
Marisa memalingkan pandangannya ke arah jendela kafe. Menjauh dari mata Rani dengan memerhatikan kendaraan yang lalu lalang di tengah cuaca terik. Air mata yang sedari tadi ditahan tumpah juga akhirnya. Membasahi pipi mulusnya yang sudah ramping.
"Marisa ...," bisik Rani dari seberang meja. Meski raut kesedihan di wajah adik iparnya itu terlihat jelas, tetapi ia ingin mempercayai bahwa semua yang terjadi benar-benar hanya kesalahpahaman belaka.
Marisa menoleh. "Jika aku menunjukkan buktinya, apa Kak Rani akan percaya pada ucapanku?" tantang Marisa.
"Aku sudah melihat semua bukti yang kamu berikan pada orang tuaku, Marisa. Ya, memang aku akui bahwa pernyataan Karmila tentang akan menikah dengan Arjun itu sedikit berlebihan, tapi aku sudah memperingatkan dia soal itu," balas Rani.
Marisa menghela napas berat. "Sebenarnya ada beberapa bukti yang aku sembunyikan dari kalian. Jika itu aku perlihatkan pada Bapak dan Mamak, aku khawatir akan berpengaruh buruk pada kesehatan mereka."
"Maksudmu?" Kening Rani segera berkerut.
Marisa mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan beberapa video kiriman Karmila. "Ini video Karmila dan Arjun berhubungan intim di sebuah hotel, Kak. Juga video kemesraan mereka yang lain, termasuk hasil tes urine Karmila yang menunjukkan ia sedang mengandung. Katanya itu anak Arjun." Marisa menjelaskan isi video tersebut lalu menyerahkan ponselnya ke tangan Rani. "Silahkan Kakak lihat sendiri apa video ini asli atau tidak," sambungnya.
Rani menonton video-video tersebut dengan tangan gemetar. Dalam sekejab mukanya memerah oleh amarah. "Biadab! Mereka telah menipuku juga!" umpat Rani.
"Sekarang Kakak mengerti bukan dengan kondisiku? Bukan aku yang berniat cerai, Kak, melainkan Arjun. Ia yang memaksaku untuk memasukkan gugatan cerai itu agar Mamak dan Bapak mudah memberi restu saat ia akan menikah dengan Karmila nanti."
Rani refleks memeluk Marisa penuh simpati. Keduanya terisak, merasakan kepedihan yang sama. "Aku minta maaf, Marisa. Seandainya saja sandiwara itu tak pernah ada, mungkin mereka tidak akan melangkah sejauh ini. Aku turut bersalah dalam menciptakan petaka ini," isak Rani.
"Sudahlah, Kak. Jangan terlalu menyalahkan diri. Mungkin ini sudah jalan hidup yang harus aku lewati," ucap Marisa.
***
Ketika kembali ke kantor, Samuel dapat menebak kalau Marisa baru saja menangis.
"Bagaimana dengan makan siangmu?" tanya Samuel saat Marisa mengantar laporan kerja ke ruangannya sepulang makan siang.
"Biasa saja," jawab Marisa datar.
"Matamu bengkak, Ca," komentar Samuel.
"Ah, mungkin karena aku terlalu banyak makan makanan pedas tadi, sampai air mataku keluar," kilah Marisa mencoba menutupi kebenaran.
"Oh. Sebaiknya kamu kompres sebentar matamu sebelum kita bertemu dengan klien. Mereka nanti akan berpikir aku telah membuatmu menangis," ucap Samuel.
"Ah, kamu ini Sam. Tidak akan ada yang berpikir seperti itu," tolak Marisa.
"Coba kamu berpikir bagaimana kita sebagai pihak wedding organizer, bisa meyakinkan klien bahwa kita sanggup membuat acara bahagia mereka sukses dengan ekspresi wajahmu yang seperti baru melayat dari pemakaman itu."
"Baiklah ... baiklah ... aku akan mencuci wajahku agar lebih segar," balas Marisa.
Keduanya pun kembali sibuk dengan urusan pekerjaan.
Tak lama kemudian ponsel Samuel berbunyi. Pesan masuk dari Lyra. [Sam, kalau kamu tidak sibuk, aku ingin mengajakmu keluar malam ini sekaligus meminta maaf atas kesalahanku.]
[Maaf, Lyra. Aku lembur hari ini] balas Samuel.
[Besok bagaimana?]
__ADS_1
[Aku sudah memaafkanmu, Lyra, tapi maaf aku tidak bisa keluar denganmu. Aku benar-benar sibuk]
[Lusa bagaimana?]
Samuel terdiam sejenak sebelum membalas.
[Please ....] Lyra memohon.
[Baiklah. Lusa pukul delapan malam]
[Thank you, Sam]
***
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Ca?" tanya Samuel pada Marisa sewaktu di mobil.
"Ah, tidak apa-apa, Sam," jawab Marisa.
"Hei, kita ini sahabat bukan?"
"Tentu saja!"
" Nah, kalau begitu ceritakanlah. Jangan bilang tidak ada apa-apa lagi."
