
Samuel memandang kondisi rumah Marisa yang sepi. "Anak-anak ke sekolah semua, ya?" tanyanya.
"Enggak, lagi libur mereka. Ini kan tanggal merah. Gimana, sih?"
"Ah, iya mendadak lupa aku. Jadi kemana mereka?"
"Kemarin petang dijemput sama mertuaku. Suruh menginap di rumah kakeknya dan kebetulan juga liburan semester sudah mulai lusa, jadi dari pada bosan di rumah sekalian saja mereka liburan di sana."
"Begitu, ya. Padahal aku ada beli sedikit oleh-oleh untuk mereka. Sebentar aku ambilkan. Tertinggal di mobil tadi," kata Samuel sambil keluar.
Saat ia kembali masuk rumah. Marisa tak terlihat ada di ruang depan. "Ca, kamu di mana?" tanyanya.
"Di dapur, Sam!" sahut Marisa.
Samuel lantas menyusul ke dapur. "Kamu lagi apa?" tanyanya sambil meletakkan kantong belanjaan di atas meja makan.
"Bikin minum untukmu. Nih, jus mangga kesukaan kamu," jawab Marisa sambil menyodorkan segelas jus mangga dingin pada Samuel.
"Thank you, Ca." ucap Samuel dan langsung meminumnya. "Segar banget. Manisnya pas sesuai seleraku. Buah mangganya kayaknya masih fresh banget ini," sambungnya.
"Iya baru dari pasar. Sengaja aku beli karena kamu mau datang."
"Sampai segitunya. Aku minum air galon juga cukup, kok, Ca. Jangan repot-repot."
"Enggak apa-apa. Habis kamu jarang banget datang ke rumahku. Bisa dihitung dengan jari, deh. Itu bungkusan isinya apa?" tanya Marisa menunjuk plastik yang ada di atas meja.
"Mainan buat Angga dan adik-adiknya," jawab Samuel seraya meletakkan jus mangga yang tinggal separuh ke atas meja.
"Banyak bener, Sam," ujar Marisa yang kini tengah sibuk memeriksa isi kantong-kantong itu.
"Ibunya enggak dapat, nih?" seloroh Marisa.
"Mau juga?"
"Ya, kalau ada?" Marisa tertawa.
"Ada, kok." Samuel memberitahu. Ia pun bangkit berdiri dan meraih satu plastik besar berwarna hijau yang ada di ujung meja. "Ini untuk ibunya. Hadiah sekaligus penambah semangat diet," lanjut pemilik wajah tampan dengan rahang tegas itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Penuh antusias Marisa melihat isi di dalam kantong plastik hijau itu dan langsung melompat girang. "Hore ...! Sembako diet!" teriaknya tanpa malu.
Disana ada berkotak-kotak keju, satu kilogram sosis tanpa msg, berbungkus-bungkus agar-agar, santan cair, gula diet, beras dan mi shirataki.
Samuel berdiri sambil tersenyum memandang wanita di depannya yang kegirangan bagai seorang anak kecil.
"Thank you, Sam. I love you so much," ucap Marisa tulus sambil berhambur memeluk Samuel yang masih berdiri di dekatnya.
Saat itulah tanpa disadari, kakinya tersandung pada kaki meja makan. Menyebabkan posisi bedirinya goyah dan langsung jatuh menubruk Samuel.
Samuel pun oleng dan jatuh ke belakang. Kepalanya membentur salah satu sudut kursi makan. Laki-laki itu merintih kesakitan. Sakit tertimpa badan Marisa sekaligus sakit kepala.
Marisa cepat-cepat berdiri dan membantu Samuel berdiri. "Maafkan aku, Samuel," ucap Marisa dengan penuh penyesalan. Tidak ada yang sakit pada dirinya. Marisa selamat, tetapi justru Samuel yang tampaknya tertimpa sial.
"Tidak apa-apa. Itu hanya kecelakaan kecil dan juga kamu tidak sengaja," tukas Samuel.
"I ... i ... itu ...," kata Marisa terbata-bata sambil menunjuk ke kening Samuel.
"Itu apa?" tanya Samuel bengong tak mengerti.
"Di keningmu ada da-da ...rah ...," ucap Marisa lirih dan langsung terjatuh lunglai. Untunglah Samuel segera menangkap tubuh Marisa dengan cepat.
Ditepuknya pipi wanita itu berulang kali. "Bangun, Ca. Bangun," panggilnya berulang.
Syukurlah wanita itu segera siuman.
"Sam ...," bisik Marisa. Heran Melihat dirinya sendiri di pangkuan Samuel.
