
Malam hari sepulang dari kerja, Arjun akhirnya membuka percakapan dengan Marisa. Ya, sudah empat hari berlalu semenjak pertengkaran itu mereka saling diam.
"Dik, ada yang Abang mau sampaikan," kata Arjun ragu.
'Pasti dia mau minta maaf. Baguslah akhirnya dia sadar akan kesalahannya,' kata Marisa dengan angkuhnya di dalam hati.
Alih-alih menjawab suaminya, Marisa malah mengangkat kedua bahu. Berlagak tak perduli.
Melihat istrinya diam saja, Arjun memilih meneruskan ucapannya. Jika bukan karena ada hak penting ia pun enggan menyapa lebih dulu. "Besok pagi abang berangkat ke luar kota untuk tiga bulan. Abang ditugaskan membantu sementara operasional cabang baru perusahaan yang baru dibuka di Jambi. Jadi Abang minta tolong kemasi keperluan selama di sana. Pesawat Abang berangkat pukul sepuluh."
Sungguh pun kabar itu mengejutkan, Marisa berusaha memperlihatkan sikap biasa saja. "Oh, oke," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari acara kuliner yang sedang tayang di TV.
Melihat itu, Arjun memberengut di dalam hati. 'Gaya saja mau diet, tapi tontonannya wisata kuliner melulu. Ini namanya sengaja mencobai dan menggoda diri sendiri. Ujung-ujungnya habis nonton jadi ngiler, lanjut makan lagi pasti. Tobatmu kapan Marisa. Aku sih berharap kamu segera insaf dan kembali ke jalan yang kurus.'
Menit-menit berikutnya, kedua mahluk itu sibuk dengan urusan masing-masing.
Jiwa penasaran Marisa meronta ingin tanya ini dan itu pada suaminya, tetapi rasa gengsi lebih mendominasi diri sehingga lebih memilih tidak banyak tanya.
***
Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik awan. Seperti sepasang suami istri-Arjun dan Marisa, yang malu-malu untuk mengucapkan salam perpisahan. Sementa tiga anak mereka justru senang-senang saja melihat ayahnya ke luar kota. Bagaimana tidak senang, sebab tiap kali ayah mereka pulang dari luar kota, pasti selalu ada hadiah dan oleh-oleh keren yang dibawa ayah untuk tiga bocah itu. Itu memang sudah jadi kebiasaan Arjun.
Marisa sebenarnya galau dengan keberangkatan Arjun, tetapi bila mengingat perselingkuhan suaminya, hatinya menjadi jengkel kembali.
'Jangan-jangan selama di luar kota si Arjun malah makin bebas berhubungan dengan wanita itu.' Demikianlah pikiran negatif melintas di benak Marisa.
'Lihat saja nanti. Aku tak akan mau kalah. Tunggu saja tanggal mainnya Bang Arjun. Begitu kamu pulang, maka Upik Abu ini telah jadi Cinderella. Kalau sudah jadi Cinderella, maka hanya seorang pangeran saja yang pantas mendampingku .... Hahaha ...,' kata Marisa dalam hati.
__ADS_1
***
Sebagai mentor, Samuel sangat memerhatikan program diet Marisa. Memastikan ia sarapan makanan berprotein, minum air putih yang banyak, dan makan makanan rendah karbohidrat.
Melewati waktu camilan di jam sepuluh pagi dan empat sore menjadi kegiatan paling menyiksa. Rasa lapar menggerogoti, tetapi ia ingat pesan Samuel. 'Terkadang jika sudah makan dan beberapa saat kemudian merasa lapar, pastikan apakah itu rasa lapar palsu atau bukan. Minumlah air putih tiga gelas, dan apabila masih lapar boleh makan camilan asalkan rendah karbohidrat dan tidak mengandung gula.'
Sore itu ujian bagi dietnya datang lagi, dan Marisa memang sedang merasa lapar. Bang Nando lewat di depan rumah sebagaimana biasanya sambil menjajakan bakso. Baksonya memang terkenal punya cita rasa lezat tiada tara. Tiga anak Marisa langsung meluncur antri di depan gerobak Bang Nando beserta tetangga yang lain. Sebelumnya ia telah memberi pesan pada Angga, "Nanti sampaikan ke Abang Bakso suruh tunggu bentar, uang baksonya Mamita yang bayarkan."
Bukan tanpa alasan Marisa menyuruh demikian. Ia tak ingin mengantri di depan gerobak bakso Bang Nando sembari menjadi bahan bully-an para tetangga.
Setelah melihat tidak ada pembeli lagi, Marisa bergegas keluar. "Maaf, Bang, jadi menunggu. Saya beli baksonya ya, tapi enggak pakai mi. Cuma kuah sama bakso yang isi telur aja, Bang," ucap Marisa sambil menyerahkan sebuah mangkuk dan uang pembayaran bakso.
