HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
24. TINGGAL SEATAP


__ADS_3

Dua hari kemudian, Renata tetap memilih tinggal bersama dengan mertuanya, walaupun Haikal sudah memintanya untuk menetap di apartemen miliknya, namun gadis ini tidak ingin berjauhan dengan Haikal.


"Mengapa kamu masih di sini? padahal sebelumnya kamu tidak suka tinggal bareng dengan mami?"


Tanya Haikal menatap heran wajah istrinya yang tidak menuruti permintaannya.


"Aku mau tinggal di apartemen berdua denganmu, aku tidak mau sendirian di sana." Jawab Renata ketus.


"Baiklah, kalau begitu aku dan Rania yang akan menetap di apartemen dan kamu disini temanin mami." Ujar Haikal.


"Apakah kamu tidak mengerti? atau pura-pura tidak mengerti?" Sudah aku katakan, aku tidak mau di manapun kecuali harus bersamamu, karena aku juga istrimu." Renata yang masih keras kepala.


"Terserah kepadamu. Aku hanya tidak ingin kehadiran kamu akan membuat masalah buat Rania karena saat ini dia seakan hamil anak kami dan aku tidak mau terjadi sesuatu pada kehamilannya gara-gara dirimu."


Haikal mengingatkan Renata dengan penuh penegasan pada kata-katanya.


Degg..!"


"Apa?" Dia hamil? itu berarti kehadiran aku di sini makin tersisihkan jika wanita itu hamil anaknya Haikal. Suamiku makin mencintainya karena dia akan melahirkan pewaris." Gumam Renata membatin.


"Aku tidak akan membuat masalah dengan Rania, asalkan kamu adil pada kami berdua. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayangmu karena aku juga istrimu yang sah." Ujar Renata.


"Bagaimana jika kamu melanggar janjimu?" Tanya Haikal yang tidak mau mendapatkan resiko kalau Renata akan mencelakai Rania karena cemburu.


"Aku siap diceraikan olehmu, jika aku membuat masalah di rumah ini." Ujar Renata dengan mengalihkan wajahnya ke arah balkon kamarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pegang kata-katamu, jika sekali saja aku mendapatkan keluhan dari Rania, aku tidak akan segan menendangmu dari mansion mami."


Haikal keluar dari kamar Renata dengan wajah masam lalu kembali menemui istrinya yang sejak tadi menunggunya masuk ke kamar utama tersebut.


"Apakah ada masalah dengan Renata mas?"


Tanya Rania yang sebenarnya cemburu dengan kehadiran Renata di saat dirinya sedang hamil muda.


"Aku tidak ingin Renata tinggal seatap denganmu, apa lagi saat ini kamu sedang hamil muda." Ujar Haikal.


Rania tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya yang ingin mengusir Renata dari kehidupan mereka. Ia merasa suaminya sangat memperhatikan dirinya saat ini.

__ADS_1


Walaupun ia sendiri tidak tega suaminya mengusir wanita itu dari mansion utama.


"Mas Haikal, jika tidak keberatan, aku ingin menghabiskan waktu di Bandung selama masa kehamilanku, agar aku merasa tenang dan tidak terganggu dengan kehadiran Renata.


Aku tidak apa-apa, jika harus berbagi jatah malam dengan dirinya, walaupun bagaimanapun dia juga istri mas Haikal yang butuh perhatian dan cinta dari seorang suami." Ucap Rania bijak.


"Aku justru belum tahu banyak tentang keberadaannya selama ini yang kita anggap dia sudah meninggal dan sekarang tahu-tahu muncul dihadapan kita dengan segar bugar."


Haikal tidak mengindahkan permintaan Rania, ia malah sibuk memikirkan Renata yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka.


"Mas, jawab dulu permintaan aku, kenapa mas malah bahas tentang dia. Aku tidak peduli dengan dirinya, aku hanya peduli pada mas dan calon baby kita." Ujar Rania yang sangat sensitif saat dinyatakan hamil.


"Kita lihat saja nanti sayang! Jangan terburu-buru karena aku juga tidak ingin berjauhan denganmu. Aku hanya ingin tetap disampingmu walau dalam keadaan apapun." Timpal Haikal.


