
Marisa menundukkan wajahnya di depan Samuel. Di sudut hatinya sebuah suara menegur drama yang sedang dimainkannya. Namun apa boleh buat, bagaimanapun hanya Samuel seorang yang bisa diharapkan untuk membantu saat ini.
"Aku minta maaf, Ca," bisik Samuel lirih seraya melap air mata Marisa dengan jarinya.
Betapa Samuel ingin memeluk wanita itu, tetapi akal sehatnya menyadari bahwa Marisa adalah istri orang. Sekalipun pelukan penghiburan antar sahabat, rasanya itu akan canggung sekali.
"Duduklah, kita akan bicarakan ini dengan tenang. Okay?"
Marisa mengangguk dan menuruti Samuel.
"Kamu boleh mulai bekerja sebagai asisten pribadiku, yang artinya saat aku lembur kemungkinan besar kamu juga lembur. Nia adalah sekretaris pribadiku di kantor, tetapi ia jarang sekali pergi keluar denganku. Aku pikir aku butuh seseorang untuk ikut kemana pun aku pergi. Apa kamu siap dengan jam kerja yang tak tentu dan aktifitas yang padat?" tanya Samuel.
Marisa mengangguk mantap.
"Baiklah, datanglah tiga hari lagi pukul delapan pagi. Soalnya besok dan lusa aku ke luar kota, Ca."
"Iyess! Thank you, Sam!" sahut Marisa melonjak kegirangan dengan tangan menggenggam tangan Samuel.
***
Marisa kemudian mempekerjakan seseorang untuk membantu pekerjaan di rumah dan mengurus anak-anak.
"Marisa, kita harus bicara. Apa maksudmu membawa seorang pembantu tinggal di rumah kita?" protes Arjun.
"Aku akan mulai bekerja. Jadi aku perlu asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu keperluan anak-anak," jawab Marisa tenang.
"Beraninya kamu mengambil keputusan sebesar itu tanpa berunding denganku! Apa gajiku kurang sampai kamu harus cari kerja di luar?" hardik Arjun.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa kita akan bercerai? Tentu aku harus mencari nafkah untuk diriku dan anak-anak. Sesegera mungkin aku juga akan mencari tempat tinggal baru agar kamu dan si Karmila itu bisa bebas tinggal di sini," balas Marisa sinis.
Arjun hanya terdiam tak menjawab lagi, yang bagi Marisa artinya Arjun menyetujui perceraian itu.
Hari-hari berlanjut dan Marisa sibuk dengan pekerjaannya. Banyak hal baru yang dipelajarinya setelah masuk ke dunia kerja. Terkadang ia pulang hingga larut malam saat anak-anak sudah tertidur pulas membuatnya terkadang merasa bersalah telah mengabaikan anak-anak. Ia sungguh tak mengharapkan keadaan seperti itu, tetapi sekarang hanya ini pilihan yang harus dijalaninya demi masa depannya dan anak-anak.
***
__ADS_1
"Ca, ayo makan siang denganku," ajak Samuel siang itu di kantor.
"Maaf, Bossku. Kakak iparku Rani sudah lebih dulu mengajakku makan siang bareng hari ini dan aku sudah mengiyakan. Tampaknya ada hal penting yang ingin dibicarakannya."
"Baiklah. Apa perlu kuantar?"
"Jangan repot-repot, Sam. Aku bisa sendiri. Oya, seandainya saja nanti aku sedikit terlambat kembali ke kantor jangan marah, ya?"
"Mmm. Aku tak akan marah, tapi bonusmu aku potong," gurau Samuel.
Marisa segera memasang tampang cemberut dan memanyunkan bibir yang dibalas Samuel dengan tertawa.
Dua puluh menit kemudian Marisa dan Rani sudah duduk bersama di sebuah kafe sederhana yang tak terlalu jauh dari kantor.
"Kamu makin cantik dan terlihat awet muda sejak langsing," puji Rani.
"Oh, ya? Terima kasih, Kak," ucap Marisa tersenyum lebar.
"Kamu pasti benar-benar bekerja keras untuk mencapai berat badan ideal."
"Oh, semua ini gara-gara adikku pasti," ujar Rani sedih.
"Sudahlah, Kak. Ayo kita makan," ajak Marisa sambil memotong ikan salmon panggang di atas piringnya.
"Marisa, sebenarnya ada sesuatu yang mau Kakak sampaikan padamu," kata Rani dengan nada serius.
"Katakan saja, Kak," ucap Marisa masih sambil mengunyah makan siangnya.
"Kakak, tidak yakin harus mulai bercerita dari mana. Namun, sebelumnya Kakak minta maaf padamu, Marisa," tutur Rani.
