
Tiba-tiba dunia Marisa menjadi gelap. Seperti mati lampu di tengah malam.
"Mbak Marisa, Mbak, Mbak ...," panggil Brandon berulang sambil menepuk punggung Marisa.
Diguncang-guncangnya bahu wanita yang mendadak pingsan di atas meja cafe itu, tetapi tetap gak bergeming.
"Kok malah pingsan di sini pula si Mbak," omel Brandon sambil mengeluarkannya sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu dari dompetnya. Lembaran uang kertas berwarna merah itu dikibas-kibaskannya di depan hidung Marisa. Cukup lima kali kibasan, Marisa langsung sadar.
"Udah sadar, Mbak?" tanya Brandon memastikan sambil menyimpan uangnya kembali ke dalam dompet.
"Sa-saya kenapa ya barusan?" tanya Marisa berlagak linglung sambil mengendus sisa-sisa aroma duit yang masih berputar-putar di udara.
"Mbak pingsan. Untung masih bisa sadar dan hidup kembali. Kalau tidak bisa repot saya. Shock ya, Mbak? Atau lapar karena belum sarapan?" Pria yang mirip aktor Lee Min Ho itu kembali bertanya.
"Dua-duanya."
"Mau makan apa? Biar saya pesankan," tawar Brandon.
"Tidak usah. Sejak diet saya sudah akrab dengan lapar. Saya hanya ingin dengar kelanjutan perkataanmu tadi. Apakah perkataanmu tadi serius?"
Brandon mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan dokter cantik yang dikatakan Samuel padaku?"
"Lyra, maksudmu?"
"Samuel tak pernah menyebutkan namanya."
"Iya, Lyra nama dokter itu. Sepupuku. Aku tidak terlalu tahu sejauh mana hubungan mereka. Cuma ya mereka memang dekat, dan Lyra juga menyukai Samuel. Maaf, Mbak, saya harus pergi sekarang juga. Ada perkerjaan penting yang harus saya selesaikan."
"Brandon, tunggu. Boleh saya minta no HP-mu?"
Brandon mengiyakan dan memberikan nomor ponselnya pada Marisa. Kemudian keduanya berpisah di sana.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah Samuel, Marisa merasa gelisah, galau, dan merana. Diliriknya kotak kue yang ada di samping jok. 'Tadi kan rencananya mau beli rainbow cake, kenapa malah yang dibeli justru redvelvet cake dengan bentuk hati, sih?' Marisa memarahi diri sendiri.
Setibanya di rumah Samuel, dengan ragu ia mengetuk pintu rumah itu. Hati kecilnya menegur lembut, 'Istri sekaligus ibu macam apa aku ini? Suami ke luar kota, aku malah sibuk memerhatikan pria lain. Sampai anak-anak aku titip di rumah mertua segala.'
Alangkah kagetnya Marisa saat melihat yang membuka pintu adalah seorang wanita tinggi, kurus, berkulit putih, bibir tipis, dan wajah oriental. Wanita itu mengenakan tank top berwarna orange menyala serta celana jeans pendek yang sangat sexy. Memamerkan pahanya yang mulus bagai pantat bayi dan bebas selulit.
__ADS_1
'Ini pembantu baru cantik banget,' pikir Marisa.
"Cari siapa, Mbak?" tanya wanita itu.
"Pak Samuelnya ada?"
"Ada, baru saja selesai mandi. Mbak siapa, ya dan mau apa?"
"Saya temannya. Ada perlu dengan beliau."
"Oh. Silahkan masuk."
"Terima kasih," ucap Marisa.
"Silahkan duduk dulu. Tunggu sebentar, ya? Saya panggilkan Pak Samuelnya dulu," kata wanita itu seraya masuk ke dalam.
Selagi menunggu, Marisa memerhatikan penampilannya. Ia hanya mengenakan kaus putih dan rok hitam polos selutut. Jauh kalah cantik di bandingkan penampilan pembantu sexy tadi. Hal itu membuatnya sedikit minder.
Tak lama kemudian Samuel muncul bersama wanita tadi.
Marisa segera bangkit begitu melihat Samuel. "Happy Birthday, Sam!" seru Marisa seraya membentangkan kedua tangannya. Samuel menyambut Marisa dengan pelukan hangat.
"Thank you, Ca," balas Samuel.
Seketika saja raut kedua wanita itu berubah seperti jeruk nipis. Aroma kematian seakan merasuk ke dalam jiwa mereka.
Demi menghargai Samuel keduanya bersalaman dengan melempar senyum tipis.
