Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 4. Curahan Hati Sahabat


__ADS_3

Paginya Marisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Menyajikan sarapan nasi uduk kegemaran suami dan anak-anaknya seperti biasa. Sementara Arjun menyantap hidangan di depannya, matanya sibuk memandang layar ponsel yang ada di tangan kirinya.


Merasa gemas Marisa pun bernyanyi sekerasnya sambil mengetuk spatula pada tutup panci sebagai pengganti musik. "Bang, SMS siapa ini Bang .... Bang, pesannya pakai sayang sayang. Bang, tampaknya dari pacar abang ...."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Arjun mendadak terserang batuk rejan sampai-sampai tersedak tulang ayam.


"Astaga! Lagumu hampir membunuhku, Dik." sergah Arjun setelah berhasil mengeluarkan tulang ayam itu dari kerongkongannya dengan susah payah.


"Orang cuma bernyanyi biasa, kok. Lebay kamu, Bang. Atau jangan-jangan kamu juga sedang SMS-an sama pacar? Ayo mengaku ...," tuduh Marisa.


"Sembarangan kamu."


"Terus kenapa kaget?"


"Jelas kaget, suaramu hancur begitu. Sudah, sudah. Aku mau berangkat kerja lagi. Buruan anak-anak, biar Papito antar sekolah," ucap Arjun sambil meninggalkan sarapannya yang sudah habis.


Begitu suaminya berangkat kerja dan anak-anak ke sekolah, Marisa kembali menangis. Sebenarnya ia berniat menunjukkan jejak-jejak perselingkuhan itu pada suaminya dan meminta pengakuan, tetapi bibirnya terasa kelu untuk membicarakan itu. Sungguh tidaklah mudah berusaha tetap tenang sementara lidah-lidah api neraka seakan berputar di ruang hatinya.


Marisa memustuskan menghubungi satu nama yang ada di daftar kontak teleponnya, mengajak berjumpa di sebuah cafe. 'Aku harus cerita pada seseorang, jika tidak aku bisa gila sendiri," batin Marisa.


Sejam kemudian, wanita yang sedang di rundung duka itu sudah duduk berhadapan dengan seorang pria tampan. Belum sempat keduanya berkata-kata , air mata Marisa sudah menganak sungai.


"Akting tertawamu makin buruk saja," komentar pria itu.


"Aku sedang menangis, bukan tertawa! Ini juga bukan akting," sahut Marisa lalu melanjutkan tangisannya yang terputus.


"Baiklah ... baiklah, jadi katakan kenapa kamu mewek? apa karena terharu merindukan diriku?" tanya pria bergaya cosmopolitan itu sambil tertawa kecil.


Marisa menjawab dengan menggeleng.


"Kamu habis ditagih hutang?"


Marisa kembali menggeleng sambil membersihkan ingus yang ikut meleleh dari gua di hidung bangirnya.


"Rumahmu terbakar?"


Marisa pun hanya menggeleng.


"Diceraikan suami?"


Lagi-lagi pertanyaan pria itu dijawab dengan gelengan kepala.


"Lalu apa?" tanyanya dengan sabar.

__ADS_1


Sementara yang ditanya masih sibuk merangkai air mata.


"Kamu kalau ada masalah harus terbuka biar cepat selesai, Marisa," desak pria itu lagi.


Sambil sesegukan Marisa berkata, "Maksudmu aku harus telanjang begitu?"


"Kamu kurang cerdasnya udah mendarah daging nih kayaknya. Maksud aku jangan pendam sendiri kalau ada persoalan. Enggak usah segan buat cerita. Kayak orang baru kenal saja."


"Aku memang bermaksud mau cerita, tapi hatiku sakit sekali hingga sulit berkata-kata. Muelita, rumah tanggaku di ambang kehancuran. Bang Arjun selingkuh," ungkap Marisa terbata-bata.


"Aww! Demi sejuta ubur-ubur, hoax apalagi ini?" Pria yang dipanggil Muelita terperanjat sambil menaruh empat jari di depan bibir.


"Aku bicara benar."


"Tampang kayak si Arjun ada yang mau? Rasanya sulit dipercaya. Sampai sekarang pun aku masih bingung apa yang membuatmu mau menikah sama dia. Diantara berjuta pejantan tangguh di negeri ini, kenapa kamu pilih dia? Udah dekil, rada songong, dan gagah pun tidak. Katakanlah benar ada yang mau sama dia, mungkin wanita itu rabun dan sama kurang cerdasnya seperti dirimu," ledek Muelita yang memiliki nama asli Samuel.


"Kali ini kamu salah. Tunggu sampai kamu lihat ini." Marisa lalu membeberkan bukti-bukti yang ada di ponselnya pada temannya.


Usai melihat isi ponsel itu, Samuel pun berkomentar, "Ku akui si Karmila ini memang terlihat bohay di foto. Lumayan juga selera si Arjun. Makanya kamu waspada dong dengan fenomena merajalelanya para pelakor dan pebinor saat ini. Para pelakor juga enggak semuanya menuntut agar istri tua-"


"Aku belum tua, Muelita!" potong Marisa ketus.


