
Marisa sungguh merasa sedang salah kostum pagi itu, tetapi sudah terlambat untuk menyadarinya.
"Kamu mau minum apa, Ca?" tanya Samuel yang sudah selesai memberi makan ikan di kolam yang berjumlah sekitar dua puluh ekor. Seekor ikan mas berwarna kuning berukuran besar dan gemuk tampak seperti menunggu sesuatu di ujung kolam. Menatap dengan sedih pada tuannya.
Ikan malang itu masih lapar dan ingin makan lebih banyak lagi. Akhirnya ia cuma bisa pasrah dan menatap tajam ke arah Marisa dengan tatapan benci seolah menyalahkan kedatangan wanita asing yang tidak tepat waktu itu.
"Air kolam, Sam. Eh anu, air itu, eh bukan. Maksudku teh saja. Kasi gula diet satu sachet ya kalau boleh," jawab Marisa gelagapan.
"Hhmm, air kolam campur teh juga boleh," ledek Samuel.
"Tunggu aku jadi ikan duyung dulu, deh," balas Marisa dengan bibir mengkerut.
"Canda .... Tunggu bentar, ya," kata Samuel seraya berjalan masuk ke rumah.
Sembari menunggu, Marisa sibuk mengawasi ikan mas warna warni yang asyik berenang di kolam berair jernih. Untuk sesaat matanya tertumbuk pada seekor ikan mas cantik berwarna kuning dan gemuk.
'Ikan yang cantik, tapi matanya seperti monster air saja. Oh lihat! Ia terlalu banyak makan sampai gemuk begitu hingga sulit berenang seperti teman yang lain. Hanya berdiam diri di ujung kolam. Kasihan sekali. Ternyata dunia ikan juga sama kejamnya dengan dunia manusia. Sudah kuduga, berenang belum tentu bisa bikin kurus. Ikan mas itu buktinya. Oh, bayangkan juga ikan paus yang seumur hidupnya berenang di lautan, bukannya kecil malah membesar.' Marisa berbicara sendiri dalam hati.
"Lihat apa, Ca? Serius amat. Minum atuh tehnya," kata Samuel yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya.
"Oh My God!" Marisa tersentak kaget. "Kayak hantu saja kamu, Sam. Tiba-tiba nongol tanpa suara," sahut Marisa.
"Kamu itu yang bengong. Masa bisa enggak sadar aku datang. Tuh, minum tehnya dulu," balas Samuel sambil menunjuk ke arah teh yang ada di atas meja.
Sedikit malu Marisa meraih cangkir teh itu. 'Cangkir porselen yang cantik..Mungkin ini bonus gratis beli detergen," pikir Marisa.
"Kamu rapi sekali, mau kemana?" tanya Samuel.
Sontak teh yang diminum Marisa tersembur keluar dari mulut, lalu tumpah membasahi gaun kesayangannya. "Eh, buset! Eh, kemana!" seru Marisa keceplosan sambil terbatuk-batuk. Ada sedikit air teh yang masuk ke rongga hidungnya, menimbulkan sakit di bagian tersebut. Ia pun berusaha mengatur aliran napas agar kembali normal
"Kamu baik-baik saja?" Samuel bertanya memastikan.
Marisa hanya mengangguk dan menatap gaunnya yang kuyub di bagian depan. Samuel bergegas ke dalam lalu kembali dengan sehelai kain di tangan dan memberikannya pada Marisa.
Tanpa perlu dijelaskan Marisa memahami kalau kain itu untuk melap pakaiannya.
"Kalau minum pelan-pelan, Ca. Oya, jadi kamu mau kemana?" ulang Samuel.
"Mmm, tadi mau ke tempat teman. Ada acara," jawab Marisa berbohong sambil membersihkan gaunnya. 'Aduh, pagi-pagi udah bertambah saja dosaku,' gumamnya dalam hati.
"Acara apa?" selidik Samuel.
"Lupakan saja, sepertinya aku tidak akan datang. Bajuku kotor dan basah," keluh Marisa. Sungguh alasan yang dibuat-buat. Padahal Marisa paling tidak suka berbohong dari dulu.
__ADS_1
"Jam berapa acaranya? Mungkin masih sempat kita cuci sebentar saja di bagian yang terkena tadi, lalu keringkan dengan hair dryer, Ca," usul Samuel.
"Oh, tidak perlu," tolak Marisa.
"Sepertinya itu acara penting sampai kamu tampil rapi seperti ini. Apa temanmu tidak kecewa jika kamu tidak hadir?" tanya Samuel sedikit bingung.
"Tidak apa-apa. Oh, ya, bagaimana keadaanmu? Masih sakit kepalanya?" Marisa mengalihkan perbincangan.
"Sedikit sakit," jawab Samuel sambil menatap Marisa dengan tajam. Ia sungguh terpikat dengan pesona wanita di hadapannya.
Di sisi lain Marisa berjuang keras meredakan debaran jantungnya. Ia ingat sesuatu. Ya, debaran yang sama juga pernah dirasakannya saat bertemu dokter tampan yang mengobati bisulnya sewaktu di rumah sakit dulu.
"Apa tak sebaiknya kita memeriksakan lukamu ke dokter tampan itu?"
