
Seminggu sudah Marisa menjalani diet. Awal-awal diet, badannya sering lemas dan pegal. Kepala juga pusing. Namun, makin hari ia tidak lagi mudah merasa lapar. Samuel mengingatkan untuk tidak terlalu sering menimbang badan. Cukup sekali seminggu atau sekali sepuluh hari agar tidak melihat hasil berpatokan pada angka belaka.
Nasi, mi, roti, dan berbagai makanan tinggi karbohidrat tak lagi disentuh. Termasuk kentang, ubi, serta aneka kerupuk. Konsumsi buah yang mengandung gula tinggi juga masuk dalam makanan yang pantang. Marisa pun harus rela mengucapkan salam perpisahan pada jeruk, pisang, dan semangka kegemarannya.
"Muelita, sampai kapan aku tidak boleh menyentuh nasi?" tanya Marisa pada Samuel.
"Tergantung kamu. Jika berat badan ideal tercapai kamu bisa mulai makan nasi dalam mulai sedikit saja dulu. Kalau kamu hanya sekadar kangen dengan nasi, kamu bisa makan nasi dari beras khusus yang nol kalori."
"Ya, aku paham."
***
Lewat 12 hari Marisa tak lagi dapat menahan hasrat terpendam untuk berdiri di atas penimbang badan serta merasakan sensasi jarum timbangan yang bergerak ke kanan. Ya, ia merasa beberapa pakaiannya mulai terasa longgar saat dipakai. Hal itu yang membuat ia yakin beratnya pasti sudah turun. Diambilnya timbangan yang ada di bawah meja makan. Rasa tegang, grogi, dan gelisah bergelora dalam jiwa. Pesis seperti sedang menunggu undian berhadiah mobil keluaran terbaru.
Mula-mula sebelah kakinya saja yang naik ke atas timbangan. Diam sejenak untuk mengatur napas. Kemudian ia memejam mata seraya menaikkan sebelah kaki yang lain. Kini kedua kakinya telah berdiri di atas timbangan. Ia pun membuka mata. Jarum timbangan menunjuk angka 20 kilo.
"Apa! Mustahil!" pekiknya seraya bangkit dari kursi. Rupanya ia lupa mengangkat pantatnya dari kursi.
Jarum jam pun bergerak cepat hingga ke angka 70 kg. "Ini baru betul! Oh yes! Yes yes yes!" teriaknya lalu turun dari timbangan dengan semangat perjuangan tahun 1945, sambil joget dan nyanyi Oppan Gangnam Style. "Oppan Gangnam Style, eh ... Sexy Lady ... Oppan Gangnam Style .... Eh Sexy Lady. Eh, eh, eh, eh, eh, eh ..."
Tanpa disadari Marisa, tiga anaknya dengan tangan mereka sama-sama terlipat di dada, berdiri menonton aksi ibu mereka.
"Ih, Mamita jangan sok sexy, dech," celetuk Bianca.
"Biarin," balas Marisa sedikit malu karena terpergok tiga bocah tadi. "Sudah sana, sana. Pergi nonton TV," usir Marisa.
Ketiga bocah itu pun menurut dan beranjak pergi.
"Aku pikir Mamita tadi kesurupan Mba Kunti pas dengar teriakannya. Ternyata lagi demam Gangnam Style," bisik Angga pada kedua adiknya.
Kedua adiknya cuma menggeleng kepala.
Di dapur kecilnya, Marisa tersenyum sendirian. 'Turun sembilan kilo dalam waktu 12 hari. Wow! Semudah menjentikkan jari saja, hihihi....Artinya 12 hari kedepan beratku bisa turun lagi jadi 61 kg," katanya dalam hati.
Setelah berjoget ria, ia merasa jadi sangat lapar dan haus. Matanya melirik ke arah mie instan di dekat lemari piring yang sudah beberapa lama tidak disentuh. Pikirannya segera melayang kemana-mana. Membayangkan nikmatnya makan mi rebus campur telur dan cabe, ditemani segelas teh es yang manis dan dingin. Marisa meneguk ludah. Bolong diet sekali tidak apa-apa. Toh besok bisa ditebus dietnya.Tanpa ragu-ragu sebungkus mie instan langsung dieksekusi.
Tak butuh waktu lama, Marisa sudah duduk manis di atas meja menatap mangkuk mi yang masih mengepulkan asap tipis, bersama satu gelas teh es. Kemudian ia perlahan melahap perlahan mi rebus buatannya. "Ah, nikmat sekali," gumamnya.
Tiba-tiba terjadilah pertentangan batin dalam dirinya. Antara Jin Kurus dan Jin Gemuk.
Jin Gemuk berkata, "Eh, rasanya ada yang kurang. Tambah nasi mantap punya ini."
Jin Kurus menjawab, "Jangan Marisa. Ingat pesan Samuel. Low carbo. Bahkan mi ini juga dilarang. Teh itu juga pakai gula, padahal enggak boleh."
"Halah, satu sendok nasi tak masalah. Minum teh juga baru sekali. Besok kita bisa memulai lagi dietnya. Makanan dan minuman ini juga halal kok. Bukan dosa lho. Anggap saja sedang merayakan keberhasilan turunnya sembilan kilo lemak," balas Jin Gemuk.
"Tak baik, Marisa. Kamu kan sudah berjanji akan disiplin diet pada Samuel," timpal Jin Kurus.
