HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
28. Part 28


__ADS_3

Haikal berangkat ke Bandung untuk menemui istrinya Rania. Mengingat sikap Renata yang selalu menganggu Rania secara verbal, membuat Haikal lebih waspada pada istri pertamanya itu.


"Mas Haikal sudah di berangkat ke Bandung?" Tanya Rania.


"Lebih baik kamu melahirkan anak kita di Bandung sayang, dari pada di Jakarta." Ujar Haikal.


"Rania juga maunya begitu mas, mau melahirkan di Bandung saja. Kalau di Jakarta Renata terus mencari cara untuk menggodaku bahkan selalu menghinaku."


"Aku harap kamu banyak bersabar sayang karena sebentar lagi kita akan mengungkapkan kebenaran kematian palsu Renata."


"Aku tidak apa mas Haikal, yang penting aku mendapatkan dukungan dari mas Haikal." Ucap Rania."


"Baik sayang, sebentar lagi kita bertemu." Ucap Haikal yang sengaja memberi kejutan untuk istrinya, padahal ia sudah berada di pintu kamar Rania.


Para pelayan diminta untuk tutup mulut mereka saat Haikal sudah berada di mansion milik Rania di Bandung.


Pintu kamar di ketuk beberapa kali oleh Haikal. Terdengar jawaban dari dalam kamar Rania.


"Masuk!"


Cek lek...

__ADS_1


Rania masih menatap layar laptopnya dan tidak memperhatikan siapa yang masuk ke kamarnya karena dia mengira kalau itu adalah pelayannya yang selalu mengantar makan malam ke kamarnya.


"Assalamualaikum sayang!" Sapa Haikal sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Rania.


"Mas Haikal!"


Senyum Rania dengan wajah berbinar ceria melihat siapa yang berdiri di sisi tempat tidurnya.


Ia lalu menghamburkan pelukannya ke dalam dada bidang suaminya dengan penuh rasa haru serta kerinduan yang mendalam karena hampir dua Minggu mereka tidak bertemu.


"Apakah kamu tidak merindukanku sayang? sampai tega ninggalin suami begitu lama." Haikal mengecup perut istrinya yang makin membesar itu.


"Bukankah kamu punya istri cadangan?" Mengapa masih mengincarku jika ada yang menemani tidurmu." Seloroh Rania. membuat Haikal seketika cemberut.


Aku bahkan enggan menatap wajah munafiknya itu. Aku lebih baik tidur dengan si kembar dari pada menghampiri kamarnya." Haikal makin keki dengan candaan istrinya yang tidak ia sukai.


"Maaf sayang, aku hanya bercanda ko, mana mungkin aku merelakan kamu disentuh oleh nenek sihir itu." Ujar Rania lalu mengecup bibir suaminya.


"Mas Haikal sudah makan?"


"Aku ingin makan kamu sayang, aku merindukan kamu dan calon baby kita." Bibirnya langsung bertaut pada bibir sensual milik istrinya.

__ADS_1


Karena perubahan tubuh Rania selama masa kehamilan tidak begitu signifikan, membuat tubuh gadis itu tetap kelihatan ideal. Tubuhnya hanya kelihatan lebih padat dan berisi namun tidak sampai membengkak seperti ibu-ibu muda yang hamil anak pertama mereka.


Haikal merasa sangat senang dengan tubuh istrinya yang terlihat makin se*si. Di tambah sikap manja Rania dengan rengekannya yang mampu membangkitkan gairah suaminya.


Keduanya saling mencurahkan kerinduan mereka dengan percintaan panas.


Sementara di Jakarta, Renata sangat marah kepada Haikal yang lebih memilih menemani Rania di Bandung.


"Sialan, aku pikir si gadis kampungan itu pergi ke Bandung, aku bisa tidur dengan suamiku, ternyata Haikal tetap menghampiri dirinya di sana. Apa sih kelebihan Rania sehingga Haikal begitu tergila-gila kepadanya." Renata bermonolog.


Sejak menikah dengan Rania, ia tidak melihat lagi suaminya minum Vodka atau mengajaknya ke Club malam yang biasa mereka lakukan bersama sebelum menikah.


Haikal lebih religius dan lebih berprilaku santun namun tidak pada dirinya.


Setiap kali berhadapan dengan suaminya, Haikal selalu membuang muka dan buru-buru masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


Renata seperti kutu pengganggu bagi Haikal, walaupun gadis ini berpenampilan menarik dan se*si.


Gelas minuman yang di pegangnya di lemparkan ke dinding kamar, hingga menimbulkan suara gaduh dengan serpihan pecahan beling yang berserakan di lantai kamarnya.


"Rania! kau harus membayar semua ini karena merebut suamiku." Teriaknya histeris memecah kesunyian malam itu.

__ADS_1


Renata menenggak minuman alkohol itu hingga tandas dan berakhir mabuk. Tubuhnya limbung tanpa terkontrol lagi. Iapun tidur sambil memanggil nama suaminya. Renata merasakan penyesalan yang amat sangat karena telah mengkhianati suaminya.


__ADS_2