
Memasuki Ramadhan hari ke 20, Rania yang ingin berniat untuk umroh bareng dengan nyonya Malika dan putranya Haikal. Gadis cantik bercadar ini ingin menyampaikan niat baiknya itu. Ia pun bergegas menuju ruang kerja bosnya untuk menyampaikan niat mulianya itu.
Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ada suara yang sedang beradu mulut yang saat sedang membahas dirinya.
"Pokoknya mami tidak suka kalau kamu menikah dengan Citra, bagaimanapun juga dia hanyalah seorang janda yang telah memiliki anak. Walaupun kamu juga seorang duda tapi aku tidak ingin kamu terlibat cinta dengan seorang janda yang sudah memilki anak."
Nyonya Malika mendengus kesal menahan emosinya ketika menasehati putranya.
"Mami, gadis yang mami kira adalah seorang janda ternyata dia masih seorang gadis tulen, masih perawan dan belum pernah menikah.
Asal mami tahu, gadis itu bernama Rania Syahnaya yang merupakan putri dari mendiang Tuan Handoyo Diningrat dan mendiang nyonya Ribka. Dia adalah seorang gadis yang saat sedang menyamar menjadi seorang ibu dari si kembar yang merupakan adik kandungnya sendiri.
Ia melakukan itu karena terpaksa, ibu sambungnya telah membunuh suaminya karena mencoba melindungi Rania. Suami baru ibu sambungnya itu berusaha melecehkan Rania.
Sekarang, nyonya Citra mendekam di jeruji besi di rutan kota Bandung." Ucap Haikal.
"Apa, dia putri Tuan Handoyo?" Tanya Nyonya Malika yang sangat syok mendengar penuturan putranya yang saat ini membahas Citra yang tidak lain adalah Rania.
"Iya mami, Rania sedang menyembunyikan identitas pribadinya karena kasus pembunuhan itu. Gadis malang itu melupakan masa depannya hanya karena melindungi adik kembarnya yang saat ini dalam perawatannya.
Uang bukan hal yang penting dalam hidupnya, karena orang sekaya dia tidak membutuhkan itu. Bahkan kekayaan yang dimilikinya melebihi kekayaan kita mami." Ucap Haikal.
"Aku sangat mencintainya mami. Aku ingin menikahinya."
Haikal meyakinkan ibunya untuk merestui hubungannya dengan Rania.
"Ya Allah, jadi kita mempekerjakan seorang ratu pemilik ladang bisnis di perusahaan kita."
Nyonya Malika merasa sangat malu kepada Rania yang dianggapnya sangat lugu namun menyimpan banyak misteri.
"Sekarang bagaimana pendapat mami setelah mengetahui siapa Citra sebenarnya?"
Tanya Haikal yang ingin mengetahui pendapat maminya tentang Rania.
"Apakah dia mengetahui jika kamu sudah tahu siapa dirinya?"
"Dia belum tahu mami, karena aku ingin dia menerima cintaku terlebih dahulu sebelum menyampaikan hal yang sebenar padanya. Aku ingin dia yang menceritakannya kehidupan pribadinya tanpa aku yang memberi dirinya bahwa aku sudah tahu kehidupan pribadinya."
Haikal merahasiakan identitas pribadi Rania dengan berpura-pura tidak tahu apapun tentang gadis pujaannya.
__ADS_1
Di luar sana, Rania sangat syok ketika mendengar pengakuan Haikal yang sudah mengetahui identitas pribadinya tapi pura-pura tidak mengetahuinya.
Gadis ini mundur beberapa langkah lalu berbalik dan berlari cepat menuju pintu lift.
Ia merasa kelihatan bodoh di depan mata Haikal yang seakan menertawakan dirinya yang sedang menyembunyikan kebenaran dari hidupnya.
"Mengapa kamu tega membohongiku Haikal?" Kau tahu segalanya tentangku, tapi pura-pura terlihat lugu di depanku."
Hatinya makin menjerit karena dipermalukan oleh Haikal secara tidak langsung.
"Selama ini aku seperti orang bodoh bersandiwara dihadapannya, tapi yang dibohongi malah sedang menertawakan kebodohanku."