"Hhh ... Aku hanya berpikir tentang pernikahanku saat melihat pasangan tadi."
"Maksudmu klien kita tadi? Mas Wendy dan Mbak Nana?"
"Kenapa dengan mereka?" tanya Samuel heran.
"Walau si wanita bertubuh gemuk, si pria terlihat sangat mencintainya."
"Mereka sudah kenal dan pacaran sangat lama. Tujuh tahun. Intinya bukan melihat fisik lagi. Melainkan karena hati masing-masing, Ca."
"Mengapa cinta Mas Arjun berubah seiring dengan perubahan fisikku? Aku masih sulit menerima kenyataan kalau ia mencintaiku hanya melihat penampilan fisik saja," tutur Marisa sedih.
"Jangan putus asa, Ca. Kamu harus pertahankan pernikahanmu. Hari ini kamu gajian, kan? Ajaklah keluargamu makan malam di luar. Mungkin itu bisa membantu kalian lebih dekat lagi," hibur Samuel.
Marisa hanya terdiam melihat jalanan di depan dengan tatapan kosong. Entah berapa lama ia harus mencoba terus kuat menghadapi cobaan itu.
"Omong-omong soal gajian, sebelum kamu antar aku pulang, karena ini gaji pertama, aku akan mentraktirmu makan malam, Sam," ajak Marisa.
"Aneh rasanya bos ditraktir karyawan," ujar Samuel sambil menggaruk kepala.
"Ini traktiran antar teman, Bossku," ejek Marisa.
"Oh ternyata begitu. Baiklah," ucap Samuel setuju.
Mobil Samuel kemudian berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu besar tak jauh dari rumah Marisa. Keduanya memilih makan di area terbuka.
__ADS_1
Saat keduanya tengah makan, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Samuel.
"Sam? Bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Lyra yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Samuel.
"Hai, Lyra. Apa kabar?" tanya Samuel.
Lyra menatap tajam ke arah Marisa yang duduk di seberang Samuel. "Bukankah aku mengajakmu keluar malam? Katamu lembur, kok malah makan malam dengan Marisa, sih?" tanya Lyra tak senang.
"Oh, memang. Tadi kami baru saja ada pertemuan dengan klien. Ini baru akan pulang, tapi aku mengajak Samuel makan malam dulu." Marisa buru-buru menjelaskan takut terjadi salah paham.
"Bertemu klien? Kamu dan Samuel?" tanya Lyra.
"Iya, aku sekarang bekerja sebagai asisten pribadi Samuel," jelas Marisa.
"Sejak kapan? Kok aku tidak tahu?" protes Lyra.
"Apa kamu mau bergabung makan malam dengan kami?" tanya Samuel pada Lyra.
Lyra mengangguk lalu duduk tepat di bangku sebelah Samuel. Samuel memanggil pelayan restoran untuk mencatat pesanan Lyra.
"Aku tinggal ke toilet dulu," izin Samuel pada kedua wanita di dekatnya.
Setelah melihat Samuel pergi, Lyra berkata pada Marisa. "Apa suamimu tahu kamu keluar sampai malam begini dengan pria lain?"
"Aku kira itu bukan urusanmu, Lyra," jawab Marisa ketus sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dengar Marisa, selama kamu berkeliaran di dekat Samuel, maka ia akan mengabaikanku."
"Maaf, tapi aku tidak melakukan apa pun selain bekerja," bantah Marisa.
"Pokoknya aku tidak ingin melihatmu berada di dekat Samuel. Kalau kamu butuh pekerjaan, aku bisa menawarkan pekerjaan di tempat temanku," tawar Lyra.
"Aku tidak tertarik, terima kasih. Lagi pula untuk apa aku menjauhi Samuel. Kami sudah lama berteman jauh sebelum kamu mengenal dia," tolak Marisa.
"Katakan apa maksudmu mendekati Samuel? Bukankah kamu sudah menikah? Atau jangan-jangan kamu ingin bercerai dari suamimu lalu menikah dengan Samuel?"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan," tukas Marisa sambil menatap intens pada Lyra.
"Suamimu membuangmu 'kan? Aku tahu kalau Brandon sudah menceritakan tentang perasaan Samuel padamu. Lantas setelah mengetahui hal iti apa kamu bermaksud memanfaatkan dia? Kamu egois banget sebagai wanita. Kamu pikir Samuel akan menerima wanita bekas orang lain? Astaga .... Kasihan banget Samuel," ucap Lyra sinis.
"Kamu-"
"Kenapa kasihan padaku? Apa yang kalian bicarakan? Serius sekali kelihatannya ...," sela Samuel yang tiba-tiba saja sudah kembali.
"Oh, bukan apa-apa. Kami hanya kasihan melihatmu terlalu sibuk bekerja hingga tak pernah punya waktu untuk diri sendiri. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk menikah, Sam?" Lyra membelokkan alur percakapan.
"Hhmm, semua indah pada waktunya, Lyra," jawab Samuel kalem.
.
__ADS_1
.
.