HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
7. PINDAH


__ADS_3

Ketika urusannya si Denpasar Bali sudah selesai, Rania dan adik kembarnya kembali ke Jakarta, tentunya bersama dengan Tuan Haikal yang tidak ingin terpisah dengan Rania.


Kehadiran gadis itu telah merubah hidupnya hampir seratus delapan puluh derajat. Bagaimana tidak, kesehariannya yang hanya mabuk-mabukan berupaya melupakan kesedihannya karena kehilangan sang istri tercinta di tempat bulan madu mereka di Thailand Bangkok.


Tidak satu wanita pun yang bisa mengubah pendiriannya setelah dua tahun lebih kepergian istrinya.


Tuan Haikal yang sudah mulai menapaki kembali kehidupannya setelah bertemu langsung dengan Rania, ditambah lagi sekilas wajah cantik Rania yang tidak sengaja ia lihat beberapa bulan yang lalu, hampir setiap saat terngiang-ngiang di dalam benaknya.


"Nona Citra, apakah anda tidak berniat untuk berumah tangga lagi usai bercerai dengan ayah dari si kembar?" Haikal mulai memancing Rania dengan pertanyaan yang bersifat pribadi.


Rania tercengang mendengar pertanyaan Haikal tentang menikah lagi.


"Saya? Apakah Tuan Haikal bertanya pada saya?" Tanya Rania.


"Iya, bukankah anda sudah berumahtangga sebelumnya dan memiliki putra kembar Daffin dan Daffa?" Haikal mengulangi lagi pertanyaannya.


Rania berusaha membenahi kembali posisi duduknya sambil memikirkan kata-kata apa yang harus ia jawab saat ini.


"Apakah kamu kira aku percaya begitu saja kalau kamu sudah menikah?" Dasar gadis nakal!" Bukankah Daffa dan Daffin itu adalah adik kembarmu" Gumam Haikal membatin.


"Untuk saat ini aku belum memikirkan untuk berkeluarga lagi Tuan Haikal karena si kembar masih butuh perhatianku." Ucap Rania seraya mengambil minumannya.


"Saya juga bisa memberikan kasih sayang saya untuk si kembar nona Citra." Ucap Haikal terkesan menggoda.


"Uhuk... uhuk!" Rania tersedak sambil memukul-mukul pelan-pelan dadanya.


"Minumnya pelan-pelan nona Citra." Haikal menarik sudut bibirnya karena melihat Rania begitu salah tingkah pada dirinya.

__ADS_1


"Apakah saat ini dia sedang menggoda aku? atau sedang melamarku?" Rania nampak bingung menebak kata-kata yang terucap dari bibir Haikal.


"Apakah kamu keberatan jika aku menjadi ayah dari si kembar?" Tanya Haikal lagi.


"Dasar bodoh! aku ini masih perawan tulen, mana mungkin aku menjawab diriku ini janda." Gumam Rania membatin.


"Nona Citra!" Apakah kamu masih mendengarkan aku?"


"Aku belum siap untuk menjawabnya, sebaiknya Tuan tidak terlalu memaksakan diri untuk memintaku menjadi istrimu, karena janda sepertiku belum tentu diterima oleh keluargamu Tuan Haikal." Rania masih berdalih dengan alasan yang cukup masuk akal agar pria tampan yang ada dihadapan ini berhenti memikirkan dirinya.


"Aku tidak peduli dengan pendapat mereka, lagi pula aku juga bukan seorang perjaka, jadi status kita saat ini sederajat bukan?" Tuan Haikal makin menyudutkan Rania.


"Yang sudah kamu lagi, aku nggak, ihh, amit-amit!" pacaran aja belum, menikah apa lagi, ditambah lagi status aku dianggap janda oleh lelaki kurangajar ini." Menyebalkan, Rania ingin mengakhiri kata-katanya dengan berpura-pura tidur.


"Apakah kamu lelah, nona Citra?"


"Kebiasaan nih cewek, kalau ngomong asal jadi, nggak mikir orang sakit hati atau nggak." Haikal ngedumel sendiri lalu ikut memejamkan matanya, menunggu pesawat mereka tiba kembali di Jakarta.


