Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 6. Sepenggal Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Perang dingin dunia boleh saja usai. Namun, di rumah Marisa perang dingin justru baru dimulai. Bersamaan dengan memburuknya hubungan Marisa dan Arjun, suasana tegang pun meliputi rumah. Melebihi tegangnya malam pertama. Keduanya tak lagi saling bicara. Anak-anak berubah jadi pendiam dan murung, seakan dapat meraba hilangnya kehangatan dalam keluarga mereka. Mungkin keluarga Cemara memang cuma ada di TV.


Marisa tetap melakukan pekerjaan dan urusan rumah tangga, tetapi telah kehilangan gairah. Apa yang dikerjakannya hanya sebatas memenuhi kewajiban.


Angga yang punya sifat kritis mulai protes pada ibunya. "Mi, kok kami dikasi makanan begini! Sayur keasinan, ikan asin kemanisan, tempe gosong. Aaahhh ... kalau begini Angga enggak mau makan."


"Kalau enggak mau makan masakan Mamita, ya sudah. Cari ibu baru saja sana," balas Marisa ketus.


Begitulah, entah siapa yang bersalah di sini yang jelas seisi rumah terkena imbas.


Samuel menelepon menanyakan kabar Marisa. Wanita dengan usia kepala tiga itu terisak di telepon, mengadukan pertengkaran yang telah terjadi. Samuel lantas mengundang Marisa untuk bertemu di rumahnya.


"Minumlah ini. Aku menambahkan lemon, madu, dan mint ke dalamnya. Sangat segar," tawar Samuel seraya menyerahkan segelas minuman dingin ke tangan Marisa.


"Terima kasih, Sammy," ucap Marisa.


"Sammy? Bukan Muelita?" goda Samuel.


"Ayolah saudara sepupu. Jangan meledekku," ujar Marisa sedikit tersipu.


"Sepupu dari bulan. Ayahmu dan ibuku satu kampung halaman, itu saja."


"Kamu melupakan satu hal. Mereka hampir saja menikah kalau saja ibumu tak tergoda pada pria yang lebih kaya."


"Bukan seperti itu yang terjadi, Ica. Justru karena ayahmu playboy cap kadal, membuat ibuku lebih memilih yang setia. Kaya itu hanyalah bonus." Samuel membela ibunya.


"Baiklah ... baiklah .... Mungkin itulah yang namanya tidak berjodoh," tandas Marisa.


"Oh, bersamamu aku seakan lupa dengan masalahku," ujar Marisa tertawa kecil, tetapi sejurus kemudian tawa itu berubah jadi tangis.


Samuel memeluk wanita itu dan membiarkannya menangis si bahunya. Isak tangis yang kian pilu membuat gelas yang di tangan Marisa ikut berguncang.


"Aku merasa buruk dan seperti Upik Abu, Sam," isak Marisa.


Jemari Samuel ingin mengelus rambut wanita berhati lembut-selembut ubur-ubur itu, tetapi dengan cepat menurunkan tangannya kembali. Bagaimanapun dekatnya persahabatan mereka, Marisa tetaplah istri orang.


Marisa dan Samuel mulai menjalin pertemanan semasa sekolah dulu. Mereka satu geng yang terdiri dari sembilan orang. Tujuh perempuan yang bergaya norak dan centil serta dua laki-laki yang merasa diri mereka keren. Perbandingan yang tidak sepadan. Namun, mereka tetap kompak. Jika ada seorang dari mereka diganggu, maka yang lainnya akan datang membela.


Mulanya dua siswa-Samuel dan Hendra-bergabung dengan tujuh siswi itu agar dianggap keren bisa berteman dengan banyak cewek. Kenyataannya yang terjadi sungguh berbeda. Bukan keduanya yang diperebutkan oleh cewek-cewek, tetapi justru mereka yang terkontaminasi oleh tujuh cewek itu. Keduanya jadi memiliki sifat feminim dan mulai gencar merumpi melebihi emak-emak kampung.


Sembilan sekawan itu tergolong murid biasa-biasa saja. Bergosip, makan, dan berolah raga adalah kegitan yang paling mereka gemari. Lulus SMA, geng itu pun berpencar. Ada yang langsung kawin, ada yang bekerja, dan ada yang melanjutkan kuliah di kampus yang berbeda-beda.


