Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 19. Janji Tiga Orang


__ADS_3

Pagi itu Marisa sibuk menyiapkan bekal sekolah untuk ketiga anaknya. Tiba-tiba si bungsu Caca mengeluh sedang tidak enak badan dan tak ingin ke sekolah. Marisa kemudian menelepon guru TK-nya Caca meminta izin tidak masuk karena sakit.


"Pakai jaket dan kaus kakimu, Sayang. Setelah mengantar Bang Angga dan Kak Bianca ke sekolah, kita akan pergi ke dokter," pesan Marisa pada Caca sambil memakaikan jaket dan kaus kaki ke putri kecilnya.


Tak jauh dari sekolah Angga dan Bianca ada sebuah klinik yang biasa dikunjungi Marisa. Saat giliran Caca dipanggil masuk ke ruang dokter, alangkah terkejutnya ia melihat keberadaan Lyra di ruangan itu.


"Dokter Suryadi mana, Suster?" tanya Marisa pada asisten perawat yang juga ada di ruangan itu.


"Beliau sedang ada seminar di luar kota, Bu," terang perawat itu.


Marisa mendesah lemas.


"Jika tidak ingin anaknya diperiksa oleh saya tidak masalah," ujar Lyra datar seraya bersandar di kursi sambil melipat tangan.


Melihat kondisi Caca yang lemas dan panas tinggi, tak tega rasanya membiarkan anak itu menahan sakit lebih lama. Pindah ke klinik lain, lalu melakukan pendaftaran dan mengantri lagi, itu akan menyita banyak waktu 'Baiklah, demi anak, aku rela mengabaikan perasaanku pada dokter ini,' batin Marisa.


"Tidak apa, silahkan di periksa saja," balas Marisa.


Sepasang netra Marisa terus mengawasi Lyra yang tengah memeriksa Caca. Persis mata seekor anjing galak.


'Wanita tanpa perikemanusiaan ini sama sekali tidak pantas menjadi seorang dokter. Ia bahkan kesal karena Samuel bersikap peduli padaku dan membantuku agar langsing dan sehat,' pikir Marisa.


Pemeriksaan terhadap Caca selesai. Lyra menuliskan resep dan menyerahkannya pada perawat. "Hanya demam biasa. Setelah makan obat dan istirahat ia akan sembuh," ucapnya.


"Baik," kata Marisa.


Saat Marisa akan beranjak dari bangku, Lyra memanggilnya. "Tunggu!"


"Ada apa, Dok? tanya Marisa.


"Aku sungguh tak menyangka wanita sepertimu sanggup memakai trik kotor untuk menyalahkanku. Kamu mengarang cerita kecelakaan di jalan sepulang dari rumah Samuel, juga mengadukan aku telah mengusirmu. Akibatnya kini Samuel marah besar dan menyalahkanku. Kamu telah merusak hubungan kami," tuding Lyra geram.


'Wanita ini memang kurang ajar! Sekiranya bisa, aku pun berharap kecelakaan itu hanyalah halusinasi saja agar aku tidak mengeluarkan uang banyak untuk perbaikan mobil di bengkel,' umpat Marisa di hati.


"Terima kasih, Bu Dokter. Kami pamit dulu," jawab Marisa dengan senyum tipis yang dipaksakan.


'Beraninya wanita ini mengabaikanku,' berang Lyra dalam hati.


***


Malamnya Arjun pulang dari luar kota. Tugas di luar kota sudah usai.


"Ya ampun! Apa yang terjadi dengan mobilku?" protes Arjun pada istrinya.


"Aku menabrak warung, Bang. Aku minta maaf soal itu," ucap Marisa penuh penyesalan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Apa kamu ugal-ugalan atau mengemudi dalam keadaan mabuk? Pulang-pulang bukannya hal baik yang menyambutku. Mobil rusaklah, anak sakitlah, besok entah apa lagi," ocehnya.


"Rasanya aura mistis masuk ke rumah ini bersamaan dengan kedatanganmu, Bang. Bikin suasana rumah panas saja. Sebaiknya aku segera memanggil tokoh spiritual untuk pengusiran setan," sindir Marisa.


"Mulai besok kamu tak perlu bawa mobil kalau keluar!"


"Kenapa? Takut mobilmu hancur lagi, ha? Tampaknya kamu lebih mengkhawatirkan mobilmu ketimbang istrimu. Kamu sama sekali tak bertanya apakah aku terluka dalam kecelakaan itu."


