
Samuel heran melihat kepergian Marisa yang terburu-buru, tapi ia tak bisa memutuskan sambungan telepon dari klien pentingnya begitu saja. Biarpun sempat meneriakkan nama Marisa, tetapi sepertinya wanita itu tidak mendengarnya.
"Ada apa Lyra? Kenapa Marisa pergi terburu-buru seperti itu tanpa pamit padaku?" tanya Samuel setelah kembali ke dalam rumah.
"Tadi suaminya menelepon suruh pulang. Suaminya menunggu di rumah," dusta Lyra.
"Oh," sahut Samuel tanpa menaruh curiga.
"Aku sedang menunggu seseorang yang berulang tahun hari ini mentraktirku makan malam," sindir Lyra sambil tersenyum.
"Hahaha .... Baiklah. Kita pergi sekarang," jawab Samuel memenuhi tagihan tersebut.
***
Perkataan Lyra terngiang jelas di kepala Marisa. Ucapan yang lebih kejam dari gibah tetangga. Rasanya seperti sebuah pisau tajam sedang mengerat livernya. Ini lebih sakit dari harus melakukan sit up 150 kali.
Rasa malu dan amarah menyatu dalam dada. Marisa tak lagi menyadari bahwa mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba mobil itu keluar jalur aspal dan menabrak warung remang-remang yang berjajar di pinggir jalan yang tak dikenalnya. Agaknya Marisa salah melewati jalan pulang.
Tak tanggung-tanggung, ada enam warung remang-remang dari papan yang hancur tak berbentuk di bagian depannya terkena hantaman mobil. Warung-warung itu memang berukuran kecil dan dinding-dindingnya yang dari kayu juga sudah lapuk di sana sini. Atapnya sebagian dari terpal dan sebagian lagi dari seng yang sudah karatan. Tanpa di hantam mobil pun sebenarnya warung-warung itu cepat atau lambat juga akan pasti rubuh jika tertiup angin kencang.
Seisi warung berhamburan keluar. Sebagian orang yang di dalam tertimpa kayu saat melakukan perbuatan mesum. Kendati demikian sama sekali tak ada korban jiwa. Hanya ada enam orang pengunjung warung yang mengalami cedera ringan.
Warga sekitar berdatangan mengerumuni tempat terjadinya kecelakaan.Terdengar salah satu warga menelepon pihak kepolisian. Mendengar itu beberapa orang yang tadi singgah di warung kabur secepat kilat tanpa jejak. Termasuk pemilik warung dan para wanita pekerja malam yang ada di lokasi. Bahkan ada yang langsung kabur tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap.
Beberapa orang merekam kejadian yang berlangsung dengan kamera ponsel mereka. Tak ketinggalan juga seorang pemuda merekam untuk konten you tubenya.
Juga kaum emak pecinta sosial media yang ikut menonton kecelakaan tersebut dengan lincahnya melakukan siaran langsung di akun facebook, instagram, dan update status di whatsapp mereka. "Kalau orang lain heboh, kita juga harus mengikuti kehebohan ini," sahut salah satu dari emak-emak gaul itu.
"Wah, syukur akhirnya warung maksiat ini hancur," celetuk salah satu warga setempat sambil sujud syukur di tanah beserta delapan orang lainnya.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kehadirannya sudah lama meresahkan warga sekitar," timpal seseorang.
"Kita rubuhkan saja sekalian Pak RT," usul seorang ibu yang turut menyaksikan kejadian.
"Benar, Pak RT. Udah hancur sebagian sekalian saja kita gusur habis. Toh tempat ini enggak ada izinnya," imbuh seorang pemuda.
Pak RT yang juga ada di tengah kerumunan mengangguk-angguk tanda setuju.
"Kalau benar mau di rubuhkan, saya izin mau ambil kayu sama papannya, Pak RT," pinta seorang nenek.
"Buat apa Nek Minah?" tanya Pak RT pada salah satu warganya itu.
"Untuk perbaiki kandang ayam saya, Pak," jawab nenek berambut putih itu.
"Saya mau ambil dispenser airnya, boleh?" tanya seorang warga. "Kebetulan yang di rumah sudah rusak," lanjutnya.