🌷🌷🌷🌷🌷


"Citra, terimakasih sudah melakukan yang terbaik saat acara pertemuan kemarin di Bali, dari laporan yang saya terima dari beberapa negara yang ingin menggunakan hotel kita, rupanya banyak yang mengagumi presentasimu." Ucap Nyonya Malika.


"Terimakasih atas pujiannya nyonya, tapi saya rasa apa yang saya sampaikan itu karena didukung oleh fasilitas dan pelayanan hotel yang merupakan landasan utama dari mulai jual untuk kita bisa promosikan ke berbagai negara di dunia, bahwa hotel kita kayak untuk di kunjungi para manca negara, apa lagi pertemuan orang-orang penting dari belahan negara manapun yang akan menginap di hotel kita nanti." Ucap Rania dengan sangat lugas.


"Ia Citra, cara penyampaian kamu yang menguasai tujuh bahasa membuat waktunya lebih efektif karena saya tidak perlu repot-repot menyediakan penerjemah dalam acara pertemuan tersebut." Ucap Nyonya malika.


"Itu sudah tugas saya Nyonya, karena dengan meyakinkan para member itu agar memilih hotel kita tidaklah muda, butuh wawasan yang cukup dalam mengetahui seluk beluk hotel kita, agar kita bisa menawarkan ke dunia luar yang ingin mengenal Indonesia lebih dalam. Salah satu faktor utama untuk mendukung itu semua adalah tempat menginap yang akan memberikan mereka kenyamanan dengan fasilitas mewah tentunya dan itu semua yang dimiliki oleh hotel kita nyonya." Ucap Rania.

__ADS_1


"Itulah sebabnya, kamu datang disaat yang tepat dalam hidupku Rania dan satu hal yang membuat aku kagum padamu, kamu bisa merubah pola hidup putraku yang bisa move on dari kesedihannya setelah ditinggal oleh istrinya karena kecelakaan." Ucap Nyonya malika.


"Maaf Nyonya, apakah saya boleh menanyakan sesuatu kepada anda?" Tanya Rania.


"Silahkan Citra!"


"Apa sebenarnya yang terjadi pada istri Tuan Haikal?"


"Tiga tahun lalu mereka memilih bulan madu ke Thailand Bangkok. Istrinya saat itu ingin melakukan diving di kedalaman air laut yang saat itu sedang mengalami perputaran arus. Di saat itu Haikal tidak menemani istrinya karena dia masih tidur.


Dari kejadian itu, Haikal selalu menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik." Nyonya Malika menceritakan kejadian tragis yang menimpa menantunya Ira.


"Inalillahi wa innailaihi rojiuun!" Sebab itukah tuan Haikal lebih senang tenggelam dengan minuman alkohol?"


"Iya Citra, tapi sejak bertemu denganmu, Haikal sudah menyingkirkan semua jenis minuman yang ada di apartemennya." Ucap Nyonya Malika.


"Nona Citra, kalau kamu tidak keberatan, aku ingin kamu tinggal di mansion bersama aku karena aku tidak ingin menjalani ibadah puasa sendirian, lagi pula kamu sangat hebat dalam urusan ilmu agama, jadi aku berharap kamu bisa membimbing aku di sisa usiaku untuk bekal di akhiratku nanti." Pinta Nyonya malika.


"Tapi nyonya saya....?"


"Tolong jangan menolak tawaranku Citra. Sejak suamiku meninggal dan Haikal pindah ke apartemen setelah menikah, aku sendirian di rumah sebesar itu dan aku sangat merasakan kesepian. Jika kamu dan si kembar bisa berkumpul bersamaku, aku akan merasa sangat senang sekali dapat beribadah puasa dengan tenang. Apakah kamu bersedia Citra?" Tanya Nyonya Malika dengan penuh harap.


"Baiklah Nyonya Malika, jika kehadiran saya dan si kembar tidak menyusahkan anda nyonya." Ucap Rania.


"Harusnya aku sudah punya cucu, jika Haikal dan Ira bisa bertahan sampai saat ini, tapi sayang takdir telah memisahkan mereka hingga putraku hampir depresi saat itu. Sekarang adanya si kembar akan mengobati hatiku untuk bisa memiliki cucu." Ucap Nyonya Malika.


"Yang berlalu biar saja berlalu, bagaimanapun hidup hanya ada cerita tentang ditinggalkan dan meninggalkan." Ucap Rania.

__ADS_1


__ADS_2