
Sepulangnya dari rumah Marisa, Samuel merasa kepalanya pusing dan berdenyut. Ia memutuskan untuk tidur dan beristirahat.
Malamnya Lyra, seorang dokter cantik datang mengunjungi.
"Hai, Lyra. Kamu datang kenapa tidak kasi kabar dulu," tanya Samuel saat membukakan pintu rumah untuk wanita itu.
"Ponselmu tidak aktif saat aku hubungi," jawab Lyra. Melihat perban di kepala Samuel ia lantas bertanya dari mana luka itu diperolehnya.
"Aku terjatuh tadi," jawab Samuel singkat.
"Seberapa parah lukanya?" tanya Lyra.
"Hanya luka kecil."
"Boleh aku lihat?"
"Tidak perlu. Sudah diobati. Masuklah dulu."
Keduanya lalu duduk berhadapan di kursi tamu. Lyra menatap saksama pada Samuel yang sedang memijat pelan kening dan kepalanya.
"Sam, apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Lyra dengan nada khawatir.
"Mmm. Hanya sedikit pusing," jawab Samuel sambil mengangguk.
"Baiknya perbanmu diganti. Warnanya sudah merah," kata Lyra.
"Betulkah? Ah, aku tidak memerhatikannya. Aku ambilkan kotak obat dulu. Tolong gantikan ya, Ra," pinta Samuel sebelum masuk ke kamar mengambil kotak obat.
Tak lama kemudian Lyra dengan hati-hati membuka perban yang ada di kepala Samuel.
"Darahnya sudah berhenti mengalir. Tidak perlu dijahit. Aku akan memberikan obat untuk kamu makan juga nanti agar cepat pulih. Oh ya, siapa yang memakaikan perban ini di kepalamu?" tanya Lyra sambil memberikan obat pada luka itu dan membalutnya kembali.
"Marisa," jawab Samuel pendek.
Lyra terdiam sejenak. Merasakan luka tak berdarah pada hatinya. "Baiklah. Sudah selesai," ujarnya lalu kembali duduk.
"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Samuel.
"Apa Marisa datang kemari?" tanya Lyra hati-hati.
__ADS_1
"Tidak. Aku yang ke rumah dia tadi."
"Untuk apa ke sana?"
"Hanya berkunjung."
"Apa itu berarti luka itu kamu dapat di sana?"
Samuel hanya mengangguk.
"Bagaimana kejadiannya?" Lyra bertanya makin penasaran.
"Kamu sudah makan, Ra? Aku belum. Ayo makan malam bersama," ajak Samuel mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Makan di mana? Di luar?" tanya Lyra
"Apa kamu kamu keberatan jika kita makan di sini saja pakai nasi dan telur? Hanya itu saja yang bisa di masak oleh bujangan sepertiku ini," kata Samuel sambil bercanda.
"Ah, tentu tidak. Tak masalah bagiku, Sam," jawab Lyra. 'Makan apa saja tak jadi soal, asal bersamamu, Beb,' imbuhnya dalam hati.
Keduanya lalu beranjak menuju ruang makan. Ruangan itu sendiri berdampingan dengan area masak.
"Kamu duduk manis saja sementara aku akan siapkan makan malam kita," kata Samuel pada Lyra.
"Iya. Ini hanya sebentar. Aku suka makan makanan hangat."
"Masak apa, Sam?"
"Nasi goreng," jawab Samuel yang sibuk menyiapkan bumbu dan bahan nasi goreng.
"Aku akan membantumu," kata Lyra seraya beranjak dari kursi makan.
"Baiklah. Kamu goreng nugget ini saja dan potong timunnya," kata Samuel sambil menyerahkan piring berisi nugget ikan dan timun.
Keduanya lalu tenggelam dalam aktifitas memasak makan malam sederhana untuk dimakan bersama.
Lyra sudah dua tahun mengenal Samuel melalui Brandon, sepupunya. Wanita itu jatuh hati bukan saja pada wajah tampan pria itu, tetapi juga pada sikapnya yang penuh perhatian. Pernah ia mengutarakan isi hatinya pada Samuel. Sayang seribu sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Samuel hanya menganggapnya sebagai teman dan adik. Belakangan barulah diketahuinya bahwa Samuel belum pernah berpacaran satu kali pun.
Bertahun lamanya, hati pria mapan itu tertawan dalam penjara cinta yang ia bangun untuk Marisa, cinta pertamanya. Bukannya membenci Samuel, Lyra justru merasa iba pada pria itu setelah tahu bahwa Marisa telah menikah dan tak pernah mengetahui isi hati Samuel.