Samuel dan Marisa kebetulan satu kampus hanya saja berbeda jurusan. Marisa jurusan ekonomi, sedangkan Samuel jurusan Teknik. Awalnya Samuel hendak memilih jurusan tata boga, tetapi dia keliru menuliskan kode untuk jurusan teknik saat mendaftar. Jadi lebih tepatnya Samuel yang malang itu tak sengaja terdampar di pulau yang berpenghuni hampir semuanya laki-laki. Sejak bergaul dengan sesama jenisnya, sifat emak-emak dalam diri Samuel mulai luntur.

__ADS_1


Samuel sendiri tak tahu pasti sejak kapan ia merasa ada yang berbeda saat melihat Marisa. Seiring waktu, wanita itu tumbuh dengan cepat menjadi wanita dewasa yang memukau. Namun, sepertinya tidak ada yang berubah pada cara Marisa memandang sahabatnya itu. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Samuel yang kemayu, sedikit feminim, dan biang gosip telah menjadi pria tangguh, maskulin, dan tampan.


Marisa masih kerap memanggilnya Muelita seperti saat di bangku SMA dulu. Nama panggilan itu langsung membuat keberanian Samuel ciut seukuran kutu rambut. Seperti ada kekuatan yang menghipnotis dalam nama itu.


Kala Marisa memanggilnya dengan nama itu, ia pun tak bisa menunjukkan sisi kepriaannya yang sejati. Tanpa dapat dicegah, jiwa melambainya muncul begitu saja dan Samuel tak berdaya melawan. Sengaja atau tidak, ia menyadari dirinya dengan sengaja menerima panggilan itu. Namun, nama Muelita itulah yang membuatnya bisa begitu dekat dengan wanita itu.


Hanya dalam bentuk Muelita lah, Marisa begitu terbuka padanya. Marisa seolah menganggap dirinya saudari kandung. Tidak ada rasa canggung. Di sisi lain, Samuel memainkan perannya sembari memendam hasrat besar sekaligus menyakitkan. 'Seandainya saja kamu tahu, Marisa. Aku benar-benar seorang pria yang menyukai lawan jenis,' batin Samuel.


Memendam rasa itu enggak enak banget. Sama kayak mau menagih hutang lama ke teman dekat. Enggak ditagih rasanya sesak karena lagi butuh duit. Kalau ditagih nanti macam pengemis pula, sebab seringnya yang punya hutang lebih galak.


Begitulah dilema Samuel. Rasa cinta ini kalau dipendam terus jadinya tertekan batin. Kalau diungkapkan nanti bisa merusak pertemanan. Apa lagi suka sama bini orang, rasanya berdosa sekali dan yang ada bisa-bisa dirinya dicibir orang. Kalau sudah begitu terjadilah pembunuhan karakter.


Yah, sebelum ia sempat mengungkapkan pernyataan cintanya pada Marisa, Arjun telah lebih dulu melamar wanita itu. Celakanya, hingga kini rasa itu tak pernah pudar, sekeras apa pun dirinya mencoba menghilangkannya. Samuel merasa kalah dalam percintaan. Seperti tentara yang kalah sebelum berperang. Laksana bunga yang layu sebelum berkembang, gugur sebelum melahirkan.


Setelah menenggak tiga gelas minuman yang diberikan Samuel, beserta kulit-kulit lemon yang melayang-layang di dalam gelas itu, Marisa pun bisa menenangkan diri.


"Ca, itu lemonnya enggak usah dimakan," Samuel mengingatkan, tetapi sudah terlambat.


"Enggak apa-apa. Mubazir dibuang. Pamali, nanti bisa jauh rejeki. Apalagi harga lemon lagi mahal sekarang," kilah Marisa sembari mengeluarkan empat butir biji lemon dari mulutnya.


"Coba ceritakan padaku setiap detailnya. Aku ingin tahu. Entah apa-apalah yang kamu bilang di telepon kemarin. Enggak jelas bicaramu, tambah kamu meraung-raung kayak kucing mau beranak."


"Aku ... aku ... aku tak kuat lagi, Sam." Marisa kembali terisak.