"Apakah seumur hidupku, aku harus tinggal serumah dengan isteri pertamamu itu?"


Ranka mulai merajuk karena tidak ingin melihat tampang Renata yang harus bertemu muka dengannya setiap saat.


"Sayang, aku tidak bisa meninggalkan perusahaanku begitu saja dan menemanimu terus selama di Bandung." Haikal menyampaikan keberatannya kepada sang istri yang terus memaksanya untuk menetap di Bandung selama masa kehamilannya.


"Ok, tidak masalah jika ada keributan antara aku dan Renata, adalah kesalahan mas Haikal." Wajah Rania makin geram dengan sikap diam suaminya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Adegan drama pertama terjadi di meja makan pagi itu. Renata tampil cantik nan anggun menyambut pagi cerah itu dengan duduk manis di depan kursi meja makan menunggu suaminya.


Anggota keluarga yang lain turun menuju ke ruang makan dengan pakaian kerja mereka. Si kembar yang tidak terlalu suka dengan kehadiran Renata nampak memilih acuh dan duduk di meja makan.


"Selamat pagi suamiku, mami!" Sapa Renata mesra.


Nyonya Malika duduk dengan wajah datar dan diikuti oleh Haikal yang sudah siap menunggu dilayani oleh Rania.


Rania selalu mendahulukan melayani ibu mertuanya sebelum suaminya dan si kembar.


Renata mengambil kesempatan itu untuk melayani suaminya yang semula tidak pernah ia lakukan kecuali pelayan yang melayani mereka berdua.


Piring Haikal diambil oleh Renata untuk diisi nasi goreng.

__ADS_1


"Biarkan Rania yang melayani aku Renata dan kamu lebih baik makan nasi goreng milikmu." Tolak Haikal tegas.


"Mas!" Aku juga istrimu, ingat itu." Ujar Renata.


"Kamu tidak pernah melayani aku selama kita menikah, mengapa sekarang kamu jadi lebih peduli?"


Sindir Haikal sarkas.


"Aku ingin memperbaiki kesalahanku dengan menjadi istri yang baik untukmu, apakah itu salah?"


Renata mulai mengajak berdebat.


Ibu mertuanya nampak cuek dengan debat kusir putranya dan menantu pertamanya itu.


Rania mengisi nasi goreng dan telur omlet ke dalam piring suaminya.


Renata bangkit dan ingin menampar wajah Rania yang dianggapnya terlalu over acting di depan suaminya.


"Apakah dengan cara ini kamu bisa merebut perhatian suamiku?" Tukas Renata.


"Aku melakukan yang biasa aku lakukan, jika mbak Renata ingin berbuat baik kepada mas Haikal tidak perlu menunggu dirinya di meja makan karena banyak hal , yang harus mbak lakukan untuk mas Haikal dengan cara menuruti permintaannya untuk tinggal di apartemen." Balas Rania.


"Sejak kapan urusan tempat tinggal aku kamu yang mengatur, jangan mentang-mentang kamu hamil lalu seenaknya mengatur hidupku." Amarah Renata mulai membuncah.


Nyonya Malika yang baru mendengar berita kehamilan Rania tertegun.


"Sayang, apakah kamu sedang hamil?" Tanya Nyonya Malika dengan wajah berbinar haru.


"Iya mami, Rania sedang hamil saat ini." Ucap Rania seakan tidak bertenaga.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah, akhirnya aku dikaruniai seorang cucu." Ujar Nyonya Malika lalu menghampiri Rania.


"Selamat ya sayang!" Ucap Nyonya Malika mencium pipi menantunya Rania.


"Mama, apakah kami akan punya adik?" Tanya Daffin polos.


"Apa? mama?" Jadi loe seorang janda gatal yang sengaja menggoda suamiku?" Tanya Renata dengan wajah sinis.

__ADS_1


"Tutup mulutmu dan makan sarapanmu Renata!" Nyonya Malika langsung mencegah Renata untuk tidak menghina Rania di depan si kembar.


__ADS_2