"Enggak apa-apa, Mbak. Kayaknya Mbak Marisa sengaja menunggu pembelinya pada pergi ya, baru muncul?" tanya Bang Nando sambil tersenyum dan menyiapkan pesanan Marisa.
"Iya Bang Nando. Tahu donk kalau tetangga itu apa saja dibahas. Dari pada saya enggak nyaman mending saya menghindar."
"Tahu enggak usah, Bang. Itulah Bang, diet yang saya jalani sekarang melarang makan mie termasuk tahu. Oya, kecapnya satu sendok saja. Tanpa saus, Bang," jawab Marisa.
"Bukannya diet itu enggak boleh makan daging?"
"Kali ini berbeda, Bang. Protein hewani bebas konsumsi kapan pun, asal tidak dicampur tepung dan gula," jelas Marisa.
"Ini bakso saya ada tepungnya," kata Bang Nando terheran.
"Enggak apa-apa, Bang. Saya cuma ambil telur rebus yang ada dalam baksonya. Baksonya saya kasi ke anak saja nanti."
"Oh, begitu. Kalau Mbak mau, saya ada ceker ayam. Apa mau ditambah? Atau pantang juga?" kata Bang Nando
__ADS_1
"Boleh, boleh. Boleh banget. Saya mau cekernya."
Bang Nando pun menaruh empat potong ceker ayam ke dalam mangkuk Marisa sambil berkata, "Mbak Marisa kayaknya serius banget diet kali ini. Tadi ibu-ibu sini sempat cerita kalau Mbak Marisa sekarang makannya sayur-sayuran. Terus gara-gara Mbak gemuk, Bang Arjun lari dari rumah. Bawa koper segala dan tak pulang-pulang. Dengar-dengar mau cerai dan kawin lagi. Maaf ya Mbak, jangan tersinggung. Kebetulan tadi saya dengar ada yang bilang begitu. Makanya saya mau tanya apa betul sampai sebegitunya?"
Kening Marisa langsung berkerut mendengar berita yang penuh bumbu itu. "Manusia sekarang memang banyak kurang kerjaan, Bang. Akhirnya sibuk urus hidup orang lain. Mau pipi saya chubby, mau perut saya kayak orang hamil, mau saya makan banyak, toh enggak merugikan orang lain. Suka bingung saya sama orang yang sering komentar negatif ke saya. Itu hidup mereka kurang piknik atau kurang bahagia, apa bagaimana? Kadang saya merasa bodoh amatlah sama apa kata orang, tapi kadang pas kita lagi enggak bisa berpikir positif atau lagi ada masalah, maka omongan yang aneh-aneh itu bikin insecure lho, Bang. Saya memang ingin kurus, biar lebih sehat dan memilih baju juga gampang. Soal suami, aduh ... Bang Arjun memang lagi dapat tugas kantor ke luar kota. Enggak benar itu cerita kalau dia lari dari rumah," terang Marisa.
"Ya ampun, saya minta maaf ya Mbak ikut menyampaikan kabar hoax. Begitulah kalau cerita dari mulut ke mulut tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu. Cerita di sini beras, sampai di orang lain udah jadi lontong sayur," sesal Bang Nando
"Abang enggak salah. Untung Abang konfirmasi langsung ke saya. Kalau tidak, mana saya tahu cerita yang beredar di sekitar sini. Justru di situ indahnya gosip dan gibah, Bang. Sama kayak makan daging cuma di rebus sama garam doank mana sedap. Makanya ditambahkan bumbu ini itu. Jadilah rendang yang bikin ketagihan. Informasi yang ala kadarnya mah enggak ada istimewanya. Ditambahlah bumbu halusinasi dan analisis ala-ala pakar barulah seru," timpal Marisa.
"Banyak-banyak sabar saja, Mbak," pesan Bang Nando.
"Iya, Bang. Biarpun jelek begini, saya ini punya mental artis. Kebal sama gosip miring."
"Mbak Marisa terlalu merendah. Padahal udah dari sononya cantik. Enggak salah Mbak sekarang jadi artis walau masih di antara lingkungan satu RT," puji Bang Nando tulus.
"Eh, si Abang terlalu memuji. Cukuplah badan saya saja yang gede, jangan sampai kepala ikut gede," ujar Marisa tersipu malu.
"Saya kalau memuji jarang, Mbak. Namun, kalau sekali memuji pasti benar."
"Hahaha ... si Abang bisa saja, tapi saya ucapkan terima kasih. Oh ya, saya masuk dulu, Bang. Mau nikmati bakso yang nikmat ini, entar keburu dingin," ucap Marisa tersenyum lebar seraya pamit kembali ke rumah.
.
.
.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Terima kasih kembali," balas Bang Nando.