
Apapun yang dilakukan oleh Rania untuk Haikal, Renata berusaha meniru gadis ini, agar bisa menenangkan hati suaminya. Namun upaya Renata berbanding terbalik dengan keinginannya.
Ia yang selalu berusaha belajar memasak makanan kesukaan suaminya pada Chef yang di mansion mertuanya, selalu saja mendapat penolakan dari sang suami.
"Mas, ini ayam gepuk kesukaanmu, cobain deh!" Ucap Renata sedikit memelas pada Haikal.
"Maaf Renata! apa yang kamu sajikan sama dengan yang dimasak oleh Rania, jadi saya memilih masakan Rania." Ujar Haikal cuek.
Renata mengepalkan kedua tangannya seraya menarik nafas berat. Ia tidak menyangka, jika suaminya menolak semua kebaikan yang ia tawarkan dengan perasaan tulus.
Piring berisi ayam itu dilempar oleh Renata ke lantai, hingga menciptakan suara gaduh memekakkan telinga.
"Apa-apaan kamu Renata!" Hardik Haikal menatap tajam wajah istrinya pertamanya itu.
"Kenapa? kenapa harus selalu dia yang mendapatkan apresiasi darimu?" Secepat itukah kamu mudah melupakan aku karena Rania lebih cantik dengan pakaian kampungan itu? ataukah, karena dia saat ini sedang hamil anakmu?"
Sindir Renata dengan mata yang sudah panas menahan bulir bening yang sebentar lagi akan tumpah.
__ADS_1
Makan malam itu tidak bisa dilanjutkan karena amarah Renata yang tidak bisa lagi terbendung.
"Tidak usah kamu menjadikan Rania menjadi sainganmu. Salahkan dirimu karena kamu datang disaat tidak ada lagi harapanku untuk menemukanmu lagi.
Kamu menghilang di laut lepas dan sekarang muncul dengan sehat bugar?" Apakah kamu sedang mengerjaiku ataukah kamu sedang memanipulasi kematianmu untuk tujuanmu?"
Degg...
Renata terlihat pucat saat ditanya tentang keberadaannya selama ini yang sudah dianggap mati oleh suaminya.
"Saya..sa...saya lupa ingatan saat di temukan oleh keluarga nelayan. Saat saya ingat, saya meminta mereka mengantarkan saya ke Jakarta."
"Jika kamu ingat dirimu, kenapa tidak menghubungi aku? agar bisa menjemputmu di negara itu. Mengapa tiba-tiba kamu datang seakan baru saja habis liburan ke berbagai belahan dunia." Ujar Haikal hingga membuat Renata menelan salivanya dengan gugup.
Duaarrr...
Renata seakan ditelanjangi oleh suaminya yang sangat curiga dengan teka-teki kematiannya yang dianggap suatu bentuk kepalsuan.
__ADS_1
"Aku muncul lagi di sini, sengaja menunggu di saat kamu merayakan hari ulang tahunmu. Aku ingin memberimu kejutan, tapi justru aku lah yang malah di buat terkejut olehmu." Renata ingin meyakinkan suaminya agar apa yang dia sampaikan benar adanya.
"Tidak semudah itu aku mempercayai dirimu Renata karena waktu yang akan menjelaskan segalanya." Ujar Haikal lalu mengajak Rania ke kamarnya.
"Aku tidak pernah membohongimu Haikal. Percayalah kepadaku!" Teriak Renata geram.
Dari atas balkon tangga, nyonya Malika melihat keributan yang tercipta oleh menantu pertamanya itu dari hari ke hari, membuatnya malas untuk turun makan di ruang makan.
"Aku masih menunggu hasil penyelidikan kematian Renata yang terkesan misterius. Tapi sampai saat ini, detektif yang aku sewa belum menemukan hasil.
Sepertinya kecurigaan kamu benar sayang, jika ada seseorang yang punya peran penting dalam kehilangan Renata beberapa tahun yang lalu." Ujar Haikal sambil memijit pelipisnya karena terlalu setress memikirkan masalah Renata.
Ia tidak punya alasan untuk menceraikan Renata jika belum menemukan bukti perselingkuhan istrinya pertamanya itu.
Beda halnya dengan Renata yang makin tersudut atas tuduhan suaminya atas kematiannya.
"Mas, jika ingin menangkap ikan yang besar, mas butuh ikan yang kecil sebagai umpan."
__ADS_1
Ucap Rania yang mendukung suaminya untuk mendapatkan fakta baru atas rekayasa menghilangnya Renata selama beberapa tahun terakhir.
"Iya sayang, kita tunggu tanggal mainnya untuk membongkar kedok Renata." Ujar Haikal.