Help! Aku Ingin Kurus

Help! Aku Ingin Kurus
Part 24. Mobil Untuk Marisa


__ADS_3

Pagi-pagi benar saat ayam masih terlelap di kandang, kesibukan di kediaman Marisa sudah dimulai. Meskipun kini ada Mbak Yuni yang membantu di rumah, Marisa tetap menyempatkan waktunya untuk mengurus rumah dan anak-anak sebelum berangkat kerja.


Bersama Mbak Yuni, ia saling berbagi tugas. Pagi ini Marisa memasak sarapan nasi uduk kesukaan keluarganya, juga menyiapkan bekal sekolah anak-anak.


Pagi itu anak-anak menanyakan ayahnya saat duduk di meja makan. "Papito kok sekarang jarang di rumah, Mi?" tanya Arjun sedih.


Marisa yang tengah memasukkan kotak bekal ke tas sekolah Caca menghentikan kegiatannya dan memandang ketiga anaknya yang menanti jawaban darinya. "Papito sibuk kerja, Sayang. Nanti pasti pulang dan kumpul sama-sama dengan kita lagi," jawab Marisa mencoba memberi jawaban yang baik walau dalam hatinya sendiri ada keraguan akan ucapannya sendiri.


"Papito tak sayang kita lagi!" Bianca merengut.


"Papito enggak pernah ajak Caca main lagi. Mamita juga selalu sibuk. Jarang di rumah," timpal Caca.


"Nanti begitu pekerjaan Mamita selesai, kita pergi main bareng ya ke kolam renang?" janji Marisa.


"Benar, Mi?" tanya Arjun.


"Benar. Udah, sekarang cepetan makannya biar berangkat sekolah," jawab Marisa.


Ketiga anak itu pun dengan semangat menghabiskan sarapan mereka mendengar janji ibunya.


"Bu, ada tamu di luar," Mbak Yuni datang memberitahu Marisa.


"Sepagi ini? Siapa?" tanya Marisa heran seraya beranjak menuju ruang tamu. Ternyata Samuel yang datang.


"Selamat pagi, Ca," sapa Samuel.


"Wao! Kejutan kamu datang pagi-pagi," balas Marisa.


"Bagaimana kakimu? Sepertinya sudah sehat," kata Samuel memerhatikan cara berjalan Marisa yang sudah lancar.


"Oh! Udah, Sam," jawab Marisa.


"Good-lah. Aku mampir biar sekalian ke kantor bareng kamu."


"Tapi aku harus antar anak-anak ke sekolah dulu, Sam."

__ADS_1


Samuel mengernyitkan dahinya? "Papa mereka kemana?"


"Enggak di rumah," jawab Marisa mencoba menekan rasa sedih agar tidak muncuk ke permukaan.


"Kalau begitu kita antar saja mereka sekalian, Ca."


"Oke. Kalau begitu tunggu sebentar ya? Mereka masih sarapan. Kamu udah sarapan? Kalau belum ayo gabung aja, Sam," ajak Marisa


"Aku udah sarapan kok tadi, Ca. Kamu lanjut aja."


"Aku tinggal dulu, ya," pamit Marisa.


Ketiga anak Marisa girang sekali diantar ke sekolah naik mobil Samuel yang besar dan bagus.


"Om Sammy, entar pulang sekolah kita dijemput juga enggak?" tanya Angga.


"Angga. Jangan begitu! Nanti pulang Mbak Yuni yang jemput. Om Sammy banyak kerjaan," tegur Marisa.


Samuel memerhatikan wajah Angga yang cemberut saat ditegur Marisa. "Kok sedih, Angga?" tanya Samuel.


"Enggak apa-apa, Om," jawab Angga.


"Nanti aku suru sopir jemput mobil yang di rumah untuk kamu pakai, Ca. Kebetulan salah satu mobilku ada yang jarang dipakai, jadi bisa kamu gunakan untuk antar jemput anak sekolah sekalian transportasi kamu ke kantor," kata Samuel.


"Aduh, aku enggak enak lho, Sam."


"Enggak usah sungkan. Ini demi efisiensi waktu juga mendukung pekerjaanmu di kantor," balas Samuel. Setelah melihat kejadian pagi itu, Samuel segera memahami kesulitan yang dihadapi Marisa.


"Thank you banget, Sam. Kamu emang selalu paling mengerti keadaanku," ucap Marisa terharu.