"Sekalian TV-nya, Pak RT, dihibahkan untuk hiburan di pos ronda kita," usul ketua ronda setempat.
Pak RT spontan melotot pada mereka semua. "Belum apa-apa sudah mau menjarah," omel Pak RT.
Beberapa orang berusaha menolong Marisa keluar dari mobil Ford Rangernya dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Untung mobil ini depannya pakai bumper tanduk besi, kalau tidak si Mbak bisa ikut celaka," ujar seseorang pria yang membantu membopong Marisa.
"Semoga Mbak yang menabrak ini selamat, karena musibah ini membawa hikmah bagi lingkungan kita," kata seorang yang lain.
Tak lama kemudian polisi pun datang ketempat kejadian perkara dan mengumpulkan informasi dari para saksi. Marisa lalu dibawa ke rumah sakit terdekat. Ia mengalami beberapa luka gores, lebam, dan cedera di kepala.
***
__ADS_1
Hari telah larut malam. Samuel baru saja tiba di rumah. Saat melewati ruang tamu, ia melihat kotak kue dari Marisa yang belum dibuka.
Matanya berbinar diikuti seulas senyum di bibir saat melihat isi di dalamnya. Sebuah kue warna merah berbentuk hati dengan ucapan selamat ulang tahun di atasnya. Dibawanya kue itu ke dapur, memotong, dan mencicipinya sedikit. 'Lezat,' puji Samuel dalam hati.
"Ah, aku belum sempat mengobrol dengannya tadi," ucap Samuel lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Marisa. Tak ada jawaban atas panggilannya. Ditekannya kembali nomor yang sama. Masih tak ada jawaban. Ia pun mengirimkan chat di whatsapp dan setelah menunggu beberapa lama tidak ada centang biru. 'Mungkin Marisa sudah tidur,' pikir Samuel saat melihat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Samuel kemudian pergi menuju ruang kerja dan menyelesaikan beberapa pekerjaannya di sana. Walau ia berkutat di depan layar laptop dengan setumpuk berkas di meja, pikirannya terganggu dengan kepergian Marisa yang terburu-buru dari rumahnya. Ia merasa sesuatu yang salah kala itu.
Ketukan jari di atas keyboard berhenti. Badannya dihenyakkan di kursi dan memejam mata. Berkonsentrasi mengingat ulang adegan tersebut.
Dua menit kemudian Samuel tersentak. 'Marisa menangis! Ya, tak salah lagi. Aku melihat dia menangis saat itu. Demi Tuhan, bagaimana bisa aku melewatkan bagian itu,' rutuk Samuel menyesali diri.
Diraihnya cepat ponsel di atas meja dan menghubungi nomor Marisa. "Please, angkat teleponku, Ica," ucapnya lirih.
"Halo," sapa suara wanita di seberang sana.
"Ica? Ada apa dengan suaramu? tanya Samuel.
"Selamat malam, Pak. Kami dari Rumah Sakit Medical Center. Ibu pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sedang dalam perawatan di ruang UGD. Kami ingin menghubungi nomor keluarganya tetapi ponselnya terkunci. Sekiranya Anda bisa membantu menghubungi keluarga beliau untuk memberi kabar, kami ucapkan terima kasih," ucap wanita yang adalah perawat di rumah sakit itu.
"Apa! Kelakaan? Bagaimana keadaannya?" tanya Samuel kalut.
"Sejauh ini tidak ada yang membahayakan nyawanya, Pak."
"Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya. Saya akan ke sana segera," balas Samuel seraya menutup telepon.
Tanpa berpikir panjang Samuel pergi ke rumah sakit-tempat Marisa di rawat. "Pasti ada sesuatu yang buruk terjadi saat itu. Jika tidak, mana mungkin Marisa pergi terburu-buru tanpa pamit padaku. Kata Lyra, Marisa mendapat telepon dari suaminya. Apakah mereka bertengkar lagi di telepon atau ... aarrggh! Kalau terjadi sesuatu pada Marisa aku akan berbicara dengan Arjun. Tak peduli sekalipun ia suaminya," berang Samuel selama di mobil.
.
__ADS_1
.
.