
Setelah urusan dengan Renata yang sudah terungkap rekayasa kematiannya, kini Renata harus hengkang dari rumah mertuanya.
"Aku akan meminta putraku untuk menceraikanmu Renata. Aku tidak akan memaafkan kamu karena kamu telah membuat putraku harus menanggung rasa bersalah seumur hidupnya karena keserakahanmu akan harta, yang rela meninggalkan putraku demi berselingkuh dengan lelaki lain." Ucap Nyonya Malika lalu keluar dari kamar Renata.
"Tidak!"
Aku tidak akan bercerai dengan Haikal. Laporan ini semuanya direkayasa." Ucap Renata yang masih menolak hasil laporan penyelidikan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Nyonya Malika.
"Apa yang ingin kamu buktikan Renata?" Siapa lagi yang ingin kamu tipu, hmm? putraku saja sudah enggan untuk menerima kamu dalam hidupnya, ditambah lagi saat ini putraku sedang berbahagia menunggu kelahiran anak pertamanya dengan menantu kesayanganku Rania.
Sedangkan kau, apa yang bisa aku bangga darimu, kau adalah wanita rakus yang hanya mengandalkan kecantikanmu untuk memikat putraku hingga ia terjerat dalam cinta palsumu itu.
Sekarang aku minta keluar dari rumahku karena tempat ini tidak pantas untukmu. Satu hal lagi, jangan pernah muncul lagi di mansion ini atau dalam kehidupan rumah tangga putraku dan Rania!" Ancam Nyonya Malika kepada menantunya yang tidak tahu diri.
Nyonya Malika menghubungi dua orang satpam yang menjaga pintu gerbang utama untuk membawa keluar Renata dari rumahnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Renata di seret oleh satpam. Renata berontak dan mengumpat ibu mertuanya yang berbuat kasar kepadanya.
"Dasar nenek sihir!" Kau akan membayar semua perbuatanmu padaku. Pantas suamimu meninggalkanmu demi wanita lain karena hidupmu sendiri terlalu menyedihkan." Umpat Renata yang sudah berada di di ujung anak tangga bawah.
Nyonya Malika tidak memperdulikan makian yang dilontarkan oleh menantu pertamanya itu. Ia malah sibuk menghubungi putranya Haikal dan menceritakan semua apa yang terjadi hari ini di mansion pribadi miliknya.
"Sayang!" Aku sudah mengusir perempuan itu dari rumah kita dan aku harap segera ceraikan dia karena wanita ular itu tidak pantas dimaafkan oleh kita." Ucap Nyonya Malika.
"Alhamdulillah, terimakasih mami, sekarang aku dan Rania bisa hidup tenang tanpa ada wanita pengganggu itu lagi." Ujar Haikal sambil terkekeh.
Rania menahan sakit pada perutnya sambil memanggil suaminya yang sedang menerima telepon dari maminya di balkon kamarnya Rania.
"Iya sayang!"
Sahut Haikal lalu pamit kepada maninya terburu-buru.
__ADS_1
"Mami, sepertinya Rania mau melahirkan. Aku mau melihat dia dulu ya mami, nanti aku akan menghubungi mami lagi!" Ujar Haikal lalu memasukkan ponselnya ke kantong bajunya.
"Kenapa sayang?" Apakah kamu merasakan sakit?" Tanya Haikal seraya mengusap perut istrinya yang sedang mengalaminya kontraksi.
"Mas Haikal, kita harus segera ke rumah sakit, aku tidak kuat lagi. Ini sakit sekali. Aku nggak bisa berjalan." Ucap Rania dengan peluh yang sudah membasahi sebagian bajunya.
"Sayang, tarik nafas dalam-dalam lalu buanglah secara perlahan." Titah Haikal lalu menggendong istrinya membawanya ke mobil.
Pelayan langsung mengambil koper milik Rania yang sudah ia persiapkan bila merasakan kontraksi dan siap berangkat ke rumah sakit.
Sopir pribadi Rania, sudah siap mengantar majikan mudanya ini ke rumah sakit untuk melahirkan.
Sepanjang jalan, Rania terus saja mengejan karena tidak kuat menahan sakit pada perutnya.
"Sayang, jangan mengejan di sini!" Ujar Haikal sangat panik.
__ADS_1