"Lihat Marisa, baru saja 12 hari diet sudah turun sembilan kilo. Cepat, bukan? Makan nasi sedikit tak akan berpengaruh banyak," ucap Jin Gemuk dengan mata licik lalu meniup Jin Kurus hingga terbang jauh dan lenyap.
"Baiklah. Satu sendok makan nasi tak masalah. Besok aku janji akan mulai diet lagi," kata Marisa sambil menyendokkan nasi ke dalam mangkuk berisi mi.
__ADS_1
Usai menghabiskan mi rebus dan teh manis dingin itu, sepotong rasa berasalah melanda hatinya. Namun, ia coba tenangkan dengan berjanji pada diri sendiri besok akan konsisten untuk diet kembali.
Ponselnya berdering. Dari Samuel.
[Hai, Muelita]
[Ica. Apa kabar hari ini? Kamu masih diet?]
[Masih, donk]
[Kamu enggak makan mi rebus barusan, kan?]
[Ah, enggak ada, kok] jawab Marisa sedikit gugup. Ya, ampun. Ini anak tahu dari mana aku makan mi rebus barusan, pikir Marisa dalam hati.
[Kok aromanya sampai kemari, ya?]
[Masa, sih?] Jantung Marisa mulai berdetak kencang. ****** aku. Sejak kapan jaringan telepon bisa membawa pesan suara beserta aroma makanan? Hatinya bertanya-tanya.
[Oh sorry, sorry. Ternyata si Brandon lagi masak mi shirataki pakai bumbu mie instan di sini]
'Ah, leganya,' ucap Marisa dalam hati.
[Ooo ...] balas Marisa.
[Ca, besok aku ke rumahmu, boleh]
[Boleh, donk. Mana ada yang melarang]
[Sok sungkan kamu. Kita kan bukan baru berteman setahun dua tahun. Kalau mau datang, datang saja. Aku tunggu]
[Baiklah, sampai jumpa besok]
[Oke]
Setelah menutup telepon Marisa langsung menyesal telah berbohong pada Samuel. "Gara-gara mi rebus aku jadi berdosa banget. Makan mi rebusnya sih enggak dosa, tapi berbohongnya justru yang bikin berdosa," gerutunya.
***
Sejak melanggar pantangan diet dari Samuel, Marisa jadi makin sulit konsisten. Malamnya ia selingkuh dengan martabak manis. Paginya ia sarapan lontong sayur dan teh manis hangat. Penyesalan selalu hadir belakangan setelah perutnya terasa kenyang. Merasa bersalah telah kalah dengan godaan. Ya iyalah. Kalau hadirnya selalu di depan bukan penyesalan namanya, tetapi pembagian bantuan sosial.
Pukul sepuluh pagi Samuel muncul di depan pintu rumah Marisa.
"Oh Mentor kesayangan aku," sambut Marisa seraya berlari memeluk Samuel. "Aku turun sembilan kilo dalam waktu 12 hari!" serunya girang.
"Baguslah. Sebentar aku lihat kamu dulu," kata Samuel.
Marisa pun melepaskan pelukannya lantas berdiri tegap di hadapan Samuel sambil merentangkan tangannya dan berputar.
"Bagaimana?" tanya Marisa.
"Aku bisa melihat kamu alami kemajuan cepat. Berarti kamu berjuang dengan sangat keras," puji Samuel.
__ADS_1
"Terima kasih, Sammy," ucap Marisa.
"Kamu ini enggak konsisten. Kadang panggil aku Muelita, kadang Sammy. Bisa tidak pakai satu sebutan saja?" komentar Samuel sembari duduk di sofa yang ada di ruang depan.
"Sama saja, kan? Toh orangnya sama," jawab Marisa.
"Beda donk. Muelita itu nama cewek. Please panggil aku Samuel saja."
"Aku panggil begitu karena kamu kadang bersikap memang seperti cewek." Marisa membela diri.
"Dari segi mana yang seperti cewek?"
"Cara berbicaramu."
"Hahaha ...." Samuel tertawa terbahak. "Itu sajakah?"
Marisa terdiam sejenak. "Ya, sepertinya cuma itu saja."
"Baiklah. Jika aku menghilangkan cara bicara itu apa kamu akan berhenti memanggilku Muelita?"
"Mmm .... Agaknya itu sangat sulit karena nama itu sudah lengket di lidahku, tapi baiklah akan aku lakukan. Aneh juga suatu saat nanti misalnya anakmu dengar aku memanggil ayahnya dengan nama perempuan atau istrimu dengar aku panggil suaminya begitu. Selain itu aku bisa kena amuk sama dia," balas Marisa sambil tertawa kecil.
Mulut Samuel segera melengkung masam.
"Berjanjilah," katanya.
"Janji apa?" tanya Marisa bingung.
"Bahwa kamu hanya akan memanggilku dengan namaku."
"Oh, tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kadang aku panggil kamu Mentor, kadang My Best Friend, kadang Sepupu."
"Hei! Bolehlah jika memang panggil seperti itu."
"Lho kan tadi kamu maunya hanya dipanggil dengan namamu saja."
"Baiklah aku ralat. Maksudku, berjanjilah tidak akan memanggilku dengan nama Muelita. Itu hanyalah masa lalu," ucap Samuel serius.
"Baiklah. Aku berjanji, Sam."
"Janji?" tanya Samuel sekali lagi sambil mengangkat jari kelingking kanannya.
"Janji," sahut Marisa seraya melingkarkan satu kelingking tangannya ke jari kelingking Samuel.
.
.
__ADS_1
.