
Hari ini terasa sempurna bagi Marisa kala melihat jarum timbangan bergeser ke kiri walau cuma segaris. Dari 78 kg ke 77 kg. Tak sia-sia ia melewati jam makan malam selama empat hari berturut-turut. "Yes! Kalau begini terus, tak lama lagi kecantikanku yang hakiki segera bangkit dari kuburnya seiring dengan lemak yang terhempas," gumam Marisa.
Baru saja turun dari timbangan, denting suara sendok memukul mangkuk terdengar nyaring dari luar rumah disusul teriakan yang tak asing di telinga.
"Bakso ..., bakso ...!"
'Aduh Gusti .... Cobaan apa lagi ini,' batin Marisa.
Tiga bocah masuk menyerbu dapur dan mengambil mangkuk plastik dari lemari piring.
"Eh, mau apa?" todong Marisa pada ketiga anaknya.
"Beli bakso, Mi," sahut si bungsu Caca.
"Hari ini enggak boleh jajan bakso," jawab Marisa dingin.
"Kenapa?" tanya Bianca anak nomor dua.
"Pokoknya enggak boleh. Jangan banyak tanya. Simpan mangkuk itu," perintah ibu mereka.
"Halah, pasti gara-gara Mamita diet. Kita anak-anak ikut sengsara," ujar Angga si sulung.
Wajah Marisa berubah cemberut di hadapan ketiga bocah yang juga membalas menatap tak senang padanya.
"Apa betul, Mi? Sungguh kejam. Kata bu guru di sekolah, kami anak-anak harus banyak makan karena sedang dalam masa pertumbuhan," terang Bianca.
"Ya, betul betul betul, dan bisa stunting juga kalau kurang makan," timpal Angga menggerakkan telunjuknya.
"Mami, adik mau makan bakso," ucap Caca dengan wajah memelas.
"Ya sudah. Pergi sana. Beli seperti yang biasa saja, nanti Mamita bayar," kata Marisa. Ia sungguh sedang tak ingin berdebat dengan anak-anaknya.
"Hore!" teriak ketiga bocah itu penuh kemenangan.
***
"Ini Bang, duitnya," ucap Marisa menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan kepada abang tukang bakso.
"Mbak Marisa tak beli bakso, ke? Dikau kan pelanggan setia Bang Nando," tanya Kak Ros, wanita berdarah Melayu itu dari balik gerobak.
"Masih kenyang, Kak Ros," kilah Marisa. Sungguh apes, tiga detik kemudian terdengar bunyi gemuruh yang cukup keras dari perut Marisa. Membuat semua orang yang sedang mengantri beli bakso tertawa riuh. Sementara si abang penjual bakso menahan senyum dengan susah payah.
__ADS_1
'Hah, sudahlah. Awal dari bencana pasti ini. Duh perutku kok malu-maluin, sih,' keluh Marisa dalam hati.
"Cacing peliharaan Mbak Marisa udah demo minta bakso, tuh. Hahaha ... ," canda Erika.
"Ayo Bang Fenando Jose Altamirano del Castillo, buatkan satu mangkuk untuk Mba Marimar, eh Marisa. Hihihi .... Banyakkan baksonya, Bang. Agaknya aroma bakso ini menggoda penghuni perut Mba Marisa," timpal Bertha si penggemar telenovela.
"Eh, enggak usah," kata Marisa pada Bang Nando yang sibuk menyiapkan pesanan bakso.
"Ini kembaliannya, Mbak," ujar Bang Nando menyodorkan selembar uang lima ribu pada Marisa.
"Kalau lapar jangan ditahan, Mbak Marisa. Nanti sakit asam lambung," nasihat Bu Linda berlagak bijak.
"Saya memang sedang diet, Bu Linda," jawab Marisa.
"Oh, diet tooo .... Aduh sengsara banget kelihatannya, harus menahan lapar. Kayak aku, dong. Makan apa saja tetap langsing, hohoho ...," sahut Erika sambil menaruh satu tangan di depan mulutnya.
"Wajarlah, Mbak Ika kan belum punya anak makanya bodynya kayak anak gadis. Saya membesar gini sejak hamil dan melahirkan. Sebelumnya juga langsing. Sebelas dua belas deh sama Olla Ramlan," balas Marisa.
"Jangan salah, Mbak Marisa. Saya udah punya anak enam enggak gemuk, tuh," sela Bu Linda.
"Beda, dong. Situ kan lahiran normal. Saya bedah cesar. Kalau melahirkan normal dua hari juga udah bisa wara wiri kemana-mana. Lha yang bedah cesar ini, aduh, dua hari belajar duduk dan berdiri saja hampir modar. Perut juga jadi lambat mengecil," bantah Marisa.
"Duh, Bertha kalau omong suka benar, deh. Nah, kalau bisa jangan cuma diet, tapi harus dibarengin dengan olah raga. Biar bagian yang menggelambir kayak lengan Mbak Marisa ini makin cepat kecil dan kencang. Coba lihat, betis saya saja masih lebih kecil dibandingkan dengan lengan Mbak Marisa," ucap Erika memamerkan betisnya yang kecil dan putih mulus mirip betisnya Lisa, personil Blackpink. "Sekilas orang lihat lengan segede pepaya begitu dikira Mbak Marisa tukang angkut," lanjut Erika.
