
Rasanya biji mata Marisa hampir melompat keluar saat timbang badan. Kedua tangannya mengatup mulut yang hampir mengumpat menyebut aneka satwa yang ada di tanah air. "Kadal bunting! Naik dua kilo!" seru Marisa akhirnya setelah bisa mengendalikan diri.
'Jangan-jangan timbangannya rusak,' pikir Marisa. Tujuh puluh sembilan bukanlah angka yang indah untuk jarum timbangan. Terlebih bagi wanita dengan tinggi 163 sentimeter yang sedang berjuang agar bisa kurus.
"Ada apa, Dik?" tanya Arjun yang tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya.
"Beratku naik dua kilo, padahal kemarin sempat turun sekilo," jawab Marisa lesu.
"Kok iso? Makan apa to? Kalau memang diet mestinya turun beratmu."
"Biasa saja. Aku enggak makan malam selama empat hari langsung turun sekilo. Hanya sekali bolong, makan mi ayam yang kamu bawa semalam. Masakan cuma makan itu langsung naik dua kilo. Tak masuk akal!"
"Oh berarti timbangannya yang salah. Begitu maksudmu?" balas Arjun acuh tak acuh sambil berlalu.
***
Marisa menurunkan celanajeans yang tergantung di kamar-yang semula diharapkannya jadi motivasi untuk makin semangat menurunkan berat badan. Celana itu kemudian dilipatnya rapi dan ditaruh di lemari.
"Sia-sia aku diet. Bukannya turun malah makin naik beratku. Aku hanya perlu menerima takdir dan kondisi fisik ini. So what gitu lho dengan sedikit lemak. Big is beautiful. Selagi aku sehat maka tak masalah seberapapun berat badanku." Marisa mencari alasan.
Hari-hari selanjutnya begitu nyaman. Aneka jajanan manis dan gorengan hadir memanjakan lidah Marisa. Ketiga bocah yang ada di rumah langsung sujud syukur melihat ibu mereka kembali seperti sedia. Merdeka tanpa batasan makanan.
***
Akhir-akhir ini Marisa melihat tingkah suaminya sangat mencurigakan. Sering tersenyum sendiri di depan gawai. Benda pipih berwarna hitam itu pun sudah dipasang PIN pula untuk membukanya. Biasanya tidak begitu. Apalagi kalau Marisa tiba-tiba mendekat. Arjun cepat-cepat menjauhkan ponselnya atau beralih menonton video budidaya ikan ****** di you tube. Padahal dari jauh Marisa mengintip Arjun sebelumnya sibuk berselancar di aplikasi biru atau membalas chat di aplikasi berwarna hijau.
Tidak bisa tidak, jiwa detektif wanita yang memiliki pipi seperti kue pao itu pun terusik. Berbekal uang kumal lima ribu rupiah, Marisa menyogok Angga untuk mencari tahu PIN HP ayahnya.
"Dikit amat lima ribu. Tambah, dong," tagih bocah SD itu.
"Ya udah, nih Mamita tambah dua ribu lagi. Jadi tujuh ribu."
"Sama anak sendiri pelit banget. Tanggung, genapkan sepuluh ribu, dong," ucap Angga.
__ADS_1
" Duh, kamu kecil-kecil udah mata duitan," omel Marisa.
"Kalau enggak mau juga enggak apa-apa. Nih, Angga kembalikan duitnya. Entar Angga kasi tahu Papito kalau Mamita kasi uang suap buat cari tahu PIN HP Papito," ancamnya santai seraya menyerahkan uang tujuh ribu itu.
"Eh, bentar, bentar. Jangan begitu, Angga. Masih muda udah pintar memeras. Gede nanti mau jadi apa kamu? Kewajiban anak lho sebenarnya menurut pada orang tua tanpa harus pakai imbalan segala. Dasar kamu ini," gerutu Marisa.
"Business is business, Mamita," balas Angga sambil melipat kedua tangan di saku.
"Bisnis apa pula hadeuh... wes, Mamita tambah jadi 15.000, tapi kamu harus berhasil. Ingat, jangan omong apa-apa ke Papito. Awas! Kalau melanggar Mamita potong uang sakumu sebulan, paham?" ucap Marisa sembari menyodorkan lembaran rupiah yang mulai diragukan kehalalannya itu ke tangan Angga.
" Siap, beres, Boss!" sahut Angga dengan tangan memberi hormat.
'Sepertinya apa yang kurencanakan ini bukanlah tindakan terpuji. Kiranya Tuhan Yang Maha Baik yang telah memberkahiku segala makanan yang lezat, mengampuniku,' ucap Marisa dalam hati.
***
Dua hari kemudian Angga memberi laporan pada nyonya besar.
