
"Apa?" Umroh? bukankah Rania baru tiba semalam di disini?"
Haikal merasa kepala pelayan membohonginya tentang keberadaan Rania.
"Tuan, ritual ibadah umroh sudah menjadi tradisi keluarga nona Rania. Walaupun kedua orangtuanya sudah meninggal, namun nona Rania tetap melakukannya sendirian karena ia sangat memprioritaskan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk lebih dekat dengan Allah."
Paman Raditya menjelaskan apa adanya.
"Apakah aku bisa menyusulnya ke bandara?" Mungkin saat ini dia belum berangkat."
"Nona Rania menggunakan pesawat jet pribadi miliknya sendiri Tuan Haikal. Oh iya hampir lupa ini ada surat untuk anda. Nona Rania menitipkan kepada saya karena dia yakin anda akan menyusulnya ke sini. Tuan boleh masuk dan istirahat di mansion sebentar atau mungkin mau bertemu dengan si kembar." Ujar pakan Radit.
"Tidak usah paman, sebaiknya saya kembali lagi ke Jakarta."
Haikal kembali ke mobilnya namun belum saja ia melanjutkan perjalanannya, mamang Ajis sudah tiba di mansion.
Mamang Ajis turun dan memperhatikan tamu yang baru saja mau pergi.
Haikal tidak ingin lagi berurusan dengan para pelayan Rania. Iapun segera cabut dari mansion Rania dan kembali ke hotel tempatnya menginap.
Setibanya di hotel ia membuka surat dari Rania lalu tersenyum melihat cara klasik gadis itu yang menurutnya sangat unik.
"Jaman semakin canggih dengan ponsel berbagai merek mewah yang kian merebak, tapi gadis kaya ini masih memikirkan hal jadul yang menjadikan kertas ini sebagai bagian dari isi hatinya untuk di sampaikan kepada pemilik hatinya. He..he..aku maksudnya." Haikal bermonolog.
"*Assalamualaikum Tuan Haikal!"
Mungkin saat ini anda sedang membacakan surat dariku. Aku tahu, kamu akan datang menyusulku ke Bandung untuk mencariku. Aku lupa bahwa kamu bisa melakukan apa saja hanya ingin mengetahui latar belakang hidupku, entah rasa penasaranmukah atau mungkin kamu curiga dengan diriku atas pengakuanku yang membohongimu sebagai ibu si kembar.
Aku tahu kamu bukan tipikal orang yang mudah percaya begitu saja, hingga akhirnya aku mendengar sendiri bahwa kamu sudah menyelidiki identitas pribadiku hingga aku sangat malu dan memilih hengkang dari rumahmu.
Aku tahu kamu menyukaiku bahkan ingin menikahiku, tapi aku merasa sangat tidak pantas mendampingimu karena kehidupan keluargaku yang begitu rumit karena memiliki ibu sambung seorang pembunuh. Walaupun apa yang dilakukannya semata-mata ingin melindungi kehormatanku.
Untuk menebus rasa terimakasihku padanya, aku ingin melindungi si kembar dengan tampil sebagai ibu untuk mereka karena keduanya masih sangat terlalu kecil untuk memahami alasan mengapa ibu kandung mereka berada di jeruji besi saat ini.
__ADS_1
Apakah tindakan aku salah? jika aku melakukan semua itu berdasarkan instingku sebagai seorang wanita.
Aku minta maaf selama berada di mansion milikmu, aku selalu menjaga jarak denganmu. Itu aku lakukan bukan karena keangkuhanku kepadamu, Tapi aku hanya ingin menjaga Allah dihatiku karena aku sangat takut kepada Allah mengalahkan cintaku kepadamu.
Berhalwat yang bukan muhrim itu adalah dosa dan neraka adalah ancamanNya. Terimakasih sudah melindungi dan menemaniku selama satu tahun ini. Aku pamit ingin bermunajat kepada Allah SWT untuk hidupku di dunia dan akhirat.... aamiin. Mohon doanya agar ibadahku lancar di tanah suci Mekkah.
Yang mencintaimu
"Rania*"
"Gila!" Masih ada gadis unik di masa sekarang ini, yang lebih mencintai Allah dengan menjaga kehormatannya." Ya Allah, mengapa baru sekarang aku dipertemukan dengan bidadari itu.
