
Setengah menyelesaikan ritual ibadah umroh, ketiga orang ini yang merupakan pasangan pengantin baru dan nyonya Malika merayakan hari lebaran di tanah air.
Rania yang tidak tega meninggalkan si kembar merayakan lebaran sendirian tanpa dirinya. Untuk mengelabui si kembar, Rania meminta Haikal agar tidak memberi tahukan keadaan dirinya yang merupakan kakak kandung dari si kembar.
Haikal menyanggupinya karena itu tidak mempengaruhi hubungan pernikahan mereka saat ini.
"Mama dari mana saja?" Mengapa meninggalkan kami sendirian di sini dengan pelayan?"
Daffa protes pada kakaknya yang baru pulang umroh.
"Maaf sayang!" Mama sedang beribadah di rumah Allah yang sangat jauh dari negara kita, jadi pulangnya agak lama. Tapi mama ingin merayakan lebaran bersama kalian dan juga paman Haikal, apakah kalian suka kalau mulai hari ini paman Haikal tinggal dengan kita."
Rania membujuk si kembar agar menerima Haikal sebagai kakak ipar mereka.
"Tentu saja kami mau menerima paman karena paman Haikal itu orang baik." Ujar Daffin.
Sekarang saatnya kita melaksanakan sholat idul Fitri. Kalian berangkat bersama paman dan mama berangkat bersama Oma ke mesjid."
Rania merapikan baju koko si kembar dan memberikan sajadah mereka masing-masing. Hari itu nyonya Malika sengaja mudik lebaran ke Bandung untuk bisa merayakan hari kemenangan itu bersama putranya dan juga menantunya.
*
*
Kebahagiaan nampak jelas pada keluarga itu ketika saling memaafkan satu sama lain usai menunaikan sholat idul Fitri.
"Mami, maafkan Haikal!" Ucap Haikal dengan menitikkan air mata haru.
Nyonya Malika hanya mengusap kepala putranya dan mencium kening putra satu-satunya itu.
"Mami maafkan Rania!"
Rania mengecup kedua pipi ibu mertuanya itu diikuti si kembar yang sudah menyalami semua orang dewasa di dalam mansion itu.
Mereka akhirnya menyantap makanan khas lebaran yaitu ketupat sayur dan daging rendang maupun opor ayam dan masih banyak lagi jenis masakan yang tersaji di atas meja makan itu dengan berbagai aneka minuman.
"Mami, aku ingin mengunjungi mami Citra mau lebaran bersama karena belum minta ijin waktu menikah dengan mas Haikal."
Rania memberi tahukan niatnya yang ingin ke penjara karena belum sempat mengunjungi ibu sambungnya itu.
__ADS_1
"Silahkan sayang!" Lagian mami juga ingin berkenalan dengan wanita hebat itu. Tapi bagaimana caramu menjelaskan keadaan sebenarnya pada ibu sambung mu tentang si kembar?"
"Itu bisa dibicarakan nanti di rutan mami." Ujar Rania.
Tidak lama kemudian mereka satu keluarga berangkat ke penjara untuk menemui ibu kandung si kembar dengan membawakan makanan khas lebaran untuk nyonya Citra.
"Kita mau ke mana mama?" Tanya Daffin yang belum mengerti jika saat ini ibu kandung mereka sedang menjalani hukumannya di lapas wanita itu.
"Oh, kita sedang mengunjungi ibunya mama Rania, apakah kalian mau bertemu dengannya?" Tanya Rania pada si kembar yang asyik bermain game di ponsel mereka masing-masing.
"Oh maksudnya kami masih punya nenek?" Tanya Daffa dengan so tahunya.
"Iya sayang!"
Rania menyembunyikan air matanya dibalik cadarnya. Haikal memeluk tubuh istrinya agar Rania tidak terbawa emosi yang akan mengundang kecurigaan si kembar kepadanya.
Setibanya mereka di ruang pertemuan keluarga napi, terlihat dari kejauhan seorang wanita yang sangat kurus berjalan terseok menuju tempat pertemuan keluarga yang disiapkan di lapas itu.
