Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 7. Program Diet


__ADS_3

Hari berikutnya Marisa memiliki agenda khusus bertemu Samuel. Kali ini mereka berjumpa di sebuah taman.


"Sebelum kemari, pekerjaan rumahmu sudah beres, 'kan?" Samuel memastikan.


Marisa mengangguk mantap.


"Sekarang ceritakan padaku secara terperinci apa saja program penurunan berat badan yang pernah kamu jalani. Hasilnya apa dan kendala apa saja yang kamu alami," perintah Samuel sambil menyiapkan sebuah pena dan sebuah buku catatan di pangkuannya.


"Waduh, itu akan panjang sekali Muelita," jawab Marisa.


"Nah, kalau begitu ada baiknya kamu mulai menceritakannya sekarang. Lebih cepat, lebih baik."


Marisa lalu bercerita dengan lancar tentang berbagai obat pelangsing yang pernah dicobanya, program diet yang dijalaninya, dan ketidaknyamanannya dalam melakukan olah raga.


"Obat ini, obat itu, teh ini, dan teh itu. Hanya membuatku diare, selalu buang air kecil, sakit kepala, lemas, dan sakit perut. Katanya jamu buatan sendiri manjur menghilangkan perut kempis, tapi lihat perutku masih seperti orang hamil tujuh bulan. Padahal aku rutin meminumnya.


"Aku juga mencoba puasa, tapi justru berat badanku naik. Mengurangi gula, santan, minyak, makanan manis, dan lemak juga tak memberi hasil memuaskan.


"Aku bahkan coba makan nasi hanya empat sendok makan. Hasilnya? Nol besar," jelas Marisa.


"Bagaimana dengan tidak makan nasi sama sekali? Menggantikan nasi dengan yang lain?" tanya Samuel.


"Sama saja, Muelita."


"Oh, ya? Kamu ganti nasi dengan apa?"


"Aku ganti dengan buah, sayur, lontong atau ketupat."


"Lontong dan ketupat ya kan nasi juga, dodol," tukas Samuel ketus.


Marisa hanya menggaruk-garuk kepala yang sedikit gatal.


Samuel lalu membuat beberapa catatan pada bukunya. "Aku daftarkan kamu ke gym, ya Cin," ajak Samuel.


"Jangan dong, aku belum siap bertemu pria-pria macho di sana. Aku kan masih berstatus istri Arjun."


"Apaan, sih? Kamu ngeres nih, otaknya. Kamu ke gym buat olah raga."


"Tunda dulu, deh. Kan aku sudah bilang perutku sakit dibawa olah raga," tolak Marisa.


"Kan bisa dimulai dari olah raga ringan dulu, Ica."


"Pokoknya aku diet tanpa olah raga dulu, ah. Di tempat-tempat seperti itu orang-orang berpenampilan sexy, aku malu."


"Ish, masa bodoh sama orang lain. Banyak kok diantara mereka yang gemuk, tapi tetap pede berpakaian ketat dan seksi. Diet dibantu olah raga baik bikin kulit kencang."


"Please, Muelita. Jangan, ya?" pinta Marisa.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kamu harus disiplin dietnya."


"Aku janji. Eh, tunggu dulu. Diet apa ini?"


"Begini, untuk program penurunan berat badan, sebenarnya lebih baik kamu konsultasi langsung dengan dokter supa-"


"Aku rasa enggak perlu. Kita lakukan saja dulu, kira-kira kalau nanti gagal dan aku jatuh sakit, barulah aku ke dokter," tolak Marisa.


"Ini, begini yang cara pikirnya bikin repot sendiri."


"Kamu kalau enggak dapat cara diet yang sesuai untuk aku bilang saja. Jangan oper ke dokter, donk."


"Oke, oke. Sebenarnya aku punya satu cara yang mungkin cocok buatmu, tapi ini sama sekali bukan menggantikan saran dokter. Hanya berdasarkan pengalamanku dan temanku. Sebelum aku kasi rinciannya bagaimana, aku mau minta pendapat dari temanku yang dokter mengenai baik buruknya," jelas Samuel.


"Teman atau pacar? Seingatku kamu pernah bilang kalau kamu punya pacar seorang dokter cantik ...," goda Marisa.


"Teman," jawab Samuel pendek.


"Enggak jelas kamu ini kadang-kadang. Omong-omong, si Brandon itu benaran pacarmu?" tanya Marisa.


"Cakep kan anaknya?" Samuel bertanya balik.


"Banget. Mirip artis China Lee Min Ho."


"Hadeuh ... Korea, Ica," ralat Samuel.


"Ah, sama saja."


"Aku lihat tulisannya sama. Wajah mereka juga sama," balas Marisa tak mau kalah.


"Iyalah. Sakarepmu."


Marisa melempar senyum kemenangan. "Lalu bagaimana dengan dokter cantik yang kamu bilang itu?"