__ADS_1
Merasa peluang untuk dirinya bersatu dengan Samuel masih terbuka, maka Lyra bertekad akan menjadi pejuang cinta. Meski ia sendiri tidak pernah berjumpa dengan Marisa, terkadang rasa cemburu hadir dalam diri dokter muda itu kala Samuel menceritakan tentang wanita itu.
Samuel sendiri sadar bahwa perasaannya itu salah, tetapi pria itu seolah tidak dapat berpaling dari perasaannya. Itulah yang membuat Lyra makin terluka dan kadang iri juga benci pada Marisa. Terlebih sejak Samuel bercerita kalau dirinya sekarang membantu Marisa menjalani program penurunan berat badan, yang artinya keduanya akan semakin dekat dan sering bertemu.
Hal itu tentu membuat Lyra kian terluka, tetapi ia tak kuasa menunjukkan ketidaksukaannya itu pada Samuel. Ia sadar, dirinya tak berhak untuk marah atau kecewa apalagi melarang Samuel untuk mendekati Marisa. Lyra hanya bisa sebatas mengingatkan pria pujaan hatinya itu bahwa Marisa telah bersuami.
***
Di rumahnya, Marisa sibuk menata hati yang tidak karuan. Tidur tak lena, makan malah makin kuat. Makan menjadi pelampiasan gelisahnya. Lupa sudah program diet. Bayang-bayang wajah Samuel yang mirip Sehun terus melintas dan menggoda di benak.
"Aku kok jadi aneh begini, ya ingat Samuel. Aduh, bukan Samuel. Dia Muelita. Tidak! Samuel! Muelita! Samuel! Muelita! Sam-aarrggh!" Marisa berteriak sendiri.
"Baiklah, aku hanya merasa khawatir akan dia. Selain itu tak ada alasan lain untuk memikirkan yang aneh-aneh tentang dia", kata Marisa mencoba menenangkan gejolak hatinya.
Keesokan paginya Marisa buru-buru mengemudikan mobilnya, meluncur ke rumah Samuel. Sepanjang jalan ia mulai merutuk diri karena berpenampilan terlalu mencolok. Makin malu saat ingat bagaimana tadi pagi ia menyisir dan menata rambutnya dengan baik. Memoleskan make up yang selama ini jarang disentuh, kecuali saat akan menghadiri pesta atau acara penting. Menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuh. Memakai pakaian terbaiknya. Sangat aneh, ia merasa sedikit bertambah gemuk hari ini dan untuk pertama kali mulai minder dengan ukuran tubuhnya di depan Samuel.
Akhirnya ia pun tiba di rumah Samuel. Sebuah rumah yang berlokasi di komplek perumahan yang cukup elite. Rumah-rumah di sana sangat nyaman. Rata-rata memiliki halaman berumput luas dan tanpa pagar. Suasana lingungan nyaman, bersih, dan punya sistem keamanan yang baik. Setiap tamu yang masuk harus melewati pemeriksaan security di gerbang masuk komplek.
'Oh lihat penampilanku. Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba aku ingin terlihat cantik di depan Samuel?' gumam Marisa dalam hati saat melintas di depan kaca jendela rumah Samuel. Untuk sesaat ia menyempatkan melihat bayangan dirinya di kaca jendela setinggi sekitar satu setengah meter itu sebelum mengetuk pintu rumah Samuel.
Saat pintu di buka, terlihat Samuel berdiri memakai kaus putih dan celana pendek.
"Hai, Ica! Sepagi ini kamu datang? Wah, benar-benar kejutan," sapa Samuel.
"Apa aku mengganggu?" tanya Marisa sungkan.
"Sama sekali tidak. Masuklah," ajak Samuel.
"Ayo ke halaman belakang. Aku baru saja mau kasi makan ikan," ajak Samuel tanpa basa basi.
Marisa pun mengikuti Samuel menuju kolam ikan yang ada di teras belakang rumah.
Selagi Samuel memberi makan ikan mas miliknya, Marisa duduk di bangku panjang yang ada di teras sambil sesekali merapikan rambutnya dengan jari tangan.
Melalui ekor matanya, Samuel memerhatikan Marisa yang terlihat berbeda. Penampilannya seperti orang yang akan pergi kencan saja. Mengenakan dress sutra warna biru tua setinggi lutut dengan model kerah V yang agak rendah hingga memperlihatkan sedikit belahan bagian sensitif di wilayah dada.
Ia juga merasa aneh bahwa Marisa tiba-tiba jadi sangat peduli dengan tatanan rambutnya. Rambut yang biasanya digulung atau diikat asal saja, kini dibiarkan tergerai dan disisir rapi. Marisa terlihat mirip penyanyi Demi Lovato. Samuel tersenyum dalam hati mengawasi tingkah Marisa yang seperti canggung dengan penampilannya sendiri.
.
__ADS_1
.
.