Sepanjang hari Marisa bekerja sangat keras. Ia merasa sangat berhutang budi pada Samuel dan ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar bisa bekerja.


"Maaf ya, Ca, hari ini kamu pulangnya lama," kata Samuel melirik ke arah arlojinya yang menunjukkan pukul 21.15 saat mereka hendak keluar kantor. "Kamu bekerja sangat baik hari ini. Besok kamu enggak perlu masuk kantor. Aku kasi kamu libur biar kamu juga bisa istirahat. Kalau kamu sampai kecapekan dan jatuh sakit, kasihan anak-anakmu enggak ada yang rawat nanti, dan ini kunci mobilmu," sambung Samuel sambil menyerahkan kunci mobil pada Marisa.


"Rasanya sekadar ucapan terima kasih tidak cukup buat ungkapin perasaanku atas kebaikanmu."

__ADS_1


"Eleh ... lebay deh, Ca. By the way kamu mau aku temani sampai rumah tidak? Berani pulang sendiri?"


"Enggak perlu, Sam. Aku bisa sendiri kok. Bukan pertama kali ini aku pulang malam. Jadi emak-emak itu harus setrong," gurau Marisa. "Lagi pula rumah kita beda arah. Kasihan kamu entar pulangnya makin malam. Kamu juga kan butuh istirahat juga."


"Baiklah. Hati-hati di jalan," pesan Samuel.


***


Hari libur yang diberikan Samuel dimanfaatkan Marisa untuk mengajak anak-anaknya pergi berenang seperti yang pernah dijanjikannya. Mbak Yuni juga turut serta bersama mereka.


"Om, Sammy baik banget ya, Mi. Mau kasi pinjam kita mobilnya buat dipakai. Mamita jadi enggak repot lagi mau kemana-mana. Mau belanja atau ajak kita jalan-jalan juga jadu gampang," kata Bianca.


"Iya, Sayang," balas Marisa.


"Tapi, Mi. Papito kok jarang pulang ke rumah? Bianca kangen ...," ucap Bianca terisak.


"Caca juga kangen Papito," ungkap Caca.


"Angga juga," timpal Angga yang tiba-tiba saja ikut nimbrung obrolan Marisa dan Bianca.


Mendengar itu, hati Marisa terasa hancur berkeping-keping. Ia sudah mencoba menghubungi Arjun agar pulang melihat anak-anak walah hanya sebentar saja, tetapi permintaannya tak pernah digubris.


Arjun telah jauh berubah. Tidak seperti yang dikenalnya dulu. Ia dulu penyayang, terlebih pada ketiga anak-anaknya. Selalu menyempatkan bermain dengan anak-anak. Tiap kali pulang kerja selalu saja ada jajanan yang dibawanya ke rumah. Paling risau bila melihat anaknya sakit dan malas makan.


Kini bahkan menanyakan kabar mereka pun tidak. Arjun seakan lupa dengan keluarganya. Marisa tak tahu sampai kapan ia akan menyembunyikan persoalan antara dirinyabdan Arjun dari anak-anak. Memang benar, anak-anak yang tidak tahu apa-apa selalu jadi korban dalam perceraian orang tua.


'Kemana aku harus mencari Arjun,' batin Marisa tak tahan melihat anak-anaknya terus dirundung duka.


"Nanti kita ke rumah Kakek dan Opung ya? Kita tunggu Papito di sana," ucap Marisa pada ketiga anaknya.


Ketiga anaknya menyambut gembira usul Marisa. Marisa pun mengirim pesan pada Arjun.


[Anak-anak mau ketemu kamu. Aku akan antar mereka ke rumah orang tuamu satu jam lagi. Kalau kamu enggak datang menemui anak-anak, lihat saja apa yang akan terjadi. Aku akan bongkar kebusukanmu di depan orang tuamu.]


[Aku enggak bisa hari ini. Besok saja Marisa, aku akan pulang ke rumah] balas Arjun.

__ADS_1


[Aku mau hari ini. Terserah kalau kamu enggak bisa itu urusanmu, tapi yang jelas jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu pada orang tuamu]


Kali ini kemarahan mencapai puncak. Habis sudah kesabarannya. Ia tak ingin ada tawar menawar lagi. Sudah terlalu lama ia menahan semuanya seorang diri.


__ADS_2