
Marisa memandang ke arah Lyra dengan perasaan muak. 'Akan kuberi pelajaran wanita satu ini. Jika ia berpikir aku merebut Samuel darinya, baiklah ... akan kulakukan seperti yang ia tuduhkan,' gumam Marisa dalam hati.
"Sam, bisakah kita pulang sekarang? Aku merasa kedinginan. Agaknya angin malam membuatku sedikit tidak enak badan," pinta Marisa dengan wajah memelas sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Please jangan sakit, Ca! Aku membutuhkanmu besok untuk persiapan pernikahan klien kita yang dari Kalimantan. Baiklah, kita pulang sekarang," seru Samuel cemas.
"Bagaimana denganku? Makananku belum datang," imbuh Lyra panik.
"Maaf Lyra, kamu lanjut saja sendiri. Aku harus mengantar Marisa pulang. Makanannya sudah aku bayar saat hendak ke toilet tadi," ucap Samuel segera beranjak dari bangku dan mendekati Marisa.
"Aduh ... kepalaku pusing banget Sam," keluh Marisa memegang dahinya.
"Kamu baru saja makan begitu banyak berarti kamu sangat sehat. Bagaimana bisa tiba-tiba saja meriang dan pusing?" celoteh Lyra. Instingnya mengatakan Marisa hanya sedang berpura-pura.
"Lyra, sebagai dokter tidak baik kamu berkata seperti itu!" bentak Samuel.
Marisa tertawa dalam hati melihat Samuel memarahi Lyra. 'Kena kamu!' seru batinnya.
"Pegang tanganku, Ca. Apa kita perlu ke dokter?" kata Samuel mengulurkan tangannya.
"Hei! Aku masih seorang dokter, lho," sela Lyra. Namun, kedua orang di hadapannya seolah tak mendengar ucapannya.
"Tidak perlu, Sam. Aku hanya butuh istirahat," jawab Marisa seraya meraih tangan Samuel dan bangkit berdiri. Sekilas ia melihat ekspresi tidak suka di wajah Lyra. 'Tunggu saja. Akan kubuat kamu lebih panas lagi, Lyra.'
"Aw!" Tiba-tiba Marisa terpekik dan sempoyongan.
"Ada apa, Ca?" tanya Samuel kaget.
"Kakiku terkilir," jawab Marisa meringgis. Ia mencoba berjalan dua langkah lalu terjatuh. Untunglah Samuel singgap menahan tubuhnya agar tidak sampai rebah di tanah.
"Terima kasih, Sam," bisik Marisa saat tangan Samuel memeluk pinggangnya. Dari balik punggung Samuel, ia menangkap mimik cemburu Lyra. 'Rasakan,' ucap Marisa dalam hati sambil menjulurkan lidah ke arah Lyra yang dibalas dengan tatapan melotot oleh dokter muda itu.
Lyra menghentakkan kakinya di tanah dengan tangan terangkat seakan hendak mencengkram Marisa.
Refleks Samuel menggendong Marisa. "Jangan dipaksakan berjalan kalau sakit," ucap Samuel seraya berjalan menuju parkiran mobil. MeninggLkan Lyra yang masih berdiri sendirian dengan mata menyala.
Samuel mengemudikan mobil dengan wajah cemas. "Aku akan mengantarmu ke dokter," katanya pada Marisa.
"Tidak perlu, Sam. Aku tidak apa-apa" tolak Marisa.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
"Iya," ucap Marisa meyakinkan.
Mobilnya lalu berhenti di sebuah apotik dan Samuel masuk ke dalam membeli obat. Begitu keluar dari apotik, Samuel membuka pintu mobil dekat Marisa.
"Kemarikan kakimu, Ca," perintah Samuel yang segera berjongkok di bawah Marisa.
"Ada apa, Sam?" tanya Marisa bingung sambil menggeser kakinya keluar.
Berhati-hati Samuel membuka sepatu Marisa. Mengambil krim obat yang dibelinya tadi dan mengoleskannya ke kaki Marisa.
"Apa ini bagian yang sakit?" tanya Samuel lembut sembari memijat pergelangan kaki Marisa.
Marisa mengangguk pelan dengan ragu.
"Tahan sedikit jika sakit," lanjut Samuel.
Marisa langsung merasa tidak enak telah membohongi Samuel. Padahal niatnya semula hanya ingin mempermainkan Lyra.
"Apa sudah lebih baik?" Samuel bertanya meyakinkan.
"Tak perlu pakai sepatu, Ca. Biar kakimu lebih rileks."
Tak berapa lama kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan Marisa duduk diam di samping Samuel dengan rasa bersalah.
Saat mereka sampai di depan rumah Marisa. Samuel berkata, "Teleponlah suamimu, Ca."
"Suamiku?"
"Iya. Suruh dia keluar menjemputmu."
"Kenapa begitu?" tanya Marisa heran.
"Jika Arjun melihatku menggendongmu masuk ke dalam rumah dia pasti marah. Jadi sebaiknya kamu beritahu dia kalau kakimu terkilir dan seseorang harus memapahmu ke dalam rumah," jelas Samuel.
