
Tembakan dari atas bukit langsung di respon oleh beberapa orang yang berada di bawah. 4 orang mengarahkan moncong senjata ke atas bukit dan membalas. Memberondong peluru ke arah anggota tim lima belas tanpa jeda. Berapa kali terdengar suara tembakan senjata berat. Jelas itu suara shot gun Hamish.
“Jangan tembak menggunakan Shot Gun. Pelurunya menyebar dan tidak akurat untuk serangan jarak jauh.” Ef yang masih tiarap di antara ilalang memberi komando dari bawah.
“Jangan diam di satu titik. Lempar bom asap agar mereka tidak bisa melihat kalian bergerak!”
Ef masih mengira-ngira arah tim lawan dari posisinya saat ini. Dia belum bisa berdiri tegak dan melakukan serangan untuk membantu rekannya. Yang bisa dia lakukan hanya menunggu penyerang kehabisan amunisi.
Sesekali terdengar suara senapan Lin meletup dan membentur benda keras. Kemudian rentetan tembakan di lepas dari bawah sebagai balasan.
“Lin, jangan menembak sebelum kau yakin bisa mengenai mereka. Suara senapanmu hanya memberi tahu posisi kalian!” Ef selalu menunggu lawan melepas tembakan balasan untuk berbicara memberi instruksi. Sehingga menyamarkan suaranya yang berbicara lewat radio.
Aksi saling tembak terus berlangsung dan belum menunjukkan tim mana yang lebih menguasai pertempuran.
Saat tembakan balasan dari bawah tiba-tiba berhenti, saat itulah Ef berdiri dan membidik lawan. Empat orang sedang tiarap di balik tanah melandai yang menjadi benteng alam mereka dari serangan pasukan atas bukit. Tiga pria dan satu wanita. Satu pria masih mengintip ke arah bukit sedang yang wanita sibuk mengisi ulang magazin.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ef. Walau jarak mereka cukup jauh, lebih dari seratus meter. Dengan bidikan yang stabil pasti bisa mengantar peluru ke tubuh lawan.
DOR
Tanpa di duga ada suara tembakan lain dari arah labirin. Ef langsung menunduk untuk kembali menyembunyikan posisinya.
“Ada tim lain selain tim yang kalian lawan. Maya! Cari kesempatan untuk memantau. Beritahu lokasi tim yang baru tiba!”
Tim yang baru bergabung langsung melepaskan tembakan ke arah kiri. Tak mengira ada serangan lain dari belakang mereka membuat tim tengah terjepit. di hjkit ada tim Tim lima belas dan dari arah labirin ada tim lain.
Sekarang ada tiga tim yang saling serang. Tiga orang tim lima belas, Lin, Maya dan Hamish yang sedang berada di atas bukit dan Ef yang berada di antara Ilalang berhadapan dengan tim lain yang berada di bawah bukit, sebut saja tim tengah dan tim satu lagi berada di area labirin.
Tidak jelas siapa melawan siapa. Semua peserta Hell Game harus saling menghadapi untuk memperebutkan kode yang berada di cek poin. Jika saat ini ada 3 tim. Berarti satu tim tidak bakal mendapatkan kode. Belum termasuk tim ke empat yang mungkin akan tiba sebentar lagi.
Jika berasumsi jika tim keempat sudah tiba lebih dulu, berarti hanya ada satu kode lagi yang di perebutkan oleh tiga tim. Tim lima belas harus mengalahkan dua tim yang ada di hadapan mereka. Jika tidak, nyawa mereka akan melayang dalam 36 jam ke depan.
“Tahan tembakan! Tunggu intruksi dariku!” Ef mulai bergerak sambil tiarap ke arah labirin. Suara letusan tambakan dan desingan peluru terus memenuhi udara tanpa jeda. Kedua tim saling serang tanpa ampun.
“Maya, sudah kau dapatkan posisi mereka!?”
“Aku hanya bisa melihat dua orang. Mereka berada di pangkal labirin”
“kemana dua orang lagi?”
“Tidak telihat!”
__ADS_1
Ef terus bergerak sambil berfikir. Jika hanya dua orang berarti mereka membutuhkan dua kode saja. Sisanya bisa di ambil oleh tim lain atau tidak terpakai sama sekali. Atau bisa saja dua orang melakukan serangan sedangkan dua orang lain berjalan di dalam labirin untuk mendapatkan kode.
Ef melirik arlojinya, sudah pukul setengah enam. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan tak ada lagi penerangan. Mereka akan kesusahan berjalan dalam labirin dengan kondisi gelap, jika menyalakan senter maka posisi mereka akan ketahuan oleh musuh.
“Capt! Ada drone!”
Ef langsung berbalik mendengar seruan Hamish. Benar saja, sebuah drone mengudara di atasnya. Terbang stabil sambil mengawasi pergerakan.
