
Minggu kedua bulan Ramadhan, Nyonya Malika mengundang tiga panti asuhan untuk melakukan buka puasa bersama di mansion miliknya.
Rasa kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai apapun di dunia ketika melakukan kebaikan kepada orang lain yaitu salah satunya berbuka puasa bersama dengan para anak yatim-piatu tersebut.
Merasa memiliki banyak teman sebayanya, Daffa dan Daffin bersuka ria bersama anak-anak yang senasib dengan diri mereka yang sudah tidak memiliki kedua orangtua walaupun sang ibu kandung saat ini mendekam di penjara.
"Apakah semuanya sudah siap untuk hidangan pembuka dan penutupnya?" Tanya Nyonya Malika yang tidak ingin ada kekurangan saat menyiapkan menu buka puasa untuk para tamu istimewa mereka itu.
"Sudah nyonya besar!" Ucap pelayan Aira.
"Ok, terimakasih bibi."
Meja di atur ala restoran yang terdiri dari lima atau enam orang untuk enam kursi yang akan diduduki oleh para tamu tersebut.
Acara buka puasa yang digelar di depan halaman mansion yang bernuansa putih dengan para tamu dan tuan rumah juga mengenakan warna putih yang senada.
Rania tampil anggun dengan cadar yang menutupi wajah cantiknya hanya menyisakan mata jeli miliknya yang begitu indah hingga siapapun yang menatap mata itu akan langsung jatuh hati.
Haikal yang melihat keanggunan Rania dengan balutan busana syar'i nya tidak melepaskan pandangannya.
"Haikal, lagi puasa sayang, tundukkan pandanganmu!" Titah Nyonya Malika pada putranya yang tersihir dengan keanggunan Rania.
"Eh mami!" Haikal begitu salah tingkah karena keamprok oleh ibunya yang menegurnya.
"Mami, apakah aku boleh memiliki Citra?" Tanya Haikal yang sudah tidak sabar mempersuntingkan Rania.
"Dia hanya seorang janda Haikal, kamu bisa mendapatkan lebih dari dirinya." Ucap Nyonya Malika yang kurang setuju jika putranya menikahi Rania.
"Dia masih gadis mami dan namanya bukan Citra, tapi Rania. Jika mami tahu siapa gadis itu yang saat ini tinggal dengan kita, mami akan tercengang karena Citra atau Rania adalah putri dari seseorang yang mami sangat kenal kedua orangtuanya." Ucap Haikal lalu meninggalkan ibunya yang termangu mendengar ucapan putranya tentang Citra.
__ADS_1
"Apa yang sedang anak itu katakan?" Gumam Nyonya Malika lirih.
"Mami, ayo!" Sebentar lagi akan ada tauziah yang di sampaikan oleh ustadz Abu Hanifah.
Untuk mengisi waktu menjelang buka puasa. Anak-anak yatim-piatu itu di minta untuk membaca Alquran bersama. Dua ustadz yang di undang di acara tersebut di minta untuk mengisi tauziah hingga menjelang berbuka puasa.
Isi ceramah pun tidak jauh berbeda dengan momen yang saat ini sedang mereka hadapi yaitu ramadhan. Tapi tema ceramah yang akan disampaikan oleh ustadz Abu Hanifah adalah pertemuan malam lailatul qodar yang akan dinikmati oleh hamba-hamba pilihan yang bisa mendapatkannya.
Ustadz Abu Hanifah siap menyampaikan tauziahnya.
"Assalamualaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.
Puji beserta syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan beribu-ribu nikmat.
Tidak lupa solawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, beserta sahabat.
Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya, dan mendapat petunjuk hingga hari kiamat nanti.
Pada sore hari ini, dalam menunggu menjelang buka puasa, sebaiknya kita mengisi dengan suatu kajian yang berhubungan dengan ramadhan, salah satunya adalah malam Lailatul Qadar.
Semua umat muslim di dunia ini menunggu datangnya sepuluh hari terakhir Ramadhan yang akan ditandai oleh datang bulan yang penuh kemuliaan ini. Mengapa malam Lailatul Qadar ini di anggap mulia tentunya tidak terlepas dengan banyak keistimewaan di dalamnya.
Pasalnya, malam seribu bulan ini menjadi tanda dari peristiwa bersejarah yang terjadi dalam agama Islam. Malam ini menjadi waktu di mana Al Quran diturunkan sebagai petunjuk manusia untuk membedakan yang hak dan yang batil.
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam lailatul qadar pun menjadi malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.
Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan pada sepuluh hari terakhirnya, yaitu malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan, atau di akhir malam Ramadhan.
Untuk itu perbanyaklah ibadah di sepuluh malam terakhir itu, karena dengan cara kita memperbanyak ibadah insya Allah, kita akan mendapatkan malam Lailatul Qadar.
__ADS_1
Sampai di sini, ada yang mau bertanya?" Tanya ustadz Abu Hanifah.
"Bagaimana kita tahu kalau kita bisa bertemu dengan malam Lailatul Qadar, apa ciri-cirinya ustadz?" Tanya salah seorang dari tamu undangan itu.
"Wajah bersinar, tumaninah(tenang), Sifat rendah hati, orang yang salat mendapat kenikmatan, selalu merasa kurang dalam beribadah, selalu berusaha menjadi yang terbaik.
Dan hal itu sangat terlihat bagaimana kita mendapatkan Lailatul Qadar itu yaitu ketika berakhirnya bulan Ramadhan, ibadah kita makin istiqamah ditunjang dengan akhlak kita yang bisa berubah lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya." Ujar ustadz Abu Hanifa.
Usai memberikan tausiyahnya, ustadz Abu Hanifah langsung membacakan doa buka puasa karena sudah terdengar kumandang adzan magrib.
Semuanya meneguk minuman mereka dan menikmati berbagai kue yang di masak langsung oleh chef dan beberapa pelayan untuk mensukseskan acara buka puasa bersama malam itu.
Mereka menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah di halaman mansion tersebut karena sudah digelar karpet yang sengaja di siapkan oleh para pelayan untuk para tamu Allah tersebut.
Kesibukan kembali terjadi saat ustadz Abu Hanifah berbincang dengan Nyonya Malika dan putranya Haikal.
Tapi, hal yang tidak di sangka oleh ketiganya ketika seorang ustadz muda yang merupakan putra ustadz Abu Hanifah yang bernama Raihan mendekati Rania.
"Maaf ukhti, apakah aku boleh berkenalan denganmu?" Tanya Raihan santun.
"Citra!" Ujar Citra memperkenalkan diri kepada putra ustadz Abu Hanifah.
"Apakah ukhti saudaranya Tuan Haikal?"
"Saya adalah tunangannya nona Citra." Ujar Haikal yang sudah berada di balik punggung Raihan.
Rania yang bingung dengan pengakuan Haikal atas dirinya sebagai tunangannya, hanya bisa mengangguk dengan gugup ketika Raihan menatap wajah Rania.
"Maaf, anda bukan muhrimnya, jadi saya rasa tempat anda bukan di sini ustadz Raihan. Dan saya sangat keberatan jika anda berusaha mendekati tunangan saya." Ujar Haikal yang kelihatan sangat cemburu atas kedekatan Rania dan Raihan.
__ADS_1
"Mohon maaf Tuan Haikal, saya tidak tahu jika nona Citra adalah tunangan anda." Ujar Raihan santun.