
Si kembar sangat antusias untuk berlibur di tempat-tempat wisata daerah Bandung dan juga puncak.
Haikal sengaja mengajak keluarganya menghabiskan waktu lebaran mereka di villa puncak sekaligus melakukan honeymoon.
Sebenarnya Haikal tidak ingin berkunjung ke manapun, karena ia lebih senang berada di kamar villa bersama sang istri tercinta. Nuansa bulan madu yang masih kental mereka rasakan saat ini dari pada harus mencari kesenangan di luar sana. Apa lagi hanya menatap wajah cantik istrinya saja ia sudah sangat merasa puas.
Setiap kali mendapatkan kesempatan berada di kamar berdua, Haikal meminta Rania tidak memakai hijab karena ingin melihat rupa asli istrinya dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai indah.
Lama Haikal menatap wajah cantik istri hingga membuat Rania sangat malu.
"Apakah aku secantik itu?"
Rania menegur suaminya yang dianggapnya terlalu berlebihan menatapnya dengan intens.
"Aku masih tidak percaya sampai saat ini, karena bisa mendapatkanmu dan memilikimu. Aku selalu berpikir, bagaimana jadinya jika kamu tidak menggunakan hijab dan cadar?" Pasti kamu akan menjadi incaran para pria yang berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkanmu sayang."
Haikal kelihatan sangat risau, jika wajah Rania akan terlihat oleh orang lain.
"Sejak aku kecil, ayahku sudah mengingatkan bundaku agar aku di minta untuk memakai hijab ketika usiaku sudah menginjak sepuluh tahun. Kadang ayah begitu paranoid jika aku berangkat dan pulang sekolah harus ia sendiri yang jemput karena takut aku akan diculik oleh orang lain.
Ia baru membolehkan aku di jemput oleh Mamang, ketika aku sudah menggunakan hijab dan cadar."
Rania mengenang ayahnya yang begitu posesif dengan dirinya saat ia masih berusia sepuluh tahun.
"Jika aku memiliki anak perempuan, aku akan melakukan hal yang sama seperti ayahmu. Bagaimana jadinya jika anak perempuanku nanti mewarisi wajahnya sepertimu sayang?"
Haikal mulai kuatir dengan keturunannya yang belum terlihat sama sekali.
"Ah, mas Haikal ada-ada saja, Rania saja belum hamil, masa sudah takut duluan?"
Rania cekikikan melihat wajah cemas suaminya.
"Kalau begitu aku ingin kamu cepat hamil sayang, ternyata kamu sedang memberiku kode untuk menyentuhmu saat ini, hmm?"
Haikal menanggalkan baju kebesaran istrinya hingga tersisa bikini yang menempel indah ditubuh se*si milik istrinya.
Saling memagut dan meraba tempat-tempat yang mampu membangkitkan gairah birahi keduanya.
******* nafas memburu mulai riuh terdengar dengan lidah yang membelit erat menumpahkan rasa kasih sayang yang mereka miliki.
Permainan panas itu makin menjadi, hingga keduanya sudah menyatu dengan beberapa kali hentakan memacu birahi meraih nikmat surgawi yang meninggalkan kenikmatan, disertai benih keduanya yang bermuara pada alam rahim yang suci milik sang istri tercinta.
Deru nafas memburu di pagi itu sebelum keduanya sarapan pagi. Morning sek* pagi itu begitu menyenangkan dalam tiga ronde yang mereka lakukan dengan berbagai gaya nyentrik yang diajarkan oleh Haikal yang sudah berpengalaman pada istrinya.
Rania tersenyum penuh kepuasan karena memiliki lelaki tampan nan perkasa yang memberikan segalanya untuk dirinya sebagai wanita dewasa.
__ADS_1
"Hah!" Tawanya dalam hati.
"Inikah yang membuat orang mudah cemburu dan bahkan selingkuh untuk mengejar sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan dari pasangan sah?" Gumam Rania dalam tanya seraya menatap dada bidang suaminya yang masih bermandikan peluh yang saat ini masih berada di atas tubuhnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"
Haikal menatap wajah cantik istrinya yang terpancar rasa kepuasan setelah percintaan panas mereka berakhir indah.
"Aku takut kehilanganmu, sayang." Rania meluncurkan kata-kata yang membuat suaminya sedikit mengernyitkan alisnya.
