Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 18. Kebohongan Lyra


__ADS_3

Marisa sudah sadar saat Samuel datang. Ia tak menyangka Samuel akan menemukannya di rumah sakit.


"Ica, bagaimana keadaanmu?" tanya Samuel.


"Tidak cukup baik. Bagaimana bisa kamu tahu aku di sini?" kata Marisa yang tergolek lemah di atas tempat tidur.


"Seorang perawat memberitahuku di telepon. Apa yang terjadi?"


Marisa tersenyum getir. "Mengebut di jalan, lalu aku menabrak warung."


"Apa mu yang sakit?"


"Hatiku-eh, maksudku dadaku dan kepala."


"Apa kamu sudah menghubungi Arjun?"


Marisa menggeleng.


"Kenapa? Harusnya kamu menghubungi keluargamu."


"Aku tak ingin mereka cemas."


"Bagaimana mereka tidak cemas jika kamu belum pulang ke rumah?"


"Tak ada orang di rumah, Sam. Anak-anak selalu ke tempat mertuaku tiap kali weekend, dan Arjun juga masih di luar kota. Dia bahkan sudah sebulan tidak menghubungiku. Aku bisa mengurus diriku sendiri," jelas Marisa.


Kening Samuel berkerut mendengar penjelasan Marisa. "Agaknya kamu kehilangan memori jangka pendek saat kepalamu terbentur," ucap Samuel.


"Ha? Tidak. Aku tidak gegar otak. Tidak separah itu, Sam," bantah Marisa.


"Kamu yakin suamimu tidak pernah lagi menghubungimu?"


Marisa mengangguk.


'Aneh sekali, padahal kata Lyra ia terburu-buru pulang dari rumah karena dapat telepon dari suaminya. Bahkan aku pikir mereka bertengkar di telepon sehingga Marisa mengalami kecelakaan,' pikir Samuel.


"Sam, kenapa bengong?" tegur Marisa melihat sahabatnya menatap kosong ke arahnua.


"A-a-aku hanya ingin mengadakan test kecil padamu. Jika jawabanmu keliru maka kamu harus melakukan ct-scan kepala," tantang Samuel.


"Silahkan," sahut Marisa.


"Baiklah. Kamu harus jawab beberapa pertanyaanku dengan benar dan cepat. Siap?"


Marisa mengangkat jempol tangannya.


"Siapa nama anak pertamamu?"


"Angga."


"Anak kedua?


"Bianca."


"Berat badanmu?"


"Enam puluh dua."


"Lokasi kecelakaanmu?"


"Jalan Kartini."


"Alamat tinggalmu?"


"Kertapati."

__ADS_1


"Di mana suamimu saat ini?"


"Jambi."


"Hari ini apa ada yang spesial?"


"Tentu, ulang tahunmu."


"Apa kado yang kamu beli?"


"Redvelvet cake."


"Warna kotaknya?"


"Hitam."


"Jam kedatanganmu ke rumah?"


"Tujuh."


"Warna sepatu yang kamu kenakan saat datang?"


"Putih."


"Alasan kamu pergi dari rumah?"


"Diusir Lyra."


Marisa refleks menutup mulut dengan tangannya. Keduanya sama-sama terkejut dan terdiam. Suasana berubah tegang.


"Kamu menjebakku, Sam," ucap Marisa lirih.


Samuel mendesah. "Aku minta maaf, Ca. Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi?"


Marisa membuang muka ke samping dan meneteskan air mata.


Melihat Marisa tak bergeming, Samuel pun sadar kalau sekarang ini bukanlah waktu yang tepat menanyakannya hal itu. Apa pun yang telah terjadi, yang jelas pasti Lyra telah mengatakan sesuatu yang buruk hingga membuat Marisa begitu terluka. Samuel mengenal Marisa dengan baik. Wanita itu tidak mudah menangis untuk alasan sepele. Samuel lantas membiarkan Marisa beristirahat sementara ia mengurus administrasi rumah sakit dan laporan kepolisian.


***


Keesokan paginya Marisa memaksakan diri keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.


"Bang Arjun bisa jengkel kalau tahu kondisi mobilnya rusak begini. Aku harus membawanya ke bengkel." Marisa memberitahu Samuel saat akan menuju bengkel.


"Aku pikir ia akan lebih mengkhawatirkan istrinya ketimbang mobil itu," ungkap Samuel.


"Halah. Omong kosong," sahut Marisa. "Asal kamu tahu Sam, selama ini aku beberapa kali mendapat pesan dari si Karmila itu. Ia mengaku bahwa mereka pacaran dan Bang Arjun akan segera menikahnya. Entah dari mana wanita itu bisa mendapat nomorku. Tampaknya kami akan bercerai meski aku kembali kurus. Aku ingin menyerah saja dengan diet ini. Tidak ada gunanya diteruskan," sambungnya.


"Setidaknya kamu harus melanjutkannya demi dirimu sendiri. Semangatlah!" kata Samuel.


"Sam ...."


"Ya?"


"Aku pikir aku telah banyak merepotkanmu."


