Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 20. Di Balik Drama


__ADS_3

Arjun dan Karmila saling berpandangan dengan raut wajah gusar.


"Bagaimana?" tanya Rani pada keduanya.


"Baiklah kalau begitu menurut Kakak," jawab Arjun lesu.


Sementara Karmila menunduk dengan gelisah tanpa berkata sepatah kata pun.


"Karmila, aku berterima kasih atas bantuanmu. Namun, sepertinya aku juga perlu mengingatkan satu hal. Menghubungi Marisa berulang kali dan mengatakan bahwa kamu dan Arjun akan menikah aku pikir tidak perlu terlalu jauh ke sana," ucap Rani sambil mendesah.


"Oh .... Maaf, Rani. Sebagai mantan arti FTV kayaknya aku terlalu mendalami peranku," kilah Karmila dengan tangan mengibas rambut panjangnya yang tergerai indah.


"Yaelah Karmila memang kapan kamu main di FTV?" ledek Rani tanpa canggung.


"Empat tahun lalu, yang judul filimnya 'Meraih Cinta Janda Desa' itu lho." Karmila mengingatkan.


"Oh itu, yang kamu jadi figuran pekerja di perkebunan teh?"


"Nah, itu kamu ingat!" seru Karmila tersenyum puas.


Rani memutar bola mata malas. Masih segar di ingatannya bagaimana Karmila membesar-besarkan aktingnya yang tidak lebih dari satu menit di filim itu, berdiri memetik pucuk teh bersama pemeran figuran lainnya.


Di filim itu Karmila mengenakan pakaian buruh kebun dan topi yang membuat Rani sendiri hampir tidak mengenali bahwa itu adalah Karmila. "Hoh, baiklah. Aku lupa kalau dirimu, Say, adalah artis profesional. Sepertinya aku harus membayar mahal untuk aktingmu yang luar biasa itu."


"Oh, tak perlu sampai begitu. Jadi, apa ada masalah dengan aktingku?" tanya Karmila penuh percaya diri.


"Begitulah. Marisa sangat percaya itu benar sampai ingin bercerai. Bukan begitu, Arjun?" kata Rani mengerling pada adiknya yang duduk di sebelahnya. Sementara Arjun hanya mengiyakan dengan anggukan pelan.


"Lalu?" tanya Karmila antusias terus mendekatkan wajahnya ke arah Rani.


"Tentu itu tidak boleh terjadi. Kita akan menjelaskan semuanya pada Marisa apa yang sesungguhnya terjadi-"


"Tidak perlu, Kak. Aku sendiri nanti yang akan menjelaskan semuanya," potong Arjun cepat.


"Apa kamu yakin?" tanya Rani sedikit kaget dengan respon adiknya.


"Iya, Kak."


"Baiklah. Tolong selesaikan ini dengan baik. Bapak dan Mamak sangat terganggu perihal ini." Rani mengingatkan.


***


"Halo, Sam?" sapa Marisa di telepon.


"Hai, Ica. Apa kabar?"


"Baik. Oya, Sam, bisakah kamu memberiku pekerjaan di tempatmu?"

__ADS_1


"Pekerjaan?"


"Iya."


"Kamu sudah minta izin Arjun?"


"Aku tak perlu izin darinya."


"Tapi, Ca-"


"Tolonglah, Sam."


"Hhhh .... Baiklah. Kapan ada waktu, datanglah ke kantorku."


"Siang ini bisa?"


"Boleh."


"Baiklah aku akan datang pukul satu," ucap Marisa lalu menutup telepon.


***


Marisa meneguk teh hangat yang disajikan Nia-Sekretaris Samuel. Baginya terasa menenangkan saat berada di ruang kerja Samuel. Ruangan itu luas dan terkesan homey, jauh dari gambaran formal ruang kerja pada umumnya.


Samuel menempatkan beberapa foto liburannya di dinding. Juga menaruh kata-kata positif yang diberi bingkai.


Ada lampu berdiri di dekat sudut meja baca. Marisa membayangkan Samuel pasti kerap menghabiskan waktu berjam-jam di sana untuk membaca banyak buku. Meja baca itu sendiri tepat di samping jendela kaca lebar yang menghadap pemandangan kota sebelah barat. Matahari terbenam senantiasa terlihat jelas dari jendela itu.


"Maaf, membuatmu menunggu. Aku terjebak macet tadi," sapa Samuel langsung duduk di depan Marisa.


"Oh, tidak apa-apa," balas Marisa.


"So, bagaimana keadaanmu? Apa yang membuatmu ingin bekerja, Ca?" tanya Samuel tanpa basa basi dengan kedua tangan mengatup di atas perut.