"Tuh kan kepo lagi deh kamu, Ca."


"Ingat umur, Cin. Usia kita cuma selisih setahun, tapi aku udah punya tiga anak."


"Itu mah, kamunya saja yang ganjen. Nikah muda."


"Iya, tapi teman-teman kita yang lain sudah nikah. Tinggal kamu yang belum."


Samuel lantas mencubit hidung Marisa, seraya berkata, "Bawel kamu. Rejeki, jodoh, dan maut itu udah ada yang mengatur. Semua akan ada waktunya."


"Aww! Sakit." Marisa meringis sambil memegang hidungnya yang merah.


Samuel hanya tertawa terbahak.

__ADS_1


"Kamu selalu begitu. Suka sekali mencubit hidungku," gerutu Marisa.


"Bersyukurlah, gara-gara itu, hidungmu jadi makin mancung dan indah-"


Sekejab keduanya tertegun. Kata 'indah' itu terdengar seperti suatu pujian yang janggal. Samuel sedikit salah tingkah. Lalu cepat-cepat menambahkan. "Benar kan jadi lebih indah karena sering kupencet. Hidungmu berubah ramping tidak mengembang dan lebar seperti hidung ****," kelakar Samuel.


"Aku tak terima, Muelita!" seru Marisa dengan gemas sambil mencubit Samuel berulang kali. "Dari dulu hidungku memang ramping, bukan seperti hidung ****. Kamu benar-benar keterlaluan."


"Hentikan, Ica. Ampun ..., ampun ...! Sakit, tahu cubitanmu. Baiklah, baiklah. Aku salah. Aku minta maaf," ucap Samuel minta ampun.


Marisa pun menghentikan cubitannya dan mencibir dengan bibirnya ke arah Samuel. Sementara Samuel sibuk mengelus bekas cubitan yang memerah di tubuhnya. "Ratu tega kamu, Ica," omelnya.


***


Lewat ponselnya, Samuel mengirim catatan diet yang harus diikuti Marisa. Marisa menatap layar ponselnya dengan lemas.


'Ya ampun, selamat datang penyiksaan. Banyak sekali pantangan makanku. Zaman penjajahan dulu orang-orang mati karena tak ada makanan, tapi zaman now orang-orang mati karena terlalu banyak makan. Dunia sudah terbalik,' keluh Marisa dalam hati.


Demi menjalani diet sesuai anjuran Samuel, Marisa harus memasak dua menu berbeda tiap harinya. Satu menu untuk keluarganya dan satu menu lagi menyesuaikan dietnya.


"Mbak Marisa, tumben beli sayur banyak hari ini," tanya Bu Linda saat bertemu Marisa di warung.


"Iya, Bu. Lagi doyan makan sayur," jawab Marisa sambil memasukkan dua ikat bayam, wortel sekilo, tauge setengah kilo, dan sekilo terong ke dalam kantong belanja.


"Bah! Berubah jadi herbivora sekarang, Mbak Marisa," timpal Bertha yang tiba-tiba saja sudah ikut nimbrung.


"Vegetarian, Bertha. Bukan Herbivora," celetuk Erika yang tengah memilih bawang bombay.


"Ah, sama saja itu. Intinya mahluk yang memakan tumbuh-tumbuhan," balas Bertha.


"Omnivora lah yang betul," kata Bu Jaya-pemilik warung yang ikut menguping pembicaraan para wanita yang sedang berbelanja itu. "Soalnya Mbak Marisa juga belanja ikan dan telur. Jadi bukan makan tumbuh-tumbuhan saja," sambungnya.


"Sok pada pintar semua, yang betul itu mamalia," sela Bu Linda.


"Sibuk berbual je dikau para mamalia ini dari tadi awak tengok. Bila lah nak masak lagi, dah jam delapan lewat ni," tegur Kak Ros yang sudah selesai belanja dan beranjak pulang.


"Astaga! Untung Kak Ros ingatkan. Pulanglah aku dulu. Bentar lagi mau tayang si Rosalinda di TV," seru Bertha.


"Enggak maju-maju kamu Bertha nonton itu terus. Ganti drama Korea, kek, yang lagi naik daun. Udah berkali-kali juga diputar ulang telenovela itu. Saya saja sampai hapal ceritanya," ujar Erika.


"Aku ini fans garis keras telenovela jadi jangan coba-coba Mbak Ika meracuniku dengan drakor, ya."


"Ya, sudah kalau enggak mau. Saya cuma sekadar menyarankan," balas Erika.


"Mari, semua. Saya duluan," pamit Marisa seraya meninggalkan warung. 'Besok aku belanja lebih pagi saja, pas warung masih sepi biar enggak jumpa tetangga sini. Pasti ada aja cerita unfaedah tiap ketemu mereka,' batin Marisa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2