Arjun hanya bisa menggeram dan berlalu.


'Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini dan siap berpisah dengan suamiku. Urusan nafkah, aku bisa minta pekerjaan pada Samuel,' tekad Marisa.


***


"Apa! Mau berpisah? Jangan bergurau, Marisa," seru ibu mertuanya.


"Saya serius, Mak," jawab Marisa.


"Alasannya apa, Nak?" tanya ayah mertuanya.


"Saya sudah enggak kuat lagi. Sebenarnya Bang Arjun selama ini berselingkuh dengan perempuan lain," ucap Marisa lirih.


"Apa kamu punya bukti?" tanya Ayah mertuanya


"Kamu tenang dulu, Marisa. Nanti kami akan coba bicarakan hal ini dulu dengan Arjun. Kita bantu menyelesaikannya. Jadi kamu sebaiknya pulang dulu ke rumah, ya? Juga semua bukti-bukti ini tolong kamu kirimkan ke ponsel Mamak," kata ibu mertuanya.


Marisa pun mengirim semua bukti itu ke ponsel wanita paruh baya berdarah batak itu.


"Baiklah. Saya minta maaf sudah merepotkan Bapak dan Mamak," ujar Marisa sebelum pamit pulang.


***


"Rani, tolong datang ke rumah sekarang. Ada yang mau Bapak dan Mamak bicarakan!" perintah ibu Arjun pada Rani-kakak perempuan Arjun, di telepon.


"Iya, Mak. Sejam lagi Rani ke sana," balas Rani dari dari seberang telepon.


"Hhmm. Kami tunggu," ucap ibunya sambil menutup telepon.


***


"Apa kabar Bapak dan Mamak?" sapa Rani saat tiba di rumah orang tuanya.


"Sehat," jawab ibunya singkat.


"Ada hal penting apa, Mak, sampai tidak bisa diberitahu lewat telepon?" tanya Rani.

__ADS_1


"Apa kamu masih sering berhubungan dengan temanmu si Karmila?" tanya ayahnya serius.


"Iya, Pak. Kenapa, ya?"


"Kamu tahu tidak kalau si Karmila itu jadi selingkuhan Adikmu?" Ayahnya memberitahu.


Rani hanya tersenyum. "Siapa yang bilang?"


"Adik iparmu tadi pagi datang kemari dan memberitahu bahwa mereka akan bercerai gara-gara Arjun berselingkuh dengan Karmila," jawab ibunya.


"Mamak dan Bapak tentu tidak lantas percaya dengan kabar itu, kan?"


"Bagaimana kami tidak percaya kalau bukti yang ditunjukkan Marisa begitu meyakinkan?"


"Maksudnya?" tanya Rani heran.


"Kamu lihat saja di sini!" tukas ibunya seraya menyerahkan ponselnya.


Rani membuka file yang berisi screenshot percakapan Arjun dan Karmila juga sms yang dikirim Karmila untuk Marisa. Ia kemudian menarik napas panjang. "Ini semua hanya pura-pura, Mak, Pak," ujar Rani.


"Pura-pura bagaimana maksudmu, Rani?" tanya ayahnya dengan dahi berkerut.


"Bapak dan Mamak tenang saja. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku akan bicara pada Karmila dan menyelesaikan kesalahpahaman ini."


"Baiklah. Kabari kami secepatnya sebelum siatuasinya memburuk," pesan ibunya.


Rani mengangguk paham.


***


Tanpa membuang waktu Rani menelepon Karmila dan Arjun untuk bertemu di luar. Esoknya mereka bertemu di sebuah cafe.


"Arjun, Karmila, aku ingin tahu bagaimana dengan rencana kita dulu? Lima bulan lalu kita berkumpul di tempat ini untuk membantu memprovokasi Marisa agar jadi langsing.


"Aku masih ingat bagaimana Arjun ingin agar Marisa lebih memperhatikan penampilannya khususnya perihal berat badannya. Berbagai cara sudah Arjun upayakan agar Marisa bisa kembali kurus, tetapi gagal.


"Kemudian Arjun meminta saran dariku. Akhirnya muncullah ide pelakor palsu. Aku membujuk Karmila agar mau membantu sandiwara ini dan kamu Karmila setuju.


"Kita juga sudah sepakat kalau rencana ini harusnya akan segera kita akhiri setelah Marisa kembali kurus. Walau memang target berat badan ideal belum dicapai Marisa, kita harus sudahi permainan ini, sebelum semuanya jadi kacau," jelas Rani.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2