Akhirnya Marisa menceritakan semua yang telah terjadi, termasuk apa yang Arjun katakan padanya.


Usai bercerita, Marisa merasa sedikit lega. Mengusap matanya dengan tisu dan mengerjabkan matanya. "Ah, aku merasa bebanku sedikit ringan setelah mengungkapkan semuanya padamu," ungkap Marisa.


Di sisi lain, lawan bicaranya mengatup rapat rahangnya. Warna merah bersemu di wajah Samuel. Tangannya terkepal di pangkuan, berjuang meredam amarah dalam dada. Kemarahan yang hampir membakar habis dirinya sendiri sebab tertahan di dalam. Namun, akal sehat dengan segera kembali di dirinya.


Samuel menarik napas dalam-dalam.


"Aku ingin sekali menghajar pria itu dan merobek mulut jahatnya. Ah, seandainya saja dia orang lain. Tentu aku tak akan ragu melakukannya," umpat Samuel.


"Nasibku, Sam. Aku gemuk dan kumal. Seperti seekor **** yang bermain di kubangan lumpur. Sementara perempuan bohay itu, laksana kucing manis rumahan yang berbulu lebat dan indah. Kami tak sebanding. Bang Arjun tentu lebih suka memeluk kucing itu ketimbang hewan yang menjijikan," kata Marisa dengan senyum getir.


Samuel menatap wanita yang telah direnggut kepercayaan dirinya itu. 'Kamu berharga, Marisa. Kamu sangat cantik, suamimu saja yang dibutakan nafsu hingga tak bisa melihat berlian yang terselubung di dalam batu bara.' Namun, suaranya tertahan di kerongkongan.


"Apakah kamu masih mencintai Arjun?" tanya Samuel hati-hati.


"Bang Arjun pasti akan menceraikanku, Sam. Aku tahu itu."


"Terserah dia mau menceraikanmu atau tidak, yang penting saat ini isi hatimu. Masihkah kamu mencintai pria itu?"

__ADS_1


Marisa menghela napas berat. Pertanyaan itu hanya di jawab dengan air mata yang jatuh di pipi.


Samuel mengerti, ya, cinta itu masih ada di sana. 'Betapa beruntungnya ******** itu,' rutuk Samuel dalam hati.


Jauh di lubuk hati Marisa, ia tetap ingin bersama Arjun selama hayat di kandung badan. Arjun yang baik, yang manis, dan romantis.


"Perjuangkanlah cintamu atau kelak kamu akan sangat menyesal kehilangannya. Tunjukkan kamu bisa bangkit, kamu cantik luar dan dalam. Aku akan mendukungmu," ucap Samuel. Dukungan yang artinya harakiri cintanya.


"Caranya?" tanya Marisa heran.


"Kamu harus langsing seperti dulu."


"Aku tak ingin di hargai hanya jika saat aku kurus, Sam."


"Dengar, kelak kamu akan memahaminya, tapi sekarang ikuti saja nasihatku. Kita akan buat Arjun menyesali perkataannya."


"Oh tidak ... aku telah berusaha kurus selama ini, tapi selalu gagal. Bila turun sedikit maka tak lama kemudian malah naik dua kali lipat," rengek Marisa sedikit manja.


"Aku akan memastikan kamu berhasil kali ini, Ica," tukas Samuel yakin.


"Bagaimana kamu seyakin itu? Aku sendiri tak lagi yakin dengan diriku."


"Hei! Jangan meremehkan diri sendiri, Bu."


"Ah, kamu membuat seolah tiada yang mustahil, Muelita. Baiklah, baiklah. Berarti ini peperangan antara aku dan kedua orang itu. Arjun dan wanita itu."


Samuel mengangguk pelan. 'Kali ini aku sungguh terganggu dipanggil Muelita', sungutnya dalam hati.


"Begitulah. Upik Abu akan berubah jadi Cinderella, dan aku yang jadi ibu perinya," canda Samuel.


"Sekarang pulanglah. Kasihan anak-anakmu pasti sebentar lagi pulang sekolah," lanjut Samuel.


"Lalu bagaimana soal badan kurus itu?"


"Akan kukabari kamu nanti. Tunggu saja."


"Baiklah, sampai jumpa. Terima kasih buat hari ini," pamit Marisa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2