"Sudah bangunlah. Kakiku kram ini," pinta Samuel dengan wajah memelas.
"Iya, iya. Sorry, Sam," ujar Marisa segera bangkit berdiri.
Samuel juga bangkit berdiri dan menepuk-nepuk paha dan tungkai kakinya.
Marisa langsung menyadari luka di kepala sahabatnya itu. "Aku ngeri banget lihat darahmu. Shock banget," tutur Marisa. Ditariknya tangan Samuel lalu mengajaknya menuju ruang keluarga.
"Duduklah dulu. Akan aku obati lukamu."
__ADS_1
Samuel pun menurut, lantas duduk manis di sofa depan TV. Sementara Marisa mengambil kotak obat dari laci bawah meja TV. Dibawanya kotak itu ke dekat Samuel.
Marisa dengan cekatan membersihkan darah yang menetes di rambut, kening, dan wajah Samuel dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol. Sesaat ia tertegun saat menatap lamat bola mata Samuel.
Ditahannya rahang pria itu dengan tangannya agar tidak terlalu banyak bergerak. Sementara tangannya terus bekerja membersihkan sisa-sisa darah, pikirannya memberitahu betapa tampannya Samuel.
Darah yang keluar cukup banyak. Terlihat dari banyaknya tumpukan kapas yang telah berubah jadi merah di atas meja.
"Apa kamu punya cermin?" tanya Samuel lembut.
"Ada."
"Tolong ambilkan. Aku ingin melihat lukanya."
Marisa bergegas ke kamar dan membawakan Samuel sebuah cermin kecil. Setelah memeriksa luka menganga di kepala dekat dahi atasnya, Samuel mengembalikan cermin itu pada Marisa tanpa berkomentar apa-apa.
"Aku akan memotong sedikit rambutmu, agar bisa mengoleskan obat ke lukanya. Itu akan merusak potongan rambutmu yang keren ini." Marisa memberitahu dan tersenyum tipis. Tangannya lalu menyibak lembut rambut hitam tebal sahabat terbaiknya itu.
"Lakukan saja," ucap Samuel datar.
Selagi Marisa memotong hati-hati rambut di dekat luka yang ada di kepala Samuel memakai gunting, Samuel mengambil kesempatan mengamati wajah Marisa. Menatapnya dengan rasa kagum dan sayang.
'Ah, Ica masih terlihat sangat cantik. Sekalipun bertubuh gemuk dan besar, juga tanpa dadanan, pesonanya belumlah hilang. Mata indah dihiasi bulu mata lentik dan lebat itu masih jernih seperti dulu. Memancarkan kelembutan. Alisnya berjajar rapi alami dan hitam halus seperti rambutnya. Aku tahu wanita ini hanya perlu sedikit sentuhan di salon terbaik, dan begitu ia keluar, aku berani jamin sepuluh pria pertama yang melihatnya tak akan mau mengalihkan pandang,' gumam Samuel dalam hati.
"Iisshh ...." Samuel mendesis saat merasakan perih di kulit kepalanya, tepat kala Marisa mengoleskan obat ke bagian yang terluka. Ditahannya tangan wanita itu.
"Tahan sedikit, Sam," pesan Marisa sambil menutup luka itu dengan perban.
Samuel menghembuskan napas panjang menahan pedih di kepala sekaligus pedih di hati mengingat perasaannya pada wanita yang dipujanya diam-diam selama ini.
"Selesai," ucap Marisa pelan. Ia menatap Samuel. Masih bergidik membayangkan bagaimana darah merah tua tadi menetes di wajah putih mulus milik pria di depannya. Air matanya menetes di pipi. Menyadari luka di kepala sahabat lamanya itu cukup dalam. 'Samuel pasti sedang menahan sakit,' pikirnya. Hati kecilnya menyadari sungguh Samuel telah berubah. Ia adalah pria tangguh sekarang. 'Pantas saja ia menyuruhku berhenti memanggilnya Muelita,' decak Marisa dalam hati sekaligus merasa malu pada diri sendiri atas panggilan tersebut.
"Kenapa menangis? Seperti anak kecil saja. Tenang saja, itu hanya rambut. Masih bisa tumbuh," gurau Samuel mencoba menghibur Marisa.
"Aku minta maaf telah mencelakakanmu. Lukamu cukup dalam. Sebaiknya kita ke dokter. Mungkin itu butuh dijahit. Aku cemas kamu kenapa-kenapa atau kehabisan darah," ucapnya sambil terisak.
"Kamu perawat yang baik. Lukaku pasti akan sembuh," kilah Samuel enteng.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
Samuel mengangguk.