HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
8. SATU ATAP


__ADS_3

Rania menuruti permintaan bosnya nyonya Malika untuk pindah ke mansion beliau. Di saat yang sama Haikal juga ingin kembali tinggal dengan ibunya karena tidak ingin menjalani puasa Ramadhan sendirian di apartemennya.


Rania tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat wajah tampan lelaki yang sudah mulai mencuri perhatiannya beberapa bulan terakhir ini, namun Rania tidak ingin berharap banyak karena ia belum begitu paham dengan karakter Haikal yang selalu saja memaksakan kehendaknya.


Setelah merapikan semua barang bawaannya di kamar tamu, Rania juga merapikan barang-barang adik kembarnya di kamar mereka. Haikal yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Rania tampak gusar karena dirinya tidak mengenakan cadar.


"Bisakah kamu sedikit lebih sopan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain?" Sungut Rania kesal.


"Mohon maaf nona Citra, aku bukannya nggak sopan padamu, tapi aku kira ini kamar si kembar, jadi tidak perlu ada sopan santun diantara kami karena kami satu jender bukan?" Ujar Haikal membela diri.


"Iya aku tahu kamu sudah akrab dengan si kembar, tapi jangan lupa aku adalah ibu mereka yang selalu mengurus sesuatu yang berkaitan dengan mereka." Timpal Rania dengan wajah tertekuk.


"Banyak sekali pelayan di mansion, mengapa kamu malah repot mengurus semua kebutuhan si kembar." Ucap Haikal.


"Aku tamu disini, aku tahu batasku dan tidak ingin memanfaatkan fasilitas apapun yang bukan hakku kecuali diijinkan oleh pemiliknya." Ujar Rania.


"Bisakah kamu sedikit lebih rileks untuk tidak terlalu membahas hak dan kewajiban? Santai saja nona Citra, karena disini tidak terlalu menuntut hal yang begitu disiplin yang sifatnya mengikat."


"Saya tidak dibesarkan oleh orang tua saya untuk mengambil kesempatan di saat suatu urusan diraih dengan mudah. Saya dilatih untuk menghargai setiap milik orang lain dan memperjuangkan apa yang bisa kita dapatkan dengan tubuh kita melalui akal sehat." Ujar Rania.


"Ya Allah, mengapa sangat rumit bicara denganmu Citra. Dan satu lagi, apakah kamu harus menutup wajah itu setiap kali berhadapan dengan orang lain?" Tanya Haikal.


"Aku merasa tidak nyaman saat orang lain menatap wajahku dengan intens, jika dia muhrimku aku akan dengan senang hati membuka untuknya." Rania keluar meninggalkan kamar si kembar lalu kembali ke kamarnya, namun pergelangan tangannya di raih oleh Haikal.

__ADS_1


"Citra!" Jika itu aturan syar'inya, izinkan aku untuk menikahimu, aku berjanji akan membahagiakanmu, tolonglah aku serius dengan kata-kataku Citra." Ucap Haikal dengan wajah sendu.


"Bicaralah di luar Tuan Haikal, jangan di sini apa lagi berada di kamar." Rania berusaha menghindar dengan buru-buru keluar dari kamar si kembar.


Haikal mengejar wanitanya yang terlalu jual mahal kepadanya saat ini.


"Citra, apa masalahmu, hingga kamu terus menolak diriku? Mamiku tidak keberatan jika aku menikah denganmu. Tidak ada yang menghalangi kita Citra, kecuali kamu enggan menikah denganku." Ucap Haikal ketika sudah berada di luar kamar si kembar.


"Maafkan aku Haikal, jika kamu tahu aku saat ini sedang menipu semua orang, mungkin kamu akan sangat membenciku. Hidupku sangat kacau usai pembunuhan yang terjadi di mansion ayahku yang dilakukan oleh ibu sambung ku karena berusaha melindungi kehormatanku. Di tambah aku harus menggantikan posisi ibu tiriku mengasuh si kembar yang juga adalah adik kandungku." Gumam Rania membatin.


