
Marisa berharap ia salah dengar atau sedang bermimpi. Dicubitnya lipatan lemak di bagian pinggang. Terasa sakit. Artinya ini bukan mimpi.
Melihat tingkah Marisa membuat Samuel ingin tertawa geli, tetapi coba ditahannya.
"Berapa lama kalian pacaran?" tanya Marisa pilu.
"Dua tahun."
"Kenapa kamu tidak menyukai wanita, Sam?"
"Siapa bilang? Aku juga menyukai wanita."
"Ha! Serakah kamu. Tak sehat kamu, Sam," ujar Marisa geram.
"Kenapa?"
"Kenapa tak pilih salah satu saja!"
"Kalau bisa dua kenapa harus satu?" tantang Samuel.
"Dosa tahu!" cibir Marisa.
"Baiklah, aku pilih Brandon kalau begitu."
"Ayolah, Kawan. Harusnya kamu pilih yang wanita."
"Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai wanita. Itu hanya untuk iseng. Aku lebih suka pria," jelas Samuel dengan tenang.
"Kenapa bisa begitu? Pasti ada sebabnya. Aku pernah baca ada artikel yang mengatakan bahwa penyebabnya bisa jadi pola asuh yang salah atau pernah disakiti oleh wanita. Sepertinya kamu bukan pola asuh yang salah. Apa karena alasan satunya lagi?"
"Hhmm," gumam Samuel.
"Beritahu aku, Sam. Mungkin aku bisa bantu. Mungkin masih ada harapan," ucap Marisa sambil menggenggam kedua tangan Samuel dan memandangnya penuh simpati seolah manusia di depannya sedang menghadapi sakaratul maut saja.
Samuel menatap wanita di depannya dengan ragu, lalu mendesah panjanglalu mulai bercerita.
__ADS_1
"Bertahun-tahun lalu aku jatuh cinta pada seorang wanita yang sangat cantik, baik hati, dan periang. Kami berteman sangat dekat awalnya, sampai aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya. Orang bilang, dari sahabat jadi pacar itu ngeri-ngeri sedap. Kalau sahabat bertengkar masih bisa baik kembali, tetapi pertengkaran dengan pacar biasanya akan mudah putus dan parahnya setelah jadi mantan, jangankan untuk kembali jadi teman. Tegur sapa pun tidak.
"Ketakutan akan hal itulah yang membuatku memendam rasa. Tak pernah kuungkapkan cinta yang kumiliki untuknya. Aku mencintainya dalam wujud sahabat, walau rasaku lebih dari sahabat. Seiring waktu, dia menikah dengan pria lain dan hidup bahagia. Begitulah." Samuel mengakhiri ceritanya.
Genggaman tangan Marisa melemah lalu terlepas. Keduanya saling beradu pandang. Marisa dapat melihat kepedihan dimata Samuel.
"Siapa dia, Sam? Kamu tak pernah cerita padaku, padahal kita sangat dekat. Jika saja kamu ceritakan ini dari awal, tentu aku akan mendukungmu. Semua sahabat wanitamu aku kenal. Sababatmu juga sahabatku. Aku tinggal bicara pada wanita itu, pasti selesai. Oh, demi Tuhan! Bagaimana kamu bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku, Sam? Katakan siapa dia!" ucap Marisa dengan bibir bergetar.
"Untuk apa lagi? Terlambat sudah. Dia sudah jadi milik orang." Samuel tersenyum getir.
'Akan kuracun wanita yang telah membuat masa depan sahabatku jadi hancur begini,' tekad Marisa dalam hati.
Marisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikirannya kembali menerawang jauh ke masa silam. Mencoba mengingat segala peristiwa penting, lalu mengaitkannya satu demi satu.
"Hei! Sudah jangan dipikirkan lagi," tegur Samuel.
Marisa tersentak sadar. Saat itu pula ponselnya berdering. Dari Arjun. Marisa berdiri dan menjauh dari Samuel untuk menjawab panggilan masuk itu.
Samuel menatap Marisa dari jauh. Beban berat yang bersemayam dalam hati sedikit berkurang.
"Sam, aku pulang dulu ya. Lain kali kita sambung. Bang Arjun pulang," jelas Marisa setelah menutup telepon.
***
Arjun menghabiskan waktu di rumah selama dua hari. Anak-anak lebih memilih meneruskan liburan di rumah kakek dan nenek mereka ketimbang pulang ke rumah.
"Aku pikir kamu mulai agak kurus saat aku kembali, ternyata sama saja. Mungkin satu ons pun tak berkurang," tukas Arjun ketus pada Marisa saat mereka di rumah.
"Beratku sudah berkurang banyak. Matamu saja yang rabun. Kapan sih kamu berhenti mempersalahkan ukuran tubuhku!" sergah Marisa.