"Biar dapat duitlah, Sam. Apa lagi?"


"Berapa yang kamu butuhkan? Mungkin aku bisa bantu, Ca," tawar Samuel sopan.


"Aku tak suka berhutang, Sam."


"Hhmmm, lalu kebutuhan mendesak apa yang membuatmu sampai harus meninggalkan tugas di rumah dan memburu rupiah?"


"Aku pikir aku akan memulai hidup yang baru bersama anak-anak. Keluar dari rumah dan berpisah dari suamiku," tutur Marisa pelan.


"Apa yang sedang kamu bicarakan ini, Ca?" tanya Samuel heran.


"Keputusanku bulat. Aku ingin bercerai dari Arjun, Sam," ucap Marisa pilu.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Apa lagi kalau bukan masalah perselingkuhan, Sam!" seru Marisa.


"Ya ampun. Gara-gara si Karmila itu?"


"Iya."


"Kamu kan sudah tidak segemuk dulu. Hanya beberapa bulan lagi diet kamu akan mencapai berat badan idealmu."


"Tak ada gunanya, Sam. Arjun bahkan tidak berkomentar apa pun terhadap perubahanku. Ia sepertinya tidak menghargai betapa kerasnya aku sudah berusaha selama ini agar bisa menurunkan berat badan. Aku berjuang agar tidak membuat dia malu, tapi itu juga tak membuatnya tersentuh."


"Ayolah. Jangan menyerah semudah itu," bujuk Samuel.


"Aku bukan menyerah, tapi kalau memang suamiku tak lagi menyukaiku, apa aku harus bertahan? Cih! Aku masih punya harga diri. Lihat saja nanti, kalau duitku sudah banyak aku bakal operasi plastik ke Korea Selatan. Upgrade penampilan biar kayak selebritis. Wajah tirus, hidung mancung dan ramping, sedot lemak, implan payudara, dan kalau perlu aku akan lakukan operasi biar perawan kembali. Huahahaha .... Atau kamu mau jadi sponsorku, Sam, buat operasi plastik di sana? Kalau pun nanti aku enggak bisa jadi artis, ya paling tidak bisa jadi selegram. Anggap saja kamu tanam investasi ke aku. Begitu aku terkenal maka modalmu akan kembali berkali lipat. Bagaimana? Kamu setuju kan dengan ide cemerlang ku ini?" cecar Marisa.


"Haish! Kamu mau cari kerja atau mau aku bayarkan untuk operasi plastik sekarang?" tanya Samuel bingung.


"Terserah kamu, Sam," ujar Marisa malu-malu.


Samuel mencondongkan badannya ke depan. Mengambil koran yang ada di atas meja, menggulungnya lalu memukulkannya lembut ke kepala Marisa. "Sadar, Ca!" gerutunya.


"Aw!" jerit Marisa sambil mengelus kepalanya.


Samuel melempar koran itu kembali ke meja. "Jangan pernah coba-coba melakukan operasi plastik," ancamnya dengan telunjuk mengarah ke Marisa.


Bibir Marisa melengkung masam mendengar itu. "Baiklah. Katakan apa aku bisa mendapat pekerjaan, Sam?"


Samuel menyipitkan kedua mata. "Dengar, kamu dan Arjun tidak boleh bercerai! Tidakkah kalian berpikir apa jadinya dengan anak-anak?"


"Oh, come on. Anak-anak hidup satu atap dengan orang tua yang tidak saling mencintai lagi itu juga buruk," desis Marisa.


"Apa pun masalah kalian berdua pasti ada solusi. Semua persoalan ada jalan keluarnya, Ca. Kalian hanya perlu bicara berdua dari hati ke hati."


"Aku sudah mencobanya, tapi Arjun tak peduli."


"Bersabarlah, Ca. Beri dia waktu untuk kembali padamu," nasihat Samuel.


"Kamu sama sekali tidak memahamiku, Sam! Kalau kamu tidak bisa bantu, aku juga masih bisa cari pekerjaan di tempat lain," seru Marisa dengan jengkel seraya bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Ca, tunggu!" panggil Samuel mengejar Marisa.


Marisa berhenti. Pikirannya bergerak liar dan cepat membayangkan hal-hal sedih, memaksa agar air matanya menetes. Ah iya, Marisa teringat waktu itu di mall ada diskon tas branded yang sudah lama diinginkannya, tetapi justru saat harganya murah duitnya malah terpakai buat berobat ayahnya yang sedang sakit.


Tak sia-sia usahanya. Air bening mengalir deras di pipinya tepat sebelum Samuel membalikkan punggungnya. Di sisi lain Samuel segera merasa bersalah membuat wanita di hadapannya menangis.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2