Setibanya di mansion milik nyonya Malika, Rania merapikan pakaian adik kembarnya dan membawa pergi si kembar dari kediaman nyonya Malika.
"Nona Citra mau ke mana bawa koper itu dan si kembar?" Tanya salah satu pelayan.
"Aku harus pulang kampung bibi, aku kangen dengan kerabat ku."
Rania menyeret kopernya sambil menggandeng tangan Daffin yang dan Daffa yang menuruti saja langkah kakak mereka.
"Mama, apakah kita akan pulang ke rumah kita sendiri?" Tanya Daffin penasaran.
Rania meminta bantuan sopir taksi untuk mengangkat 2 koper miliknya ke dalam bagasi taksi yang akan ditumpanginya.
"Nona Citra, apakah nyonya besar sudah tahu anda akan pulang kampung sekarang? kenapa tidak menunggu tuan muda Haikal mengantar anda?"
Salah satu pelayan mencoba menahan kepergian Rania yang kelihatannya saat ini sedang kesal.
"Nanti aku akan menelpon mereka bibi, sampaikan salamku kepada mereka karena aku tidak bisa menunggu mereka pulang dan pamit secara langsung."
Rania menutup pintu mobil taksi itu lalu meminta Abang sopir mengantarkannya ke stasiun Gambir.
🌷🌷🌷🌷🌷
Haikal yang lebih duluan tiba di mansion. Dengan setengah berlari menaiki anak tangga sambil memanggil nama si kembar.
"Daffa, Daffin, kemarilah!" Paman membelikan sesuatu untuk kalian."
Daffin membuka pintu kamar si kembar dan ternyata kosong.
__ADS_1
Haikal mencari si kembar ke beberapa sudut ruangan tapi tidak di temukan si kembar di manapun walaupun ia sudah melihat dari atas balkon ke arah taman dan kolam renang, namun dua bocah itu seakan menghilang di telan bumi.
"Ya Allah ke mana anak-anak itu?"
Haikal menuruni lagi anak tangga sambil berteriak memanggil mama si kembar.
"Maaf Tuan Haikal, tadi nona Citra membawa si kembar pergi. Mereka sudah meninggalkan rumah ini karena nona Citra membawa serta dua kopernya."
Bibi Anisa memberitahu Tuannya tentang kepergian Rania yang sangat mendadak.
"Apa bibi? Citra membawa si kembar, ke mana?"
Haikal kelihatan sangat gusar mendengar ucapan bibi Anisa.
"Tadi kata nona Citra, mereka mau pulang kampung. Sepertinya mereka saat ini sedang menuju ke stasiun Gambir Tuan. Haikal."
"Astaga, apa yang terjadi sehingga Rania pergi begitu saja sampai tidak ada pesan yang ditinggalkan gadis itu untuknya?"
Tuan Haikal langsung menghubungi asistennya untuk mencari tahu keberadaan Rania dan si kembar saat ini.
Tidak lama kemudian, nyonya Malika juga sudah pulang dengan wajah nampak kesal.
"Kenapa ponsel Citra di matikan, padahal mami ingin memberikan tugas untuknya." Bibi tolong panggilkan nona Citra!"
Nyonya Malika menghempaskan tubuhnya bersandar di sofa ruang tamu.
"Mami, Rania sudah pergi meninggalkan rumah ini bersama si kembar."
Haikal kelihatan sangat terpukul dengan kepergian Rania yang dinilainya sangat tidak sopan itu.
"Lho, ko pergi dari sini?" Apakah ada yang membuat dirinya sangat marah?"
Nyonya Malika mencoba mencari tahu apa yang terjadi kepada Asisten pribadinya itu.
"Apa jangan-jangan dia mendengar percakapan kita tadi siang di ruang kerja mami?
Haikal mencoba menerka apa yang membuat gadis itu bisa hengkang dari rumahnya.
Ia sangat curiga jika Rania sudah mendengar perbincangan mengenai dirinya tadi siang.
__ADS_1
Haikal membuka aplikasi CCTV perusahaan milik maminya yang fokus di depan ruang kerja ibunya. Ternyata apa yang dicurigai oleh Haikal benar adanya karena dia melihat Malika sedang menguping pembicaraan antara dirinya dan sang ibu di ruang kerja ibunya.