"Ha? Dokter tampan?"
"Astaga, omong apa sih, aku," kecam Marisa pada diri sendiri. "Maksudku ke dokter, Sam. Tidak pakai tampan," ralatnya.
"Tidak perlu, Ca. Ini tidak parah."
"Aku bantu ganti perbannya lagi, ya? Sekalian aku bawakan salep antibiotik untukmu dan perbannya juga."
Samuel membalas dengan senyum yang terlihat sangat cool. "Jadi wanita di depanku ini hendak menghadiri acara sambil membawa obat dan perban. Kamu sungguh berbeda dari yang lain," goda Samuel.
"Ma-maksudku tadi sebelum pergi ke sana aku mau mampir melihat keadaanmu dulu. Jadi bukan sengaja khusus ke rumahmu," kilah Marisa.
"Aku tidak bilang begitu lho, Ca. Baiklah aku ambil kotak obatku sebentar. Ada pembersih luka di rumah," ucap Samuel lalu meninggalkan Marisa di sana.
'Ah, sial! Kenapa aku jadi salah tingkah begini di depan Samuel. Seperti orang asing saja. Dia kan cuma teman lama. Ya ampun Marisa, sadarlah,' gumam Marisa dalam hati. Merasa jengkel dengan diri sendiri.
"Ni, Ca," kata Samuel seraya memberi Marisa kotak obat. "Aku duduk di lantai saja, ya," sambungnya.
Marisa menerima kotak obat itu. Isi di dalamnya cukup lengkap. Ada gunting, pinset, termometer, sarung tangan, alkohol, kain kasa, plester, kapas, tisu, perban berbagai ukuran dan jenis, cairan antiseptik, berbagai macam salep, dan obat-obat lainnya.
Marisa yang masih duduk di bangku mulai merawat luka hasil perbuatannya itu dengan Samuel yang duduk bersila di bawahnya.
"Ca ...," panggil Samuel.
"Ya?" balas Marisa dari balik punggung Samuel.
"Kamu ada masalah dengan dietnya?"
"Mmm, enggak ada, sih."
__ADS_1
"Ada yang kamu mau tanyakan?"
"Untuk saat ini belum."
"Baiklah, tapi aku perlu mengingatkan lagi beberapa hal padamu. Jangan coba-coba selingkuh-"
"Sam, apa yang salah kalau aku selingkuh? Toh, Bang Arjun sudah lebih dulu selingkuh di belakangku! Kalau perlu aku akan selingkuh dengan Sehun, biar si Arjun tahu aku bisa juga dapat pria yang lebih hebat darinya," ucap Marisa berapi-api.
Samuel memutar badannya. Terkejut dengan pernyataan Marisa. "Dodol, aku bahas selingkuh dalam dietmu. Lagi pula apa kamu pikir Sehun segampang itu mau denganmu?"
Marisa menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Ups! Aku salah tanggap," ucapnya pelan dengan wajah merona.
"Sekali kamu selingkuh, maka untuk kembali ke jalur yang kurus akan sulit. Kecuali tekadmu benar-benar sekuat tiang listrik. Protein hewani bebas dan lemak enggak masalah, tapi akan jadi masalah jika kamu menggabungkannya dengan nasi, atau kentang, atau roti, atau yang lainnya sejenis itu. Beberapa hal tidak nyaman pada tubuh di awal minggu akan terjadi, sebab itu proses pembuangan racun dalam tubuh. Kamu baca saja lagi catatan yang aku share kemarin. Banyak minum air putih. Segala jenis susu jangan, kecuali susu UHT fullcream. Itu pun di batasi. Juga untuk sa-,"
"Iya, iya, Sam. Semua udah aku baca di HP-ku. Masih tersimpan di sana. Kalau lupa aku akan baca kembali," keluh Marisa.
'Aku jadi makin bersalah ini kalau Samuel bahas diet terus,' sungut Marisa dalam hati.
"Baiklah," kata Samuel sedikit muram.
Marisa lalu mengalihkan percakapan seputar teman-teman mereka dan mengenang masa mereka sekolah dan kuliah dulu. Kadang keduanya tertawa kala mengenang kejadian-kejadian lucu dan konyol yang pernah mereka alami.
"Oh ya, Sam. Aku boleh tanya sesuatu? Tapi kamu janji dulu tak akan marah."
"Tanya apa dulu?"
"Kamu janji dulu," desak Marisa sambil mengulurkan kelingkingnya.
Samuel berpikir sejenak. "Aku janji," katanya dan mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Marisa.
"Mmm, apa kamu penyuka sesama jenis? Apa Brandon itu sungguh pacarmu?" tanya Marisa pelan.
Samuel terdiam dan menyipitkan mata.
"Please jangan tersinggung. Kamu kan udah janji tadi enggak bakalan marah," bujuk Marisa sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Kalau iya memang kenapa?" Samuel balik bertanya.
Marisa langsung lemas. Merasa patah hati dan terguncang hebat. Ia memang sempat mengira sahabatnya penyuka sesama jenis, tetapi setelah mendengar kepastian langsung dari Samuel, ia seperti orang yang baru tersengat aliran listrik dari rumah tetangga.
.
.
__ADS_1
.