
Jhon menatap layar monitor di ruang kontrol dengan tubuh dan wajah kaku. Henry berdiri di sisi sang direktur dengan mimik yang sama tegangnya. Sesekali sang IT menggulir layar tablet mencari data yang bisa membatu tim lapangan. Dia juga berpindah-pindah ke meja petugas komunikasi, menanyakan perkembangan situasi.
Sudah lebih dari tiga jam sejak tim penyelamat berangkat. Sudah dua pulau tak berpenghuni mereka sambangi dan di sisir secara rata. Tak ada celah yang lewat dari penyisiran tim penyelamat, Tapi tidak ada tanda -tanda aktifitas hell game dari pulau yang mereka datangi.
Enishi, hanya bisa duduk di atas sofa. Kepalanya terasa berdenyut tak karuan. Memikirkan anak semata wayangnya yang tak jelas bagaimana nasibnya sekarang. Walau sofa yang didudukinya terlihat nyaman, tapi sang miliuner merasa seperti duduk di bara api. Begini salah, begitu salah. Operasi penyelamatan ini tak berjalan mulus seperti yang mereka rencanakan.
Salah seorang petugas memberi kode kalau ada komunikasi masuk dari tim lapangan. Henry segera memberikan perintah untuk mengeraskan suara.
“Pulau kedua, Kosong. Kami menunggu instruksi!” seru petugas dengan suara keras, suara baling-baling helikopter bergema di sekitarnya.
Jhon bergerak ke arah petugas komunikasi dan menyambar radio panggil.
“Seberapa banyak bahan bakar kalian?”
“Seperempat tangki lagi, Direktur!”
“Berapa jauh jarak tempuhnya?”
“Lebih kurang 100 kilometer, Direktur!”
“kalian kembali ke pangkalan dan isi ulang bahan bakar. Baru lanjut pencarian!”
“Siap!” tak lama pilot tadi memberikan komando kepada helikopter kedua untuk kembali ke pangkalan.
Jhon masih berdiri terpaku, walau tubuhnya diam, tapi jelas pikirannya sedang menghubung-hubungkan semua informasi yang sudah dia dapatkan.
“Henry, tampilkan peta pulau yang berpenghuni!”
Mendapat instruksi dari direktur, Henry segera menggulir tablet di tangannya, tak lama tiga buah pulau muncul di layar monitor.
“Fokuskan pada dua pulau sisi barat!”
Perintah Jhon segera di respon oleh Henry. Layar fokus pada dua pulau yang berada berdekatan. Sebuah pulau lebih besar dengan pulau yang lebih kecil berada disisinya. Pada sisi pantai pulau kecil ada sebuah mercusuar dan sebuah vila mewah tak jauh dari sana.
Jhon mengamati pulau tersebut dengan saksama kemudian menoleh pada Jendral Nmbie.
“Pulau ini berpenghuni?” Jhon menunjuk pulau kecil.
“Di bilang berpenghuni, ya kalau pemiliknya datang ke sana. Itu pulau pribadi!”
__ADS_1
“Kalau yang ini?” Jhon menunjuk pulau yang lebih besar.
“Pulau itu berpenghuni, lebih kurang ada 200 KK penghuninya.”
“Hemm..,” Jhon berjalan berkeliling ruangan dengan kedua tangan tertaut di belakang.
“Kalau aku yang menjadi pemilik Hell Game, aku pasti akan memilih tempat yang tidak mencolok.” Jhon bergumam sendiri. Namun semua mata yang ada di ruangan tertuju kepadanya.
Jhon menoleh kepada Henry.
“Berapa lama waktu yang di butuhkan pasukan sampai ke pangkalan dan mengisi bahan bakar?”
“Lebih kurang 15 menit, Sir.”
“Setelah mereka tiba, segera perintahkan menyusuri pulau ini!”
***
Sudah lima jam tim lima belas berjalan menyusuri lereng bukit. Matahari tertutup awan hitam sejak pagi tadi. Di tambah berjalan di antara pepohonan tinggi berdaun rimbun, suasana tengah hari ini seperti senja. Cahayanya remang-remang, membuat perjalanan kali ini tak begitu lancar.
Rintik-rintik hujan mulai menetes dari awan, melewati dedaunan dan menyapa tubuh manusia yang berjalan di bawahnya. Ef segera mengunakan radio untuk menghentikan laju Maya dan Hamish yang sudah berjalan di depan, dan mengajak Lin segera menyusul mereka.