"Apa maksud perkataanmu sayang?"
"Bagaimana suatu hari nanti, kamu tidak bisa mendapatkan kepuasan batiniah yang tidak bisa ku berikan kepadamu?" Sedangkan kamu bisa membuatku berkali-kali melayang di alam nirwana."
Rania bangkit dan duduk diatas pangkuan suaminya.
"Singkirkan pikiran sesat itu dalam pikiranmu sayang!" Jangan biarkan setan mengusai hatimu karena itu adalah keinginannya untuk membuatmu ragu padaku."
Haikal mendengus kesal mendengar ocehan yang nggak jelas dari bidadarinya ini.
"Astaghfirullah ya Allah, maafkan aku suamiku!"
Rania memeluk suaminya karena telah berpikir jahat pada Haikal.
🌷🌷🌷🌷🌷
Si kembar yang sudah rapi duduk berhadapan dengan Nyonya Malika sambil menikmati makanan mereka. Sementara itu pasangan pengantin baru itu baru saja bergabung dengan mereka.
"Mama, apakah hari ini kita akan ke wahana air?" Tanya Daffin sambil mengunyah nasi goreng miliknya.
"Iya sayang, apakah kalian sudah bawa baju renang?"
"Sudah mama!" Bibi Oca tidak lupa akan hal itu.
"Mama kami pingin punya adik kembar supaya bisa main bareng."
"Uhuk... uhuk!"
Rania nampak tersedak mendengar celotehan si Daffa yang diluar dugaannya.
Haikal mengambil air dan memberikannya kepada istrinya.
"Adik kembarnya nanti otw sayang. Doakan saja semoga mereka cepat datang."
Timpal Nyonya Malika membuat wajah Rania makin bersemu merah.
__ADS_1
"Kamu mau adenya cowok atau cewek, Daffin?" Tanya Daffa makin memanasi Rania.
"Kalau cewek, pasti kita akan lebih menjaganya. Kalau cowok bisa ngajak main bareng." Ujar Daffin memberikan pendapatnya.
"Cepatlah habiskan makanan kalian!" Sebentar lagi kita akan jalan."
Rania mencoba mengalihkan pembicaraan si kembar ke rencana rekreasi mereka hari ini.
"Berarti kita harus lebih kerja keras sayang, karena permintaan si kembar."
Haikal berbisik lirih di kuping istrinya.
Rania melototi sang suami yang ikut membully dirinya.
Haikal terkekeh geli melihat istrinya yang sangat malu di serang sana sini mengenai kehadiran jabang bayi dalam rahimnya. Namun diam-diam, Rania mengamini semua celoteh dari keempat orang yang sangat ia cintai ini.
*
*
Tempat wisata air yang dipilih mereka adalah taman Cibodas. Mereka melihat indahnya panorama alam yang menyajikan air terjun yang jatuh ke dasar sungai dengan membentuk anak sungai yang mengalir sepanjang kawasan itu.
Daffin dan Daffa mengajak Haikal untuk mandi bersama mereka dekat dengan pancuran air terjun.
"Paman, kita ke sana saja. Kelihatannya lebih asyik mandi di sana dari pada di anak sungai ini." Pinta Daffin manja kepada kakak iparnya.
"Jangan Daffin! itu buat orang dewasa, nanti bahaya sayang.
Rania mencegah keinginan adiknya yang begitu ekstrim.
"Tidak apa sayang. Ayo kita ke sana."
Haikal tidak ingin mengecewakan si kembar karena sudah berjalan cukup jauh mencapai tempat ini.
"Mas, jangan terlalu memanjakan mereka!"
"Sayang aku dulu juga seperti mereka, senang dengan tantangan. Itu baru anak cowok."
Haikal menggendong si kembar berjalan diantara batu cadas. Rania hanya pasrah dan duduk menunggu diantara batu kali yang cukup besar.
"Jangan lama-lama mandinya!" Teriak Rania kencang.
Ketiganya hanya mengangkat jempol menyetujui permintaan Rania.
Si kembar sangat menikmati siraman air terjun yang mengenai tubuh mereka yang kecil. Haikal tetap hati-hati memegang kedua tubuh si kembar agar tidak terlalu masuk ke curahan air raksasa itu karena akan membahayakan keduanya.
__ADS_1