
Marisa menatap celana jeans berukuran M yang tergantung di dinding kamarnya dengan segumpal tekad di hati harus bisa memakai celana itu dalam waktu tiga bulan ke depan. ‘Ya Tuhan, kapan aku langsing? Tolonglah aku. Segala upaya sudah aku lakukan selama ini agar bisa kurus. Namun apa daya, aku hanyalah wanita yang mudah lapar,’ keluhnya dalam hati.
Lambung Marisa mendadak mengkerut seolah tak senang dijadikan kambing hitam. Marisa gemar makan saat lapar ataupun saat sedang tidak lapar. Tidak ada batasan untuk waktu camilan. Ditambah lagi ia tidak akan tega melihat ada makanan sisa yang terbuang.
Jari-jari gempal miliknya mengusap kain berwarna biru denim itu. Sebenarnya ia menyadari kalau target yang dipasang terlihat kurang realistis. Bagaimana caranya celana berukuran M tersebut muat di tubuhnya yang berukuran XL dalam waktu sesingkat itu?
"Aku pasti kurus!" teriaknya lantang menyemangati diri sendiri sambil mengepalkan tinju di udara. Suara keras Marisa sontak membuat suaminya, Arjun, terbangun dari tidur.
"Dik, kau kesurupan apa? Teriak-teriak sepagi ini," gerutunya dari atas ranjang. Putus sudah mimpi indahnya yang sedang makan bakso bersama Pak Jokowi.
"Bukan kesurupan, Bang! Ini ciri orang bersemangat menggapai cita-cita."
"Cita-cita katamu?" ulang Arjun denhan nada mengejek.
"Iya, aku bercita-cita jadi kurus," jawab Marisa mantap.
Suaminya langsung terbahak-bahak mendengar ide yang baginya tidak masuk akal itu. "Mimpi trooos .... Bagaimana mau kurus kalau makannya satu kuintal," ledek sang suami seraya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Cita-cita Marisa sungguh tidak bisa ditebak. Selalu berubah seperti arah angin. Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, dia ingin menjadi astronaut wanita agar bisa ke bulan dan memetik bintang di langit. Pikirnya bintang itu benar-benar kecil seperti yang terlihat dari bumi sehingga bisa dimasukkan ke dalam saku baju lalu dibawa pulang. Marisa begitu menyukai hal yang berbau astronomi.
Beranjak SMP, tiba-tiba Marisa bermimpi jadi seorang dokter. Keinginan itu muncul setelah bertemu seorang dokter berwajah tampan di sebuah rumah sakit. Dokter tampan itu mengobati bisul di bokongnya yang sudah seminggu tak sembuh. Kata nenek bisul itu ada gara-gara Marisa sering duduk di atas bantal. Setelah bisulnya sembuh, ia sering duduk di atas bantal. Berharap tumbuh bisul baru lalu bisa bertemu dokter tampan itu lagi saat berobat. Namun, bisul yang diharapkan tak kunjung muncul.
Begitu tamat SMA, cita-citanya berubah lagi, ingin menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Setidaknya itulah yang tertulis di album kenangan sekolahnya. Dari 247 murid yang seangkatan dengannya, hampir 120 murid menuliskan cita-cita yang sama. Entah bagaimana kabar murid-murid yang punya cita-cita luhur itu sekarang. Apakah mereka masih hidup dan berhasil mewujudkan mimpinya atau malah tetap hidup walaupun tidak berguna. Itu menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga kini.
Lulus kuliah, Marisa bahkan tak tahu mau jadi apa kelak. Baginya yang penting bisa cepat selesai kuliah, bekerja, dan dapat duit. Intinya hidup sukses, terserah apa pun pekerjaan yang dilakoni. Baru dua tahun delapan bulan tujuh hari meniti karir sebagai SPG sebuah produk susu terkenal, ia sudah keburu dilamar jejaka dari kampung sebelah bernama Arjun.
Semasa gadis, tubuh Marisa sungguh aduhai. Dada yang membusung, perut rata, dan bokong yang kencang. Semua berpadu sempurna laksana gitar spanyol ukuran jumbo. Terlebih saat mengenakan legging ketat, menonjolkan lekukan yang menggoyahkan iman, membuat mata para pria kerap mengerling genit padanya.
Rambutnya selalu tergerai panjang, halus, berkilau, dan terawat. Nyaris seperti rambut para model iklan sampo di TV. Ia juga kerap bergonta-ganti model dan warna rambut. Bulan ini rambut panjangnya dicat warna cokelat. Enam bulan ke depan berganti warna merah dan dipotong pendek. Enam bulan kemudian ganti hitam lanjut enam bulan berikutnya diberi highlight warna putih keperakan. Begitulah seterusnya. Marisa sangat memperhatikan penampilan dari atas kepala hingga ujung kaki.
Kulit kuning langsat dan bersih, nyaris tanpa cela. Bulu-bulu halus di tangan dan kakinya justru membuat Arjun , semakin gemas padanya. Pria itu langsung jatuh hati pertama kali melihat Marisa di acara pernikahan anak pak lurah.
__ADS_1
Empat kali gajian mereka berkenalan dan melewati masa pacaran, cukuplah waktu yang dirasa Arjun mengenal Marisa dengan baik. Hatinya mantap memilih dara manis itu menjadi istri. Ia pun memberanikan diri melamar Marisa.
"Kenapa Kanda buru-buru sekali mengajak Adinda menikah?" tanya Marisa dengan wajah bersemi merah saat mendengar Arjun menyatakan niat meminangnya.
