Hell Game

Hell Game
Merangcang Ulang Rencana


__ADS_3

“Kalian lihat ini.” Ef mendongakkan dagu dan memperlihatkan benda logam yang melingkari lehernya. “Semua peserta Hell Game di pasangi kalung ini. Ada penghitung waktu mundur dan akan meledak jika melewati pembatas.”


Koba mendekat dan memperhatikan kalung yang Ef jelaskan, kemudian beralih kepada tiga anggota tim lain memperhatikan benda metal itu dengan seksama.


“Bagaimana cara pengendalian kalung ini?” Koba mencoba menarik Kalung Hamish dengan jarinya.


“Untuk saat ini yang kutahu hanya lewat penanda waktu.”


“Tidak bisa di buka?”


“Tidak. Aku sudah mencoba”


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Tinggalkan alat komunikasi yang bisa kami gunakan untuk menghubungi kalian. Sampaikan kepada Jhon dan Mr. Hanako tentang kondisi putrinya.” Ef menoleh ke pada Hamish yang berdiri di belakang. “keluarkan benda itu!”


Hamish paham dan segera mengeluarkan Kalung metal yang Ef ambil beberapa hari lalu, dan menyerahkannya kepada Koba.


“Kalian ikat ini di bawah heli. Beri jarak 10-20 meter. Pantau apa yang terjadi saat kalian meninggalkan pulau. Jika kalung ini tidak meledak. Kalian kembali ke sini lagi dan jemput kami”


“Baiklah kawan, kami akan melapor ke direktur segera. Bertahanlah, kami akan kembali secepatnya.” Koba merangkul Ef sejenak. Kemudian mengeluarkan sebuah handphone dengan pemancar satelit dari dalam sakunya. Handphone satelit itu di berikan kepada Ef.


“Baterainya masih banyak. Cukup untuk tiga hari.”


Ef segera memasukkan benda itu ke saku celana.


“Bergegaslah. Semua area di pantau oleh Hell Game.”


Koba memberi hormat, kemudian segera berlari ke arah helikopter kedua. Tiga prajurit angkatan udara Kamerun juga ikut balik kanan. Dalam hitungan detik, kedua heli sudah lepas landas, meninggalkan lokasi pertemuan dengan tim lima belas.


Sepeninggalan Koba, Ef segera mengajak timnya meninggalkan posisi dan bergerak mencari lokasi yang lebih tertutup. Di tempat persembunyian, Ef masih terus memantau kedua helikopter yang mulai terbang menjauh. Sebenarnya yang dia lihat bukan helikopter itu, namun benda yang berada di ujung tali yang terikat di kaki helikopter kedua.


Heli terbang makin menjauh dan makin tinggi. Suaranya mulai terdengar sayup, kemudian sebuah binar cahaya seperti kembang api muncul dari ujung tali.


“Kalungnya meledak.” Ef berdiri dari persembunyian dan mengajak timnya bergerak turun. Pendar harapan yang tadi menyala di mata anggota timnya telah redup. Mereka harus kembali mengadu nyawa. Perjalanan masih panjang. Hell Game belum usai. Dan sekarang kembali ke misi awal, mencari sumber air.

__ADS_1


***


Saat mendengar Koba akan mendarat beberapa menit lalu, Enishi, Jhon dan Henry segera berlari ke pangkalan menyambut pasukan penyelamat. Namun Enishi harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan puterinya ikut bersama tim yang kembali. Koba segera menjelaskan kondisi yang terjadi kepada Jhon segera setelah mereka masuk ke ruang kontrol.


“Bi*dap!”


“kep*rat!”


“Bangs*at”


Enishi mengamuk dan menghamburkan semua berkas dan peralatan yang berada di atas meja. Jhon dan Jendral Nmbie berdiri mematung di sebelahnya, membiarkan Enishi meluapkan emosi kepada benda-benda mati yang berserakan. Setelah merasa emosi Enishi mulai berkurang, Jhon mendekatinya.


“Tenanglah kawan, setidaknya kita sekarang mengetahui bahwa puterimu dalam kondisi hidup dan tidak terluka. Kita juga sudah bisa berkomunikasi dengan agent yang mengawal puterimu.” Jhon menepuk bahu Enishi, berusaha menenangkan sang miliuner. Walau dalam hati Jhon sendiri, dia begitu geram.


“Henry, Hubungi Efran!” Perintah Jhon segera di laksanakan. Layar besar ruang kontrol menampilkan mode panggilan suara.


