Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 14.Kembali Ke Jalan Yang Kurus


__ADS_3

Diet rendah karbohidrat ternyata cocok untuk Marisa. Hampir tidak ada keluhan kesehatan apa pun selama menjalani diet. Justru ia merasa makin fit. Kalau dulu ia sering mengantuk, gampang lelah, dan pegal linu, maka setelah menjalani diet hal seperti itu tidak lagi dirasakannya.


Dulunya biasanya sarapan lontong, nasi goreng, nasi uduk, soto, tambah teh manis atau susu, tetapi semenjak diet semua itu berubah.


Jika kangen dengan lontong, ia akan membuat lontong versi diet, yang jelas tanpa lontong nasi dan mi. Sebagai pengganti lontong, ia membuatnya dari campuran mi shirataki dan agar-agar plain lalu ditambahkan gulai sayur aneka rupa.


Untuk menu soto versi diet, Marisa membuat seperti soto biasa hanya saja tidak memakai mihun. Cukup memasukkan daging dan tauge ke dalam bumbu soto. Setidaknya cukuplah sebagai pengobat rindu akan makanan berkuah tersebut.


Selain mengkonsumsi daging dan ikan, Marisa paling suka makan telur ayam dan telur puyuh. Menu paling gampang dimasak adalah telur ceplok rebus pakai kuah yang diberi bumbu mie instan. Saking seringnya makan telur sampai-sampai buang angin pun mengeluarkan aroma telur. Membuat gempar siapa saja yang kebetulan menghirupnya.


Untuk camilan, Marisa mulai rajin mencari menu alternatif untuk diet di internet. Seperti minuman jelly dengan santan, irisan keju panggang, brownies tanpa tepung atau kerupuk kulit. Sebagai pemanis pada minuman ataupun camilan, Marisa hanya menggunakan gula diet dengan pemakaian yang sangat terbatas.


Berkat dorongan Samuel, Marisa pun mulai berani melakukan olah raga ringan. Kulitnya menjadi kenyal dan kencang. Wajah chubby-nya mulai terlihat tirus.


Samuel memuji usaha keras Marisa. Namun justru bisik-bisik tetangga yang bikin kuping Marisa terasa panas dan gatal.


"Mba Marisa kan udah kurus sekarang, masih lanjut dietkah?" tanya Bu Jaya kala melihat Marisa yang singgah berbelanja di warungnya.


"Masih, Bu. Harus turunkan beberapa kilo lagi," jawab Marisa.

__ADS_1


"Aku pikir lemak Mbak Marisa ini sudah membatu. Ternyata masih bisa juga dihancurkan," gurau Bertha yang juga ada di sana.


"Iya, Bertha Sayang. Dihancurkannya pakai cinta baru bisa. Sesungguhnya lemak jahat itu dulunya lemak baik yang tersakiti. Setelah dapat sentuhan lope-lope luluh juga akhirnya," balas Marisa sambil tersenyum.


"Mbak Marisa, Kak Ros boleh tanya tak?" Kak Ros tiba-tiba ikut nimbrung.


"Boleh. Apa tu, Kak?" jawab Marisa.


"Badan gemuk sebab berlebih lemak, ye kan? Nah, mestinya kita kurangkan makan makanan berlemak atau yang digoreng. Macam mane nak buang kite punya lemak kalau hari-hari asyik makan lemak je, semacam daging, santan, keju, coklat, ikan goreng, dan sayur yang digulai? Tak habis pikir Kak Ros diet Marisa ni. Aneh tapi berjaya turunkan berat badan. Maki sihat pula agaknya Mbak Marisa," kata Kak Ros.


"Saya awal diet dulu juga bingung dan skeptis, Kak Ros, tapi saya jalani saja dulu. Kata teman saya saat tubuh dalam keadaan rendah karbohidrat, maka tubuh akan menggunakan lemak-lemak yang menumpuk dalam tubuh sebagai bahan bakar. Sementara jika tubuh dalam mode tinggi karbohidrat maka tubuh akan mengubahnya menjadi glukosa. Kemudian saat karbohidrat dikonsumsi berlebihan maka tubuh juga akan secara otomatis menyimpannya di dalam tubuh sebagai lemak. Kalau lemak menumpuk dalam tubuh maka resikonya bisa mengalami kelebihan berat. Lagipula makan protein hewani sedikit saja tapi kenyangnya tahan lama. Kira-kira seperti itu, Kak," jelas Marisa.