Marisa meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap saksama kepada Rani.
"Sepertinya ini hal yang amat serius," gumam Marisa. Menyiapkan kedua telinganya untuk mendengar apa yang hendak disampaikan Rani.
Rani mengangguk pelan dan mulai bercerita.
__ADS_1
"Beberapa waktu lalu, Arjun pernah cerita tentang keadaan rumah tangga kalian. Dia mengeluhkan kondisi tubuhmu yang menurutnya terlalu gemuk. Sebagai Kakak dan juga sebagai wanita sekaligus seorang ibu, jujur aku sendiri muak mendengar keluhan adikku itu, yang menurutku terlalu egois. Aku jelaskan padanya apa pun keadaan pasangannya, seharusnya itu tak merubah perasaan cinta yang ada.
"Cinta menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing tanpa mempercakapkannya. Namun, adikku itu memang keras kepala. Katanya jika saja Marisa bisa kembali kurus ia tak perlu tersinggung mendengar ocehan orang lain yang meledek tubuh istrinya gemuk. Katanya segala cara sudah kalian usahakan agar kamu bisa kurus, tapi hasilnya nihil." Rani menarik napas panjang dan mengembuskannya kuat sebelum melanjutkan perkataannya.
"Didukung berbagai argumen dan alasan kesehatan, Arjun berhasil membujukku untuk mendukung niatnya agar kamu bisa kurus, Marisa. Entah bagaimana akhirnya muncul sebuah ide konyol dan gila bahwa kami akan membuat sandiwara seolah Arjun sedang berselingkuh dengan wanita lain yang bertubuh seksi. Akhirnya kami melibatkan seorang teman bernama Karmila, janda muda tanpa anak. Karmila ini temanku dan juga ... mmm, mantan pacar Arjun sewaktu SMA." Suara Rani merendah di akhir kalimat. Ia terdiam sejenak dan menunggu reaksi Marisa. Rani pu melanjutkan ceritanya setelah melihat Marisa tidak memberi komentar apa pun.
"Sampai kamu datang ke rumah Mamak dan Bapak mengutarakan niat bercerai dengan Arjun, aku baru menyadari bahwa keadaannya sudah tidak benar lagi. Aku, Arjun, dan Karmila kemudian bertemu dan sepakat menghentikan sandiwara ini sebelum terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan. Lagi pula sekarang kamu juga sudah tidak segemuk dulu. Paling tidak tujuan Arjun sudah di depan mata.
"Kamu berhak marah, Marisa. Sungguh tak ada niat untuk menyakitimu sebelumnya, tapi justru kamu malah benar-benar tersakiti. Kakak juga mewakili Arjun dan Karmila mohon maaf yang sebesar-besarnya padamu atas kesalahan kami. Lupakan niatmu untuk bercerai. Arjun tidak benar-benar berselingkuh dengan Karmila, Marisa. Percayalah. Itu semua palsu. Tidak benar-benar nyata," pinta Rani.
Marisa menghenyakkan badan di kursi. "Oh, God. Ternyata hidupku penuh dengan drama," keluhnya menatap Rani seolah tak percaya.
"Please, Marisa. Kamu akan menarik gugatan ceraimu, kan?"
Marisa menggeleng. "Maaf, Kak. Aku tidak bisa."
"Kenapa? Alasannya apa? Tahukah kamu kalau orang tuaku sangat sedih dengan berita perceraian ini? Mereka sama sekali tidak tahu kalau kami bertigalah dalang semua itu," tukas Rani.
"Bagiku perselingkuhan Karmila dan Arjun itu bukan sandiwara."
"Ayolah Marisa. Jangan mengeraskan hati. Bukankah Arjun sudah menjelaskan juga semuanya padamu?"
"Menjelaskan apa, Kak?"
"Ya, seperti yang aku sampaikan barusan. Bahwa semuanya hanya permainan semata."
"Arjun tidak pernah menjelaskan apa pun padaku seperti yang Kakak katakan. Dia bahkan tidak pernah mencoba mencegahku untuk bercerai. Waktu aku katakan bahwa aku mulai bekerja dan sesegera mungkin akan keluar bersama anak-anak dari rumah kami, Arjun diam saja, Kak. Dia sama sekali tidak berjuang mempertahankan kehadiranku," ucap Marisa dengan mata berkaca-kaca.
"Itu tidak mungkin, Marisa. Adikku sudah berjanji bahwa ia akan mengatakan apa yang sebenarnya kami rencanakan padamu dan berjanji akan menyelesaikan ini," bantah Rani dengan mata membelalak.
.
.
.
__ADS_1