"Apa susahnya sih menurunkan berat badan? Betah amat bawa gerobak gandeng kemana-mana. Kecuali aku meminta hal yang buruk, wajar kamu marah. Lha ini aku maksudnya baik. Apa kamu mau seperti Mamakku? Sangking gemuknya sebentar-sebentar masuk rumah sakit. Dokter selalu pesan agar jaga pola makan, kurangi berat badan, dan jangan banyak makan yang manis-manis. Kalau orangnya tidak mau berubah hidup lebih sehat, mau obat apa pun juga enggak mempan."
"Aku sehat, Bang! Kapan aku masuk rumah sakit gara-gara kolesterol atau karena serangan jantung, atau darah tinggi, atau diabetes, ha? Berlebihan kamu," hardik Marisa.
"Oh, jadi kamu mau tunggu kejadian dulu seperti Mamakku baru berubah. Begitu? Kalau sudah terjadi seperti itu aku masa bodoh sama kamu, tahu!" tandas Arjun.
__ADS_1
"Aku doakan kamu Bang, suatu hari nanti badanmu juga makin gede dan bulat seperti panda. Dasar suami enggak ada ahlak. Ingat Bang, doa orang yang teraniaya itu manjur."
Begitulah hari pertama mereka berjumpa di warnai dengan pertengkaran. Selanjutnya Arjun selalu sibuk di depan layar handphone atau laptop mengurus pekerjaan, dan Marisa juga tidak akan menyapa suaminya selain untuk hal penting.
Sejak kejadian makan mi terakhir, Marisa tidak lagi bisa memulai dietnya seperti dulu. Saat menimbang badan, ia dibuat terkejut. Belum ada seminggu ia mengacaukan dietnya, beratnya melonjak naik menjadi 77 kg. Mustahil pikir Marisa. Berulang kali ia menimbang, hasilnya tetap sama.
Hari berikutnya Arjun kembali ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Marisa kemudian mengadu pada Samuel tentang pertengkarannya dengan Arjun saat Samuel datang ke rumah Marisa. Sementara Marisa menangis tersedu-sedu, Samuel menatap Marisa dengan pandangan dingin. Ia tak memberi komentar apa-apa mengenai keributan pasangan itu, tetapi justru bertanya, "Berapa beratmu sekarang?"
Marisa terkesiap. Menggigit bibirnya dan menunduk.
"Berapa, Ca?" Samuel masih menunggu jawaban Marisa.
Tak ada gunanya terus diam. Marisa yakin Samuel pasti bisa melihat bahwa ia terlihat semakin gendut sekarang.
"Tujuh puluh tujuh kilogram, Sam," jawabnya nyaris tak terdengar.
"Kok bisa tambah berat? Padahal sebelumnya sudah turun banyak?"
"Iya, Sam. Aku juga heran, atau jangan-jangan itu berat di dosa, ya? Soalnya aku banyak bohong akhir-akhir ini."
Samuel menghela napas. "Alasan .... Kamu makan apa dalam seminggu ini?"
"Mmm .... Semuanya," ucap Marisa malu. "Jujur aku makannya juga tidak banyak, kok. Entah kenapa bisa naik secepat itu. Aku pikir aku akan memulai diet lagi seperti dari awal, tetapi berat sekali mengulanginya kembali." Marisa memberi alasan.
"Kamu terlalu cepat merasa senang dengan hilangnya sembilan kilogram di 12 hari pertama dietmu. Aku sudah peringatkan bahaya selingkuh, tapi kamu tidak menganggapnya serius. Karbohidrat dalam tubuh itu mengikat air. Saat tubuhmu tidak lagi menerima karbohidrat, maka cairan tidak bisa terikat akhirnya keluar lewat urine. Di fase ini kamu akan sering buang air kecil dan kadang pusing. Makanya diet ini dianjurkan untuk banyak minum agar tidak dehidrasi dan ginjal juga tetap sehat.
"Jadi 12 kg pertama yang keluar itu baru cairan yang tersimpan dalam tubuh. Pernah dengar gemuk air tidak? Seperti itulah kira-kira jenis gemuk tubuhmu ini, Bu. Lembek-lembek kayak jelly, enggak padat. Jadi untuk lemaknya sendiri belum ada terbuang, Ca. Kasihan deh, kamu.
"Nah, saat kamu makan makanan tinggi karbo otomatis tubuhmu menahan air lagi yang masuk ke dalam tubuh. Jika tadinya kamu konsisten dengan dietmu, maka selanjutnya akan masuk fase pembakaran lemak. Untuk pembuangan lemak ini agak lama biasanya, sehingga penurunan berat badan juga tidak drastis seperti di awal diet," terang Samuel panjang lebar.
Mendengar penjelasan Samuel. Marisa merasa lega. Ia berjanji akan kembali disiplin dalam diet, dan sungguh ia tepati.
.
__ADS_1
.
.