“Susah-susah kita berjalan mencari sumber air, malah airnya yang datang menghampiri kita. Tahu begini, lebih baik menunggu di gua saja.”
“Bisa tidak kau tidak mengeluh sehari saja, gembul!” Maya selalu jadi orang pertama yang menghardik Hamish setiap pria itu mengeluh.
“Aku tidak mengeluh, memang kenyataannya seperti itu!” Hamish membela diri.
“Kata nenekku dulu, kalau laki dan perempuan sering bertengkar, itu tanda-tanda cinta.” Kalimat Ef barusan segera di sahut oleh Maya dan Hamish dengan ‘cuih’ yang bersamaan.
“Tuh kan, kalian meludah saja kompak banget. Tandanya jodoh” Kali ini Lin ikut menggoda mereka.
“Mom, sudah mulai pandai menggoda sekarang. Makin kompak saja dengan Dad.” Hamish balik menggoda Lin.
“Aku melihat, Lin juga tampaknya nyaman di panggil mom” Maya menyahut dari depan.
“Tu kan, kalian juga kompak menggodaku. Tak salah lagi kalian adalah jodoh.” Balas Lin tak mau kalah. “Nanti aku mau buat sebuah novel tentang kisah kalian berdua. Cinta dari Hell Game!” Lanjut Lin lagi.
“Bukankah itu berarti kisah kau dengan kapten!”
__ADS_1
Lin menoleh ke arah Ef, dan si kapten hanya menaikkan kedua alisnya.
“Tampaknya, Kau tidak keberatan, Capt!”
“Tak mungkin aku keberatan di jodohkan dengan gadis secantik Lin”
Ucapan Ef barusan membuat rona merah di wajah Lin yang basah oleh hujan makin jelas.
Perjalanan dalam derasnya hujan tak lagi terasa melelahkan jika di isi senda gurau. Memang benar kata para scientist, pereda nyeri alami adalah rasa riang dan bahagia. Saling goda dan tertawa bersama membuat mereka tidak terasa jika ranselnya semakin berat. Bahkan saat terpeleset karena jalanan licin malah membuat tawa mereka makin meledak.
“Kita berteduh di sana!” Ef menunjuk sebuah ceruk di bawah tebing. Dan bergegas lebih dulu untuk mengamankan area dari kemungkinan binatang berbisa.
Ceruk itu tak begitu besar, hanya cukup untuk mereka berempat duduk berjajar memanjang.
Seperti sudah menjadi kebiasaan, posisi duduk mereka juga tak pernah berubah. Hamish selalu mengambil posisi paling awal, dan d susul oleh Maya yang duduk di sebelahny. Lin akan mengambil posisi di sebelah Maya dan Ef akan menyusul paling akhir.
Ketiga anggota mulai bersantai, menyandarkan tubuh mereka ke dinding ceruk, Hamish seperti biasa sudah mulai membongkar ransel untuk mencari kornet kaleng.
“Capt, tak ada api unggun kah?”
Ef yang sedari tadi masih memantau situasi sekitar dengan binocullar, menoleh kepada Hamish.
“Untuk apa api unggun siang-siang begini?”
“E..., Aku mau memanggang kornet.”
“Belum lama kita sarapan. Masa kau sudah lapar lagi?”
“Ya mau bagaimana, Capt. Lambungku lebih besar dari lambung kalian.”
“Yang lain sudah lapar?” Lin menggeleng, Mayapun demikian.
“Hanya kau yang mau makan, buat saja api unggun sendiri!” Ef kembali meletakkan binocullar ke depan matanya dan mengacuhkan Hamish yang masih memelas.
“Ayo Hamish, aku mendungkungmu buat api unggun. Walau aku tak yakin api itu akan menyala sampai kiamat nanti.” Maya kembali mengejek pria gembul di depannya. Hamish yang sudah putus asa kembali memasukkan kornet ke dalam ransel.
“Sssttt!” Ef meletakkan jari di depan bibir dan membuat ketiga anggota tim langsung terdiam. Kepala Ef menoleh ke arah atas mencari sumber suara asing yang terdengar olehnya.
“Kalian dengar itu, ada suara helikopter!”
__ADS_1