'Oh, jadi ini si Marisa yang diceritakan Samuel? Biasa saja pun penampilannya. Enggak selevel denganku,' cibir Lyra dalam hati seraya memikirkan secangkir kopi sianida.
'Ha! Ternyata ini dokter yang dibicarakan Samuel dan Brandon itu. Sengaja banget dia pakai pakaian kurang bahan begitu untuk menggoda Sammy-ku. Oh tidak bisa dibiarkan,' pikir Marisa.
"Sam, ini untukmu," ujar Marisa seraya memberikan kue yang telah dibawanya untuk Samuel.
"Terima kasih, Ica," balas Samuel.
"Sama-sama," ucap Marisa.
Tiba-tiba dering ponsel Samuel menghentikan pembicaraan mereka. Samuel meletakkan kue itu ke atas meja dan melihat ponselnya. "Sebentar, Ca. Saya jawab telepon dari klien dulu," katanya.
Marisa mengangguk dan membiarkan Samuel keluar ke arah teras depan.
__ADS_1
"Mbak, mau minum apa?" tanya Lyra pada Marisa.
"Air mineral saja, kalau ada."
"Enggak mah coba kopi buatan saya?"
"Sejak nonton berita heboh soal kopi bersianida saya jadi takut minum kopi."
"Sayang sekali. Mohon maaf, kalau air mineral kita kebetulan sedang habis, tapi air keran melimpah kalau mau," ucap Lyra dengan senyum sinis.
"Kucing saya saja di rumah bisa muntah kalau minum air dari keran. Apa lagi saya, bisa kejang-kejang," tutur Marisa.
Lyra memutar bola mata malas mendengar penuturan Marisa. "Oya sudah, kalau begitu minumnya di rumah kamu sendiri saja nanti. Omong-omong Mbak ini ada perlu apa ya kemari?"
"Memangnya kenapa? tanya Marisa.
"Bukan apa-apa. Saya dan Samuel kebetulan ada kencan malam ini. Sebenarnya kami akan berangkat kalau saja tadi Mbak Marisa enggak datang." Lyra memberitahu.
"Kencan? Apa saya tidak salah dengar? Setahu saya Samuel belum punya pacar," kata Marisa.
"Astaga, apa perlunya Samuel memberitahumu? Setahu saya, Mbak Marisa juga sudah bersuami dan punya anak kan? Urus rumah tanggamu baik-baik biar suami enggak direbut pelakor. Kalau Mbak merasa kurang dapat perhatian dari suami, sebaiknya introspeksi diri. Bukan malah cari perhatian dari pria lain," tegas Lyra.
"Hei! Jangan asal kalau bicara. Siapa yang cari perhatian di sini?"
"Ya kamu lah. Untuk apa coba istri orang datang ke rumah pria lain malam-malam begini? Sekalipun kalian berteman lama tetap saja enggak pantas. Kalau suami, anak-anak, dan mertua kamu tahu kamu di sini, coba bayangkan apa kata mereka," jawab Lyra.
"Siapa kamu ikut campur kehidupan pribadi saya?" hardik Marisa.
"Eh, wanita mantan obesitas yang masih overweight! Sadar tidak sih kalau kehadiranmu dan segala masalah rumah tanggamu ikut membuat Samuel stress? Akibat kamu enggak bisa kontrol makanan yang masuk ke mulutmu, suamimu sampai enggak betah sama kamu. Terus ujung-ujungnya selingkuh, ya kan? Terus kamu merengek-rengek minta Samuel bantu menyelesaikan masalahmu.
"Kamu yang menimbun lemak kenapa malah Samuel yang harus berjuang memikirkan cara mengeluarkan lemak-lemak itu? Isi kepala Samuel itu seharusnya aku calon istrinya, bukan istri orang. Waktu dan perhatian dia semestinya tertuju buat aku, bukan buat bini orang lain.
"Lain kali kalau tidak mau gemuk jangan makanlah. Gemuk tapi happy enggak masalah, tapi kalau karena gemuk sampai merepotkan orang lain itu yang bikin kacau dunia kecantikan ini. Please deh, Mbak, bisa datangnya lain kali saja tidak? Kami sedang tak ingin diganggu malam ini," ungkap Lyra penuh emosi.
"Seharusnya aku tidak datang kemari. Maaf, entah apa yang merasukiku," ucap Marisa pelan seraya berlari meninggalkan rumah itu.
Tak didengarnya teriakan Samuel yang memanggilnya sebelum masuk ke dalam mobil. Marisa terus memacu mobil dengan kencang meski jalanan terlihat kabur oleh air mata.
.
.
__ADS_1
.