HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
26. LICIK


__ADS_3

Demi menutupi aibnya, Renata berupaya untuk mencari tahu, siapa yang menjadi orang suruhan suaminya untuk menelusuri kasus kematian palsunya.


Renata mencoba mendekati detektif Ramdan yang saat ini sedang berada di Jakarta. Ia membuat janji dengan Ramdan di salah satu hotel mewah di ibu kota Jakarta.


Keduanya bertemu di kamar hotel untuk membahas hal penting dengan cara bercinta.


"Untuk apa kamu repot-repot mencari tahu bagaimana aku bisa selamat dari kematian tuan Ramdan?" Jika kamu ingin melaporkan hasil penyelidikanmu kepada suamiku, bagaimana kalau aku saja yang menceritakan kebenarannya?"


Ujar Renata dengan mengangkat satu kakinya dan menumpang pada kaki lainnya hingga memperlihatkan pangkal pahanya yang begitu putih mulus.


"Apa yang anda inginkan dari saya nyonya Renata?" Tuan Ramdan melonggarkan dasinya saat menatap bagian bawah tubuh Renata yang sedang meruntuhkan imannya.


Ia menelan salivanya dengan kasar dengan matanya yang menatap tajam milik Renata yang sedang memberikan kode padanya untuk di sentuh.


"Jika kamu menginginkan aku, bagaimana kalau kita bekerjasama untuk mengeruk harta suamiku?"


Renata menawarkan dirinya untuk membungkam mulut si detektif dengan rayuannya yang tentu saja bukan hanya bualan semata.


Melihat kegelisahan Tuan Ramdan, Renata mendekati pria tampan itu dengan tubuh polosnya hingga keduanya sudah menikmati lezatnya dosa berzina.


"Baiklah sayang, aku setuju dengan penawaranmu." Akhirnya tuan Ramdan luluh juga dihadapan Renata yang sudah mengusai birahinya.

__ADS_1


Renata menarik sudut bibirnya dengan senyum sinis penuh kemenangan karena telah menjinakkan Tuan Ramdan yang akan menutupi kasus kematian palsunya sesuai arahan darinya.


"Ternyata mudah juga untuk membungkam mulutmu dengan tubuhku dan aku tidak perlu mengeluarkan sepersen pun untuk bisa melunakkan hatimu Tuan Ramdan.


Kau juga bukan laki-laki yang buruk, hanya saja kamu kurang kaya dibandingkan suamiku Haikal, lagi pula aku tidak mendapatkan nafkah batin dari suamiku dan kaulah orang yang tepat sebagai partner ranjangku." Senyumnya mengembang dengan liukan tubuh yang terlihat erotis menambah gairah cinta keduanya."


Hentakan demi hentakan pada kedua tubuh itu bermandikan peluh.


Tapi wanita bodoh ini tidak tahu jika bukan hanya suaminya Haikal saja yang mencari tahu kebenaran menghilangnya dirinya, namun juga Rania dan Nyonya Malika berusaha untuk mengungkapkan kasus kematian palsunya Renata.


"Nyonya Renata, apakah kamu tidak tahu, kalau madumu itu yaitu nyonya Rania adalah seorang wanita Milioner?" Tanya Tuan Ramdan sambil memeluk tubuh polos Renata yang bersandar di dada bidangnya.


"Apakah kekayaannya bisa membeli sebuah pulau?" Tanya Renata angkuh.


"Benarkah?" Apakah dia sehebat itu?" Wajah Renata berbinar cerah dengan otak licik yang sedang berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan setengah dari kekayaan Rania.


"Bisnis tuan Haikal makin kuat karena keduanya bekerja sama atau bisa dikatakan mereka menyatukan saham mereka dalam perusahaan milik keduanya." Timpal tuan Ramdan lagi.


Renata ke kamar mandi, ia lalu membersihkan dirinya sambil berpikir keras untuk bisa menggunakan Haikal untuk mendapatkan harta milik Rania.


"Baiklah Rania, jika kamu ingin mendapatkan suamiku seutuhnya, apakah kamu bersedia menukar hartamu dengan dirinya?" Tawanya menggelegar di dalam kamar mandi hotel itu.

__ADS_1


"Ternyata otak licikku masih berfungsi dengan baik untuk mendapatkan harta berlimpah dari Rania, gadis kampungan so alim itu." Imbuhnya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Ketika usia kehamilan Rania memasuki lima bulan, Rania masih bisa beraktivitas dengan mengunjungi perusahaan miliknya di Bandung.


Rania menuju Bandung dengan menggunakan pesawat jet pribadinya. Sang suami tidak bisa ikut karena ada rapat penting yang harus ia ikuti.


Dua hari berada di Bandung dengan setumpuk pekerjaan yang ada di atas meja kerjanya membuat Bumil ini nampak serius mengamati satu persatu berkas yang dibawakan oleh sekertarisnya.


Rasa lelah menyapa tubuhnya yang akhir-akhir ini mudah lelah dan selalu memaksanya untuk tidur. Walaupun begitu, Rania tidak ingin memanjakan tubuhnya karena dia harus menyelesaikan tugasnya dalam waktu tiga hari ini dan kembali lagi ke Jakarta.


Tok... tok!"


Pintu ruang kerjanya terbuka dan sekertarisnya menemuinya dengan menyampaikan sesuatu kepada bosnya ini.


"Maaf nona Rania, ada seorang seorang wanita yang ingin menemui anda." Ucap sekertarisnya gugup.


Belum juga Rania menjawab wanita itu sudah menyerobot masuk ke ruang kerjanya tanpa menunggu sekertarisnya Rania mengijinkannya masuk menemui bosnya.


"Selamat pagi Rania!" Sapa wanita itu dengan angkuh.

__ADS_1


"Kau..!" Sentak Rania.


__ADS_2