"Ya terserahlah," ucap Samuel sembari mengibaskan tangan. "Pokoknya kalau istri pertama enggak mau cerai, para wanita-wanita cantik ini bersedia, seribu persen siap lahir batin untuk berpoligami. Aku ucapkan selamat atas kehadiran madumu, Ica Jangan lupa undang aku di acara pernikahan mereka nanti," ujar Samuel sambil terkekeh.


Dari dulu Muelita selalu memanggil Marisa dengan sebutan Ica. Nama asli Muelita sendiri adalah Samuel Syahputra, tetapi karena sifatnya yang mengandung unsur feminim maka Marisa kerap memanggilnya Muelita. Keduanya bersahabat sejak duduk di bangku SMA.


"Aku tak sudi berbagi selimut dan berbagi uang belanja dengan wanita sok bohay itu!" rutuk Marisa.


"Melihat badanmu yang subur dan berkembang ini, pasti Arjun memberimu uang belanja yang cukup banyak, bukan? Belajar berbagi itu baik, bukan? Ah, dengan lengan dan paha sekekar ini menyiratkan kamu pasti kuat menerima kenyataan hidup ini, Sayang," sindir Samuel dengan jari mentoel lengan Marisa yang tumpah di lengan baju.


Marisa menghentakkan kakinya ke lantai. "Jangan bully aku. Kurang merana apa lagi diri ini? Semua ini terjadi gara-gara tubuhku yang makin bulat," isak Marisa.


"Syukurlah kamu menyadarinya. Si bohay itu bahkan tahu kalau Arjun sudah beristri bahkan dari si Arjun sendiri. ******* benar suamimu itu. Teganya menjadikan kelebihanmu sebagai alasan untuk mendapat simpati wanita lain."


Mata Marisa membelalak saat mendengar kata kelebihan itu, tetapi Samuel tetap santai.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Kasi ide, donk," pinta Marisa yang kini sudah lebih tenang.


"Aku belum menikah lalu bagaimana bisa memberi pendapat atau nasihat tentang rumah tangga, Cinta," jawab Samuel.


"Harusnya kamu ingat umur. Pria tampan dan mapan sepertimu sebenarnya mudah mendapatkan wanita. Para wanita akan langsung jatuh cinta pertama kali melihatmu, tapi begitu jiwa melambaimu keluar maka tanpa berpikir dua kali, wanita normal akan cepat-cepat ambil langkah seribu. Kadang aku meragukan apakah kamu tertarik pada wanita atau pria."


Samuel mengerucutkan bibir merahnya sambil memutar bola mata. "Aku ini normal," balasnya.

__ADS_1


"Katakan siapa pacarmu saat ini?" tanya Marisa.


"Seorang dokter cantik dan seorang model tampan," jawab Samuel sambil mengedipkan mata.


Mendengar itu Marisa langsung menepuk jidat. "Kacau," gumamnya.


"Sekarang kita kembali ke prahara rumah tanggamu. Berdasarkan pengalaman teman-temanku yang juga pernah menghadapi masalah seperti ini, maka pilihanmu ada dua. Pertama, bertahan. Kedua, berpisah."


"Aku enggak kuat dengan keduanya pilihan itu. Marisa mendesah.


"Badan saja besar, tapi lemah,' cela Samuel.


"Jangan salah. Fisikku ini kuat, ya. Hatiku saja yang lemah lembut," sanggah Marisa.


"Jadi maumu apa?" tanya Samuel.


"Kalau aku berpisah, kasihan anak-anak jadi korban. Mereka yang paling menderita nantinya."


"Oh, tentu," celetuk Samuel yang sibuk menyuapkan spageti ke mulutnya.


"Kalau aku bertahan ...." Marisa berhenti melanjutkan perkataannya.


Samuel menunggu kelanjutan ucapan Marisa, tetapi yang ditunggu justru melamun dengan tatapan kosong. Melihat itu Samuel jadi kasihan pada wanita malang yang ada di depannya.


"Begini saja. Kamu bicarakan dulu dengan suamimu. Kita lihat hasilnya seperti apa. Kamu ingatkan lagi tentang komitmen kalian saat menikah dulu. Bukankah kalian saling berjanji akan setia sampai mati dalam keadaan apapun juga. Saat susah maupun senang, miskin maupun kaya, saat sakit ataupun sehat. Termasuk dalam keadaan gemuk maupun kurus, mau gila atau waras, tetap akan mengasihi. Bukan begitu?


"Nanti kamu kabari aku hasilnya, oke. Oh pacarku sudah datang. Aku ada janji juga dengan dia hari dan menyuruhnya menjemputku di cafe ini," ucap Samuel seraya bangkit dari kursi menyambut kedatangan seorang pria tinggi, tampan, dan sangat maskulin.


"Hai, Beib," sapa Samuel pada pria menawan itu sambil mencium pipi kiri dan kanannya.


"Kenalkan, temanku Ica." Samuel memperkenalkan pria itu padao Marikla.


"Brandon." Pria itu menyebut namanya dan menyalam tangan Marisa.


"Marisa," balas Marisa dengan senyum ramah.


"Kami pergi dulu, ya. Nanti kamu kabari aku saja perkembangannya. Sampai jumpa, Ica," pamit Samuel.


"Baiklah, sampai jumpa," balas Marisa sambil menatap kepergian dua orang yang saling bergandeng tangan itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2