Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 5. Pertengkaran


__ADS_3

Malam ini Marisa bertekad membereskan bibit-bibit zinah eh,maksudnya bibit-bibit perselingkuhan suaminya. Usai makan malam dan anak-anak tidur di kamar masing-masing, pasangan suami istri muda itu duduk berhadapan di ruang keluarga. Suara TV terdengar pelan di ruangan.


"Tolong jelaskan maksud semua ini, Bang," pinta Marisa menunjukkan ponselnya yang berisi chat mesra si suami dengan si Karmila.


Sontak wajah Arjun pucat pasi persis wajah sepasang penghuni kost yang belum menikah-tertangkap basah oleh satpol pp sedang melakukan adegan dewasa di kamar.


"Da-da-dari mana kamu dapat ini?" tanya Arjun.


"Tak perlu tanya dari mana. Jawab saja pertanyaanku!"


"Pasti kamu utak-atik ponselku. Lancang sekali kamu melanggar privasiku!" sergah Arjun.


"Ya, benar aku lancang. Sekarang apa sebutan untuk dirimu yang mengkhianati pernikahan kita?" balas Marisa.


"Itu hanya iseng di dunia maya. Aku sama sekali tidak serius," elak Arjun.


"Iseng? Iseng dengan cara menghina dan merendahkan istrimu sendiri pada orang lain? Memuja wanita lain, begitu? Kamu bilang pada si bohay itu kalau istrimu tak peduli padamu, istrimu gembrot, bau, dan penampilannya mirip pembantu! Kamu juga bilang kamu malu punya istri seperti aku dan bilang pada wanita itu seandainya saja dirimu dan dia berjodoh. Tega kamu, Bang!" seru Marisa sembari menghapus darah bening yang tumpah dari sudut matanya.


"Kamu terlalu berlebihan. Itu cuma main-main," bantah Arjun.


"Ngeri benar main-mainmu, Bang. Katakan terus terang apa keluhanmu atasku? Biar aku bisa memperbaiki diri."


"Tidak ada. Sudahlah, aku tak mau membahas hal ini. Aku mau tidur," tukas Arjun seraya bangkit dari sofa.

__ADS_1


"Aku belum selesai, Bang" cegah Marisa.


"Kamu mau cari ribut?" tantang Arjun.


"Berengsek kamu, Bang. Akan kuadukan kelakuanmu ini pada orang tuamu," ancam Marisa.


"Jangan coba-coba libatkan orang tuaku dalam hal ini," ancam Arjun.


"Kenapa? Kamu takut?"


"Aku bukan takut. Aku kasihan dan tak mau jadi beban kalau sampai orang tuaku ikut susah memikirkan rumah tangga anaknya. Kamu harusnya juga peduli pada mereka."


Marisa bukanlah wanita yang pintar berdebat, tetapi ia tetap tak ingin diperdaya oleh suaminya.


"Orang tuamu tak selemah itu. Aku akan tetap memberitahu mereka. Kita lihat saja apa kata mereka nanti." Marisa bersikeras.


"Harusnya aku yang tanya apa maumu. Kita sudah komitmen menikah untuk seumur hidup. Setia dalam senang atau susah. Saat kaya maupun miskin. Sehat atau sakit. Aku tidak bisa menoleransi perselingkuhan dalam bentuk apapun. Baik perselingkuhan secara fisik maupun berselingkuh di dalam hati dan pikiran. Kalau kamu masih ingin bebas, seharusnya kamu tidak perlu menikahiku!" Marisa berang.


"Tak ada asap kalau tak ada api. Kamu sebagai istri harusnya introspeksi diri, kenapa suamimu bisa berbuat seperti itu."


"Aku tahu. Alasanmu mendekati wanita itu hanya karena kamu tidak bisa tidak tergoda wanita lain. Diriku tak cukup bisa memuaskanmu, dan yang paling parah adalah karena aku telah jadi wanita gemuk .... dan kamu benci wanita gemuk ...," ucap Marisa dengan bibir bergetar. Merasa malu dan pilu mengungkapkan semua itu dari mulut sendiri.