“Yes, Sir!” Suara Ef terdengar melalui speaker besar di sisi monitor.


“Bagaimana kondisi kalian?”


“Berikan telepon ini kepada puteriku!” Enishi memotong perbincangan. Kemudian terdengar suara Ef yang memanggil Lin dan suara gemerisik.


“Daddy!”


“Oh, Honey. I’m So Happy to hear your voice!” Air mata Enishi mengalir tanpa diperintah, seisi ruangan menjadi hening. Dan membiarkan momen haru ayah anak ini berlangsung sebentar.


“Bagaimana kondisimu, Sweet Heart. Apakah kau terluka!”


“Tidak Daddy, aku baik-baik saja. Mr Tamada menjagaku dengan sangat baik.”


“Jangan jauh-jauh dari pengawalmu, bertahanlah sebentar. Daddy akan segera mengeluarkanmu dari sana!” Enishi menoleh dan menganggukkan kepala kepada Jhon. Dia telah selesai berbicara dengan puterinya.


“Nona Hanako, Tolong serahkan kembali handphone ini kepada Agent Ef!” Lin mengiyakan dan memberikan kepada ef.


“Ef?” Jhon mengambil alih pembicaraan kembali.

__ADS_1


“Yes, Sir!”


“Jelaskan semua hal yang kau ketahui tentang Hell Game!”


Ef menjelaskan semua info tentang Hell Game secara detail. Siapa saja anggota tim Lima belas, ada berapa peserta game dan perkiraan tinggal berapa kelompok lagi yang tersisa. Kemudian penjelasan berlanjut tentanf siapa pemilik Hell Game, sistem permainan dan pembagian kelompok. Ef juga menjelaskan tentang pasukan dari pihak penyelenggara yang dia hadapi di desa, skill mereka, peralatan dan perlengkapan, sistem check point, dan kalung berpenghitung waktu mundur. Semua info ini di harapkan bisa berujung menjadi sebuah solusi.


“Berapa waktu kalian saat ini?”


“59 jam lagi. Oh ya, saya yakin pihak penyelenggara Hell Game berada di pulau kecil yang ada di sisi pulai ini, Sir!”


“Baiklah, Saya akan mengirim tim untuk melakukan penyusupan dan mencari cara menonaktifkan kalung kalian. Kau bertahanlah, semoga tuhan melindungi!”


“Siap, Direktur!” panggilan telepon di putus.


Jhon mengusap kepala botaknya. “Mana bangkai kalung itu?”


Henry menyerahkan kantung plastik berisi kalung Hell Game kepada sang Direktur. Jhon memperhatikan logam gosong itu, bentuknya sudah tidak utuh lagi akibat ledakan.


“Minta tim forensi untuk membongkar dan mencari cara menonaktifkan benda ini!” Jhon kembali menyerahkan kantung berisi Kalung Peserta kepada Henry.


“Koba!”


“Yes, Sir!”


“Bawa 4 orang untuk melakukan filtrasi ke pulau kecil yang di sebut agent Ef. Dapatkan informasi cara menonaktifkan kalung peserta, cara pengendalian dan dapatkan sampel utuh. Bawa satu orang ahli forensik bersamamu. Jangan sampai pergerakan kalian ketahuan oleh Hell Game, kita tidak bisa mengambil resiko atas keselamatan semua sandera!”


“Siap Direktur!” Setelah mendapatkan instruksi, Koba segera meninggalkan ruangan.


Jhon kembali menantap layar lebar di muka ruangan. Layar lebar itu berisi beberapa monitor kecil. Satu monitor di sudut kiri menayangkan video yang di rilis oleh Hell Game.


Empat orang peserta Hell Game dengan pakaian hitam tampak dalam tayangan. Dua perempuan dari mereka sedang menyalakan api unggun, dan dua pria sedang berlatih beladiri di dekat temannya. Gerakan dua orang itu taktis dan cemat. Jelas jika keduanya memang memiliki keterampilan bela diri sebelumnya.


Dua orang yang melakukan Sparring selesai dengan kemenangan pria berambut cepak. Mereka beristirahat dan bergantin dengan kedua wanita. Walau tak seahli pihak pria, tapi kedua wanita ini juga lebih jago di bandingkan warga sipil biasa.


Ramai komentar memenuhi layar, banyak petaruh yang menjagokan tim ini. Tim nomor dua. Salah satu kandidat juara Hell Game.

__ADS_1


__ADS_2