“Lin, kau bidik drone itu. Tembak saat aku suruh!” Ef memiliki rencana dengan drone itu. Namun menjatuhkan drone tentu bukan perkara mudah dan juga beresiko. Suara tembakan Lin akan memberitahukan posisi mereka kepada tim yang berada di dekat labirin.
Tim tengah dan tim labirin sudah tidak lagi saling melepas tembakan. Mereka sama-sama menunggu kesempatan dan tentunya menghemat amunisi.
“Lin tetap di posisi, Hamish dan Maya pindah. Beri jarak lima puluh meter dari Lin. Nanti saat Lin melepaskan tembakan kalian langsung ikut menembak. Hamish serang posisi tim yang berada di tengah. Dan maya serang tim labirin. Setelah beberapa tembakan kalian segera kembali ke posisi Lin dan tak usah menembak lagi. Dimengerti?”
“Roger that!” jawaban Hamish sudah seperti jawaban prajurit-prajurit militer sungguhan di medan tempur. Pasti dia tahu istilah itu dari game peperangan yang sering dia mainkan.
“Lin tetap bidik drone!”
“Siap!”
Ef tidak lagi tiarap menuju labirin. Dia dia menunggu momentum saat drone terbang melintasi.
“Lin, berapa jarakmu ke drone?”
“Gunakan penentu jarak di binocular!” Ef terus mengarahkan anggotanya yang memang benar-benar awam di pertempuran.
“Maya, bantu Lin dulu baru setelah itu pindah posisi kembali!”
Selang beberapa saat, Maya berbicara lewat radio.
“Aku sudah di dekat Lin, bagaimana cara menetukan jaraknya?”
“Cari tombol range finder, jika sudah menyala akan muncul angka di lensa binocular mu!”
“Sudah! Hanya ada strip kosong! Tidak ada angka-angkanya!”
“Arahkan ke drone kemudian tekan tombol tadi sekali lagi!” Ef terus memberikan petunjuk sambil terlentang di antara ilalang. Dia terus mengawasi drone yang terbang di atasnya.
“Iya, muncul angka 447!”
Ef mencoba mengingat-ingat. Senjata Lin belum pernah di setel untuk tembakan yang jauh. Wajar saja jika tadi tembakannya tidak pernah mengena sasaran.
__ADS_1
“Maya, kau cari target di jarak sekita 400 sampai 500 meter. Terserah apapun bendanya. Pohon atau batu tak masalah. Usahakan sasarannyya ada di sekitar lawan.”
“Ada sebuah batu besar di sebelah kanan. Tapi aku tidak bisa melihat tim yang bersembunyi di balik batu itu!”
“Tak masalah.” Ef membalikan badannya dan melihat ke ujung kanan. Memang ada sebuah batu yang cukup besar.
“Lin, Bidik batu itu!”
“Sudah! Aku tembak?” tanya Lin antusias. Dia seperti kecanduan menembak sekarang.
“Jangan dulu. Kau lihat garis-garis reticle yang ada di teleskopmu, ada secara horizontal dan vertikal dengan titik-titik!”
“Ya ada. Aku selalu memosisikan target di persilangan garis,” jawab Lin.
“Baik, sekarang kau tembak batu tadi dan perhatikan di mana jatuhnya peluru. Berada di titik mana pada reticle teleskop!”
“Baik!”
“Tembak kapanpun kau siap!” perintah Ef. Suasana sedang hening tanpa suara letusan tembakan. Hanya ada deru baling-baling drone yang terdengar di atas sana.
Kemudian letusan tembakan terdengar dari atas bukit.
“Kau lihat bekas tembakanmu, berada di titik berapa?”
“Eeee, pelurunya jatuh di titik ke enam di bawah persilangan garis. Padahal aku menembak tengah-tengah batu. Tapi yang kena bagian bawah batu!”
Benar perkiraan Ef. Teleskop Senapan yang pegang Lin tidak di atur untuk tembakan jarak jauh. Akan sulit jika meminta Lin mengatur turet teleskop hingga ke posisi 0. Ef hanya bisa berspekulasi.
“sekarang arahkan senjatamu ke arah Drone, jangan di titik tengah lagi. Tapi di titik ke enam,” Ef tidak menjelaskan sebab tembakan harus di arahkan ke titik bawah karena akan memakan waktu saja.
“Sudah!” jawab Lin.
“Tunggu aba-abaku!” Ef tiba-tiba berdiri dan melemparkan granat tangan ke arah labirin. Kemudian di kembali berbaring telentang di dalam kerimbungan ilalang. Suara ledakan granat membuat drone tadi terbang menuju arah ledakan. Dan saat ini tepat berada di atas Ef.
“Tembak sekarang!”
***
Mohon maaf baru bisa update kembali. Kesibukan kerjaan membuat update Hell Game terpakasa di tunda.
Kedepan Hell Game akan kembali update seperti sebelumnya. Bisa jadi setiap hari.
__ADS_1
Terima kasih telah setia menunggu 🙏