Kepalang tanggung, Arjun pun berpikir lebih baik wanita itu tahu semuanya.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Kamu tak becus menjaga badanmu. Kamu tahu tidak betapa malunya aku memiliki istri sepertimu. Membawamu ke acara besar dan bertemu rekan kerjaku. Kamu lihat istri-istri teman sekantorku. Tak ada yang badannya sebesarmu. Penampilanmu pun udik. Jauh ketinggalan jaman dari istri rekan kerjaku yang lain. Apa lagi melihat caramu makan. Seperti seekor **** kelaparan. Lihat mulut sekecil itu, tapi mampu membuatmu bengkak sebesar gajah.


“Bukan itu saja, bahkan tetangga sekitar mencibirmu, kamu tetap tak mau berubah. Jangankan untuk menjaga pandangan buruk orang, setidaknya pedulilah sedikit pada kesehatanmu sendiri. Kuruskan badanmu itu, " ungkap Arjun berapi-api. Meski hati kecilnya tahu tak seharusnya ia berkata seperti itu, tetapi ia tak tahan lagi untuk terus menyimpan unek-uneknya selama ini.


Jantung Marisa seolah berhenti berdetak untuk sesaat. Perkataan Arjun memukul telak harga dirinya. Sekuat mungkin ia mengendalikan diri untuk tidak menangis ataupun marah. Kadang bila rasa sakit telah melewati batas, setetes air mata pun tak lagi jatuh. Itulah yang kini berlangsung dalam diri wanita malang itu.


"Demi mengandung anakmu, aku menerima badanku harus berubah gemuk. Kehamilan dengan jarak dekat dan menyusui mereka masing-masing hingga hampir dua tahun membuatku mengabaikan penampilan. Sekarang ini upah yang kuterima atas semua itu. Tak perlu kujelaskan padamu apa yang aku rasakan dan aku alami atas perubahan itu. Wanita mana yang tak mau tetap cantik? Sepuluh tahun aku hidup denganmu, tapi ternyata kamu tidak benar-benar mengenalku," kata Marisa datar.


"Jangan jadikan anak-anak sebagai alasan. Banyak wanita di luar sana setelah melahirkan tetap bisa merawat diri," sanggah Arjun.


"Ceraikan saja aku kalau memang kamu sudah muak denganku, dan aku ingin kamu menulis alasan perceraian 'karena istriku gemuk'. Jangan coba-coba mengarang alasan lain. Aku paham hanya itu alasan utama yang ada. Jika suamiku sendiri pun sudah menghinaku, bagaimana mungkin aku mengharapkan orang lain berhenti menghinaku," tandas Marisa seraya masuk ke dalam kamar, mengambil bantal dan merebahkan diri di kursi tamu di ruang depan.


Perkataan dan sikap Marisa membuat Arjun sulit berpikir jernih. Diambilnya jaket yang tergantung di balik pintu kamar lalu mengeluarkan mobil dari garasi. Pergi menembus kegelapan malam.


Besar harapan Marisa agar Arjun mendukungnya. Siapa lagi yang lebih dia harapkan untuk menerima dirinya apa adanya selain orang terdekat. Namun, yang dia peroleh justru sebaliknya.


Marisa bertanya-tanya dalam hati, apakah aku telah salah memilih orang dalam pernikahan ini? Merasa Arjun seperti orang asing. Bila seorang pria hanya mampu menerima wanita cantik dan seksi, menghargai mereka berdasarkan penampilan, maka hanya sebatas itulah mereka akan menerimamu. Marisa nyaris tak percaya bahwa Arjun termasuk pria seperti itu.


Mendengar Arjun meninggalkan rumah, pertahanan Marisa akhirnya bobol. Tak henti menangis dan merutuk diri. 'Apa yang salah dengan beberapa lipatan di perut atau perut yang buncit? Seburuk itukah memiliki banyak selulit di paha dan bokong? Hanya karena gelambir di lengan pantaskah seorang wanita dihina?


Jika Arjun tak bisa menerima kondisiku yang sekarang tampil seadanya tanpa make up yang cetar membahana-tanpa perawatan kulit wajah dan rambut di salon kecantikan mahal, bagaimana bisa aku mengharapkan ia akan berjalan lebih jauh lagi disisiku hingga menua nanti dengan ribuan keriput di sekujur tubuhku? Aku membenci pria keparat itu. Tak sadarkah manusia satu itu kalau ia juga turut andil pada apa yang terjadi padaku saat ini?'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2