
Siang itu matahari bersinar terik dan cuaca panas tanpa angin berembus. Marisa tergopoh-gopoh menuju sebuah toko kue yang sangat ramai saat keluar dari mobil. Halaman toko itu penuh dengan kendaraan hingga ia terpaksa memakirkan mobilnya cukup jauh di seberang jalan.
Ia mengangkat satu telapak tangan untuk menundungi mata dan wajahnya dari sengatan matahari dan tidak menyadari kedatangan seorang pria di depannya yang berjalan sambil memerhatikan layar ponsel. Keduanya lantas bertubrukan. Ponsel di tangan pria itu terhempas ke jalan, sedang kotak kue yang di pegangnya jatuh penyot terpijak oleh kaki Marisa.
"Astaga, Mbak! Lihat-lihat donk, kalau jalan. Punya mata enggak, sih?" protes si pria sembari memungut ponselnya.
"Kamu juga jalan sambil main handpone, pakai menyalahkan orang segala!" balas Marisa tak mau kalah.
Pria itu memeriksa ponselnya dan mengembuskan napas lega. "Syukurlah layarnya tak sampai pecah. Hanya anti goresnya saja yang retak."
Marisa memungut kotak kue yang terjatuh dan memberikannya pada pria itu.
Pria itu menggerutu kesal melihat kondisi kue yang sudah berantakan. "Kalau sudah begini tak mungkin lagi saya memberikannya pada orang lain."
Marisa mengamati pria di hadapannya dan segera menyadari bahwa itu adalah Brandon, teman sekaligus pacar Samuel. "Kamu Brandon, kan?," tanyanya.
Pria itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Marisa. "Kamu ...."
"Marisa. Teman Samuel," potong Marisa sebelum si pria menyelesaikan kalimatnya.
"Ya, saya tahu. Berhasil juga Samuel merubah Mbak jadi kurus. Oh, lihat perbuatanmu pada kue yang saya belikan untuk ulang tahun Samuel," keluh Brandon.
"Itu kue untuk Samuel?" ulang Marisa.
"Tadinya."
"Maaf. Akan saya ganti. Kebetulan saya juga hendak membeli kue ulang tahun juga untuk dia."
"Tak perlu. Toh ini salah saya."
"Jangan begitu. Saya juga bersalah karena tidak memerhatikan jalan tadi. Saya juga akan memperbaiki kerusakan ponselmu."
"Sudahlah. Tidak apa-apa," tolak Brandon.
"Lalu kuenya?"
"Kue ini maksudmu?" tanya Brandon sambil mengangkat kotak kue yang terjatuh tadi. "Susah tidak bisa dimakan," ucapnya seraya berjalan ke arah tempat sampah terdekat dan membuangnya ke sana. Lalu berjalan ke arah mobilnya.
Marisa mencegat pria itu sebelum ia masuk ke dalam mobil. "Tunggu, Brandon."
"Ada apa?"
"Saya mau bicara sebentar denganmu. Penting."
Brandon melirik arloji hitam di pergelangan tangan kanannya. "Sebentar saja, ya? Saya tidak punya waktu banyak," katanya.
"Baiklah. Sebaiknya kita duduk di dalam cafe sana saja. Di luar sangat panas," tunjuk Marisa pada sebuah cafe di sebelah toko kue.
__ADS_1
***
"Ada apa?" tanya Brandon saat mereka sudah di dalam.
Marisa menyeruput ice lemon tea tanpa gula yang ada di atas meja sebelum bicara. "Boleh saya tahu sejauh mana hubungan kamu dan Samuel?"
"Kami berteman baik," jawab Brandon singkat.
"Tolong jujur pada saya."
"Apa maksud, Mbak? Saya berkata yang sebenarnya," ucap Brandon tak mengerti.
"Kalian pacaran, kan? Kalian ini pasangan penyuka sesama jenis, kan?"
Brandon terdiam sejenak, tetapi dengan segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... Mbak Marisa ini sungguh lucu. Lelucon macam apa ini?" ujar Brandon.
"Kata Samuel kalian pacaran dan saat pertama kali melihatmu datang ke cafe tempat saya dan Samuel bertemu, sikap kalian seperti orang pacaran," terang Marisa dengan wajah serius. "Aku ingin kamu menjauhi Samuel. Jadilah seperti pria lainnya yang menyukai perempuan," sambungnya.
"Tidak ada yang tidak normal dengan kami, Mbak."