Bidadari yang mampu membuatku lupa akan kesedihanku atas kehilanganmu istriku Renata. Apakah Engkau sengaja mengirimkan gadis itu untukku ya Allah? menggantikan yang Engkau telah ambil dengan wanita yang seribu kali lebih baik dari yang pernah aku miliki?"
Haikal merasa Allah sangat baik padanya hingga mengirimkan Rania untuknya.
"Ya Allah, mudahkan aku untuk menikahinya, sebagai mana Engkau memudahkan dia ketika Engkau mengirim dia dalam keluargaku. Alhamdulillah ya Allah, kini aku sudah mendapatkan ganti yang lebih baik darimu. Hadiah hiburan terindah dariMu."
Haikal melipat kembali surat dari kekasih itu lalu di masukkan ke dalam dompetnya.
Haikal tersenyum puas setelah mendapatkan ide yang sangat berharga itu untuknya.
Ia langsung menuju bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Jakarta untuk mengurus dokumen nikah dan juga bisa untuk berangkat umroh.
Setibanya di Jakarta, Haikal menemui maminya untuk membicarakan niatnya untuk menikahi Rania di Mekah.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Rania?"
Nyonya Malika menanyakan putranya yang sudah duduk di ruang kerjanya.
"Rania berangkat umroh mami. Aku tidak sempat bertemu dengannya."
Haikal pura-pura kelihatan kecewa dihadapan ibunya yang menatap wajahnya dengan mimik sedih.
__ADS_1
"Apakah kamu sangat mencintainya sayang? mengapa kamu tidak langsung menyusulnya ke sana dan menikahinya?"
Sesaat hati Haikal seperti sedang di semprot parfum yang semerbak harum dan mewangi karena apa yang menjadi keinginannya telah mendapatkan lampu hijau dari ibunya yang ternyata merestui hubungannya dengan Rania.
"Apakah mami tidak keberatan kalau ibu sambungnya seorang pembunuh?"
Tanya Haikal yang tidak ingin di pertengahan jalan, ibunya malah menolak Rania karena kasus pembunuhan yang dilakukan oleh nyonya Citra.
"Tenang saja sayang, karena Mami juga sudah menyelediki kasus itu dan ternyata ibunya adalah seorang ibu yang mau bertanggungjawab terhadap Rania yang hanya sebatas anak tiri baginya, tapi ia sangat amanah dengan peninggalan suaminya yang menitipkan Rania padanya. Dan itu membuat mami bangga pada keluarga itu dan terutama Rania yang memiliki akhlak yang mulia dengan kejeniusannya."
Lanjut Nyonya Malika yang mengagumi sosok Rania yang sebentar lagi akan menjadi menantunya yang menggantikan posisi Renata dalam hidup putranya.
"Baik mami!" Terimakasih untuk restunya. Besok Haikal akan menyusulnya ke tanah suci Mekkah.
Haikal mengecup pipi maminya.
"Siapa bilang kamu saja yang umroh sendirian?" Mami juga pingin itikaf di Masjidil Haram." Ucap Nyonya Malika membuat Haikal membelo pada ibunya yang memberikan banyak kejutan untuknya.
"Benarkah mami juga mau umroh bareng Haikal?"
Nyonya Malika mengangguk senang lalu memperlihatkan visa keberangkatan mereka ke tanah suci Mekkah karena sudah dipersiapkan semua oleh Faiz, asisten putranya.
"Persiapkan dirimu! nanti malam kita akan berangkat ke Jeddah.
"Mamiku adalah ibu terhebat yang pernah Haikal miliki."
Haikal memeluk wanita yang telah melahirkannya ini, dengan penuh haru.
Selepas sholat tarawih, ibu dan anak ini bertolak ke bandara untuk melakukan perjalanan umroh.
Mereka sengaja tidak mengabarkan Rania, karena ingin memberikan gadis itu kejutan.
Ternyata apa yang dicita-citakan Rania untuk umroh bersama ibu dan anak ini, akhirnya terwujud.
__ADS_1
Sementara di Jeddah, Rania baru saja menapaki tempat makam ibunda Siti Hawa, istri dari nabi Adam, nenek moyang umat sedunia ini.