
"Sebaiknya kamu ke kamar mandi dan berpakaian! aku akan menemui Renata." Haikal bangkit dengan mengenakan baju bathtub menemui Renata yang makin meradang di depan pintu kamarnya.
Cek lek...
Renata ingin menyerobot masuk ke kamar yang pernah menjadi tempatnya walaupun ia sebenarnya memilih apartemen untuk tempat tinggal mereka berdua usai menikah.
"Jangan masuk Renata!"
Haikal mendorong lagi tubuh wanita yang pernah menjadi istrinya ini.
"Mengapa kamu menikah lagi, sedangkan aku belum ditemukan mati olehmu?" Teriak Renata melengking hingga suaranya terdengar oleh Rania yang berada di kamar mandi.
"Semua tim penyelamat dikerahkan untuk mencari tubuhmu yang mungkin hanyut di bawa arus laut, tapi tidak bisa ditemukan hingga aku putus asa karena kehilanganmu.
Beruntunglah ada Rania yang datang menyelamatkan jiwaku ketika aku terlena dalam duniaku yang hampa saat tidak ada kabar darimu. Bergelut dengan minuman alkohol setiap saat.
Jika aku menikah lagi, apakah itu suatu dosa besar?"
Teriak Haikal tidak kalah sengitnya. Perang mulut makin menjadi di luar sana karena Renata tidak bisa terima suaminya menikah lagi.
"Oh, namanya Rania, apakah dia lebih cantik dariku sehingga kamu mudah berpaling dariku?"
Nada suara Renata mulai melemah seiring luka hatinya yang begitu sakit dirasakannya saat ini.
Melihat kondisi Renata yang makin kacau, Haikal meminta Renata untuk tinggal di apartemen mereka, namun ditolak keras oleh Renata.
"Tinggallah di apartemen Renata! besok pagi kita akan membicarakan ini."
Haikal mencoba menenangkan istri pertamanya ini.
"Kau juga ingin mengusirku hanya karena kehadiran wanita itu?" Seperti apa dia hingga kamu tega ingin menyingkirkan aku untuk tinggal di apartemen kita yang sudah kamu ganti kode sandinya."
Tidak lama Rania keluar menemui wanita yang menjadi madunya ini. Gadis ini, mengenakan dress dan jilbab saja tanpa mengenakan baju syar'i beserta cadarnya.
Langkahnya begitu anggun dengan bau harum aroma sampo yang tercium mengugah indera penciuman Haikal yang sangat senang dengan bau harum itu.
"Assalamualaikum mbak Renata!"
__ADS_1
Sapa Rania santun kepada Renata yang menatapnya lekat dengan wajah yang sangat pucat mendapati istri kedua suaminya yang sangat cantik dan sangat elegan serta begitu lembut.
Hampir saja jantungnya copot karena rasa iri dan cemburu membaur menjadi satu melihat kecantikan luar biasa yang terpancar dari rona cerah yang terbiasa dinas oleh air wudhu.
"Dia sangat cantik, bahkan lebih cantik dariku." Renata membatin dengan mata yang sudah berkabut tertutup air bening yang memenuhi kelopak matanya.
Tangannya di kepal kuat dengan tangis yang hampir saja meledak.
"Ceraikan dia Haikal!" Jika kamu masih ada cinta untukku. Aku tidak ingin berbagi suami dengan orang lain.
"Dan kau Rania, namamu Rania bukan?" Pergilah dari hidup suamiku karena aku telah kembali untuknya." Ucap Renata lirih namun penuh penekanan pada kata-katanya.
"Tidak, justru aku yang akan menceraikanmu." Ucap Haikal tegas.
Kedua wanitanya langsung terbelalak dengan ucapan Haikal yang nampak murka kepada istri pertamanya.
"Tidak...aku tidak mau diceraikan olehmu! jangan lakukan itu sayang! aku mohon padamu, maafkan aku!"
Renata mengatupkan kedua tangannya sambil menggosokkan kedua tangannya dengan menghiba dikaki suaminya seraya berurai air mata.
"Jika kamu tidak ingin aku ceraikan, hentikan keegoisanmu itu dan sekarang tidurlah di kamar tamu!" Hardik Haikal dengan mata yang menyalang.