"Ooo ... begitu ternyata ...," ucap Marisa mulai paham maksud perkataan Samuel. 'Ya ampun! Kini aku yang berada dalam masalah. Aku tak ingin di cap pembohong oleh Samuel. Bagaimana ini?' gerutu Marisa dalam hati.
"Aku pikir aku akan berjalan saja. Rasanya kakiku sudah lebih baik berkat obat tadi ... dan berkat pijatanmu. Terima kasih, Sam, telah mengantarku.
__ADS_1
Samuel kemudian membukakan pintu mobil untuk Marisa. Mau tak mau Marisa harus meneruskan aktingnya. Berjalan sedikit pincang menuju rumah. Samuel yang merasa tak tega membimbing Marisa hingga ke depan pintu.
"Selamat beristirahat, Ca. Aku harap besok pagi kamu sudah baikan. Kalau perlu aku akan menjemputmu. Kita akan benar-benar sibuk besok," pesan Samuel.
"Iya, Sam. Aku mengerti. Sudah ... sudah ... cepat pulang sono. Kamu juga harus jaga kesehatan."
Begitu mobil Samuel pergi, Marisa berjalan kembali dengan normal. "Oh, God. Ampunilah dosa hamba," ucapnya.
Masih terbayang di ingatannya akan reaksi Lyra. Agaknya Marisa telah mulai menyalakan api peperangan dengan Lyra. "Gadis itu aneh sekali dan sangat cemburuan. Sebenarnya aku sedikit kasihan padanya, tapi kata-katanya begitu lancang membuatku tak tahan untuk membalasnya," ucap Marisa seorang diri.
***
Usai mandi, Marisa menatap tubuhnya di cermin. Memandang pada pantulan dirinya dan menyadari bahwa penampilannya telah berubah. Semakin langsing dan cantik. 'Pantas saja Lyra cemburu. Cermin ... cermin ... katakan padaku siapakah wanita cantik dan langsing ini? Hihihi ... aku merasa terlahir kembali.'
Marisa berjalan melenggak lenggok di depan cermin panjang di kamarnya. "Oh, man. I feel so good ... so good ... aww!" serunya gembira.
Ia kemudian teringat akan celana jeansnya yang berukuran M di lemari. Marisa merogoh lemari pakaian di sana-sini dan akhirnya menemukan celana itu di tumpukan pakaian paling bawah.
Tak sabar, cepat-cepat dikenakannya celana itu. Hasilnya luar biasa. Celana itu masuk hingga ke pinggulnya. Hanya belum bisa dikancing. Butuh pengurangan lemak sedikit lagi, sekitar enam sentimeter lagi, maka celana itu akan benar-benar muat sempurna di tubuhnya. Dulu bahkan celana itu tidak bisa masuk ke pahanya. Marisa berpikir bahwa ini betul-betul hal yang menakjubkan baginya.
Sejak terbiasa makan secukupnya, lambung Marisa sulit menerima makanan dalam porsi besar. Makan sedikit saja ia sudah merasa penuh.
Samuel mengajarnya untuk sabar, disiplin, dan punya kontrol nafsu makan yang baik. Kadang Marisa melanggar dietnya dan makan sembarangan. Namun, ia tak menyerah. Ia sabar terhadap dirinya meski hasil yang diharapkan tidak terlalu cepat, tapi yang jelas ia membuat kemajuan seikit demi sedikit setiap harinya. Memberi dirinya kesempatan untuk menikmati setiap proses tanpa merasa tertekan.
Bila melihat reaksi Arjun, sudah lama Marisa memilih berhenti mengatur pola makan dan pola hidupnya. Tanggapan dan cibiran Arjun membuatnya merasa sangat buruk. Syukurlah ada Samuel yang senantiasa memberikan kata-kata positif yang membangkitkan semangat.
Ah, menjadi lebih kurus membuatnya sedikit senang. Kemelut rumah tangganya sedikit terlupakan untuk sesaat.
Puas mengagumi perubahan fisiknya, Marisa menjenguk ke kamar para bocah di rumah itu. Ketiga anaknya terlelap pulas. Marisa memberi ciuman selamat malam, membelai rambut mereka, dan memperbaiki posisi selimut anak-anaknya yang hanyut dalam buai mimpi indah mereka. Tanpa mengetahui bahwa kedua orang tuanya tak lagi akur.
Marisa kemudian memeriksa satu persatu tas sekolah dan tugas anak-anaknya. Memastikan pensil dan perlengkapan belajar mereka lengkap dan tersusun rapi. Setelah semua dirasa beres, Marisa kembali beristirahat di kamarnya seorang diri. Di atas ranjang yang dingin dan sepi.
Arjun tidak lagi bekerja di luar kota. Namun, suaminya itu justru jarang pulang ke rumah. Kemana lagi pria itu tidur kalau bukan di tempat selingkuhannya.
Marisa berusaha tegar. Betapa ingin melawan, bertengkar, marah, membela diri dan tidak membiarkan pernikahannya di injak-injak oleh Karmila dan Arjun, tetapi ia tahu tak ada gunanya melakukan hal itu. Ia telah kalah. Ia telah dikhianati, dan pasti dirinya juga tak luput dari kesalahan dan kelemahan selama menjadi istri Arjun.
.
.
__ADS_1
.