"Hey! Usahlah cakap macam tu, Erika. Body shaming itu. Tak kiralah body kurus ataulah berisi sikit, yang penting sihat lagi happy," tegur Kak Ros.
"Kita bukan sedang menghina, Kak Ros. Jangan tersinggung ya, Mbak Marisa. Saya sekadar memberi saran. Maksud saya ini baik, tapi bila Mbak Marisa merasa ini masuk perbuatan tak menyenangkan dan berniat melapor ke polisi, itu hak Mbak Marisa," sanggah Erika.
"Saya mah santai saja. Orang gemuk itu selalu punya tampang bahagia, yah, karena hatinya juga lapang. Enggak gampang sakit hati," ucap Marisa.
"Salut saya sama Mbak Marisa. Jarang lho ada orang gemuk mau terima kenyataan akan kondisi fisiknya, kebanyakan mereka menyangkal keada-," sahut Bu Linda.
"Oya, saya masuk dulu, ya," potong Marisa cepat dan dengan segera mempercepat langkah kakinya menuju rumah. Baginya percakapan tidak sehat seperti ini kalau diteruskan bisa berujung bunuh membunuh. Bukankah ada pepatah yang berkata kalau lidah itu lebih tajam dari pedang. Jadi lebih baik mengakhirinya dengan menyingkir dari orang-orang itu.
"Tetangga Dajal," geram Marisa sambil menghempaskan tubuh di sofa.
Pikirannya menerawang ke masa silam. Sewaktu gadis ia biasa sit up 150 kali dalam sehari. Alhasil perut buncit tak betah singgah. Ingin rasanya melanjutkan rutinitas itu, tetapi kondisi otot perutnya telah berubah sejak melahirkan. Bahkan setelah lima tahun lebih berlalu dari bedah cesar terakhir, melakukan gerakan sit up mampu menimbulkan nyeri luar biasa pada bagian perut. Membuatnya merasa ngeri untuk mengulanginya kembali. Anehnya beberapa orang dengan riwayat melahirkan dengan cara bedah cesar tetap bisa berolah raga ria tanpa keluhan apa pun. Kadang Marisa berpikir apa ada yang salah dengan dirinya.
Berbagai bentuk olahraga lain sudah dicoba Marisa, tetapi lagi-lagi menimbulkan rasa sakit di bagian perut bawahnya. Hanya jalan kaki dan renang saja yang cukup nyaman untuk dilakukan. Itupun dengan durasi waktu yang tidak boleh lama. Sayang, ia tidak terlalu suka pada kedua kegiatan itu.
"Fiuh! Intinya, sih, aku memang malas olah raga," pengakuan Marisa pada diri sendiri.
__ADS_1
Tiga gelas air putih habis diteguk Marisa demi menahan lapar. Namun, kenyangnya hanya bertahan sebentar . 'Kalau begini lama-lama kembung air perutku,' pikir Marisa.
Menjelang malam Arjun pulang dari kerja membawa dua bungkus mi ayam.
"Dik, kamu enggak mau mi ayamnya?" tanya Arjun.
"Enggak," tolak Marisa padahal perutnya meronta-ronta minta diisi.
"Sayang sebungkus lagi kalau dibuang. Abang enggak kuat makan dua bungkus."
"Apa! Dibuang? Pantang, Bang, buang-buang makanan. Jauh rejeki nanti. Ya sudah, aku makan saja."
"Bukannya kamu sedang diet, tak mau makan malam?" tanya Arju heran.
"Yaelah sudah tahu aku diet kamu belikan pula," protes Marisa.
"Aku niatnya beli untuk anak-anak. Mana aku tahu kalau mereka udah makan bakso tadi," tungkas Arjun membela diri.
Tujuh menit kemudian Marisa sudah melahap habis mi ayam miliknya.
"Lama-lama Dik, badanmu mirip badan Mamakku. Cara makan kalian berdua pun sama."
Mata Marisa melotot menatap pria berdarah campuran jawa batak itu. "Maksud Abang?"
"Iya kalian sama. Gemuk forever," jawab Arjun sambil terkekeh.
"Enggak lucu, Bang!" hardik Marisa.
"Sudahlah, aku bercanda," kata Arjun.
"Seharian ini aku habis di-bully gara-gara tubuh ini. Itu sama sekali enggak nyaman. Hatiku seperti disayat-sayat rasanya. Suamiku ikut-ikutan pula, tuding Marisa kesal. Ingin rasanya dimuntahkannya kembali mi ayam yang sudah masuk tadi.
“Drama lagi … drama lagi…,” ujar Arjun.
Marisa hanya bisa membuang napas panjang. ‘Percuma membela diri. Bagaimanapun orang gendut selalu salah,’ ucapnya dalam hati.
.
.
.
__ADS_1