Haikal menarik tubuh Renata dan membawa gadis itu ke kamar tamu, bekas kamar Rania saat gadis itu tinggal sementara sebelum dirinya dinikahi oleh Haikal.
"Ini kamarmu!" Tolong jangan ganggu Rania! Dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat, kamu bukan lagi istriku karena aku sudah menganggap kamu mati."
Pintu ditutup dengan kencang hingga membuat Renata terperanjat kesal.
"Sialan!"
Mengapa aku tidak tahu jika dia telah menikah lagi, aku pikir dia akan mati tanpaku dan berharap aku kembali kepadanya, ini sungguh membuatku muak.
Tunggu saja Rania, aku akan menyingkirkan keberadaanmu dirumah ini perlahan-lahan, karena kamu hanyalah seorang gadis pengganggu."
Renata melemparkan tas tangannya lalu tersenyum menyeringai seperti iblis.
Di kamar utama, Haikal duduk dengan tampang gusar. Ia meneguk air yang diberikan oleh istrinya Rania.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya kamu berbaring! agar amarahmu mereda." Bujuk Rania dengan senyum yang dipaksakan.
"Mengapa dia hadir ketika aku sudah mengubur kenanganku bersamanya dalam ingatanku?" Haikal mengeluh sambil memeluk tubuh harum Rania seakan menjadi aroma terapinya.
Rania yang sudah berganti lengerie putih nampak terlihat lebih seksi. Karena melihat wajah suaminya yang masih tegang, Rania berinisiatif untuk mengambil hadiah kecil yang belum sempat ia berikan kepada Haikal.
"Sayang, aku hampir lupa memberikanmu hadiah. Bukanlah hadiah ini dan semoga kamu terhibur setelahnya." Rania menyerahkan kotak kecil yang terbungkus dengan sangat indah dengan pita warna merah diatasnya.
Haikal meraih hadiah itu dengan wajah datar dan membukanya dengan agak malas. Tapi dalam waktu satu menit, wajah datar itu berganti dengan wajah berbinar melihat tes pack dengan tanda positif.
"Rania, benarkah ini sayang?" Benarkah kamu saat ini sedang hamil?" Matanya terlihat bercahaya dan menampakkan barisan giginya yang nampak putih bersih.
"Iya sayang, sudah memasuki usia tiga bulan." Ujar Rania lembut.
Haikal mengecup perut istrinya lembut.
"Selamat datang sayang!" Kaulah penyemangatku untuk berubah dan menjadi seorang ayah yang baik untukmu."
Selanjutnya bibir sensual milik Rania tak terlewatkan olehnya. Ia lantas melu*at bibir itu dengan rakus, hingga Rania sulit mengimbangi ciuman panas yang dilancarkan oleh suaminya.
Dua tangannya tidak berhenti menyentuh lagi bagian bawah perut istrinya dengan satu tangan yang meremas lembut pada salah satu gundukan kembar milik istrinya.
Suara Rania tertahan merasakan bagaimana perlakuan suaminya yang kembali membawanya ke langit biru.
"Mas Haikal!"
Panggil Rania, saat bibir suaminya menyatu dengan miliknya dibawah sana.
Gumam lirih memanggil nama suaminya agar permainan lidah Haikal pada miliknya tidak boleh berhenti.
Lelaki perkasa ini tahu, jika istrinya tidak terlalu suka penyatuan tubuh mereka terlalu terburu-buru sebelum pemanasan ringan belum membuat Rania melenguh panjang.
Kebahagiaan pasangan suami istri ini hampir sempurna, namun sayang. Wanita masa lalu Haikal kembali hadir untuk mengusik ketenangan kehidupan rumah tangga mereka.
Pergulatan didalam sana makin heboh karena saling memberi kehangatan dan kenikmatan.
Tidak dengan Renata yang tidak bisa memejamkan matanya mengenang kembali wajah cantik madunya yang melebihi dirinya.
__ADS_1
"Dengan hijab saja dia secantik itu, apa lagi tanpa hijab, bagaimana rupanya nanti kalau aku melihatnya secara langsung." Renata bermonolog.