"Eleh ... eleh .... Tetangga tercinta. Kalau saya gemuk dikatai gajah. Udah kurus dibilang tua. Di situ saya kadang bingung," sahut Marisa.


"Salah itu, Bu Linda. Saya justru lihat Mbak Marisa malah makin terlihat awet muda, cantik dan glowing," timpal Bu Jaya.


"Eh tapi, eh tapi. Maaf saya sela ni," potong Erika yang sedang membeli sampo sachet. "Saya perhatikan Mbak Marisa akhir-akhir ini sering pergi berdua dengan pria muda dan tampan. Terus kelihatannya akrab sekali, sampai peluk-pelukan di depan pintu rumah. Sekali lagi mohon maaf ya, Mbak Marisa. Bukan saya mau ikut campur. Namun, sebagai tetangga yang baik sekaligus calon Ibu RT yang baru, demi kesejahteraan bersama, sebaiknya Mbak Marisa bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang kurang pantas di dalam kehidupan bermasyarakat," lanjutnya.


"Apa dikau cakap, ni Erika? Tak pahamlah awak," tanya Kak Ros dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Mmm, ketahuan Kak Ros kurang update berita," sindir Erika dengan sudut bibir terangkat.


"Saya tanpa sengaja sempat dengar beberapa kali Mbak Marisa dan Bang Arjun bertengkar, lho. Sedih saya dengarnya," kata Erika dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Dalam hatinya Erika justru tertawa, 'Bahagia aku tuh sederhana. Lihat suami tetangga berantam dengan istrinya itu udah bahagia banget dah rasanya. Hihihi ... Berdosa banget aku, ya?'


"Aduh, itu telinga manusia atau kelelawar sih? Tajam banget. Biasa mah, dalam rumah tangga ada perselisihan kecil. Bentar juga baikan. Jadi Mbak Ika enggak usah ikut sedih segala. Saya yang menjalaninya saja enggak sedih. Eh, omong-omong yang biasanya pakai sampo mahal kenapa sekarang beli yang sachet, Mbak Ika? Anti ketombe pula. Itu kepala sudah jadi peternakan ketombe kah?" balas Marisa.


"Oh sorry ya. Kebetulan sampo mahal saya yang limited edition sedang habis stock di mall. Jadi menunggu barangnya datang dari Korea terpaksa deh pakai yang ini. Asal ambil saja tadi," tukas Mbak Erika seraya berlalu dari warung.


"Mbak Marisa kan udah kurus, tapi kenapa Bang Arjun belum pulang ke rumah? Atau jangan-jangan Mbak terlanjur sakit hati karena dikatai gemuk sama suami sehingga mau cari suami baru?" tanya Bu Linda penuh antusias.


"Bah! Kalau yang itu aku setuju, Mbak Marisa. Kalau itoku si Arjun sudah berani menghina istrinya hanya karena fisik, lebih baik cari pengantinya yang lebih baik. Masih banyak laki-laki ganteng berserak di luar sana. Apalagi Mbak sudah kurus, jangan takut tunjukkan pesonamu. Kadang perlu kita kasi pelajaran para suami yang masih suka habis manis sepah dibuang. Waktu si wanita masih gadis dan body kencang, dikejar-kejar. Begitu sudah beranak dan melar badannya, disia-siakan," terang Bertha berapi-api.


"Enggak ada yang seperti Ibu-ibu dan Mbak-mbak sangka kan itu. Suami saya memang ada tugas keluar kota dari kantor, dan pria yang Mbak Ika bilang tadi itu adalah sepupu saya. Sudah jelas ya sekarang dan terima kasih atas perhatian kalian yang luar biasa terhadap saya," tandas Marisa sambil menenteng belanjaan dan pulang ke rumah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2