"Dusta! Aku melihat kalian bergandengan tangan dan saling mencium pipi. Sangat tidak nyaman melihat itu, dan aku yakin orang lain juga risi menyaksikan tingkah kalian berdua."
"Bukan berarti kami tidak normal, kan? Jangan diskriminasi begitulah, Mbak," sergah Brandon.
"Begitupun keinginan saya, Mbak," ujar Brandon.
"Bukannya kalian ...." Marisa bingung melanjutkan perkataannya.
"Apa yang Mbak lihat waktu itu hanya bagian dari sandiwara. Beberapa waktu sebelumnya ada seorang pria yang menyukai saya dan berusaha menjalin hubungan dengan saya. Sementara saya sendiri sudah bertunangan dengan seorang wanita yang saat ini tinggal di Autralia. Tiga bulan lagi kami akan menikah.
"Pria yang mendekati saya ini sangat agresif dan cukup mengganggu. Saya sedikit kewalahan mengatasinya, karena dia juga meminta bantuan temannya penyuka sesama jenis untuk mengintimidasi saya. Untung saja Samuel berhasil menolong saya keluar dari situasi yang juga sempat mengancam nyawa saya pada waktu itu.
"Si pengganggu itu walau tak lagi pernah mengusik saya, tapi masih sering mengawasi. Untuk benar-benar membuatnya menyingkir maka saya dan Samuel berpura-pura jadi pasangan, dan cara itu akhirnya berhasil membuatnya menjauh pergi. Samuel itu benar-benar pria sejati, Mbak. Dia juga petarung ulung." Brandon bercerita dengan tenang.
Marisa terkaget. "Sungguhkah? Lantas kenapa di depan saya kadang ia bersikap kemayu?"
Brandon tersenyum. "Itu juga sandiwara, Mbak."
"Untuk apa ia bersandiwara begitu di depan saya?"
"Habis Mbak selalu memanggilnya dengan sebutan Muelita."
"Itu hanya panggilan akrab sejak kami masih sekolah, ya karena dia memang biang gosip seperti emak-emak saja." Marisa berkilah.
"Okelah itu dulu, tapi kan sekarang dia sudah berubah."
__ADS_1
"Ya, saya salah. Orang lain sudah berubah justru saya yang sulit merubah kebiasaan saya dalam memanggil seseorang."
"Teman macam apa Mbak Marisa ini. Tidak mengenal sahabat sendiri," cela Brandon sambik meneguk minuman di depannya.
"Kamu benar. Saya bahkan tidak tahu apa pun tentang dia," ucap Marisa pelan dan sedih. "Brandon, apakah Samuel pernah bercerita tentang wanita yang disukainya?"
Brandon mengangguk.
"Boleh saya tahu siapa wanita itu?" tanya Marisa penuh selidik.
"Menurut Mbak, siapa?"
"Saya tak tahu."
"Sama sekali tidak tahu?" Brandon bertanya memastikan dengan kedua mata menyipit.
Marisa menggeleng lemah.
"Ayolah, saya dengar kalian sudah akrab sangat lama. Tidakkah terbayang siapa perempuan yang bertahun-tahun disukainya?" desak Brandon.
"Dia dekat dengan banyak wanita, Brandon. Entah si wanita itu yang tidak peka atau memang Samuel terlalu lihai menutupi perasaannya. Tolong, katakan siapa dia?"
"Untuk apa? Tidakkah Samuel memberitahu bahwa wanita itu sudah menikah?"
"Iya. Dia memang memberitahuku, tapi aku ingin ... bisa memahami sahabatku ... atau mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan ... atau ..., ah ... please," ucap Marisa memelas.
"Samuel akan menghajarku jika tahu aku memberitahukannya padamu, Mbak," jawab Brandon gelisah.
"Aku akan membelamu nanti."
Brandon menarik napas dalam-dalam. "Semoga apa yang aku lakukan ini benar."
"Jangan takut. Katakan saja aku merengek-rengek seperti anak kecil, bahkan mempermalukanmu di muka umum agar diberitahu rahasia itu, sehingga kamu tak punya pilihan lain agar aku diam dan tenang," bujuk Marisa.
"Ya ampun, Mbak. Apa kamu pikir Samuel akan percaya dengan dusta itu?"
"Sudahlah. Katakan siapa dia?" todong Marisa gak sabar.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, Mbak."
"Si-si-siapa?"
"Iya, kamu wanita yang sangat dicintai Samuel selama ini," jelas Brandon.
.
.
__ADS_1
.