HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
27. TAWARAN


__ADS_3

"Mau apa kamu ke mari?" Tanya Rania ketus pada Renata yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan kerja Rania yang begitu mewah.


"Tenang saja maduku!" Aku datang ke sini untuk melakukan negosiasi denganmu."


Renata duduk di sofa yang ada di ruang tersebut tanpa di persilahkan oleh sang pemilik perusahaan.


Gayanya yang hampir mendekati seorang perempuan malam, membuat Rania makin murka. Ibu hamil ini bangkit dari kursi kebesarannya dan ikut duduk meladeni istri pertama suaminya itu.


"Katakan apa yang kamu inginkan sehingga jauh-jauh dari Jakarta untuk menemui aku di sini."


Rania menatap tajam wajah Renata yang juga menatapnya saat ini.


"Apakah kamu sangat mencintai Haikal?" Tanya Renata untuk mulai aksi pertamanya.

__ADS_1


"Dengan segenap hatiku." Ujar Rania percaya diri.


"Apakah cintamu padanya bisa ditukar dengan harga yang saat ini kamu miliki Rania?" Renata bangun melihat beberapa kaligrafi yang menghiasi dinding berlapis wallpaper tersebut.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Rania yang sudah merasa jengah dengan kehadiran madunya.


"Bagaimana kalau kita barter. Aku ingin kamu memberikan lima puluh persen saham perusahaan milikmu dan aku bersedia bercerai dari Haikal." Bagaimana tawaran yang bagus bukan." Tawanya terdengar hambar dengan penuh kelicikan.


"Jangan terlalu percaya diri Rania, ku akui kamu memang cantik, tapi lihatlah gaya pakaianmu, apa yang membuat Haikal sangat tertarik padamu hingga ia tidak merasa malu memperistrikan dirimu." Senyum sinis dengan bibir terangkat sambil merotasi mata malas.


" Dengar Renata, mungkin pakaianku begini tidak ada yang menarik dariku untuk dilihat oleh banyak mata lelaki hidung belang di luar sana karena bukan pujian mereka yang aku harapkan, tapi hanya satu laki-laki yang akan mengagumiku karena kehormatanku telah terlindungi dengan pakaian syar'i ini hanya untuknya. Mengapa harus sibuk memikirkan pandangan orang terhadap penampilanku, toh aku sama sekali tidak merasa dirugikan jika aku menjadi gunjingan mereka. Siapa mereka berani menghakimiku, kalau mereka sendiri selalu memamerkan sesuatu pada semua lelaki yang ikut menikmati tubuh hot miliknya oleh pria manapun." Balas Rania tidak kalah menyakitkan Renata.


"Sialan!" Ternyata mulutmu besar juga selebar dengan pakaian kampunganmu ini." Timpal Renata yang ingin mempermalukan Rania.

__ADS_1


"Cih, untuk apa menjaga sopan santun pada orang sepertimu. Kamu bahkan tidak pantas mendapatkan penghormatan dariku karena wanita seperti dirimu hanya sampah masyarakat." Satu tangan Renata hampir mendarat di pipi Rania, namun gadis ini dengan cekatan menghindar dari tangan Renata.


Rania memanggil satpam untuk menggeret Renata keluar dari ruang kerjanya.


"Aku bersumpah, kamu akan membayar semua penghinaanmu hari ini padaku Rania!" Teriak Renata saat dua satpam perusahaan Rania menyeret wanita ular ini keluar dari ruang kerja Rania.


Dada Rania demikian gemuruh setelah berhasil mengusir Renata dari ruang kerjanya. Ia lalu menghubungi suaminya dan menceritakan semua kepada Haikal.


"Mengapa Renata mendatangi kamu di perusahaanmu sayang?" Tanya Haikal cemas pada keadaan Rania yang saat ini sedang hamil.


"Dia ingin menukarmu dengan lima puluh persen perusahaan milikku sayang." Keluh Rania.


"Ternyata selama ini, dia hanya mengincar hartaku bukan mencintaiku. Baguslah aku tahu lebih awal niat busuknya itu, jadi aku harus lebih hati-hati menjaga uangku dari perempuan itu." Ucap Haikal penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2