"Citra, tolong jawab pertanyaan aku?" Apakah kamu bersedia menikah denganku?" Tanya Haikal lagi.


"Saat ini aku belum siap Tuan, beri aku waktu untuk melakukan sholat istikharah agar aku bisa menentukan pilihanku menurut kehendak Allah, apakah kamu jodohku atau bukan. Jika ingin mengikuti kata hati, biasanya campur tangan setan selalu memenuhi ruang logika manusia dalam memilih pasangannya hanya terdorong hawa na*su, bukan keridhaan Allah kepada pilihan hati hambaNya." Rania berusaha untuk menjauhi diri dari Haikal karena alasan keluarganya yang saat ini terbelit dengan hukum.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Bulan Ramadhan sendiri merupakan bulan yang paling istimewa bagi umat Islam. Pada bulan ini, ada pahala yang tak terbatas dan berlipat ganda yang diberikan oleh Allah SWT.


Di bulan ini pula, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan, dimana umat muslim harus mengendalikan hawa nafsu, menahan haus dan lapar mulai waktu sahur (subuh) hingga tibanya waktu berbuka puasa saat adzan Maghrib dikumandangkan.


Begitu pula yang terjadi di keluarga Haikal, di mana persiapan ramadhan kali ini lebih dioptimalkan. Haikal bersama dengan si kembar berangkat ke mesjid untuk menunaikan shalat tarawih. Sementara nyonya Malika dan Rania memilih mesjid yang lebih dekat dengan kediaman mereka.


*

__ADS_1


*


Keesokan harinya, di waktu sahur, Rania sudah bangun terlebih dahulu menunaikan ibadah sholat Tahajud. Sekitar satu jam ia bermunajat kepada Allah dengan permohonan tulus yang saat ini sedang diinginkan dirinya untuk mendapatkan solusi terbaik untuk masa depannya kelak.


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan untuk menentukan pilihan hati hamba mengenai jodoh untukku karena hanya pilihan Engkau yang terbaik untukku.


Berilah aku petunjuk, agar aku bisa menjawab pertanyaan dari Haikal yang meminta hamba di untuk menjadi istrinya. Ya Allah, tidak ada yang lebih baik yang hamba bisa merasa tenang kecuali pilihan jodoh yang telah Engkau tetapkan, maka dekatkanlah Haikal sedekat-dekatnya dengan hatiku, namun jika dia bukan milikku jauhkan dia dariku ya Robby." Ucap Rania dalam munajatnya di sepertiga malam.


Usai menunaikan ibadah sholat Tahajud, Rania melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tanpa disadari gadis ini, Haikal mendengar suara merdu Rania yang begitu syahdu di pagi buta itu.


"Ya Allah, jika Engkau telah mengambil istri hamba untuk selamanya, hamba ikhlas ya Allah, tapi hamba mohon berikanlah hamba ganti yang lebih baik dari almarhum istriku dengan gadis shalihah seperti Rania.


Ketuk lah pintu hatinya, agar ia mau menerima cintaku dan juga lamaran dariku, aaamiin." Ucap Haikal sambil menangis tersedu-sedu di balik pintu kamar Rania.


"Haikal, mengapa kamu menangis di situ?" Tanya Nyonya Malika yang mendapati putranya sedang meratap di balik pintu kamar Rania.


"Sssssttt!"


Aku sedang mendengarkan Citra membaca Alquran mami. Suaranya sangat indah mami." Ucap Haikal dengan membisikkan kata-katanya pada maminya.


Nyonya Malika pun pemasaran dengan perkataan putranya. Ia ingin memastikan sendiri kekaguman putranya pada suara emas milik Rania.


Seperti halnya Haikal, kini giliran Nyonya Malika yang juga menitikkan air mata haru ketika mendengar suara indah asisten pribadinya itu.

__ADS_1


"Mami sering mendengar orang mengaji dengan suara yang sangat indah, tapi mendengar suara indah milik Rania seakan menusuk langsung jiwa mami sayang." Ucap Nyonya Malika kepada putranya.


__ADS_2