HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
34. PART 34


__ADS_3

Nyonya Malika tiba di rumah sakit di mana saat ini anak menantunya Rania sedang di rawat karena baru saja melahirkan cucunya.


Rania menyalami ibu mertuanya itu. Keduanya saling memberikan selamat karena telah menyandang status baru sebagai seorang ibu dan juga seorang nenek.


"Selamat atas kelahiran putramu sayang!" Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu seutuhnya untuk putramu. Terimakasih sudah memberiku seorang cucu." Ucapnya semangat.


"Sekarang mami sudah menjadi seorang nenek." Ucap Rania diselingi kekehan kecil pada ibu mertuanya.


"Di mana cucuku Rania?" Apakah saat ini dia masih di ruang bayi?"


"Iya mami, dia hanya dibawa ke kamarku kalau ingin disusui saja." Ujar Rania.


Haikal meminta suster untuk mengantar putranya ke kamar inap istrinya. Dalam lima menit bayi milik Rania di serahkan ke tangan nyonya Malika.


"Wah, cucu Oma ternyata sangat tampan," ucap Nyonya Malika seraya mengecup pipi cucunya.


Mata baby Ifan menatap wajah neneknya, entah mengapa bayi lucu yang berumur dua hari itu tersenyum kepada neneknya.


Nyonya Malika makin bahagia mendapati cucunya tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Kamu tahu ya sayang oma akan datang melihatmu." Nyonya Malika menimang cucunya yang kelihatan sangat tenang dalam gendongannya.


"Mami, bagaimana kabar Renata?" Tanya Rania.


"Mami sudah mengusirnya sayang. Dia akan segera bercerai dengan putra Mami. Tidak ada lagi gangguan pada rumah tangga kalian. Sekarang kalian aman." Ucap Nyonya Malika kepada menantunya.


"Mami, mas Haikal!"


Sebenarnya Rania sudah mengetahui rekayasa kematiannya Renata. Selama ini Rania sengaja menyewa detektif handal untuk menyelidiki Renata yang tiba-tiba muncul di hari ulangtahun mas Haikal beberapa bulan yang lalu." Ucap Rania.


"Tidak apa sayang, jika kita bertiga sama-sama berupaya mengungkap misteri kematiannya yang awalnya kita anggap benar dan ternyata Tuhan tidak akan tinggal diam dengan kebohongan gadis itu pada kita semua.


Ia di tendang begitu saja mana kala lelaki itu sudah mulai bosan padanya. Dan pada akhirnya dia mau tidak mau kembali lagi ke tanah air bertemu dengan Haikal dan berharap dia akan di terima oleh suaminya." Ucap nyonya Malika panjang lebar.


"Bagaimana kalau suatu hari dia akan membalas dendam kepada kita mami?" Tanya Rania yang masih begitu takut kepada sepak terjang madunya itu.


"Dia tidak punya kekuatan untuk menyakiti keluarga kita sayang. Karena mulai detik ini aku sudah meminta semua pengawal untuk mengawasi kita dalam waktu 24 jam." Ucap Haikal.


"Alhamdulillah, ternyata mas Haikal sudah mengantisipasi keadaan. Terimakasih mas Haikal." Ucap Rania tulus.

__ADS_1


Tok..tok...


Cek...lek!"


"Assalamualaikum mama!" Sapa si kembar bersamaan.


"Waalaikumuslam, lho kenapa tidak datang bareng sama Oma Malika sayang?" Tanya Rania yang baru menyadari si kembar yang belum muncul sejak tadi.


"Mama kami tadi mampir ke rumah kita dulu di Bandung dan ternyata ada Oma Citra dan sekarang dia berada di luar. Dia ingin masuk tapi takut kalau mama tidak ingin bertemu dengannya." Ucap Daffin.


"Apa?" Ada bunda di sini?" Rania tersentak dan menatap wajah ibu mertua dan suaminya bergantian.


Keduanya mengangguk dan mengijinkan Rania untuk bertemu dengan ibu tirinya yang baru bebas dari penjara itu.


"Sayang terimalah kedatangan ibu sambungmu itu." Ucap Nyonya Malika.


Haikal keluar menemui Nyonya Citra dan membawa masuk ke kamar inap milik istrinya.


"Bunda?" Pekik Rania setelah melihat wajah tirus ibu sambungnya.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan dan melepaskan rindu mereka. Nyonya Malika dan Haikal mengajak si kembar meninggalkan keduanya untuk bisa mencurahkan kerinduan mereka.


__ADS_2