari sana?”


“Tidak, Capt!”


“Naikkan lagi hingga 100 meter, biarkan heli itu yang mengejar posisi drone!”


Ef berpindah dari lokasi awal dan mencari area yang bisa dia gunakan untuk memantau drone dan juga aman dari kemungkinan pantauan musuh.


Dari balik semak, Ef melihat kalau helicopter bergerak cepat menuju area mereka.


“Kau bisa melihat helikopter sekarang?”


“Bisa, Capt.”


“Arahkan drone itu untuk mendekat!”


Ef memantau pergerakan drone dengan tegang, pembulu vena di darinya bertonjolan keluar. Tak dipungkiri Ef sangay berharap siapapun yang ada di dalam helicopter bisa membaca pesan yang dia tuliskan.


Drone kembali terbang menuju helikopter yang terbang mengambang di udara. Kepiawaian Hamish patut di apresiasi, dia mampu mengantarkan drone itu masuk dan di terima oleh operator senapan mesin yang duduk di sisi pintu heli. Setelah menerima drone tadi, tiba-tiba helikopter terbang menjauh.


“Kenapa mereka pergi?” Hamish bertanya lewat radio.


“Aku tidak tahu. Kalian bergerak kesini sekarang”


Ef terus memantau heli yang terbang menjauh dari posisi mereka. Benaknya sekarang penuh tanya, apakah analisanya salah? Apakah ternyata heli itu adalah bagian dari pihak Hell game? Dan sekarang dia telah memberitahu posisi mereka dengan drone barusan.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ef?” Lin sudah berada di sebalahnya. Di ikuti Maya dan Hamish.


Sang kapten tidak menjawab pertanyaan Lin, karena dia sendiri tidak memiliki jawaban atas pertanyaan gadis itu. Menatap wajah mereka yang penuh harap, Ef tak mau memberikan jawaban asal yang bisa membunuh asa.


Dalam kebimbangan, suara heli kembali terdengar. Dan kali ini heli bergerak turun.


“Formasi bertahan seperti biasa. Lin arahkan bidikanmu ke arah pilot. Maya amakan sisi kiri dan depan, Hamish amankan sisi belakang dan kanan. Aku akan bergerak ke sana. Kalian bersiap dengan segala kemungkinan”


Helikopter terbang makin lama makin turun dan akhirnya menjejak di landasan rumput. Tujuh orang pasukan bersenjata lengkap turun dari helikopter dan membuat formasi bertahan mengelilingi heli.


Formasi ini adalah formasi penyelamatan standar militer yang Ef kenal. Dia tidak lagi ragu, mereka memang pasukan penyelamat. Ef keluar dari persembunyian.

__ADS_1


Kemunculan Ef tentu menarik perhatian pasukan, moncong senjata mereka segera di arahkan kepada Ef. Apalagi Ef memegang senapan serbu di tangan.


“DROP DOWN YOUR WEAPON!” Salah satu prajurit berteriak. Ef mengangkat senjatanya ke atas sebentar kemudian meletakkan ke tanah. Dia sendiri bergerak mundur menjauh dari senapannya.


Tiga orang pasukan berlari mendekati Ef dengan senjata yang tetap terbidik ke arah sang kapten.


“Siapa kau?”


“Saya Efran Tamada, Agen CIA!” Ef mengeraskan suaranya agar bisa terdengar di tengah deru suara baling-baling heli.


Si prajurit menekan radio komunikasinya.


“Kami menemukan tawanan kedua!” dia melihat Ef yang sendirian, “Di Erlin Hanako?”


“Siapa kalian?” Ef menjawab pertanyaan prajurit tadi dengan pertanyaan balik. Dia tidak mengenal siapa ketiga orang yang berada di hadapannya saat ini.


“Kami angkatan udara Kamerun, CIA dalam perjalanan kemari!”


Benar saja, dari arah timur datang helikopter kedua. Dan mendarat tak jauh dari posisi helikopter pertama. Kemudian turun tujuh orang yang membentuk formasi sama. Satu di antara mereka bergerak menuju posisis Ef.


“Tampangmu sangat kusut, kawan!”


“Baru kali ini aku sangat senang melihat kedatanganmu.” Jawab Ef lega. Dia mengenal pria yang barusan menghampirinya. Walau wajahnya tertutup masker, tapi suara itu adalah milik Coba. Agen CIA yang berada di divisi yang sama dengan Ef. Koba yang baru tiba memberi tahu tiga tentara Kamerun bahwa identitas pria di depan mereka terkonfirmasi sebagai target penyelamatan.


“Kalian merapat kesini!” Ef memberi instruksi kepada timnya lewat radio. Tak lama Hamish, Maya dan Lin mendekat.


“Syukurlah kalian semua selamat. Mari, ayah anda sudah menunggu, Nona Erlin.”


Ke empat tim penjemput membentuk parameter untuk mengawal 4 orang tadi ke helikopter. Namun, saat mereka hendak melangkah. Ef menghentikan laju timnya.


“Kami tidak bisa ikut kalian!”


***


Jangan lupa follow agar tidak ketinggalan notif update.


Mari berteman di sosial media.


Instagram : Densa1507


Facebook : Densa

__ADS_1


__ADS_2