"Iya, Adinda. Kakanda risau jika bunga yang telah Kanda jaga sepenuh hati selama ini, dirusak oleh kumbang nakal dan buruk rupa. Bagaimana Adinda manisku, sudikah dikau menerima diriku mengarungi biduk rumah tangga bersama?" balas Arjun dengan gaya bicara bak seorang pujangga.
Alangkah senang hati Arjun saat Marisa menerima pinangannya, dan kedua orang tua mereka masing-masing juga memberi restu.
Setelah menikah, cita-cita Marisa pun putar haluan. Ingin fokus menjadi istri dan ibu rumah tangga yang cakap dan bijaksana. Sang suami terharu mendengar niat itu. Sungguh mulia hati Marisa, bahkan ia rela berhenti bekerja demi merawat sendiri buah hati mereka. Mengikhlaskan ijazah S-1 miliknya masuk museum pribadi di dalam lemari.
Setelah sepuluh tahun berumah tangga dan melahirkan tiga orang anak, kini Marisa bercita-cita ingin kurus. Cita-cita yang membuat suaminya tak mampu menahan gelak tawa. Dalam benak Arjun, cita-cita Marisa kali ini akan bernasib sama seperti cita-cita sebelumnya. Gagal total.
Ya, tubuh singset itu kini sudah mengembang ke kanan dan ke kiri. Seperti tak ada harapan untuk kempis kembali. Rambutnya juga jarang disisir. Kadang diikat sekadarnya pakai karet bekas pembungkus ikan asin atau digulung seadanya ke atas.
"Papito, tolong antar keripik pisang ini ke rumah si Erika sana," pinta Marisa pada Arjun yang tengah asyik menonton iklan di TV. Iklan produk pakaian kesehatan yang dipromosikan oleh artis idola suaminya, Olla Ramlan.
"Kalau istriku ini seperti Olla Ramlan, bakalan makin betah aku di rumah," celetuk Arjun enteng pada Marisa dengan mata tak beralih dari layar kaca besar di depannya.
"Ayo dong, Pi. Antar keripiknya," desak Marisa sembari menaruh bungkusan plastik bening besar berisi keripik pisang ke pangkuan Arjun.
"Kamu yang antar kenapa? Kan kamu yang habiskan keripik pisang si Erika satu kaleng. Sudah semestinya kamu sendiri datang membayar kesalahanmu," tolak Arjun.
"Malas aku jumpa wanita sombong itu. Baru keripik doang pakai diributin segala," ucap Marisa sinis.
"Ya sudah, aku antar. Makanya kamu kalau bertamu, terus yang punya rumah menyuguhkan makanan itu ambil secukupnya saja, Mi. Jangan kalap." Arjun pun mengalah pada permintaan istrinya.
Kaki Arjun melangkah menuju sebuah rumah yang dicat warna merah muda yang berjarak 15 meter dari rumahnya. Baru saja tiba di depan pagar yang terbuka, si pemilik rumah datang menyapa. "Hai, suami tetangga. Apa kabar? Tumben pagi begini datang berkunjung," sambut Erika sambil melempar senyum manis.
"Eh, anu Dik Ika. Ini saya mau antar keripik," balas Arjun dengan tersenyum.
"Ayo, Bang, masuk. Kita mengobrol di teras," kata Erika mengajak tamunya duduk di kursi kayu yang ada di teras depan.
__ADS_1
"Omong-omong, Mas Hardi ke mana?"
"Masih di luar kota. Biasalah, sibuk mencari dollar. Oya, mau minum apa? Kopi hitam atau kopi susu?"
"Enggak usah repot-repot, Dik."
"Namanya ada tamu kan saya wajib menyuguhkan minuman atau makanan, Bang. Itu sudah adab masyarakat kita dari dulu."
"Waduh, saya jadi malu, Dik Ika. Kemarin istri saya bertamu ke sini malah kebablasan sampai habis sekaleng keripik pisang Dik Ika diembat sendiri sama dia. Makanya saya datang mengantarkan keripik pisang ini sebagai gantinya," kata Arjun menyerahkan kantongan yang ada di tangannya.
"Oala, kok repot-repot, sih, Bang. Sebenarnya saya sudah ikhlas kalau keripik pisang yang dibawa suami saya bisa dinikmati tetangga juga. Memang itu harganya mahal, Bang Arjun. Sebanding lho dengan rasanya yang uenak tenan. Oleh-oleh dari Yogyakarta. Mungkin itu sebabnya Mbak Marisa terlalu menikmati hingga yang tersisa hanya remah-remahnya saja di dasar kaleng. Saya saja baru mencicip sedikit. Padahal sekilo ada lho itu keripiknya.”
“Saya minta maaf ya, Dik Ika, atas kelakuan istri saya.”
“Oh, bukan apa-apa. Ya, karena Bang Arjun sudah terlanjur bawa penggantinya, saya terima keripiknya. Kata orang tua zaman dulu, pantang menolak pemberian. Bukan begitu, Bang Arjun,” ucap Erika sambil meraih bungkusan dari tangan Arjun.
“Hehehe …. Iya, benar, Dik. Kalau begitu saya pamit dulu ya.”
“Enggak minum kopi dulu?” tawar Erika sekali lagi.
“Lain kali saja, Dik. Kebetulan saya ada urusan lain. Mari,” pamit Arjun seraya beranjak dari kursi.
“Terima kasih, ya, Bang," balas Erika.
“Sama-sama, Dik Ika,” jawab Arjun terus berlalu sambil menahan malu.
.
.
.
__ADS_1