"Yakin kamu itu? Angka lima sebanyak lima kali?" tanya Marisa memastikan. Tersirat di pikirannya bahwa putra sulungnya itu punya bakat detektif yang perlu diwaspadai.
"Benar, Mamita. Angga udah coba buka pakai itu dan berhasil."
"Oke, makasih ya, Nak," ucap Marisa dengan rasa keki tanpa merasa perlu menanyakan bagaimana bisa bocah kurus tinggi itu mengetahui PIN tersebut.
'Kalau tahu aku PIN-nya segampang itu kenapa pula aku harus sampai sogok si Angga. Aku pun bisa menebaknya dengan mudah,' batin Marisa.
Maka malamnya mulailah Marisa bergerilya. Setelah melihat air liur mengalir dari sela bibir Arjun, Marisa langsung yakin suaminya sudah tenggelam ke alam mimpi. Marisa pun mengendap-endap seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri. Mengambil ponsel Arjun yang disimpan pria itu dalam laci nakas.
Di ruang tamu yang gelap gulita, ditemani para hewan penghisap darah dan cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap hendak menangkap nyamuk, Marisa pun memulai penyelidikan.
Setelah menekan angka lima sebanyak lima kali pada layar ponsel, terbukalah kunci gawai itu. 'Suamiku ini memang enggak kreatif banget. Bikin kunci HP kok semudah ini,' ledek Marisa dalam hati.
Daftar chat di aplikasi hijau adalah yang pertama menarik perhatiannya. Kedua netranya tertumbuk pada satu chat dengan poto profil seorang perempuan berwajah manis. Wanita itu berpose dengan mata yang begitu menggoda sambil menggigit jari telunjuk. Tertulis di situ nama kontak Karmila Uwu.
__ADS_1
Jemari Marisa pun bergetar seperti daun pada pohon jengkol yang sedang digoyang-goyang oleh genderuwo, kala membaca satu demi satu isi chat itu. Rasa kantuk yang sempat menjalar menguap dalam sekejab. Untaian kalimat sayang, cinta, rindu, serta segala puja dan puji memenuhi isi chat dua orang yang sedang mabuk cinta dan dosa itu. Dadanya terasa sesak seperti sedang memakai kaus ukuran S setelah melihat deretan puisi yang dikirim suaminya kepada wanita misterius itu.
Keromantisan ala pujangga dalam diri Arjun yang selama ini mati suri muncul kembali.
"Bang Arjun berselingkuh ...?" ujar Marisa lirih seolah tak percaya.
Masih menahan nyeri di dada, Marisa pun melanjutkan penyelidikan ke aplikasi berwarna biru. Ia membuka pesan masuk di akun milik Arjun dan menemukan percakapan yang hampir serupa isinya seperti tadi, dengan wanita yang sama pula. Karmila Bohay Tingkat Nasional, nama wanita itu di akun media sosial. Marisa membuka satu demi satu album foto wanita berambut panjang dan berkulit putih itu. Tak lupa pula ia membaca beberapa status si wanita, dan menemukan tanda jempol dari akun suaminya sering mampir di situ.
Beberapa status wanita itu tak ayal membuat Marisa berkecil hati.
'Gendut, No. Bohay, Yes.'
'Merindukan Arjuna, Kesayanganku.'
'Maafkan diriku yang terlalu cantik dan bohay ini. Bohay tingkat nasional, guys.'
'Bukan wanita penimbun lemak.'
Cepat-cepat Marisa mengambil gambar semua isi chat itu dengan kamera ponsel miliknya. Juga chat pada aplikasi hijau sebelumnya, termasuk segala komentar suaminya di status si Karmila Bohay Tingkat Nasional.
Setelah mengumpulkan semua bukti yang ada, Marisa mengembalikan ponsel Arjun ke tempat semula. Malam itu, wanita yang sudah mengabaikan cita-citanya ingin kurus itu tidur dengan sebuah luka baru yang menganga di hati.
Malangnya, malam itu juga ia bermimpi buruk. Tubuhnya membesar hingga berbobot lebih dari seratus kilogram. Ia sedang berdiri di atas sebuah tangga dan dari jauh memandang suaminya menggandeng mesra seorang wanita cantik dan ramping.
Marisa mencoba turun menghampiri keduanya. Saat kakinya menapak anak tangga, jus alpukat di tangannya tumpah. Membuatnya tergelincir hingga jatuh terguling seperti sebuah bola dan mendarat ke bawah dengan posisi tengkurap. Arjun dan wanita itu melihat Marisa jatuh bukannya menolong, tetapi justru tertawa padanya.
Mimpi itu terasa amat nyata, dan rasa sakit yang muncul di hatinya juga seakan nyata, hingga tanpa sadar air mata menetes jatuh membasahi bantal.
.
.
.
__ADS_1