Nyonya Citra berhenti sesaat ketika melihat putranya yang duduk bersebelahan dengan putrinya Rania.
"Putra kembarku!" Seru nyonya Citra lirih.
"Sayangku Rania, apa kabar nak!"
Nyonya Citra menggenggam kedua tangan putri sambungnya ini dengan tangannya yang gemetar.
"Maafkan Rania mami!" Rania baru sempat mengunjungi mami dan Rania membawa si kembar tapi tolong jangan bilang mami adalah ibu kandung mereka karena mereka belum mengerti apa-apa."
Pinta Rania seraya mengajak si kembar untuk salim pada nyonya Citra yang tidak lain adalah ibu kandung mereka.
"Sayang sini, salim sama nenek!" Titah Rania pada si kembar yang menatap mereka dengan sangat heran.
"Daffin, Daffa!"
Nyonya Citra tidak dapat membendung kerinduannya pada putra kembarnya yang sudah besar itu.
Ia bergantian mencium pipi putranya dan kemudian memeluknya lagi.
"Ya Allah kalian sudah besar sekarang," ucap Nyonya Citra sambil berurai air mata.
__ADS_1
"Mengapa nenek berada di sini?" Bukankah ini tempatnya orang jahat?" Tanya Daffa yang melihat ada jeruji besi di sekitar tempat itu.
Degg...
"Oh, itu nenek bekerja di sini sayang untuk menjaga orang-orang jahat itu."
Rania buru-buru menjawab pertanyaan si kembar.
"Oh pantasan kami baru melihat nenek." Ujar Daffin.
"Bukankah orang kerja itu ada liburnya?" Tapi hari lebaran ini kenapa nenek tidak pulang?" Daffa penasaran dengan keberadaan ibunya yang kelihatan seperti bukan orang yang saat ini bekerja tapi lebih seperti seorang tahanan.
"Sudah sayang. Kalian main lagi ya, mama mau ngobrol dulu dengan nenek kalian."
Rania mengembalikan ponsel si kembar lalu mengenalkan suami dan ibu mertuanya pada ibu sambungnya.
"Mami kenalkan ini suami Rania, Rania baru menikah seminggu yang lalu di kota suci Mekkah dan itupun acaranya sangat mendadak." Ucap Rania malu-malu pada ibu sambungnya.
"Alhamdulillah ya Allah, sekarang sudah ada seorang 'muhrim yang menjaga dirimu. Kamu sudah terbebas dari fitnah sayang karena sudah memiliki seorang suami." Ucap Nyonya Citra.
Haikal menyalami ibu mertuanya itu dan Nyonya Malika memperkenalkan dirinya pada besannya itu.
"Nyonya Citra, kami sedang mengajukan banding untuk meringankan hukumanmu dari lima tahun menjadi dua tahun saja karena kami tidak ingin si kembar mengetahui ini dari orang lain." Ujar Nyonya Malika yang tidak tinggal diam membela hak besannya ini.
"Terimakasih Nyonya atas upayanya kalian untuk masa hukuman saya. Semoga Allah mengabulkan doa saya karena saya sangat merindukan si kembar.
Saya bisa menjalani sisa hukuman saya di sini tapi saya tidak bisa mengendalikan perasaan rindu saya pada si kembar."
Ucap Nyonya Citra dengan suara parau. Ingin rasanya dia kabur dan memeluk lagi putranya saat ini sedang bermain di halaman depan lapas, namun ranka menguatkan ibu si kembar ini untuk lebih bersabar sebentar lagi agar bisa bebas secepatnya dari penjara ini.
"Nak Haikal tolong jaga anak-anakku!" Pinta Nyonya Citra sebelum mereka berpisah.
"Nggak usah kuatir mami, saya selalu menemani si kembar semampu saya." Ucap Haikal.
"Mami kami pulang dulu. Rania janji seminggu sekali Rania akan membawa si kembar menemui mami."
Rania memeluk lagi ibu sambungnya sebelum mereka meninggalkan lapas wanita itu.
Nyonya Citra dibawa lagi ke dalam lapas karena jam kunjungan sudah selesai.
__ADS_1