"Merepotkan bagaimana?"


"Mengurus dietku. Menyempatkan menelepon di pagi hari sekadar memastikan menu sarapanku adalah protein hewani. Mengingatkanku untuk minum tiga gelas air putih di pagi dan sore hari. Bahkan di tengah kesibukan kerjamu yang padat, kamu meluangkan waktu menemaniku berolahraga," ungkap Marisa dengan segunung rasa bersalah.


"Kamu bicara seolah aku orang asing saja," kata Samuel sedih. "Dalam persababatan saling mendukung itu biasa jadi tak perlu di antara kita ada yang merasa jadi beban," imbuhnya.


Kalau Samuel sudah berkata begitu, maka Marisa tidak berdaya untuk membantah.


***

__ADS_1


"Sammy ...!" seru Lyra saat membuka pintu ruang kerja Samuel. Di belakangnya menyusul Nia-sekretaris Samuel dengan wajah tegang.


Samuel yang sedang berkutat di depan laptop tampak terganggu.


"Maaf, Pak. Saya sudah memberitahu Nona ini bahwa Anda sedang tidak ingin menerima tamu, tapi ia justru menerobos masuk," ucap Nia.


Samuel mengangguk. "Kembali ke tempatmu, Nia," perintah Samuel.


"Baik, Pak," jawab Nia seraya berlalu dengan kepala tertunduk.


Lyra menatap kepergian Nia dengan tatapan sinis dan seulas senyum kemenangan.


"Sebaiknya kamu pecat saja sekretarismu itu. Aku bisa rekomendasikan seorang teman yang cocok sebagai penggantinya," saran Lyra berjalan mendekati Samuel.


"Apa aku seperti sedang meminta pendapatmu?" tanya Samuel dengan wajah sedingin es serut.


"Maaf," ucap Lyra kikuk.


"Katakan apa maksud kedatanganmu," ujar Samuel sambil meneruskan mengetik di laptop.


"Sam, aku menghubungi berulang kali, tapi kenapa tidak ada respon darimu?"


"Aku sedang banyak pekerjaan," jawab Samuel singkat.


Lyra mendengus kesal. "Kalau begitu aku akan menunggumu di sini hingga jam pulang kantor," tutur Lyra seraya menghempaskan diri di kursi depan Samuel.


Otot rahang Samuel mengencang. Ia meraih gagang telepon dan berbicara dengan Nia. "Nia, tolong buat janji dengan Imperial Hotel. Katakan dalam waktu satu jam nanti saya ingin bertemu dengan Manajer Faisal."


"Baik, Pak," sahut Nia di seberang telepon.


"Maaf, Lyra. Saya harus bersiap-siap untuk bertemu seseorang," ucap Samuel yang segera bangkit dari kursi.


"Tunggu, Sam. Aku baru datang tapi kamu malah mau pergi. Kamu kok tidak menghargai aku, sih?" rengek Lyra menggamit tangan Samuel.


"Tidak ada yang menyuruhmu datang kemari, kan? Lagi pula sekretarisku sudah memberitahumu bahwa aku sedang tidak menerima tamu."


"Sepertinya kamu sengaja membuat janji mendadak untuk menyingkirkanku," tuduh Lyra.


"Gadis cerdas. Baguslah kalau kamu sudah paham."


"Keterlaluan kamu, Sam! Bagaimana bisa kamu mengusir temanmu?" hardik Lyra.


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama denganmu. Bagaimana bisa kamu mengusir sahabatku dari rumahku sendiri?"


"A-a-apa yang Marisa katakan padamu? Dia berbohong, Sam. Mana mungkin aku berani melakukan itu," kata Lyra terbata-bata.


Samuel mengangkat satu alisnya. "Kamu sendiri yang telah mengakuinya."


"Maksudmu?" tanya Lyra heran.


"Ck, memangnya hanya Marisa sahabatku yang pernah datang ke rumah dan bertemu denganmu? Aku bahkan tidak menyebut nama, tapi kamu langsung menunjuk pada Marisa."


Wajah Lyra memerah. "Itu hanya salah paham, juga aku tidak serius saat itu," elak Lyra.


Samuel mencengkram lengan Lyra. "Sebaiknya kamu waspada dengan perkataanmu. Lidahmu hampir saja membunuh Marisa. Malam itu ia kecelakaan di jalan sepulang dari rumahku. Jika tidak mengingat hubungan baik dengan Brandon, mungkin saat ini melihat wajahmu saja aku tak sudi," ucapnya tajam.


Air mata Lyra menetes. "Kamu tidak boleh menyalahkanku atas kecelakaan itu. Bisa jadi ia memang pengemudi yang buruk atau sedang mengantuk saat itu atau habis bertengkar dengan suaminya lalu menyetir dalam keadaan mabuk," tuturnya dengan suara bergetar.


"Enyahlah dari hadapanku!" geram Samuel. Melepas cengkeraman tangannya lalu berjalan ke pintu.


"Ini tidak adil bagiku, Sam!" teriak Lyra.


Namun Samuel menulikan telinganya dan keluar dari tempat itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2